REVIEW Putusin Nggak, Ya?

 

PUTUSIN 1

“Tidak ada kata telat untuk kata menikah. Menikah bukan tentang umur sekian, tetapi soal kesiapan.” (hlm. 173)

Buku ini lumayan heboh di tahun 2014. Saya baru sempat membacanya di tahun 2015. Ada beberapa bahasan yang menarik dalam buku ini mengenai pandangan hubungan antara dua insan manusia yang berbeda kelamin.

PUTUSIN 2

Bahasa favorit dalam buku ini salah satunya adalah tentang menikah:

  1. Di halaman 175 tentang kesiapan psikologis ketika seseorang menikah. Berumah-tangga itu bukan melulu soal cinta. Bahwa rumah-tangga harus berlandas cinta, ya itu benar. Tapi, ingat, pernikahan itu berarti mengumpulkan dua insan, dua kepribadian, dua latar-belakang, dua kultur, dua pendidikan, dan bahkan dua kepentingan sekaligus dalam satu wadah. Tak ada ceritanya di muka bumi ini ada dua orang yang selalu sama. Maka perbedaan-perbedaan dalam rumah-tangga antara suami-istri adalah keniscayaan. Dan tentu saja, kemampuan menyikapi perbedaan-perbedaan ini menuntut kematangan piskologis. Level kematangan psikologis ini akan sangat menentukan kualitas rumah-tangga tersebut.
  2. Di halaman 183 tentang kesiapan ekonomis. Berumah-tangga tentu saja memerlukan biaya. Hari gini ya, jelas nggak sedikit. Ini tak hanya tentang biaya khitbah (lamaran), ijab kabul, dan wali matul ‘ursy (akad pernikahan), tetapi yang lebih besar adalah sesudah menikah. Kualitas sebuah pernikahan itu bukan melulu soal kuatnya cinta. Tapi, juga soal kemampuan ekonomis yang akan menjadi biaya operasional kehidupan rumah-tangga itu.
  3. Di halaman 187 tentang kesiapan sosial. Kehidupan orang yang sudah menikah dengan yang masih bujangan itu berbeda secara sosial. Orang bujangan mah bebas aja mau kemana-mana, sama siapa, berapa lama, dan lain-lain. Tapi, orang yang sudah menikah tidak bisa sebebas itu. Fitnah sosial. Ini salah satu item yang harus dijaga oleh seseorang yang sudah menikah. Ia harus menjaga nama baik diri dan rumah-tangganya dengan mengikuti segala adat, budaya, dan nilai etika yang melingkupi dirinya bertinggal. Sebuah rumah-tangga akan sulit meraih sakinah jika dihujani oleh fitnah sosial akibat kurang pedulinya pasangan suami-istri terhadap tata dan norma sosial sekitarnya. Itu harus diindahkan, dijadikan bagian dari ruh kehidupan rumah-tangganya.
  4. Di halaman 189 tentang kesiapan agama. Agama memang merupakan pondasi pertama terhadap perilaku kita. Kekuatan iman pada jiwa kita akan menopang cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku.

Keempat poin tersebut menjadi poin utama dan saling melengkapi. Percuma jika agamanya kuat tapi kurang siap dalam bersosialisasi. Ini nih perkara yang paling banyak terjadi. Mentang-mentang merasa imannya paling benar, nggak mau bersosialisasi dengan tetangga karena dianggap merasa berbeda dengan dirinya. Misalnya, karena nggak sepaham dengan jumlah rakaat yang disepakati ketika shalat berjamaah di bulan Ramadhan di suatu masjid, orang ini melipir ke masjid lain, padahal toh niatnya sama, yang lain bersepakat jumlah rakaatnya lebih sedikit karena banyak pertimbangan, misalnya; banyak anak kecil dan orangtua jika terlalu banyak rakaat malah tidak efektif dan terkadang menjadi tidak khusyuk karena bacaan shalatnya terburu-buru. Contoh lagi, ada tetangganya bertamu karena dianggap tidak sepemahaman, ketika tetangganya pulang, rumahnya langsung di pel berasa tetangganya itu membawa najis yang musti harus dibersihkan. Ada, ada banget manusia-manusia macam ini dari dua contoh yang saya sebutkan tadi.

PUTUSIN 3

Jaman kuliah, saya udah kenyang banget baca buku tentang menikah di usia muda. Buku-buku itu mendoktrin; menikahlah sedini mungkin untuk mencegah maksiat. Padahal menikah kan nggak sembarangan. Menghindari maksiat kan nggak musti dengan buru-buru menikah. Cari kek kegiatan yang lebih bermanfaat. Menikah itu nggak cuma modal cinta. Banyak yang menikah muda toh ujung-ujungnya bukannya meringankan, malah menambah beban orangtua. Banyak sekali contoh pasangan yang pengen menikah, padahal sebenarnya belum siap mental lahir batin ujung-ujungnya masih minta belas kasihan orangtua; mulai dari beli susu sampai urusan makan. Lha piye? Oya, lagi pula Nabi Muhammad aja nggak nikah dini loh..😀

Etapi, bukan berarti saya nyinyir ama yang menikah muda loh. Yang perlu ditekankan di sini adalah siap menikahnya seseorang bukan ditentukan dari umurnya. Banyak juga yang menikah muda karena takut nggak laku, takut nanti ama umur anaknya kejauhan. Saya mah nggak takut, lha wong emak babe nikah di usia matang, sekarang belum pensiun, anaknya udah bisa cari uang sendiri. Apa yang perlu dikhawatirkan?😀

PUTUSIN 4

Oya, bahasan yang paling menarik dari buku ini adalah di halaman 232-238 tentang bagaimana menjaga rahasia rumah-tangga. Jangan apa-apa diumbar ke orang lain, apalagi di umbar di media sosial yang sejagat raya bakal membaca status kita. Ada, ada banget orang kayak gini. Saya pernah baca status teman yang baru saja punya bayi, dia menulis status bagaimana mertuanya yang tidak paham akan prinsipnya ketika dia bekerja tidak boleh diberi susu formula karena dia akan berusaha memberikan ASI esklusif. Beda teman lagi, masak iya dia nulis status sebel gegara suaminya nggak cocok melulu ama masakannya. Omaygad…orang-orang kayak gini musti di UNFRIEND sajalah, memicu kenyinyiran diri x)

Agak bingung juga kenapa buku ini dianggap sesat? Mungkin karena dianggap sebagai pembanding buku “Udah, Putusin Aja” yang juga fenomenal itu. Buku ini malah menyadarkan kita bahwa menikah itu bukan urusan main-main. Di sini tidak disebutkan jika menghalalkan pacaran, sama sekali nggak ada loh.

Sama halnya dengan kehebohan beberapa bulan lalu tentang buku mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Kurikulum 2013 disinyalir menjerumuskan remaja dengan ‘pacaran sehat” yang akan menyesatkan. Pas baca artikel-artikel itu di internet, saya langsung ngakak; “ini mereka yang nulis artikel kayak gitu sebenarnya baca bukunya nggak sih? Coba main-main ke perpustakaan sekolah, nanti saya kasih liat buku pelajaran itu. Hambok ya kalo nulis artikel jangan sok tahu gitu, baca bukunya aja enggak main tuding kalo buku itu sesat dan ada pornografi.” Bahkan saya pernah bahas buku pelajaran ini dengan guru bidang mata pelajaran tersebut. Sama, bapak tersebut juga ngakaknya kayak saya ketika banyak artikel yang mengatakan jika buku pelajaran tersebut mengandung pornografi😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Putusin Nggak, Ya?

Editor                                    : Rusdianto

Ilustrator                             : Ann_Retiree

Tata sampul                        : Ann_Retire

Tata isi                                  : F. Raharjo

Pracetak                              : Wardi

Penerbit                              : Safirah imprint Diva Press

Terbit                                    : Juni 2014

Tebal                                     : 252 hlm.

Halamannya warna-warni, unyu seperti ini:

PUTUSIN 5 PUTUSIN 6

9 thoughts on “REVIEW Putusin Nggak, Ya?

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. yap, setuju… banyak yang komentar buku A bla.. bla… buku B bla bla karena hanya menukil secuil saja tanpa tahu isinya…. dan bodohnya banyak yang ngeshare sehingga heboh nggak jelas…
    ya, saya pun penasaran dengan buku ini sebenarnya apa isinya, kok Judulnya kontra dengan judul bukunya ustadz felix

  3. Kayaknya buku ini lebih cocok sama org dewasa yg mau menikah. Aku masih sekolah, jadi mungkin nggak akan terlalu dapet feel nya, trs juga nggak relate sama buku ini

  4. Dulu saya kira buku ini kontra dg buku “Udah, Putusin Aja!” Hehehehe, ternyata begini ta isinya 😀 . Kadang juga bingung dengan teman2 yang update ttg rumah tangganya gitu, maksudnya apa ya? Apakah tidak menyebarkan aib dirinya sendiri??? Entahlah😀

  5. Menghindari maksiat itu bukan dengan buru-buru menikah, tapi dengan tidak pacaran yang sebagai penyebabnya.

    Owhh ada ya orang kayak gitu, karena beda, tetangga yang bertamu begitu pulang langsung dipel rumahnya. Kalo gitu ibu/bapat tetangga yang baik, rajin-rajin mainnya, biar makin rajin ngepel dan bersih itu rumah yang punya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s