REVIEW Pre Wedding in Chaos

WP_20150920_009

“Nikah itu berarti satu paket orang yang jadi pasangan kita. Nggak cuma nyiapin diri buat yang indah-indah, tapi juga yang jeleknya.” (hlm. 21)

Adalah Aria yang terus-terusan dirongrong mama dan adiknya, Citra untuk segera menikah. Selain memaksa anaknya ini cepat menikah karena gemas dengan hubungan Aria dan Raga yang hanya berpusat pada pacaran saja dan tidak melangkah ke jenjang yang lebih serius, juga karena adiknya, Citra ingin segera melangsungkan pernikahan dengan pacarnya. Mama tidak mau anak perempuannya ini dilangkahi adiknya, pamali orang bilang.

“Aku cinta sama kamu, Aria.”

“Aku juga cinta sama kamu. Gini aja nggak cukup?”

“Kamu bakal pergi kalau aku terus jawab nggak?”

“Aku penginnya kita bisa melangkah maju sama-sama.”

“Kita nggak jalan di tempat, Ga.”

“Emang nggak. Kita cuma muter di jalan yang sama terus sembilan tahun ini. Apa kamu nggak pengin nyoba lihat jalan baru?” (hlm. 37)

Sebenarnya tidak ada yang masalah hubungan Aria dan Raga. Sama-sama sudah mandiri dan memiliki pekerjaan yang tergolong mapan. Umur yang cukup untuk menikah. Ditambah lagi rentang pacaran mereka yang sudah berjalan sembilan tahun. Raga pun tipikal laki-laki sabar, dewasa, tanggung jawab dan pengertian pula. Kurang apa lagi coba? Keraguan justru muncul dari diri Aria.

Memutuskan menikah bagi sebagian orang untuk menyempurnakan hidup, karena manusia hidup ditakdirkan untuk berpasangan. Namun, bagi sebagian besar juga menganggap menikah adalah momok yang menakutkan. Begitu juga dengan Aria, baginya menikah adalah masuk ke lubang hitam, ketika terperosok tidak bisa ditarik kembali. Bukan alasan bagi Aria menggap pesimis suatu hubungan ikatan pernikahan. Disekelilingnya, terutama dari saudara-saudaranya yang sudah menikah tidak ada yang berakhir bahagia. Kakaknya Reza, menikah muda karena pacarnya ‘investasi’ duluan, dan berujung pada perpisahan, meski akhirnya kakaknya menikah lagi dengan orang lain. Begitu juga dengan kakaknya yang lain lagi, Mayang yang menjadi istri kedua. Meski kakaknya ini hidup bergelimpangan harta karena menikah dengan seorang pengusaha yang sukses, tapi hidupnya tidak pernah jauh dari bayang-bayang istri pertama. Dari dua sosok orang-orang terdekatnya ini saja sudah membuat Aria berpikir ulang untuk menikah dengan Raga, kekasih yang dipacarinya selama sembilan tahun itu.

Untungnya Aria punya teman dekat sekaligus rekan kerjanya; Adit dan Nessa yang selalu menguatkannya untuk mencoba berpikir positif dalam memandang suatu pernikahan. Adit dan Nessa sama-sama sudah menikah. Nessa yang ceplas-ceplos dan Adit yang meski rada ‘gemulai’ karena efek pekerjaannya sehari-hari selalu mendorong Aria bahwa gerbang pernikahan tak seburuk yang dibayangkan Aria. Selain tokoh utama; Raga dan Aria, penokohan yang paling kuat dijabarkan adalah sosok Adit ini. Laki-laki yang gemulai ini selalu memberi masukan bagi Aria lewat kehidupan pernikahan secara nyata seperti pernikahannya dengan Mona, bukan dengan sikap menggurui. Jadi, meski Adit tak bosan-bosan mengkampanyekan ‘indahnya pernikahan’, Aria tidak pernah bisa jauh-jauh curhatnya kecuali ke Adit ini.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Polapikir orang, kan, beda-beda. (hlm. 6)
  2. Apa yang disatukanolehTuhan, hendaknyatidakdapatdipisahkanoleh (hlm. 26)
  3. Kalaulunikah, banyak yang bias Adaptasiulang, yang tadinyabedarumah, jadisaturanjang. Yang tadinyasalingasing, belajarjadisuamiistri. Terus, entarsama-samabelajarjadiorangtua. Dan, seterusnya. Lebihserudaripadapacaran. (hlm. 33)
  4. Yang pentingitusaling Mau mengalah. Kalauudahlihatpasanganemosi, tahandiribuatnggakemosi. (hlm. 49)
  5. Selamadengan orang yang tepat, proses lamaransepertiapa pun bukanmasalah (hlm. 59)
  6. Kita nggak akan tahu sebelum benar-benar ngejalani kan? (hlm. 142)
  7. Nyatuin dua kepala itu nggak pernah gampang, makanya kompromi harus selalu di barisan terdepan dalam hal apa pun. (hlm. 209)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jalanterus! Mending kalaujalannyake KUA! (hlm. 4)
  2. Semuamanusiaudahtahukalau ‘nggakapa-apa’ ituberarti ‘adaapa-apa, tapimalesbilang’. Iyakan? (hlm. 7)
  3. Nggaksemua orang kayak lu, udahpacaranhampersatudekade, nggakkepikiran (hm. 8)
  4. Nggakadalaki-lakidimukabumiini yang benar-benarmau Kami kaumbebas. Petualangsejati. Kalaulakilusampaiudahngajaknikah, itu cumaberartisatuhal. Diapercayakalaulu yang paling pantastemenindiaseumurhidup. (hlm. 10)
  5. Kenapanikahharuspakaicincin? (hlm. 15)
  6. Janganjadinenek (hlm. 18)
  7. Makanyanikah, biarada Nggakbakallupa. (hlm. 19)
  8. Siapasih yang udahcuciotaklupakaibilangnikahituperampasankebebasan? (hlm. 21)
  9. Lu cepetan kawin deh. Biar ada yang jadi pawang. (hlm. 22)
  10. Sesekali makan makanan cepat saji tidak akan langsung membuat kena serangan jantung. (hlm. 35)
  11. Mana bisa gaji buat jajan doang sekarang. Mulai cicil rumah, dong. (hlm. 39)
  12. Nggak usah banyak basa-basi. (hlm. 41)
  13. Kalau mau ngomong sesuatu, omongin sekarang. (hlm. 55)
  14. Perempuan mana yang cukup gila hingga mau jadi istri kedua? (hlm. 61)
  15. Nikah nggak ngeri kok. Kalo lu mutusin nikah sama orang yang tepat. Jangan cuma lihat pernikahan yang berantakan. Di sekitar lu, masih ada pernikahan yang berjalan baik-baik saja. (hlm. 93)
  16. Susah ya jadi istri kedua. Apa-apa aja tetap nomor dua. (hlm. 94)
  17. Takdir suka iseng banget emang. (hlm. 96)
  18. Apa gunanya nikah kalau masih LDR? (hlm. 129)
  19. Jangan ngomong macem-macem. Resmi aja belum, udah bawa-bawa pisah. (hlm. 141)
  20. Berita buruk selalu datang berdampingan. Kalau tidak dengan berita yang sama buruknya, dia akan hadir bergandengan dengan berita baik. (hlm. 246-247)
  21. Saat sebuah hubungan berakhir, saat itulah kita dibuat ingat bagaimana semua itu bermula. (hlm. 255)
  22. Jangan pernah ngambil keputusan pas lagi marah atau sedih! (hlm. 262)

Buku ini sebenarnya udah lumayan lama dibeli. Tahun ini memang tertarik ama buku-buku yang bertem ‘pernikahan’ dan tampaknya memang sedang booming tema ini. Bahkan beberapa penerbit secara khusus membuat seri ini, begitu juga dengan Penerbit Bentang. Untuk buku-buku bertema pernikahan, Bentang membuat seri berjudul ‘wedding lit’, diantaranya ada Bride Wannabe, Yummy Tummy Marriage, dan juga buku ini. Buku Yummy Tummy Marriage juga sudah ada di tumpukan timbunan, dan kayaknya musti segera dibaca juga nih… x))

Membaca novel ini langsung sekali habis. Duh, nyesel naro buku ini lama-lama di timbunan, kenapa nggak dari dulu bacanya. Tema yang diangkat menarik; tentang pergolakan batin seorang perempuan yang memutuskan untuk memulai jenjang hidup ke gerbang pernikahan. Meski dikisahkan Aria ini tipenya bikin geregetan dan pengen getok Aria, tapi saya justru suka banget sama tokoh ini. Kenapa? Aria ini saya banget. Sikapnya dia dalam memandang pernikahan sama banget. Begitu juga dengan umurnya Aria pun sama banget. Memang ya, ketika perempuan di awal umur dua puluhan akan tergiur dengan pernak-pernik indahnya pernikahan. Namun, perempuan menjelang akhir dua puluhan justru akan makin banyak mikir, ditambah lagi melihat kehidupan nyata disekitarnya yang bukannya banyak yang bahagia malah banyak yang menderita bahkan berakhir ngenes. #TossAmaAria

Endingnya bikin kaget. Pesan moral dari buku ini adalah bahwa kita tidak bisa memaksakan suatu kehendak apalagi sebuah keputusan pada orang lain. Begitu juga urusan menikah, setiap manusia punya pilihan masing-masing. Suka ama karakter Raga, begitu pengertian dengan sikap Aria yang telah dipacarinya sembilan tahun ini. Halaman 268-273 adalah bagian yang paling mengiris-ngiris hati :’)

KeteranganBuku:

Judul                                     : Pre Wedding in Chaos

Penulis                                 : Elsa Puspita

Penyunting                         : PratiwiUtami

Perancangsampul            : Wirastuti

Pemeriksaaksara              : SeptiWs, Intan Sis

Penataaksara                     : EndahAditya

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 286 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-056-5

WP_20150920_006

12 thoughts on “REVIEW Pre Wedding in Chaos

  1. Setuju, Kak Luckty. Akhir ceritanya memang mengejutkan. Emosi pembaca dibikin naik turun selama membaca buku ini. Raga juga karakter favoritku.😀 Lelaki idaman banget. Sabar dan pengertian banget. Tapi, ya, akhirnya…

  2. Jadi pengen baca mb,,, saya baru ngeh kalo ini novelnya elsa (baru tau setelah ada testimoninya elsa di buku Tenaga Kerja Istimewa). Sayang anggaran bulan ini utk beli buku tdk ada…

  3. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  4. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW My Pre-Wedding Blues + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

  5. Kak itu backgroundnya kondangan kondangan amat😄

    Disini aku mencari letak ‘chaos’ nya dimana ya? Apa chaos bagi si Aria ini dari kisah kakaknya?
    Atau di prewednya ini akan terjadi chaos?

  6. Jadi penasaran apakah akhirnya Aira dan Raga menikah juga, kalau iya apa yg membuat Aira yakin untuk menikah dgn Raga?

  7. Aku suka tema pernikahan. Sejak tau novel ini, aku ko lupa terus buat baca reviewnya. Akhirnya baca juga sekarang😀

    Aria itu jadi trauma ya, trauma karena melihat hal seperti itu sebelum mencobanya.

    Ka Luckty bilang akhirnya jlebb, aku penasaran nihh.

    *karena sesuai tema, ka Luckty fotonya pas di nikahan ya, hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s