REVIEW Arabella

WP_20150916_030

Bukankah siapa saja dengan senang hati menawarkan bantuan kepada orang yang kesusahan? (hlm. 71)

ARABELLA namanya. Diantara saudara perempuannya adalah yang paling jelita. Memiliki mata besar ekspresif berwarna gelap, hidung mancung, dan bibir mungil. Kulit mulutnya menuai rasa iri gadis-gadis kurang beruntung, kulit yang mulus bukan karena Losion Denmark, Embun Kahyangan, Krim Bloom of Ninon, ataupun produk-produk kecantikan lain yang diiklankan di jurnal-jurnal berkala di masanya.

Arabella memesona para pengagum karena terkesan rapuh, alhasil sempat mengilhami seorang pemuda berotak romantis untuk membandingkannya dengan daun yang ditiup angin dan seorang pemuda lain untuk mempersembahkan puisi payah yang menyamakan Arabella dengan Titania, ratus peri dalam sebuah drama Shakespeare.

“Kita semua niscaya mendapat keuntungan jika kau berkesempatan ke sana!” (hlm. 3)

“Barangkali Papa tidak senang jika mendengarku bicara terlampau terang-terangan seperti ini, tetapi kau anak manis yang pintar Arabella, jadi aku tidak keberatan berbicara apa adanya kepadamu. Jika kau berhasil memperoleh pasangan yang pantas, kau niscaya bisa membukakan jalan bagi adik-adik perempuanmu.” (hlm. 23)

“Aku meyakini bahwa Arabella adalah gadis baik-baik, tetapi dia masih sangat belia, apalagi pembawaannya menggebu-gebu. Aku khawatir dia bersikap tidak bijaksana ketika tidak ada yang mengawasi. Di bawah atap rumah Lady Bridlington, aku takut kalau-kalau Arabella terhanyut ke dalam kehidupan gemerlap yang langtas melemahkan ahlaknya dan menjadikannya tidak cocok menjadi bagian dari masyarakat yang berakal budi.” (hlm. 29)

Impian Arabella adalah berkunjung ke London. Dia menginginkan kehidupan di sana yang penuh dengan berbagai pesta dan berharap menemukan cintanya. Takdir membawanya ke London, ibu baptisnya yang kaya raya mengiriminya sebuah surat dari London.

Mulanya sang ayah keberatan anaknya ini pergi jauh. Tapi ibunya justru mendukung penuh. Sang ibu berharap agar anaknya ini kelak memiliki suami yang kaya dan bisa memakmurkan jalan hidup bagi adik-adiknya kelak.

Arabella mahfum bahwa sebagai anak perempuan tertua diharapkan memperoleh suami yang sekaya dan seterpandang mungkin, demi membantu keluarga. Arabella tahu bahwa demikianlah kewajibannya.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan terlalu berharap! (hlm. 10)
  2. Dia cuma bocah manja. Lagaknya saja yang sok tua, tetapi pikirannya masih kekanak-kanakan dan tidak bijaksana. (hlm. 11-12)
  3. Pada umumnya, seseorang yang pantas tidak mewujud begitu saja dari udara kosong, di tengah-tengah wilayah desaan. Calon suami yang pantas mesti dicari di dunia luas. (hlm. 28)
  4. Anak perempuan selalu membocorkan segalanya! (hlm. 35)
  5. Laki-laki tidak menaruh minat pada hal-hal yang sama dengan kita. (hlm. 54)
  6. Jangan banyak cincong! (hlm. 74)
  7. Harta berlimpah justru menguntungkan bagi pemiliknya. (hlm. 92)
  8. Membeli barang yang cocok sekali untuk kita tidak dianggap sebagai pemborosan. (hlm. 109)
  9. Tiada yang lebih menjemukan selain mendengarkan cerita tentang orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal. (hlm. 113)
  10. Haruskah saya mengharapkan lamaran dari tiap pria yang saya jumpai? (hlm. 120)
  11. Kalau kau mencerocos terus, niscaya paham apa sebabnya seluruh dunia mengataimu cerewet. (hlm. 151)
  12. Dasar kaum laki-laki menjijikkan! (hlm. 223)
  13. Semua utang adalah utang kehormatan dan mesti dibayar! (hlm. 357)

Sosok Arabella adalah representasi gadis di masanya. Di kehidupan jamannya itu, perempuan diukur dari kecantikan dan kehidupan cintanya. Semakin cantik maka akan semakin banyak yang melirik. Semakin kaya harta yang dimiliki pasangan sang perempuan, akan semakin dipandang kedudukannya di mata masyarakat. Demi memperoleh dua hal itu, Arabella membual dengan mengatakan bahwa dia adalah pewaris salah satu keluarga kaya. Dari bualannya itu kelak akan menimbulkan masalah.

Mrs. Tallant juga merupakan representasi emak-emak jaman dulu, dimana kerap memandang calon pendamping bagi anaknya haruslah yang terpandang dan bergelimang harta. Hal itulah yang dia tanamkan kepada anak-anaknya, terutama kepada Arabella sebagai anak pertama. Makanya jangan heran jika Mrs. Tallant ini mengupayakan segala cara agar Arabella bisa pergi ke London meski ditentang suaminya yang keberatan jika anaknya didik demikian. Toss ama papanya Arabella x)

Ini adalah salah satu buku klasik yang diterjemahkan oleh Noura Books. Cover versi terjemahan ini unyu banget, jadi nggak terkesan berat. Sayangnya di halaman kolasi tidak disebutkan bahwa buku aslinya diterbitkan tahun berapa, jadi kita tidak tahu seberapa klasik buku ini. Baru ketika googling ada info jika buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1817. Widih, Indonesia belum merdeka! X)

Pesan moral dari buku ini adalah jika kita berbohong sekali, akan menimbulkan kebohongan lainnya. Jadi sebaiknya hindari berbohong, karena akan membuat hidup resah gelisah.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Arabella

Penulis                                 : Georgette Heyer

Penyunting                         : Jia Effendi

Penata aksara                    : CDDC

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Agustus 2015

Tebal                                     : 432 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0989-90-7

arabella

11 thoughts on “REVIEW Arabella

  1. Selalu suka sama novel klasik! Aku dari kemarin cari review arrabella di blog-blog lain tapi. Ternyata pas ngecek punya kakak ternyata udah di review hehe. Apa memang semua karya George Heyer itu sejenis arrabella kak? Tentang keluarga,harta dan cinta? Terimakasih atas reviewnya kak ^^)/

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  4. Salah satu buku yang eye-catching-minta-dibeli! Cover-nya sederhana, tapi manis. Judul Arabella juga mengingatkanku dengan salah satu judul lagu band kesukaanku. Aku kira penulis terinspirasi dari sana, eh, ternyata band tersebut ya yang sepertinya terinspirasi. Secara aku baru tahu dari review kak Luckty bahwa ini adalah buku klasik dari tahun 1817.

    Melihat pesan moral yang disimpulkan kak Luckty, aku jadi penasaran bagaimana Arabella melalui semuanya setelah ia berbohong sekali. Kalau ada rezeki, mungkin nanti bakalan beli buku ini dan beberapa buku klasik yang lain!

  5. Yaampun tua banget bukunyaa😄
    Aku bayangin cerita macam Romeo Juliet yang aku baca di perpus sekolah. Berat banget bahasanya😄

  6. Setelah baca Pride & Prejudice, aku jadi suka buku2 klasik. Nah aku sering liat buku Arabella ini di gramed dam menilai dari covernya sih aku yakin pasti buku klasik. Pas baca review kak Luckty ternyata bener (aku blm baca sinopsisnya sebelumnya), dan aku malah jadi kepengen beli bukunya.

  7. Lalu bersama siapakah Arabella kelak?

    Kasian juga ya, jadi anak tertua harus menikah dengan orang kaya dan terpandang demi kehidupan keluarga juga adik-adiknya. Papanya Arabella itu papa yang sayang sama anaknya, itu mrs. Tallant ko gitu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s