REVIEW Mendamba

WP_20150418_002

Rumah tetaplah rumah, sekali kau sebut rumah artinya sekeping hatimu akan tinggal di sana. (hlm. 11)

Dulu, jadi pegawai negeri harus diajak-ajak sama pemerintah. Namun, fenomena beberapa tahun belakangan, setiap ada pembukaan CPNS, peminatnya past membludak. Ada apa dengan CPNS? Orangtua Anna bilang, ada gaji pokok, belum gaji tunjangan macam-macam dan kenaikan jenjang. Optimisme orangtuanya berbeda sekali dengan pandangan Anna yang melihat pegawai negeri adalah yang pekerjaan yang membosankan baginya.

Satu-satunya jabatan pegawai negeri yang sempat menjadi incarannya dulu adalah PEH atau Pengelola Ekosistem Hutan. Alam merupakan ruang kerja mereka. Menyenangkan.

Menurut keluarganya, perempuan sudah sangat pantas jadi pegawai negeri. Menurut mereka, bukanlah kewajiban perempuan untuk mencari nafkah. Tugas utama perempuan mengurus suami dan anak-anak. Seorang pegawai negeri dengan jam kerja yang tidak terlalu padat, cocok sekali untuk para perempuan yang ingin berkarir di luar rumah. Bekerja di swasta, sangat menyita waktu.

Sementara Anna sebenarnya sudah mapan dengan pekerjaan yang sesuai passionnya di kota besar. Namun apalah daya, keinginan orangtua menghendakinya untuk pulang kampung dan menjadi pegawai negeri. Keinginan itu dengan terpaksa Anna ikuti. Tapi ketika ibunya menjodohkannya dengan seorang pegawai negeri yang lumayan mapan, hati Anna berontak. Selain karena dia tidak menyukai perjodohan, dalam hatinya masih ada lubang menganga akibat pupusnya cinta sepuluh tahun yang lalu.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Percaya deh, Tuhan selalu menyimpan yang terbaik buat kita. (hlm. 38)
  2. Kamu cuma perlu yakin sama dirimu sendiri saja. (hlm. 48)
  3. Masa lalu tinggal sejarah. Hidup itu sekarang. Bukan pula besok. (hlm. 48)
  4. Cinta toh, bisa datang karena terbiasa. (hlm. 88)
  5. Ada mimpi yang tetap indah jika tetap mimpi. Itu hal yang membuat kita terus berharap. (hlm. 139)
  6. Menikah kan impian hampir setiap perempuan. Jadi seorang ibu. Jadi seorang istri berbakti. (hlm. 152)
  7. Tak ada hal yang lebih membahagiakan seorang anak ketika bisa membuat kedua orangtuanya menangis bahagia, kan? (hlm. 156)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kamu itu kerja apa, tho? Kok, sibuk banget. Jangan mikirin diri sendiri. Umur kamu sekarang berapa? (hlm. 2)
  2. Jangan karena sudah sukses di tanah rantau, kamu sama tanahmu sendiri. Di sini, kamu dibutuhkan. (hlm. 3)
  3. Enak ya, jadi anak tunggal. Banyak subsidi. (hlm. 13)
  4. Kalau menikah hanya karena memang sudah waktunya –buruknya lagi, demi perbaikan status di KTP: dari ‘Belum Kawin’ menjadi ‘Kawin’- rasanya menyedihkan sekali. (hlm. 19)
  5. Penampilan fisik juga penting selain persiapan mental dan hati. (hlm. 46)
  6. Takut itu bolehnya cuma sama Tuhan! Seseorang itu biasanya takut karena berbuat kesalahan. (hlm. 48)
  7. Mengapa kadang-kadang hidup terasa tidak adil? (hlm. 87)
  8. Waktu itu jalan terus, nggak nungguin kamu. Kamu nggak mau toh jadi perawan tua? (hlm. 93)
  9. Suatu saat bakal kerasa kok betapa pentingnya menikah itu. (hlm. 135)
  10. Seperti inikah konsep kebahagiaan yang dicari oleh banyak orang? Bukan uang banyak yang bisa membeli segalanya? (hlm. 137)
  11. Sudah tua masih baca komik terus. Kapan kamu mau gedenya? (hlm. 149)
  12. Kenapa orang-orang ingin jadi pegawai padahal banyak pekerjaan lain yang tidak kalah hebat dan menggiurkan?(hlm. 154)
  13. Mental orang zaman sekarang memang susah, kalau ada uang baru yakin segalanya bisa dilakukan. (hlm. 155)
  14. Apa lagi sih yang perempuan kayak aku harapin, pengertian aja udah cukup. (hlm. 164)
  15. Perempuan seperti apa sih yang dicari-cari pria itu? (hlm. 172)

Membaca kisah Anna ini seperti menatap diri sendiri di depan kaca, berasa sama. Pulang kampung, musti mengabdi pada kampung halaman dan mengalami dilema hati sementara hati kita masih tertinggal di masa lalu #PLAKK

Sayangnya, masih banyak sekali menemukan typo di sana-sini dan beberapa hal yang agak mengganjal. Dan sebenarnya bisa banget setting ketika di Pringsewu bisa dijabarkan lebih detail dan berciri khas karena tidak semua orang tahu jika di Lampung ada beberapa tempat yang mayoritas penduduknya merupakan bersuka Jawa, seperti halnya di Pringsewu ini.

Suka dengan selipan sindiran halus tentang pegawai negeri. Mulai dari hal-hal yang negatif sampai hal yang positif. Ketika hidup di kota, mungkin tidak terasa fenomena ini. Tapi jika kita hidup di desa, kita akan merasakan dampak dari fenomena ini. Karena saya juga mengalaminya secara tak langsung.

Yang bikin gemes adalah itu kenapa Anna susah banget move on?!? Sepuluh tahun menunggu untuk melabuhkan hatinya pada seseorang yang dianggapnya kelak bakal menjadi pendamping hidupnya. #PLAAAKKK😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Mendamba

Penulis                                 : Aditia Yudis

Editor                                    : Andz & Gita Romadhona

Proofreader                       : Christian Simamora

Penata letak                       : Wahyu Suwarni

Desainer cover                  : Jeffri Fernando

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2010

Tebal                                     : 182 hlm.

ISBN                                      : 978-979-780-423-7

6 thoughts on “REVIEW Mendamba

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Covernya simple tapi unyu :3 orang tuaku sama sih mengjarapkan aku jadi pegawai pns, karena pasti kehidupanku terjamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s