#GBCNovember Veronika, Sang Pustakawan

WP_20151126_025

“Kegilaan adalah ketidakmampuan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran. Kita semua pernah mengalaminya. Kita semua, apapun bentuknya, adalah gila.” (hlm. 78)

Pernah nggak sih merasa seperti itu?!? Saya pernah, bahkan sering. Ketika kita ‘berbeda’ dengan yang lain, kita dianggap ‘gila’. Ketika selera kita berbeda dengan yang lain, kita dianggap ‘gila’. Ketika kita cinta banget ama buku, sementara yang lain cinta fashion, kita dianggap ‘gila’. Ketika kita lebih senang membeli buku, sementara yang lain lebih demen beli baju atau sepatu, kita dianggap ‘gila’.

Veronika, dalam novel ini merupakan pustakawan, seperti saya. Ketika dia melewati uji coba bunuh diri yang gagal, dan bertemu banyak manusia di sebuah rumah sakit jiwa, dia jadi memahami bahwa segala sesuatu yang dianggap ‘gila’ sebenarnya adalah normal. Begitu pula sebaliknya. Hal yang tidak umum dan tidak seperti kebanyakan orang lain, dianggap ‘gila’, meskipun itu perkara salah. Jika kita benar tapi hanya seorang diri, kita tetap dianggap ‘gila’.

Hadewh…jadi bingung sendiri ama kalimat yang ditulis, semoga saya nggak pernah berpikiran ingin bunuh diri seperti Veronika karena merasa hidup ini menjemukan…  d(*⌣*)b

veronica

Orang membiarkan dirinya menjadi gila hanya bila mereka dalam kondisi yang memungkinkannya menjadi gila. (hlm. 96)

Kita punya dua pilihan: mengendalikan pikiran atau dikendalikan oleh pikiran. (hlm. 125)

Ada tiga alasan saya menyukai buku ini. Mengapa? Pertama, tentu karena penulisnya, Paulo Coelho. Selain Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis (By The River Piedra I Sat Down and Wept), inilah buku favorit kedua. Kedua, tokoh utamanya, Veronika berprofesi sebagai pustakawan (seperti saya ✪‿✪). Ketiga, isi bukunya yang amat menarik, mengulas GILA dan BUNUH DIRI.

Poin menarik dari buku ini bagi saya adalah profesi yang digeluti Veronika yang sama seperti profesi yang saya jalani sekarang ini; pustakawan. Bagi sebagian orang, profesi yang tidak familiar adalah sebuah profesi yang kurang menjanjikan. Pustakawan identik dengan kutu buku, kaku, introvert dan hal-hal negatif lainnya yang melekat pada profesi ini. Padahal sekarang ini, profesi pustakawan justru dituntut kudu gaul. Gaul dalam bergaul dengan pemustakanya, gaul akan bahan bacaan yang ada di perpustakaan dan gaul dengan tekonologi karena sudah bukan zamannya lagi pustakawan gaptek😀

Veronika adalah representasi pustakawan yang terjebak dengan rutinitas pekerjaannya sehari-hari yang monoton; berangkat pagi, berjibaku dengan pekerjaan, kemudian pulang. Selalu begitu setiap hari. Salah satu hal itulah yang membuatnya merasa hidupnya membosankan karena tidak berwarna.

Memang benar, sebagian pustakawan jika tidak pintar-pintar mencuri waktu, hidupnya akan habis pada pengolahan buku. Satu buku saja harus melewati banyak proses; di data, di masukkan ke buku inventaris, di masukkan ke program otomasi, covernya di scan, diberi label, di tempel barcode, di cap beberapa kali, dan juga diberi slip peminjaman di bagian belakang, kemudian di sampul. Belum lagi menulis resensi atau minimal abstrak informatifnya. Panjang kan prosesnya?!? x))

Jadi, ketika ditanya berapa banyak pustakawan membaca buku? Jawabannya pasti tak sebanyak buku yang diolahnya. Waktunya tersedot hanya untuk mengolah, mengolah dan mengolah buku. Saya pun begitu. Hal yang tak ingin saya alami seperti Veronika adalah jangan sampai saya mati bosan dengan pekerjaan ini. Justru saya sangat mencintai pekerjaan ini. Ketika dalam bekerja niat kita adalah ibadah, pekerjaan bukan lagi sebuah kewajiban, tapi sebuah kebutuhan.

Jika hidupmu merasa jenuh seperti Veronika karena bosan dan seolah terjebak dengan segala rutinitas yang ada, banyak-banyaklah piknik. Karena orang yang kurang piknik, biasanya kurang bahagia x))

Kita boleh menangis, cemas, atau marah sebagaimana orang normal, asalkan kita sadar bahwa kita di atas sana jiwa kita terbahak-bahak melihat kesulitan yang kita hadapi. (hlm. 68)

Apakah seseorang yang bunuh diri disebabkan karena patah hati, pekerjaan yang tak mulus, atau masalah keluarga? Veronika memiliki semuanya itu di usia ke dua puluh empat. Ia sudah cukup dewasa. Perempuan matang tahu apa yang diinginkan dan sepenuhnya mampu menentukan pilihannya. Hidupnya tidak bermakna, karena setiap hari terjadi hal yang sama. Karena itu ia memutuskan mati.

Selain Veronika, kita akan menemukan tiga tokoh lainnya yang lumayan dikupas; Mari mantan pengacara ternama, Zedka yang memiliki suami dan anak, dan Eduard anak seorang duta besar yang mengalami skizofren.

Mengapa Paulo Coelho amat ciamik dalam menjabarkan sesuatu yang disebut GILA dan amat detail tentang RUMAH SAKIT JIWA? Karena dia pernah mengalaminya sendiri. Tokoh Eduard seperti representasi dirinya saat dianggap gila oleh orang tuanya.

Menurut WIKIPEDIAMeskipun Coelho sangat berbakat menjadi penulis, ternyata orang tuanya tak pernah berharap agar anaknya kelak menjadi sastrawan. Mereka lebih suka jika kelak anaknya menjadi arsitek atau ahli hukum. Kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga agar anaknya tak semakin dekat dengan dunia tulis menulis. Namun tampaknya Coelho bukanlah tipe anak yang penurut. Larangan orang tuanya dan perjumpaannya dengan buku Henry Millerberjudul Tropic of Cancer semakin mengobarkan semangat pemberontakannya. Ayahnya melihat hal ini sebagai sebuah gejala gangguan kejiwaan dan akhirnya memasukkan anaknya ke sebuah rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa itu, Coelho harus menjalani terapi electroconvulsive. Terapi electroconvulsive adalah terapi dengan menyetrumkan aliran listrik ke tubuh penderita gangguan jiwa. Terapi ini tentunya bisa berdampak buruk pada jaringan saraf manusia. Terapi ini akhirnya dilarang di Brasil setelah Coelho mengungkap praktik keji ini di dalam novelnya “Veronika Memutuskan Mati”.  

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tak ada di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. (hlm. 2)
  2. Tidak ada barangkali, karena pilihan itu tidak ada. (hlm. 59)
  3. Cara terbaik menghindari masalah adalah dengan membagi tanggungjawab. (hlm. 92)
  4. Semakin besar kemungkinan seseorang bahagia, semakin tidak bahagia orang itu. (hlm. 96)
  5. Kita telah menggantikan hampir seluruh perasaan kita dengan rasa takut. (hlm. 136)
  6. Berlebihan merupakan ketidakseimbangan. (hlm. 155)
  7. Kita boleh bertindak salah dalam hidup ini, kecuali kesalahan yang menghancurkan diri kita sendiri. (hlm. 158)
  8. Tuhan ada dimana-mana, tetapi orang berpikir mereka harus mencari-cari. (hlm. 186)

Buku yang saya beli ini dulunya memasuki cetakan kelima di tahun 2007. Kali pertama membaca saat masa kuliah; masa kritis & krisis ( ʃ⌣ƪ)

Jadilah seperti air mancur yang terus meluap, jangan seperti wadah di bawahnya, yang hanya bisa menampung. (hlm. 145)

Setelah membaca buku ini, kita berpikir bahwa hidup bahagia bukanlah hidup di zona nyaman. Sekali-kalilah agar keluar dari rel, agar tahu rasanya hidup yang berkelok atau bergelombang.. ( ‘̀‘́)9 #sikap 

Karena semua orang punya khayalan, tetapi hanya sedikit yang mewujudkan khayalan itu, maka keadaan ini membuat kita semua menjadi pengecut. (hlm. 176)

Setiap orang mempunyai keunikan, dengan kualitas, naluri serta kesenangan dan hasrat bertualang masing-masing. (hlm. 209) 

Keterangan Buku:

Judul: Veronika Memutuskan Mati

Penulis: Paulo Coelho

Penerjemah: Lina Jusuf

Penyunting: Candra Gautama

Perancang Sampul: Rully Susanto

Penata Letak: Wendie Artswena

Penerbit: Gramedia

Tebal: 258 hlm.

ISBN: 979-91-0025-9

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan Gramedia Blogger Competition di bulan November #GBCNovember

gbc

3 thoughts on “#GBCNovember Veronika, Sang Pustakawan

    • Ini termasuk buku lama, Mbak. Tapi tahun lalu, GPU menerbitkan kembali edisi cover baru semua buku-bukunya Paulo Coelho, termasuk buku ini, jadi pengen punya (lagi)😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s