REVIEW 7 Detik

WP_20150524_004

Hanya perlu 7 detik untuk jatuh cinta. Detik pertama, mengamati siluet keseluruhannya. Kedua, menatap matanya. Ketiga, lihat ekspresi wajahnya. Keempat, cek senyumnya, atau kalau tidak ya, bentuk bibirnya. Kelima, lihat gayanya bergerak. Keenam, cek apa ada getaran yang melanda perut kemudian dada, menandakan diri lo tertarik. Ketujuh, yang paling penting, kontak mata, seolah meyakini bahwa pertemuan ini tak terelakkan dan memang direncanakan oleh Takdir. (hlm. 13)

Bagi Devon, tak ada yang lebih membahagiakan daripada masuk ke dalam kamar, mendapati kucing kesayangannya nongkrong di tempat tidur, membuka matanya hingga sedikit sipit, menguap, kemudian mendengarnya mengeong dan mendengkur saat menuju belaiannya.

Bagi Devon, bahagia itu berbulu. Hadir dalam bulu Scott yang lembut wangi sampo lemon, ketika menyapanya dan berdekatan dengannya. Devon itu pathetic loser sok romantis, yang memang suka dalam keadaan demikian. Makanya Devon putus dengan Lani. Bukan karena dia kurang oke atau Devon yang nggak asyik. Karena Devon nggak jatuh cinta pada dia dalam tujuh detik.

“Bagiku, meski kita tidak lagi pacaran, kamu tetap bahagia, Dev. Akan berarti banyak bagiku kalau kamu mau memeliharanya dan sekali-kali memberikan kabarnya padaku.” (hlm. 21)

Kakak Lani punya hobi sekaligus bisnis pengembangbiakan kucing ras. Orantuanya pengusaha dan punya rumah serta gedung. Lani sendiri mahasiswa jurusan ekonomi yang punya bisnis sampingan gerai jus dengan pemasukan lumayan.

Dia sama sekali nggak sok. Dia baik, penyayang, dan saat putus malah memberikan Great Scott, kucing ras Scottish fold berusia lima bulan.

“Sejak kakak punya Scott, Kakak nggak benar-benar berminat cari cewek lagi.” (hlm. 37)

“Kakak menyedihkan banget deh. Lebih senang menghabiskan waktu berdua saja dengan kucing. Nanti kakak akan begitu terus? Setelah mengobati pasien, pulang ke rumah hanya untuk disambut kucing? Itu yang kakak inginkan? Kakaknya harus membina hubungan baik dengan orang juga dong, bukan dengan Scott saja!” (hlm. 159)

Tokoh Devon adalah representasi tipikal dokter muda. Pertama, serba bersih, cek saja di halaman 30-32, bahkan sang mama pun kena tegurannya. Ribet makan halaman 36, jadi keinget dulu punya teman jurusan Kedokteran pas kuliah KKN, tiap makan musti menakar dulu kandungan kalori, dan lain-lainnya, ribet amat hidup cuma mau makan doank… x). Banyak fans seperti Devon yang sering mendapat surat atau minimal salam dari para cewek yang meliriknya. Dengan menyandang status dokter, cewek-cewek dijamin melipir antri, jadi inget lagi jaman kuliah, dulu ada teman kosan yang negebet banget pengen punya pacar anak Kedokteran, saban hari ke perpus fakultas tersebut, pernah suatu hari dia malu gegara ulahnya sendiri gegara pas pura-puraa baca buku di perpus ternyata buku yang dipegangnya terbalik x). Dan masih banyak lagi hal-hal tipe anak Kedokteran banget yang melekat dalam diri Devon😀

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Orang-orang yang lo sayang memang punya kekuatan seperti itu. Bisa membuat lo sengsara atau bahagia nggak kepalang. Kadang lo nggak perlu mereka buat terang-terangan nunjukin simpati. Dengan bersedia mendengarkan lo, lo bisa yakin bahwa mereka akan selalu ada untuk lo. (hlm. 42)
  2. Orang yang lo sayangi berempati pada apa yang lo rasakan. (hlm. 42)
  3. Mengitari masalah tidak akan membuatnya pergi, apalagi mengabaikannya, malah akan membuatnya semakin membahana. (hlm. 81)
  4. Pelik adalah saat lo merasa menemukan cinta tujuh detik lo, lo nggak sempat mengajaknya berkenalan. (hlm. 119)
  5. Perempuan akan kelihatan cantik kalau sedang jatuh cinta. (hlm. 143)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kecewa dengan generasi muda ini. Mudah banget dialihkan perhatiannya. Kayak keadaan di pemerintah kita aja. Ada heboh-heboh isu penting mudah dipelintir dengan isu lain yang sama sekali samar dan nggak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi yang penting, lebih heboh dan menyenangkan untuk dibicarakan. (hlm. 16)
  2. Menyakiti orang yang lo sayangi, apalagi kalo lo sadar melakukannya dengan sengaja, membuat lo merasa lebih kerdil daripada sebutir atom. (hlm. 20)
  3. Cowok memangnya harus keren sok tangguh sok hebat sepanjang masa? (hlm. 24)
  4. Kenapa dunia begitu nggak adil? (hlm. 25)
  5. Ada yang bisa dibecandain, ada yang nggak! (hlm. 47)
  6. Baru 20-an tahun aja udah heboh ngomongin jodoh. (hlm. 69)
  7. Entah kenapa profesi dokter memikat bagi perempuan, walaupun belajarnya lama dan bagi perempuan kan sulit. (hlm. 75)
  8. Pacaran kok didekat orang sakit. (hlm. 99)
  9. Memangnya dunia akan kiamat kalau barang trendi yang lo incar habis stoknya di toko? (hlm. 128)
  10. Kalau dari kecil saja lo udah biasain bermental koruptor, apa jadinya masa depan saat generasi lo berkuasa? (hlm. 131)
  11. Apakah cinta bisa di-undo seperti file dalam komputer? (hlm. 217)
  12. Elo hanya bagian kecil dari semesta. (hlm. 222)
  13. Cinta dan teori kadang bertentangan. (hlm. 241)

Percayakah cinta tujuh detik seperti yang Devon alami? Banyak pesan moral yang diselipkan dalam kisah Devon dan Lani ini. Salah satunya adalah cinta tidak bisa direncanakan, apalagi dipaksakan.

Keterangan Buku:

Judul                                     : 7 Detik

Penulis                                 : Primadonna Angela

Desain & ilustrasi sampul: maryna_design@yahoo.com

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : April 2013

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9491-0

6 thoughts on “REVIEW 7 Detik

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Ulalaa tokohnya.. siapa sih yang nggak suka cowok dokter..
    Jadi Devon sama Lani berakhir karena Devon ga cinta 7 detik? Kok kucingnya masih di piara?
    Apa Devon menemukan cinta 7 detiknya? Wah tanda tanya nih alurnyaa..

  3. Ahhhh itu kutipan di buku yg kakak kutip diawal review behhh.. suka aku :3 walaupun menurut aku jatuh cinta butuh waktu yg lebih lama sih dari 7 detik

  4. Saya bukan tipe yang akan menyangkal cinta pada pandangan pertama, tetapi yang saya tahu cinta yang tercipta dalam waktu yang singkat sangat beresiko berakhir dengan cepat pula. Cinta seperti tetumbuhan perlu air, cahaya, dan pupuk supaya tumbuh subur.

  5. Jatuh cinta dalam 7 detik menurutku itu hanya rasa kagum pada first impression.

    Apa Devon menyesal sudah memutuskan Lani hanya karena tidak mengalami jatuh cinta pada 7 detik pertama? Dan ternyata ras cinta itu baru tumbuh setelah putus dan merasa kehilangan?

    Duh, dr. Devon, jangan sampe nyesel loh nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s