REVIEW House of Secrets: Battle of the Beasts

WP_20150807_004

Memang bagus menggunakan imajinasimu, tapi kau harus menghormasi privasi orang lain. (hlm. 48)

Adalah Cordelia, Brandon dan Eleanor Walker yang merupakan tiga bersaudara. Mereka melakukan sebuah petualangan yang tak terbayangkan. Lewat petualangan tersebut hidup mereka berubah, hidup yang mereka impikan.

Tapi impian tak seindah kenyataan. Mereka bertiga berubah. Brandon ingin sekali tampil sebagai siswa populer. Salah satunya adalah membeli tas ransel seharga tujuh ratus dollar dengan kartu kredit ibunya tanpa sepengetahuan ibunya. Jelas saja ini membuat berang ibunya. Beliau menasehati Brandon kalo mau masuk ke universitas yang lebih baik, caranya adalah dengan menyingingkirkan nilai M dari rapornya.

“Tapi, ini akan membantuku menjadi populer, dan dengan menjadi populer, aku akan diterima dalam lebih banyak kegiatan ekstrakurikuler, dan dengan melakukan lebih banyak kegiatan ekstrakurikuler, aku bisa masuk universitas yang lebih baik. Anggap ini sebagai sebuah investasi!” (hlm. 12)

Cordelia juga berubah. Dia sedang tergila-gila pada sebuah band dari Islandia. Akhir-akhir ini Cordelia memang senang menikmati rasa ‘dingin’. Semacam mati rasa. Hanya dengan begitu dia bisa menghadapi semua kegilaan yang terjadi kepadanya. Dia tidak akan pernah bisa bercerita kepada siapa pun tentang apa yang telah dilaluinya –tidak juga bisa menulis atau membicarakannya. Lebih baik melupakan apa yang terjadi. Namun, itu tidak mudah. Dulu membaca menjadi pelarian yang sama bagi Cordelia, tetapi sekarang, buku terasa semakin sulit untuk dinikmati. Lagipula, bukulah yang melibatkannya dalam masalah!

Lain halnya dengan Eleanor. Sama halnya dengan Brandon, Eleanor juga bete ketika dua temannya; Zoe dan Ruby mengejek ponselnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan dengan ponselnya karena ponsel ini tidak bisa terhubung ke internet. Eleanor tidak keberatan. Dia sudah cukup senang bisa mengirim pesan singkat kepada sang Ibu saat sedang membutuhkan sosoknya. Ruby dan Zoe ini seperti ababil pada umumnya, gemar pamer, termasuk memamerkan ponselnya.

“Kami tidak tumbuh dewasa dengan kisah Poseidon. Kami tumbuh dengan aturan dan logika. Kami memiliki kehidupan yang nyata dan normal di suatu tempat, dengan seorang ayah dan ibu yang mencintai dan membutuhkan kami. Kami harus kembali ke mereka.” (hlm. 201)

Pesan moral dalam buku ini adalah betapapun banyak keinginan yang sepertinya akan membuat kita bahagia, padahal sesungguhnya dalam hidup yang terpenting untuk bahagia adalah bisa berkumpul dengan keluarga.

Kisah Cordelia, Brandon dan Eleanor ini mengingatkan saya akan kisah Wendy dan adik-adiknya; John dan Michael yang mengendap-ngendap pergi dari rumah menuju Never Land gegara rayuan Peter Pan. Garis benang ceritanya setipe; kakak adik berpetualang demi mengingingkan impian yang mereka inginkan, padahal kebahagiaan sudah ada di depan mata, yaitu keluarga.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Masalah percintaan adalah sesuatu yang hanya akan kau pikirkan pada saat kau merasa aman. (hlm. 72)
  2. Jangan pernah menyerah. Dan yang paling penting adalah jangan pernah mundur. (hlm. 384)

Beberapa sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tidak ada satu pun dari kita yang berpikir jernih. (hlm. 59)
  2. Seorang ayah tidak pernah berubah. (hlm. 127)
  3. Karena dunia nyata tidaklah selalu hebat. Dunia nyata begitu membosankan dan monoton, terutama jika kau tidak memiliki kekuasaan. (hlm. 155)
  4. Manusia bisa hidup dengan seiris roti dan sebotol kecil air selama dia merasa senang. (hlm. 177)
  5. Penyiksaan adalah saat mereka menyakitimu demi membuka rahasia. Dan, pelatihan adalah saat mereka menyakitimu untuk membuatmu kuat. (hlm. 207)
  6. Hati-hati berbicara. (hlm. 233)
  7. Anak perempuan juga bisa kotor. (hlm. 349)
  8. Kita hidup cuma sebentar. (hlm. 361)
  9. Dunia modern adalah tempat yang mengerikan. (hlm. 361)

Buku ini kental aroma BUKU dan PERPUSTAKAAN:

  1. Mata Cordelia mendeteksi cahaya dari kolam. Dinding-dindingnya menjauh saat dia masuk. Dia mendekati rak buku bawah air. Bagian atasnya sudah mereka sapu bersih, tetapi masih ada lebih banyak manuskrip di bawahnya. Pas baca halaman 242, disebutkan ada sebuah cairan yang melindungi buku. Demi apa mau donk cairan beginian kalo ada beneran, kan bisa buat melindungi buku dari serangan rayap dan kutu buku yang menyerang halaman-halaman buku?!?😉
  2. Di halaman 323 disebutkan jika Eleanor akan perpustakaan. Dia mau menyelinap di tengah malam untuk membaca sebuah buku. Cordelia pun bangga akan sikap adiknya itu!😀
  3. Ada juga di halaman 326, dijelaskan saat Eleanor membaca setiap kata, huruf-huruf yang melayang turun dan kembali ke halaman buku, segera digantikan oleh kalimat lain. Wiuh, tampak seru ya!😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : House of Secrets: Battle of the Beasts

Penulis                                 : Chris Columbus & Ned Vizzini

Penerjemah                       : Putro Nugroho

Penyunting                         : Lisa Indriana Yusuf

Penyelaras aksara            : Nunung Wiyati

Penata aksara                    : chickencavalry

Perancang sampul           : Vinsen

Penerbit                              : Mizan Fantasi lini Penerbit Noura Books

Terbit                                    : Juni 2015

Tebal                                     : 444 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0989-75-4

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-98398/novel-fiksi-cerpen/the-house-of-secrets-2-battle-of-the-beasts.html

 

8 thoughts on “REVIEW House of Secrets: Battle of the Beasts

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Memang bagus menggunakan imajinasimu, tapi kau harus menghormasi privasi orang lain. (hlm. 48)
    jugaa bisa melatih otak kana danotak kiriii. kerenn bukunyaa

  3. suka sama pesan moralnya > “betapapun banyak keinginan yang sepertinya akan membuat kita bahagia, padahal sesungguhnya dalam hidup yang terpenting untuk bahagia adalah bisa berkumpul dengan keluarga” setuju banget mbak! (y

  4. Dari baca judulnya, aku kira cerita horror, ternyata enggak. Jadi ini tentang kisah anak2 yg inging mendapatkan apa yg diinginkannya, nggak peduli bagaimanapun caranya. Iya kan? Trs kakak blg ada ini tentang petualangan mereka, nah petualangannya dimana kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s