REVIEW At the Park

PicsArt_19_09_2015 11_35_07

Lo harus denger kata-kata lo sendiri deh. Konyol banget. Benci dan nggak suka cuma dipisahin tanda ‘sama dengan’. Ngerti? (hlm. 34)

TIARA. Tipe cewek sederhana. Dan memang betul. Dia selalu mengategorikan dirinya sebagai orang simpel. Nggak neko-neko. Banyak yang tak menyangka, pastinya karena wajahnya kebulean. Soal ini sepertinya agak menyebalkan baginya. Tidak sedikit yang mengira bahwa dia model atau artis.

RAYMOND. Dunia pergaulannya berbeda dengan Tiara. Bagi Illa, sahabat Tiara, Raymond adalah orang yang menyebalkan. Dilihat dari cara pembicaraannya, sok kayak model papan atas, padahal juga masih model rintisan. Dari awal mereka jadian, Illa tidak pernah setuju. Profil cowok ini memang cocok untuk dunia yang digelutinya. Tinggi, badan six pack sempurna, tampan, kulit kecokelatan, hidung mancungnya sedikit bengkok seperti Owen Wilson tapi malah menambah keunikan wajahnya. Sorot matanya yang kecil namun tajam cenderung dingin. Meski begitu, tetap saja bagi Illa, Raymond adalah sosok yang paling menyebalkan.

“Menurut lo cinta manusia pada manusia sama nggak dengan manusia ke hewan?” (hlm. 111)

“Menurut gue sih sama aja. Toh banyak juga yang punya kriteria tertentu pada anjing. Suka yang besar, kecil, bulunya panjang. Semua mahluk hidup diberikan perasaan. Cinta atau kasih sayang. Dan kita berhak memberikannya kepada siapa pun. Manusia atau hewan. Sama saja. Yang penting tulus. (hlm. 113)

Hingga suatu hari, Tiara bertemu Al di taman. Alfred Effendi nama lengkapnya. Perawakannya sangat berkebalikan dengan tampang Raymond; cowok sederhana, berkacamata, bertampang biasa, dan mempunyai passion yang sama dengan Tiara, yaitu penyayang binatang.

Hal terakhir itulah yang membuat Tiara nyaman berteman dengan Al; karena mereka sama-sama memiliki binatang masing-masing yang mereka sayangi.

“Mendingan lo udahin aja.”

“Gue kayak cewek brengsek.”

“No, lo kayak cewek yang berpendirian. Jangan jadi drama queen sekarang. Siapapun yang mutusin adalah pihak yang bersalah.”

“Tapi kalau ada alasan yang kuat kan tidak akan jad pihak yang bersalah, melainkan pihak yang tegas.”

“Tapi gue tetap salah. Mikirin cowok lain sementara gue masih punya cowok.” (hlm. 141)

Membaca buku ini khas remaja banget; mulai dari sifat sampai problema yang dihadapi. Problema remaja jika dibandingkan dengan masalah orang dewasa memang jauh berbeda. Bagi kebanyakan remaja, kisah percintaan merupakan salah satu hal paling berat dalam hidup. Kisah percintaan ala remaja memang penting nggak penting. Kadang saya sampai geleng-geleng kepala kalau mendengar kisah cinta para murid unyu di sekolah, kisahnya beda-beda macam cerita yang ada di sinetron-sinetron. Tapi memang begitulah realita yang ada sekarang ini. Kita tidak bisa memungkirinya x))

Pesan moral dari buku ini adalah ketika kita menjalani hidup, sesuatu yang sempurna belum tentu yang terbaik bagi kita. Ketidaksempurnaan pada diri seseorang bisa jadi justru melengkapi kehidupan kita yang juga tidak sempurna😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kadang gue takjub dengan cara Tuhan mempertemukan dua orang, yang terkadang tidak pernah terpikirkan akal manusia. (hlm. 115)
  2. Kalau gue malah wondering, apa sih rencana Tuhan di balik kebetulan-kebetulan yang rasanya kok sulit dipercaya bisa terjadi.. (hlm. 115)
  3. Memang harus dicoba. Meraih kebahagiaan tak segampang yang kita pikir. Harus kita perjuangkan. (hlm. 153)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ya ampun, nggak sadar apa di dunia maya sarangnya para predator? Siapa pun bisa menjadi orang lain di dunia maya. Fotonya ganteng? Halooo, bisa aja fotonya juga nyolong foto orang lain. (hlm. 19)
  2. Sibuk banget ya? Kok nggak dibalas? (hlm. 78)
  3. Napa nanya-nanya? Kepo amat. (hlm. 79)
  4. Jangan nakutin dong. (hlm. 111)
  5. Nggak usah pusing. Gue kalo di posisi lo juga akan ngerti. (hlm. 173)
  6. Nangis seharian sampai ketiduran ternyata bukan hal bagus. Seenggaknya dilihat dari sisi wajah. (hlm. 236)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : At the Park

Penulis                                                 : Kristi Jo

Editor                                                    : Irna

Desain sampul                                   : Orkha Creative

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 288 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-1857-8

 

11 thoughts on “REVIEW At the Park

  1. Pingback: Giveaway Promises + At the Park | Luckty Si Pustakawin

  2. Jangan bilang ini seperti Over The Rain versi pacaran? Tidakkkk Tiara cewek yang baik kurasa dia tidak akan berselingkuh suka feel antara Tiara sama Raymond mereka jadi saling melengkapi {}

  3. Raymond… Raymond… songong banget lau!😄

    Yang nyenengin terkadang membosankan. Yang nyebelin justru suka bikin kangen. Mungkin begitu ya rasanya jadi Illa kepada Raymond dan Al.🙂

  4. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  5. Pesan moral dari buku ini adalah ketika kita menjalani hidup, sesuatu yang sempurna belum tentu yang terbaik bagi kita. Ketidaksempurnaan pada diri seseorang bisa jadi justru melengkapi kehidupan kita yang juga tidak sempurna😉

    Ini yang dimaksud kakak siapa ya aku bingung.. Al atau Ray.-.

  6. Ceritanya remaja, tapi pacarnya Tiara sosoknya udah jadi dewasa lewat penggambaran fisiknya, mereka seusia atau beda ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s