REVIEW Merindu Cahaya de Amstel + GIVEAWAY

WP_20151023_003[1]

Kamu punya hak untuk merasakan apa saja kepada siapa saja. (hlm. 155)

NICOLAAS VAN DIJK. Nico panggilannya. Dia sanggup membagi waktu antara pekerjaan dan kuliahnya. Kuliah di jurusan arsitektur sangat berkorelasi dengan pekerjaannya sebagai fotografer lepas. Selain karena hobi memotret, juga karena dia membutuhkan tambahan dana untuk biaya hidup sehari-hari.

Di Belanda, mahasiswanya mendapat beasiswa separuh dari biaya kuliah. Jika lulus tepat waktu, Nico tidak perlu mengembalikan beasiswa itu kepada negara, separuhnya lagi dibiayai ayahnya. Sedangkan untuk kebutuhan hidup dan menyewa kamar apartemen, dia tanggung sendiri. Sejak berusia delapan belas tahun, dia berlatih hidup mandiri. Dia memilih menyewa apartemen terpisah dari keluarga ayahnya, walau ayahnya juga tinggal di Amsterdam.

Nico justru merasa nyaman tinggal sendiri di apartemennya yang kecil dan sederhana dibanding tinggal bersama ayahnya yang sejak sepuluh tahun lalu menikah lagi dan memiliki dua anak. Hidup mandiri menempanya menjadi pemuda tangguh dan cukup cekatan mencari pendapatan dari keahlian yang semula hanya berupa hobi. Dengan kamera DLSR hadiah lulus sekolah menengah atas dulu, Nico sudah menghasilkan banyak foto yang memberinya cukup uang.

Saat ini dia sudah bisa disebut sebagai fotografer profesional. Beberapa foto karyanya mendapat penghargaan cukup bergengsi, membuat namanya perlahan mulai dikenal sebagai fotografer muda berbakat. Dia tak membatasi pekerjaannya. Sesekali dia menerima orderan memotret makanan untuk daftar menu restoran, memotret calon pengantin, memotret untuk iklan hotel, bahkan memotret model majalah. Apa pun tawaran yang datang padanya, tak segan dia terima selama itu bisa menghasilkan uang. Jika punya waktu dan dana lebih, dia berburu objek foto hingga ke kota-kota lain. Tapi, jika sedang tak banyak waktu, dia cukup berkeliling Amsterdam memotret tingkah laku warga kota dipadukan dengan suasana sekeliling objek yang dengan kejeliannya, bisa memberi nilai seni bagi foto yang dihasilkannya.

KHADIJA. Mualaf sejak dua tahun lalu setelah selama setahun penuh mempelajari Islam. Siapa yang menduga seberapa jauh seseorang bisa berubah? Dia mengorbankan banyak hal untuk mempertahankan prinsip hidupnya yang sekarang. Bukan keputusan mudah. Dia takkan keberatan mengubah gaya hidup dan cara berpakaiannya. Tapi, yang terberat adalah ditinggalkan keluarga dan beberapa teman. Ayahnya marah besar dan tak ingin bicara dengannya lagi. Ibunya kecewa, walau masih mau bicara dengannya, tapi lebih sering membicarakan tentang perubahan-perubahan yang dianggapnya membuat anak gadis satu-satunya itu menjadi terlihat aneh dan kehilangan pesona. Dua kakak laki-lakinya tidak peduli lagi padanya.

Begitu banyak hal yang telah ia lalui. Ketertarikannya pada Islam juga telah memberinya inspirasi tema ujian akhir jurusan sosial dan ilmu perilaku yang ditempuhnya di Universitas Amsterdam. Mempelajari bagaimana perilaku masyarakat muslim di Belanda dan interaksinya dengan warga Belanda lain yang beragama berbeda.

Tantangan hidup berlanjut setelah dia lulus kuliah. Dimulai dari sulitnya mencari pekerjaan dengan penampilannya yang berkerudung. Namun, rasa yakin Allah akan memberinya rezeki terbukti sejak delapan bulan lalu. Khadija mendapat pekerjaan di sebuah kampus Islam yang ada di Amsterdam. Tempat yang tepat sekali dan membutuhkan keahliannya mengajarkan perilaku manusia.

Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadwal mengajarnya lima hari seminggu, tapi tidak perlu ada di kampus seharian. Waktu luang yang ada, Khadija manfaatkan untuk menulis artikel dalam sebuah blog, membahas informasi yang dibutuhkan muslimah Belanda.

Hari Sabtu dan Minggu dia mendapat libur. Hari Sabtu dia manfaatkan untuk melakukan kegiatan apa saja yang disukainya. Hari minggu dia habiskan di Gedung Euromuslim Amsterdam. Menambah pengetahuannya tentang Islam, juga membantu membagi pengetahuannya kepada anak-anak muslim yang mengaji di sana.

“Apa kamu tidak pengin tahu kenapa dalam foto itu tubuhmu terlihat dikelilingi cahaya?”

“Pasti itu cuma efek fotografi yang tercipta tidak sengaja. Kamu belum menjawab, kenapa kamu memotretku?”

“Aku tidak berniat memotretmu secara khusus. Aku bermaksud memotret suasana di sekitar huruf-huruf ‘I Amsterdam’. Siapa sangka kamu ikut terpotret dengan cahaya aneh di sekeliling tubuhmu.”

“Itu tidak aneh.”

“Di foto itu kamu jadi terlihat seperti sosok suci yang sering digambarkan dalam lukisan. Dikelilingi cahaya.”

“Itu cuma foto.”

“Karena itu menantangmu aku membuktikan. Aku potret kamu lagi. Kita lihat hasilnya. Kamu masih disekelilingi cahaya atau tidak. Kalau iya, berarti memang ada yang tidak beres denganmu.”

“Kamu kan fotografer. Pasti kamu tahu trik-trik bagaimana membuat efek cahaya seperti itu.”

“Nah, itu yang mau kupelajari. Bagaimana cara menghasilkan efek cahaya seperti itu lagi. Please, bantu aku?”

“Aku pernah difoto dan selama ini di foto-fotoku tidak ada yang bercahaya seperti itu. Tapi, kalau aku sampai melihat di media ada fotoku yang dimuat tanpa seizinku, aku akan mencari dan menuntutmu. Sekarang aku harus pergi.”

Nico dan Khadija adalah dua manusia yang tidak pernah kenal sebelumnya. Berawal dari hobi Nico yang menikmati senja di tepian Sungai Amstel. Nico memang menyukai street photography. Di jalanan, terkadang dia menemukan sesuatu tak terduga yang menjadi gambar menarik setelah terekam kameranya. Beberapa orang masuk ke frame foto yang diambilnya. Begitu juga ketika dia beralih ke Museumplein. Tempat yang menurutnya tepat sekali untuk berburu gambar. Kameranya menangkap sosok seorang gadis duduk di rerumputan tak jauh dari ikon Kota Amsterdam, susunan huruf berukuran besar bercat sebagian merah dan sebagian putih membentuk kalimat “I Amsterdam”. Sebuah buku terbuka di pangkuannya. Gadis itu mengenakan kerudung panjang, gaun panjang lebar, juga kemeja berlengan panjang.

Siapa sangka, itulah awal mula Nico penasaran dengan sosok Khadija. Hasil foto Khadija yang dicetak Nico ternyata membuat laki-laki itu takjub, Khadija di foto tersebut seperti ada cahaya yang mengelilinginya. Semakin Khadija menolak, semakin kuat Nico mencarinya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Seorang ibu pasti menyayangi anaknya, walau memang ada ibu yang sanggup menyembunyikan rasa sayangnya. (hlm. 23)
  2. Manusia sering salah dan khilaf. Tapi, dari kesalahan itu kita belajar memperbaiki diri. (hlm. 53)
  3. Berubah menjadi lebih baik itu tidak bisa instan. (hlm. 101)
  4. Kamu punya hak untuk merasakan apa saja kepada siapa saja. (hlm. 155)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tidak ada waktu untuk cinta. (hlm. 31)
  2. Lalu apa salahnya seorang sahabat mengantar sahabatnya pulang? (hlm. 45)
  3. Walau kita punya hubungan apa-apa lagi, bukan berarti kita bermusuhan, kan? (hlm. 88)
  4. Ada banyak hal yang bisa dinilai seorang lelaki, kan? Bukan hanya tampila fisik. (hlm. 118)
  5. Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya yang masih sekecil itu? (hlm. 135)
  6. Apa aku tidak boleh menyukai laki-laki? (hlm. 155)
  7. Penyesalan datangnya memang selalu terlambat. (hlm. 241)

de amstel 2 de amstel

Ciri khas tulisan Mbak Arumi adalah menampilkan sisi indah suatu kota di luar negeri dengan dibumbui pengetahuan seputaran agama. Meski ini bukan termasuk novel religi, penulisnya menyuguhkan nilai agama dan kehidupan sehari-hari para tokohnya tanpa terkesan menggurui. Seperti Khadija yang merupakan representasi dari kehidupan para mualaf yang harus berjuang, Nico yang merupakan representasi dari keluarga yang broken home, dan Mala yang merupakan representasi dari kehidupan mahasiswa yang jauh dari pengawasan orangtua yang juga berdampak pada jauhnya dia dari nilai-nilai agama yang dianutnya.

Pas baca ini, dari awal imajinasinya sudah membayangkan deskripsi para tokohnya. Jika di filmkan, Nico cocok banget diperankan oleh Nicholas Saputra, Raline Shah sebagai Khadija dan Prisa Nasution memerankan sosok Mala😉

amstel 3 amstel 4 amstel 5

Keterangan Buku:

Judul                                     : Merindu de Cahaya de Amstel

Penulis                                 : Arumi E.

Editor                                    : Donna Widjajanto

Tata letak isi                       : Fajarianto

Desain sampul                   : Shutterstock & Suprianto

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 271 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2010-6

blogtour merindu

MAU BUKU INI?!?

Mbak Arumi akan membagikan novel ini plus tanda tangan loh… 😀

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs dan @rumieko. Jangan lupa share dengan hestek #GAMerinduCahayaDeAmstel dan mention via twitter.

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Giveaway kali ini tidak menjawab pertanyaan, tapi buat photo quotes dari novel Merindu Cahaya de Amstel ini. Setiap peserta membuat satu photo quotes atau boleh lebih dari satu, jadi jumlah photo quotes yang diikutkan tidak dibatasi ya. Kalimat yang diambil bisa dari kalimat favorit atau kalimat sindiran yang saya tulis di review ini ya.

5. Upload photos quotes via twitter dengan format: #GAMerinduCahayaDeAmstel @lucktygs @rumieko @gramedia twitpic photo quotes

6. Di kolom komentar di bawah ini, tuliskan nama, akun twitter, dan kota tinggal, dan link twitpic yang sudah diupload dari twitter agar mudah dalam pendataan peserta.

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek #GAMerinduCahayaDeAmstel yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

#GAMerinduCahayaDeAmstel ini berlangsung enam hari saja: 9-14 November 2015. Pemenang akan diumumkan tanggal 15 November 2015.

Akan ada satu pemenang yang akan mendapatkan buku ini plus pin unyu. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh saya yaaaa… ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

-@lucktygs-

PicsArt_24_10_2015_11_29_54[1]

Pengumuman Pemenang Giveaway Merindu Cahaya de Amstel

Terima kasih buat semua peserta yang ikutan giveaway ini, ada 145 photo quotes yang masuk, dan aku arsipkan di album facebook. Bisa di cek LINK INI:

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Ririn N. /

de amstel 2

Yarisya/

de amstel 1

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang GIVEAWAY Merindu Cahaya de Amstel. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Mbak Arumi atas kerjasamanya untuk kesekian kalinya, sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya. Semoga sukses selalu dengan karya-karyanya… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

@lucktygs

 

51 thoughts on “REVIEW Merindu Cahaya de Amstel + GIVEAWAY

  1. Nama:Arthur eza mahatsi
    Twitter:@ezza_aquila
    Asal:Tulung agung
    Twitpic: pic.twitter.com/tWr8Q1EpRX
    Merindu de Cahaya de Amstel #GAMerinduCahayaDeAmstel @lucktygs @rumieko @gramedia

  2. nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    akun twitter : @MukhammadMaimun
    kota tinggal : Sleman
    link twitpic

  3. Nama : Warastri Rezka Hardini
    Akun Twitter : @RezkaHardini
    Kota tinggal : Malang, Jawa Timur
    Link :

  4. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s