REVIEW Promises

PicsArt_19_09_2015 11_36_14

Setiap orang pasti berubah. Hidup lo berubah. Kita nggak cuma diam di tempat, kan? kalau lo mau seperti dulu berarti lo nggak beranjak dari masa lalu. Persahabatan kita cuma layak ditaruh di memori otak bagian kenangan aja. Nggak usah lo aplikasikan sama persis sekarang. Nggak bakal bisa. (hlm. 93)

JOSHUA, LANA dan ALEX bersahabat sejak kecil. Hingga suatu hari, takdir memisahkan mereka. Untuk mengenang persahabatan mereka, Lana memberikan ide jika mereka bertiga harus menuliskan sebuah pesan berisi harapan yang nantinya akan dikubur di Taman Gembira. Awalnya sahabat Lana, Alex dan Joshua meremehkan ritual ini. Kemudian Lana meyakinkan mereka bahwa ini adalah salah satu cara agar mereka tidak melupakan persabahatan mereka di lima tahun yang akan datang.

“Kenapa sih kita harus kepisah? Nggak adil!” (hlm. 9)

“Apa dengan berubah akan ngebuat persahabatan kita hilang? Nggak dong. Kebangetan kalau sampai lupain persahabatan kita.” (hlm. 12)

Zaman SMP, saya hobi banget nyewa komik di rentalan buku. Saking seringnya, mbak-mbak penjaganya sampai hapal saya, bahkan beberapa sahabat saya kala itu pun dikenalnya. Si mbak ini pernah bilang, bahwa nggak ada yang namanya persahabatan abadi. Kalau masuk SMA nanti, pasti bakal beda lagi teman-temannya. Benar seperti apa yang dikatakan mbak penjaga itu. Ketika masuk SMA, meski kami masih bersekolah di tempat yang sama tapi tidak ada satu pun yang sekelas, lama kelamaan persahabatan itu kian memudar, apalagi daerah rumah kami berbeda. Di SMA, kita bakal punya sahabat-sahabat yang lain. Begitu pula kuliah. Bukan berarti kita melupakan sahabat-sahabat yang lalu kan? Tapi rasanya bakal beda. Nggak bisa bareng-bareng terus, apalagi saling curhat saat senang maupun sedih. Meskipun begitu, kita tetap berteman. Ya sebatas teman. Bukan lagi sahabat dekat yang semuanya diceritakan. Pasti beda. Pernah merasakan?

“Lo nggak inget kita punya janji?”

“Kita. Reuni. Lima tahun.”

“Ooohh..itu nggak penting banget.”

“Masalah lo apa sih? Kenapa lo jadi kayak begini?” (hlm. 57)

Joshua tak kenal lelah berniat memperbaiki persahabatan dirinya dan kedua sahabatnya. Ia tak peduli apa pun hasilnya, apa pun risiko yang harus ia terima. Ia hanya ingin persahabatan mereka kembali seperti dulu.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bukankah kita semua begitu? Apalagi berhubungan dengan rahasia yang kita miliki. Terima aja kalau pada akhirnya setiap rahasia bakal terkuak. (hlm. 71)
  2. Selama lo nggak sendirian, lo bisa melewati semua mimpi buruk lo. (hlm. 144)
  3. Hidup manusia itu bisa hilang secepat kedipan mata. Nggak ada artinya. (hlm. 149)
  4. Apakah semua orang ditakdirkan untuk mempunyai rahasia. (hlm. 159)
  5. Setiap orang tentu punya masalah. Dan untuk menceritakan atau nggak, itu hak setiap orang. (hlm. 159)
  6. Nggak selamanya hidup cuma diisi dengan hal-hal baik yang buat lo bahagia. Pasti bakalan lo tetap punya masalah. Dan seharusnya lo tetap ingat kalau ada hal baik di hidup lo saat lo dilanda masalah. Kalau lo punya masalah, face it! Cari solusi. Kalau lo mampu bertahan menghadapi kesulitan apa pun, yakin hidup lo bakal kembali pada titik yang baik lagi. (hlm. 161)
  7. Keluarin semua racun yang menyerang kebahagiaan lo. Keluarin hingga lo merasa lega. (hlm. 173)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Nggak usah pake ungkit-ungkit masa lalu. (hlm. 38)
  2. Lo ngotot mau tahu soal siapa pacar gue? Lo nggak punya bahan omongan yang lain, ya? (hlm. 45)
  3. Siapa yang sensitif? Lo aja yang kelewat pengin tahu. (hlm. 45)
  4. Jangan ngerusak tanaman ya. Bisanya ngerusak aja. (hlm. 55)
  5. Lo nggak nepatin janji. Lo cuma mentingin diri lo sendiri! (hlm. 71)
  6. Memangnya sahabat nggak boleh bilang suka? Sahabat nggak boleh punya rasa lebih? (hlm. 83)
  7. Setiap orang punya masalah, bukan cuma mereka. Kenapa kesannya dibesar-besarkan? (hlm. 96)
  8. Sahabat itu nggak bakal menyusahkan kamu terus. Sahabat nggak buat kamu tambah stres dan uring-uringan. (hlm. 96)
  9. Berantembukan berarti saling benci. (hlm. 101)
  10. Kamu cuma diam. Itu sudah mengartikan segalanya! (hlm. 107)
  11. Bunuh diri bukan menyelesaikan masalah. (hlm. 143)
  12. Kalau lo nggak mau hidup dalam masalah, mending nggak usah hidup. (hlm. 161)

Yang namanya hidup, kita tidak bisa tahu kemana hati kita akan terpaut. Sahabat jadi cinta. Benci jadi cinta. Hidup kedepannya tidak pernah akan ada yang tahu. Karena hanya Tuhan yang Maha Tahu Segala-Nya.

Salah satu problema terberat yang menimpa para remaja zaman sekarang ini justru di dominasi oleh masalah keluarga alias broken home. Lingkungan keluarga justru lebih mempengaruhi perkembangan psikologi remaja dibandingkan dengan pengaruh lingkungan dari luar. Hubungan orangtua yang tidak harmonis sebuah keluarga, akan berpengaruh besar pada perkembangan sang anak, yang terkadang bersikap frontal karena merasa ingin bebas. Anak atau remaja seperti ini harusnya tidak dijauhi apalagi dimarahi, tapi justru dirangkul dengan pendekatan psikologi tanpa terkesan menyalahkan mereka. Karena anak atau remaja seperti ini pada dasarnya hanya butuh perhatian khusus dari lingkungan sekitar, terutama orangtua.

Kisah Lana, Joshua dan Alex yang menyukai mie instan istimewa dengan paket lengkap berupa telur, sawi, cabai rawit dan bakso di halaman 65. Bagi mereka, mie seperti itu enaknya kayak surga. Mungkin bagi sebagian orang makan mie instan sangatlah biasa-biasa saja. Tapi saya pernah merasakan makan mie instan adalah sesuatu makanan yang istimewa. Ketika kuliah, saat Idul Adha, besoknya UAS, jadi nggak ada satu pun yang pulang ke rumah masing-masing. Karena waktu itu Idul Adha, kami nggak kepikiran kalau semua rumah makan ataupun warung bakal tutup semua, alhasil kami satu kosan yang terdiri dari 26 orang makan mie instan. Makanan akan terasa istimewa bukan pada letak mahal tidaknya, tapi dengan siapa kita makan :’)

Yang namanya orang pacaran, hal yang tersusah bukan terletak pada pasangan kita. Tapi bagaimana kita juga bisa nyaman dengan lingkungan pasangan yang belum tentu nyambung dengan kita. Seperti yang dialami Joshua di halaman 62, yang terpaksa menyimpan ponselnya dan pura-pura tertarik dengan topik pembicaraan Noni, pacarnya itu dan teman-temannya. Ikut tertawa saat ada yang membuat lelucon dan tentu saja menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, Joshua berusaha untuk tetap sadar dan hadir secara utuh. Dan hal itu sangatlah sulit karena hanya badannya yang berada di sana, sementara pikiran dan hatinya sudah berada di tempat lain x))

Kisah Lana, Joshua, dan Alex ini mengangkat problematika kehidupan remaja dari sisi yang berbeda-beda. Setiap pribadi punya permasalahan tersendiri. Setiap pribadi punya rahasia yang tersimpan rapat-rapat meski kepada sahabat sekalipun. Pesan moral dari buku ini adalah jika kita memiliki masalah, jangan pernah lari, tapi dihadapi. Dan gunanya sahabat adalah selalu ada di saat suka maupun duka :’)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Promises

Penulis                                 : Kristi Jo

Desain cover                      : Orkha Cretive

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 232 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2000-7

15 thoughts on “REVIEW Promises

  1. Pingback: Giveaway Promises + At the Park | Luckty Si Pustakawin

  2. Suka banget sama tokoh Joshua dalam cerita ini. Walaupun dia juga punya masalah, Joshua ini ingin masalah yang dihadapi oleh kedua sahabatnya ini segera tuntas.
    Aku juga jadi teringat dengan kisah persahabatanku. Agak mirip dengan yang dialami oleh ke-3 orang ini. Mungkin gak separah dengan apa yang dialami oleh Alex dan Lana, tapi cukup memiliki proses yang amat panjang untuk mengatasi masalah. Apalagi aku dan ke-5 sahabatku berpencar demi sebuah masa depan karena ekonomi orang tua yang tidak memungkinkan dan sebagian dari kami ada yg broken home seperti Alex dan Joshua, dan ada juga yang yatim dan piatu.
    perlu dipahami, bahwa setiap masalah itu gak harus dilarikan dengan hal-hal yang gak berguna seperti terjerumus pada narkoba hingga menyebabkan AIDS, atau sampai mau melakukan percobaan bunuh diri seperti yang Lana lakukan.
    Sebagai seorang sahabat, kita perlu sama-sama saling menguatkan satu sama lain, dan itu aku praktikkan kepada sahabat-sahabatku. Doa menurut kepercayaan masing-masing aja untuk menemukan sebuah jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

    Pokoknya banyak nilai-nilai yang aku dapat dari Novel kak Kristi Jo ini.
    Semoga tulisannya kedepannya, semakin lebih baik dan bermanfaat. Aku suka banget sama Novel yang membangun seperti ini🙂

  3. :” rasanya mau nangis habis baca reviewnya. karena teringat dengan 2 sahabatku waktu SMP yg sekarang lagi jauh disana. Kalau diingat-ingat, mie instan juga makanan favorit kami, setiap kali main bareng pasti ditemani makanan ini ^^ sampai-sampai sahabatku pernah bilang begini, “kalau setiap hari kita makan ini, mungkin 2 bulan lagi kita udah gak ada”😀 hahaha emng yaa leluconnya agak mengerikan, tapi itu cuma sebatas candaan doang kokk.
    Kepengin banget deh baca buku ini, sekalian nanti bisa pinjemin novel ini ke-2 sahabatku itu ^^

    oiyaa thanks yaa mbak reviewnya memuaskan bangett ^^

  4. Ada cinta segitiga sepertinya? Penasaran dengan persahabatan mereka hmm apa yg terjadi dengan mereka jika sudah terpisan seperti itu? Masih bersama? Aku ingin sekali bukunya kakkkk heuheu T^T)9

  5. Cerita tentang persahabatan kayak gini suka menyayat hati. Apalagi kalau si penyimak pernah atau sedang punya problem sama temennya sendiri. Rasanya… seperti ditampar. Terlebih ada quote(s) yang ditebar oleh Kak Luckty, tamparannya terasa semakin pedas, kayak makan mie kuah pakai rawit 20 bijik.

  6. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  7. Jadi inget semacam cerita kayak Summer Breeze atau Near yang pake kertas dikubur gitu diambil beberapa tahun kemudian🙂

  8. Aku lagi ngalamin hal yg disampaikan oleh buku ini. Ngerasa persahabatanku sama bbrp orang mulai memudar, sedih kalau nginget2 dulu seneng bareng2, kenangan2 indah dulu. Mungkin harusnya aku ngikutin caranya Lana biar sahabat2 aku nggak lupa sama pershabatan yg udah dibangun dulu.

  9. Berarti saat sahabatan mereka masih menutupi sesuatu yang bisa dirembukin bersama. Pengen punya temen kayak Joshua, meski jauh, terpisah jarak dan dikerubungi masalah, dia pengen tali persahabatan mereka bertiga tetap utuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s