REVIEW Blue Vino

WP_20150905_001

Tidak ada yang lebih mematikan perasaan daripada teman kencan yang mulai membahas pekerjaan. (hlm. 98)


Adalah Roz yang merasa sakit hati karena dimanfaatkan oleh rekan kerjanya, Hubert. Hasil kerja kerasnya selama ini malah diakui oleh orang lain, proyek yang dari nol ia tangani sampai sukses. Proyek yang lima bulan terakhir ini membuatnya hanya dapat tidur tiga jam sehari. Itu pun tidak pulas. Semua ini langsung membuat hati Roz amblas. Jalan pintas yang ditempuhnya adalah cuti. Tidak tanggung-tanggung, dia mengambil cuti selama tiga minggu.

Marah-marah juga tidak ada gunanya. Mengatakan bahwa Hubert pembohong, penipu di depan Bos tadi juga tidak menyelesaikan masalah, karena hanya debat kusir yang akan terjadi. Kalimatmu melawan kalimat Hubert, sementara bosmu sudah percaya pada intrik Hubert. Yang ada kamu malah dicap kekanak-kanakkan atau iri pada keberhasilannya. Lihat! Kamu sudah melakukan hal yang tepat. Kamu tidak berada di sini ketika international meeting terjadi. Tunjukkan kepada mereka apa artinya hidup tanpa Roz. Tiga minggu! Tunjukkan pada mereka! (hlm. 11)

Untuk itulah Roz butuh liburan, meninggalkan segala rutinitas yang selama ini membelenggunya. Dipilihnya Langenlois. Wilayah perkebunan anggur di selatan Austria. Yup, ini merupakan kota wine terbesar se-Austria. Siapa sangka di kota ini nantinya justru terpaut, tidak hanya satu hati, tapi kepada dua hati! #BagiSatuHatinyaDonkKakak #DikeplakRoz

“Bagimu mudah untuk memberi ide ini itu, tapi aku! Aku yang melihat ibuku mencoba bunuh diri, bukan kamu. Kamu pikir itu hal yang indah untuk dilihat? Aku yang harus melihat semua pekerja yang aku kenal sejak bayi menjadi penggangguran. Aku yang harus bertemu dengan semua keluarga yang kehilangan tanahnya! Aku yang harus menjelaskan ke mereka bahwa Hennerhof banyak hutang. Pernahkah kamu bayangkan apa yang kurasakan saat ini? Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kami, keluarga Henner, tuan tanah terkenal, yang dulunya menguasai Langenlois…, bangkrut! Hidup kami! Kehormatan kami! Semuanya hilang!” (hlm. 129)

Selain perjalanan hati Roz, kita juga diajak menelusuri kehidupan daerah Langenlois dengan segala anggurnya. Kalau di Ciwidey, kita akan menemukan banyaknya kebun strawberry. Nah, di Langenlois ini kita akan menemukan banyaknya kebun anggur bertebaran di mana-mana. Bahkan jika mampir di minimart di daerah tersebut, kita akan menemukan gerombolan wine dari berbagai bentuk dan ukuran. #TolongCulikAkuKeSana #PinjamPintuKemanaSajaDoraemon

Membaca novel ini, dari covernya saja kita bisa merasakan aroma kental dari anggur. Mulai dari cara memetik anggur yang benar; petik bonggol yang semua anggurnya sudah ranum. Semua buahnya ungu tua. Tinggal gunting tangkainya, masuk ke ember, seperti yang dijelaskan di halaman 57-58. Ada juga proses pembuatan wine yang dijelaskan di halaman 212-213; buah anggur dilumatkan, lalu diberi ragi, ditunggu sampai proses selesai. Kemudian dilakukan fermentasi selama dua kali. Sekali di kilang stainless steel, sekali lagi di gentong-gentong kayu besar. Karena efek fermentasinya berbeda. Lalu tentu sebelum dibotolkan harus dimurnikan, disarikan. Kemudian didiamkan sampai wine matang di dalam botolnya. Ada juga sekilas bahasan tentang wine tradisional dengan wine buatan pabrik di halaman 217. Meski kemasannya lebih cantik, wine kemasan pabrik masih kalah jauh dibandingkan dengan wine tradisional soal rasa. Tapi karena dalam jumlah besar, ditambah iklan yang gencar, tentunya nama wine kemasan pabrik lebih menonjol penjualannya dibandingkan wine tradisional.

Pokoknya kita akan menemukan aroma anggur yang bertebaran di setiap sisi cerita, bukan sekedar tempelan semata. Tidak hanya itu, saya juga mendapat pengetahuan baru tentang ilmu membuat wine yang biasa disebut dengan oenology. Ilmu ini ada sekolahnya di Austria. Ilmu mempelajari dari tumbuhannya sampai proses pembuatan wine. Uwow, ternyata selain ilmu yang saya pelajari saat kuliah, yaitu Jurusan Ilmu Perpustakaan, ada juga ilmu-ilmu unik lainnya seperti oenology ini ya!😉

Beberapa sindiran halus dalam buku ini:
1. Menangis bukanlah pilihan. Menangis tidak pernah menjadi pilihan. Marah-marah juga tidak ada gunanya. (hlm. 11)
2. Nasib orang proyek itu tendensinya dicari ketika tidak ada. (hlm. 13)
3. Semakin penting kamu, semakin jarang kamu cuti tanpa gangguan kantor. (hlm. 14)
4. Biarkan saja orang lain bilang apa. (hlm. 16)
5. Beginilah jam kantor di hari Jumat. Semua orang hendak pergi menghabiskan weekend di luar. (hlm. 20)
6. Banyak yang lebih tahu Bali daripada Indonesia. (hlm. 23)

Roz bukanlah tokoh utama yang sempurna. Justru itulah kelebihan dari si tokoh ini. Dia dideskripsikan seperti perempuan dewasa pada umumnya. Setangguh-tangguhnya hidup, hatinya bisa remuk juga. Dan begitu hatinya kosong, gampang banget membuka hati untuk yang lain. Err…kalau saya jadi Roz sih bakal milih Bjorn, tatapan matanya memang bikin meleleh dan memaku kita. Biasanya yang terlarang kayak Bjorn ini memang bikin menantang, gyahahaha… #PLAKK #MasukinBjornKeBotolWineBuatDipajang #DikeplakRoz

Membaca kisah Roz, Bjorn, dan Dagny ini ibarat memetik sebonggol anggur yang ranum. Meski terdiri satu tangkai, setiap buah memiliki rasa yang bisa berbeda; manis ataupun asam. Seperti itulah kehidupan Roz, Bjorn dan Dagny dalam Blue Vino ini!😉

Keterangan Buku:
Judul     : Blue Vino
Penulis     : K. Fischer
Editor     : Dini Novita Sari
Penerbit   : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit     : 2013
Tebal     : 328 hlm.
ISBN     : 978-979-22-8019-7

8 thoughts on “REVIEW Blue Vino

  1. Semakin penting kamu, semakin jarang kamu cuti tanpa gangguan kantor. => hihi, bener banget. kalo udah diperlukan kantor/atasan belum tentu bisa liburan dengan nyaman, apalagi cuti panjang haha

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Walaupun kurang ngerti sama alurnya tapi dari review kakak soal inform di dalamnya sepertinya novel ini recommended. Grapes always sound great! ^^

  4. Nggak kebayang perasaannya Roz gimana. Kerja kerasnya berbulan2, hasil kerjanya yg dilakukan sepenuh hati, disaat selesai yg harusnya membuat dia bangga, malah haru membuat dia kesel, jengkel, kecewa karema kerja kerasnya selama ini malah diakuin sama temennya sendiri. Semoga aku nggak akan pernah ngalamin hal itu, semoga nggak akan punya temen kayak gitu.

  5. Apa yang membuat novel ini dinamakan blue vino ya?

    Kalo jadi Roz pengen ngebakar tuh kantor, setelah 3 minggu liburan, apa Roz memang benar-benar dibutuhkan? Dan apa si bosnya itu tau kalo semuanya hasil kerja Roz?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s