REVIEW Bride Wannabe

WP_20151017_004

“Enggak ada manusia yang sempurna. Sekeras apa pun usaha lo untuk menyempurnakan diri maupun pasangan, itu akan sia-sia. It’s not worthed to try after all. Rumus berpasangan adalah saling melengkapi satu sama lain, mengisi celah masing-masing. Lo lihat deh, enggak ada pasangan di dunia ini yang sifatnya sama. Pasti beda. Kalau dua orang punya sifat yang sama bersatu, sudah dipastikan hidup mereka pasti bakal membosankan.” (hlm. 220)

SASCHA. Pada usianya yang ke-28, harusnya dia merasa beruntung. Ketika dia hendak membebaskan diri dari jam kantor yang membuat otak serasa beku dan buntu, serta membuat efek keterbelakangan mental karena bos egois yang bisa mengubah perintah dan delegasi tugas dalam hitungan detik. Baby, adik sepupunya yang hanya beda umur dalam hitungan bulan, memberinya pencerahan bagaikan matahari yang bersinar pada malam hari. Bermodalkan tempat yang lumayan strategis di daerah Kemang, kemampuan Baby dalam desain grafis dan kecintaannya pada fashion menjadi nilai tambah berkali-kali lipat untuk mewujudkan keinginannya dan Baby; mendirikan butik impian mereka.

Sascha punya passion yang besar di butik ini. bukan dalam pakaian, aksesori, atau pernak-pernik cantik lainnya, mungkin itu bagian Baby. Sascha punya passion yang besar dalam hal mengembangkan bisnis butik ini. Sascha ingin sekali mempunyai beberapa butik seperti ini yang selalu ramai dikunjungi banyak orang dan menuai keuntungan yang besar. Dalam impiannya, butik ini akan bercabang-cabang seperti dahan pohon. Sebenarnya, Sascha ingin sekali mempunyai toko bunga. Namun, rasanya untuk sekarang ini, mimpi itu masih harus Sascha tunda. Mungkin nanti bisa terwujud. Entah kapan.

Sascha sering kali ditanya apakah dia tidak bosan dengan hubungan yang pajang dan lama bersama Ben, delapan tahun mereka berpacaran. Tentu saja bosan. Sascha dan Ben bukan robot. Dulu, mereka punya cara praktis untuk mengakali semuanya. Mereka membuat peraturan untuk tidak bertemu selama seminggu. Sebagai penggantinya, mereka meluangkan waktu bersama teman-teman yang lain, atau beraktivitas yang lainnya. Hingga salah satu dari mereka akan menelepon, artinya mereka sudah tidak bosan lagi.

Akan tetapi, sekarang sejak Ben sibuk dengan pekerjaan dan jabatan baru di kantornya sebagai marketing manager untuk produk baju dan jas dari luar negeri, rasanya cara praktis itu sudah tidak berpengaruh lagi. Terkadang Sascha dan Ben bisa tidak bertemu selama dua minggu bahkan sebulan. Ben juga mulai jarang menelepon.

Jika menelepon, itu pun tak sampai lima menit, dan yang diceritakan tentu saja pekerjaannya, bukan menanyakan kabarku. Sascha selalu protes akan hal ini. Namun, ketika Sascha mulai meributkan hal ini, Ben pasti lebih bisa beragumen karena ia pintar berbicara dan berkelit. Hasilnya? Yang pasti Sascha kalah dan Ben menang. Ben akan memenangkan pekerjaannya.

Sementara Baby dan Will yang baru berpacaran dalam hitungan bulan, bahkan belum mencapai satu tahun sudah berani memutuskan untuk menikah. Sangat sukar dipercaya. Mereka bertemu saja jarang, tetapi apa yang terjadi? Ternyata mereka berhasil menjaga hubungan tersebut, malah sudah akan melangkah ke satu jenjang yang lebih tinggi, yaitu pernikahan.

Dengan kabar gembira yang diembuskan oleh Baby, kenyataan pahit sudah tertoreh dengan tinta tebal di kening Sascha. Baby akan menikah, sedangkan nasibnya masih tidak jelas.

Bukannya Sascha tidak bahagia dengan hubungannya bersama Ben. Sikap dan kecintaan Ben pada pekerjaannyalah yang membuat rasa itu semakin luntur. Sascha sungguh lelah.

“Ben, kita sudah pacaran selama delapan tahun, hampir sembilan tahun. Apakah enggak ada artinya buat kamu?”

“Tentu saja. Aku mensyukuri hubungan ini.”

“Jadi? Apakah kamu ingin selamanya seperti ini?”

“Maksud kamu apa sih?”

“Kalau kamu masih ingat, aku mempertanyakan ini berkali-kali, tetapi kamu selalu menghindar. Aku ingin tahu saja, sampai kapan kamu mau menggantung aku seperti ini tanpa kepastian?”

“Apakah hal itu sangat penting untuk kamu, Cha?”

“Kamu tahu jawabannya, Ben.”

“Pekerjaan ini sudah menjadi impianku sejak dahulu. Ini masa depan, Cha. Masa depan kita! Aku memikirkan kamu juga!”

“Kita? Tetapi aku merasa nggak pernah ada di dalam masa depan kamu. Kamu enggak peduli sama aku. Yang aku lihat kamu selalu melihat dirimu sendiri.”

“Itu nggak benar!”

“Kalau kamu peduli, kamu enggak akan memperlakukan aku seperti ini. Sejak kamu bekerja di sini, kamu sudah banyak berubah. Yang ada di pikiran kamu hanya kerja,kerja dan kerja. Jadi, maaf kalau aku enggak merasa ada di dalam masa depan kamu. Di masa depan yang kamu katakan itu hanya ada kamu dan pekerjaanmu.” (hlm. 44-47)

Di awal membaca buku ini, saya jadi teringat buku yang ditulis oleh Mbak Christina Juzwar yang sudah saya baca sebelumnya yaitu Lovely Proposal. Mengambil benang merah yang sama; tentang hubungan dua pasang manusia yang menjalani pacaran bertahun-tahun tanpa ada ikatan menuju gerbang pernikahan.

Begitu pula dengan buku ini. Awalnya saya menganggap Sascha terkesan egois dan menuntut Ben. Tapi seperti perempuan pada umumnya, apalagi mereka ini sudah pacaran delapan tahun, wajar banget jika Sascha butuh kejelasan hubungannya ini. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Byuh, itu pacaran apa kredit rumah, lama banget?!? X)) #DikeprukSascha

Kalau masih di umur dua puluhan, mungkin sikap Sascha ini terlalu manja banget minta perhatian Ben. Tapi ini beda, umur Sascha sudah 28 tahun yang artinya dia sudah punya gambaran masa depan yang harusnya dia bangun bersama pasangan hidupnya kelak sampai akhir hayat nanti. Ben, pacar delapan tahunnya ini punya pemikiran berbeda. Bagi dia, di usianya justru karirnya sedang berada di puncak, dia tidak mau meninggalkan kesempatan ini. Toh, demi masa depan mereka juga.

Dalam kehidupan nyata, ada beberapa teman yang memiliki kasus seperti ini. pacaran bertahun-tahun tapi jalan di tempat. Dan terutama perempuan, alasan paling krusial adalah menunggu. Ada begitu banyak alasan kenapa sang lelaki tidak siap. Dan terkadang sang perempuan juga tidak sabar. Hingga terkadang pacaran bertahun-tahun dengan si A, ujung-ujungnya menikah dengan si B yang memang sudah tanggung jawab.

Sebenarnya kasus seperti Sascha ini, menunggu Ben sedikit lagi seharusnya bisa. Toh, Ben bekerja keras untuk rencana masa depan mereka. Beda kasusnya kalo laki-laki yang ditunggu tidak punya masa depan. Maksudnya bukan dari secara materi loh, tapi lebih pada kesiapan sang laki-laki. Karena tak jarang di zaman sekarang ini kita temukan perempuan banting tulang menghidupi kebutuhan keluarga, sementara yang laki hanya ongkang-ongkang kaki di rumah, sibuk gosok batu cincin atau menghabiskan waktu dengan memancing, sementara periuk nasi butuh diisi. Ada, ada banget yang kayak gini. Saya jadi kasihan jika perempuan-perempuan seperti ini terjebak yang namanya sebuah pernikahan. Bukan apa pekerjaan sang laki-laki, tapi bagaimana sang laki-laki bertanggung jawab menghidupi kebutuhan keluargalah yang justru lebih penting.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tanya aja kepada Tuhan yang menciptakannya. Dia lebih tahu. (hlm. 145)
  2. Ikuti kata hatimu. Kejarlah cintamu. Karena kamu berhak. (hlm. 279)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hidup itu memang penuh kebetean, hidup bete! (hlm. 9)
  2. Jakarta memang nggak pernah bersahabat dengan kita. (hlm. 43)
  3. Jalan keluar seperti apa? Kalau kamu serius, kamu pasti sudah menyusunya di pikiranmu. (hlm. 49)
  4. Kamu enggak bisa menuduh orang sembarangan. Jangan meracau. (hlm. 51)
  5. Mencoba itu nggak salah. Lo dulu belajar naik sepeda juga pakai jatuh. Pasti pertamanya juga lo takut, kan? kalau lo terus bersahabat dengan rasa takut itu, gue yakin lo enggak bakal bisa naik sepeda sampai sekarang. (hlm. 75)
  6. Putus ya putus aja. Masih banyak cowok kok. (hlm. 123)
  7. Jangan berlebihan. Emangnya rajin nggak boleh? (hlm. 133)
  8. Biasa, tapi kamu kok uring-uringan melulu? Semua kena omel. Masa hal kecil yang sepatutnya enggak dipermasalahkan, kok, bisa jadi besar? (hlm. 157)
  9. Sesekali berbuat yang ekstrem, aneh, dan berbeda dong. Kalau hidup lo terencana seperti agenda meeting, terlalu monoton. Lama-lama otak lo bisa tumpul dan mati. Lo tau enggak, kejutan atau tindakan tak terencana membuat otak lo bekerja cepat dan juga memicu jantung dan napas lo. Sangat disarankan. Baik untuk kesehatan. (hlm. 170)

Kisah Ben dan Sascha yang saya ceritakan bukan bagian dari spoiler isi buku ini. Itu hanyalah salah satu bagian dari hidup yang harus dijalani Sascha. Ketika dia memutuskan Ben, dia berusaha memperbaiki hidup dengan laki-laki lain. Tidak mudah. Termasuk ketika bertemu Oliver, keraguan masih mengerayangi hatinya.

Meski Baby hanya pemeran figuran alias hanya sepupu sekaligus sahabat Sascha ini, karakternya juga paling kuat. Gayanya yang ceplas-ceplos dan apa adanya serta sering menguatkan Sascha ini cukup diacungi jempol!😉

Pesan moral dari buku ini adalah dalam hidup jika mencari sempurna nicsya kita tidak pernah akan menemukannya. Karena sesungguhnya yang dibutuhkan dalam hidup adalah yang membuat kita nyaman. Halaman 304-305 bikin nyesss.. :’)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Bride Wannabe

Penulis                                 : Christina Juzwar

Penyunting                         : Fitria Sis Nariswari

Perancang sampul           : Wirastuti

Pemeriksa aksara             : Septi Ws & Fitriana

Penata aksara                    : Martin Buczer & Endah Aditya

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : September 2014

Tebal                                     : 310 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-043-5

WP_20151021_024[1] WP_20151017_007[1]

9 thoughts on “REVIEW Bride Wannabe

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. “Enggak ada manusia yang sempurna. Sekeras apa pun usaha lo untuk menyempurnakan diri maupun pasangan, itu akan sia-sia. It’s not worthed to try after all. Rumus berpasangan adalah saling melengkapi satu sama lain, mengisi celah masing-masing. Lo lihat deh, enggak ada pasangan di dunia ini yang sifatnya sama. Pasti beda. Kalau dua orang punya sifat yang sama bersatu, sudah dipastikan hidup mereka pasti bakal membosankan.” (hlm. 220)
    yapp, karena kita hidup itu buat saling melengkapii

  3. tentang karakter Baby dan butiknya, seperti asyik ya… kalau membaca review ini saya membayangkan asyiknya gambaran butik baju itu. apakah dari segi setting novel ini oke?

  4. Kalau aku liat review kak Luckty kesannya emang Sascha yang agak egois ya.. padahal Bennya juga serius kok. Jadi penasaran deh apa balikan lagi atau nggak tuh. Lumayan kan udah 8 tahun :’)

  5. Emang nyebelin sih kalau ditelpon malah yg nelpon ngomongin kerjaannya mulu, nggak nanya kabar kira, gimana hari kita pada saat itu, menyenangkan atau tidak. Tapi aku rasa harusnya si Sascha harus maklum dengan kesibukan Ben. Aku jadi penasaran gimana kelanjutan hub mereka.

  6. Tumben mbak Luckty kalimat favorit cuma dua nomor? Hi Hi… Biasanya banyak.
    Duh! Pengen baca novelnya…
    Biasanya dari pihak perempuan lebih banyak “tuntutan” segera menikah karena faktor umur. Tapi Ben udah pasti cukup secara materi. Kalau aku jadi Sascha Ben udah aku seret ke penghulu…

  7. Pengen novel iniii…..

    Sasya akhirnya gimana ya setelah putus sama Ben? Juga sebaliknya??

    Menurutku ga ada salahnya menikah. Ben masih bisa bekerja sebagaimana mestinya dan hanya tinggal lebih bijak membagi waku. Kalo ngikutin kerjaan sih ga ada abisnya.

    Covernya manisss banget, suka suka suka.

    Kayak kado, tapi kalo dibalik malah kayak amplop😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s