REVIEW Pay it Forward

WP_20150514_002

Cinta itu seperti kamu menaiki roller coaster. Ada saat kamu naik dan turun. Satu saat kamu akan ada di puncak kebahagiaan, tapi bukan tak mungkin di saat yang lain kamu terempas ke jurang. Percayalah, dengan orang yang tepat, perjalanan itu akan mengasyikkan.” (hlm. 207)

Kadangkala, hidup bisa berubah tanpa seperti yang kita duga. ANGGITA NATHANAEL, Gita nama panggilannya. Sebenarnya dia bukanlah gadis yang banci sosmed yang dikit-dikit up date, tapi tanpa sengaja dia membaca status yang ditulis Yunike Setiabudi, di pukul setengah tiga dini hari. Ya, setelah mengantar papanya ke bandara, dia membaca status Yunike di Facebook yang menuliskan jika dia sedang membuat program pay it forward.

Pay it forward. Meneruskan kebaikan pada orang lain di sekitar kita. Berusaha untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih menyenangkan. Entah bagaimana, pikiran bahwa ia dapat berpartisipasi dalam permainan ini secara nyata telah menyentuh sesuatu dalam dirinya. Aneh, ia bukanlah tipe orang yang mudah berkomentar pada status orang lain. Bahkan pada keadaan normal, ia tidak ingin ikut kuis atau giveaway apa pun seperti yang sering dilakukan oleh para kontaknya di Facebook.

Setiap manusia memiliki hantunya masing-masing. (hlm. 61)

Gitta pun memutuskan ikut, yang artinya dia juga berkewajiban ikut share status tersebut dan membaginya kepada tiga orang yang berkomentar di status facebooknya. Siapa sangka, tiga dari komentator di status facebook yang dia share ada Tedjas, teman satu kelompoknya saat MOS. Apa yang membuat Gitta heran? Gitta masih ingat sakit hatinya pada Tedjas yang tidak jelas saat MOS, dan mengancam kekompakan kelompoknya. Tedjas tak peduli dan menghilang di tengah lautan kelompok MOS-nya itu. Dari situ, Gitta ingin jauh-jauh dari Tedja yang hidupnya tidak jelas itu. Siapa sangka, kini dia harus berhadapan kembali dengan Tedja lewat program ‘pay it forward’ yang harus dijalaninya.

“Apa pun yang dilakukan oleh papamu, kamu harus percaya itu dilakukan karena papamu takut kehilangan kamu. Seperti ketika kecil dulu, kamu takut kehilangan beliau.” (hlm. 195)

Di sisi lain, Gitta juga memiliki hubungan yang rumit dengan papanya. Gitta merasa papanya terlalu protektif menjaganya. Hal apa pun yang dilakukannya selalu diawasi ketat oleh papanya. Bahkan meski hanya nonton di bioskop atau makan bareng Kartika, sahabat dekatnya itu. Sebenarnya papanya bersikap demikian adalah salah satu bentuk rasa cintanya terhadap anak satu-satunya itu. Terlebih lagi, Gitta tidak memiliki figur mama sejak dia dilahirkan. Papanya selalu cemas akan hal apa pun yang dilakukannya, termasuk jika Gitta dekat dengan lawan jenis, papanya akan menginterogasinya secara beruntun.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kekompakan itu penting banget. (hlm. 29)
  2. Setiap orang patut mendapat kesempatan kedua. (hlm. 36)
  3. Bahwa dalam hidup,seseorang tidak bisa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. (hlm. 49)
  4. Hati kecil lo juga tahu, itu hal yang benar yang harus lo lakuin. Dan hal yang benar. (hlm. 70)
  5. Bahkan saat yang paling sulit akan menuntun seseorang menuju hari-hari yang lebih baik. (hlm. 93)
  6. Kita punya banyak hari di depan untuk saling bercerita dan mengejar ketertinggalan. (hlm. 141)
  7. Selalu ada dua sisi cerita dalam setiap kisah. (hlm. 146)
  8. Nggak semua hal perlu diungkapkan dengan kata-kata. (hlm. 227)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Usiamu dua puluh, tapi pikiranmu belum matang. (hlm. 22)
  2. Dua gadis berkeliaran malam-malam tanpa diantar, bisa memancing niat jahat. (hlm. 23)
  3. Jangan berpikiran jelek terus dong. Dosa, tahu.(hlm. 33)
  4. Kalau lo mau berbuat sesuatu, pikirin dulu akibatnya. (hlm. 55)
  5. Nggak heran memang kalau orang merasa bisa berbuat semaunya sendiri karena punya koneksi. Dia nggak pernah ingat gimana nasib anak-anak yang lain. (hlm. 56)
  6. Orang sibuk memang beda sih. Ikut kelas aja bisa suka-suka. Nggak mesti datang, tapi tiap ujian lulus. (hlm. 56)
  7. Memangnya semua anak kayak lo? Yang kalau lagi malas kuliah, nekat nggak datang! (hlm. 95)
  8. Emang lo nggak ada kerjaan lain yang lebih penting daripada hanya duduk? (hlm. 97)
  9. Buat apa lo nantang bahaya. (hlm. 101)
  10. Dunia memang kadang nggak adil, ya. (hlm. 105)
  11. Selalu ada sebab di balik perbuatan seseorang. (hlm. 176)
  12. Jangan gitu sama orang yang menaruh perhatian ke lo. (hlm. 185)
  13. Kadang orang berlaku keterlaluan kalau lagi cemburu. Rasio memang nggak jalan. Biarpun mereka berusaha berpikir logis, tapi mereka nggak bisa. Apalagi kalau emosi udah main. Walaupun itu cowok. (hlm. 236)
  14. Hanya orang yang istimewa yang bisa membuat seorang gadis murung. (hlm. 238)
  15. Orang kalau lagi jealous, memang akan jadi tolol. Tapi itu nggak berarti dia jahat. (hlm. 241)
  16. Janji adalah utang. Dan utang tetaplah utang, yang harus dibayar kembali suatu saat nanti. (hlm. 245)
  17. Katanya kalau orang cemburu, ngomongnya memang suka ngasal dan kasar. (hlm. 251)

Ide yang ditawarkan dalam buku ini menarik; pay it forward. Abis baca ini jadi kepikiran juga mau buat proyek pay it forward, kayaknya seru juga.

Buku ini tidak hanya membahas hubungan antara laki-laki dan perempuan semata, juga hubungan antara anak dan orangtua juga hubungan antar keluarga. Ada bagian yang sedih dan bikin berkaca-kaca saat membacanya, dihalaman 194-195 ketika Oma Hellen mengatatakan jika bagi papa, kebahagian dirinya tak penting. Papa hanya ingin Gitta yang bahagia. Papa tak ingin Gitta mimpi buruk atau mengigau dan berucap hal yang sama berulang-ulang. Papa tak ingin Gitta mengalami trauma di masa kecilnya yang sudah susah. Tapi papa berkeras, papa akan memberikan hidupnya untuk Gitta dengan warna pelangi. Papa pernah berjanji pada Oma, biarpun tanpa sosok mama, Gitta akan tumbuh menjadi anak yang paling bahagia di bumi. Apa pun yang bisa dilakukan oleh papa, akan beliau lakukan. Karena bagi papa, Gitta adalah warisan paling berharga dari wanita yang sangat dia cintai… :’)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Pay it Forward

Penulis                                 : Emma Grace

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : April 2015

Tebal                                     : 256 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1501-0

WP_20150828_024

11 thoughts on “REVIEW Pay it Forward

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Baca reviewnya ngingetin aku sama salah satu karya Cathy Hopkins, tentang remaja2 yg mengadakan amal. Mungkin hampir sama kayak buku ini ya. Aku jadi penasaran tokoh2nya melakukan Pay It Forward kayak gimana.

  3. dihalaman 194-195 ketika Oma Hellen mengatatakan jika bagi papa, kebahagian dirinya tak penting. Papa hanya ingin Gitta yang bahagia. Papa tak ingin Gitta mimpi buruk atau mengigau dan berucap hal yang sama berulang-ulang. Papa tak ingin Gitta mengalami trauma di masa kecilnya yang sudah susah. Tapi papa berkeras, papa akan memberikan hidupnya untuk Gitta dengan warna pelangi. Papa pernah berjanji pada Oma, biarpun tanpa sosok mama, Gitta akan tumbuh menjadi anak yang paling bahagia di bumi. Apa pun yang bisa dilakukan oleh papa, akan beliau lakukan. Karena bagi papa, Gitta adalah warisan paling berharga dari wanita yang sangat dia cintai… :’)

    Sedih baca itu😥

    Kadang kita terlalu ingin membahagiakan orang lain dan melupakan cara untuk membahagiakan orang disekitar yang menyayangi kita. Kita lebih ingin diperhatikan oleh lawan jenis yang kita sukai dan menganggap enteng juga risih perhatian dari kedua orang tua kita. Padahal, cinta kedua orang tua kita yang lebih tulus pada kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s