REVIEW Namaku Subardjo

WP_20151021_032

Kayak orang jatuh cinta yang berjuta rasanya, putus cinta pun ternyata sama. Berjuta rasanya. Berjuta kesal, kecewa, sebal, sedih, silih berganti muncul. (hlm. 27)

SUBARDJO, alias Jojo. Cowok cukup ganteng, hasil persilangan orang Brebes dan Sidoardjo. Seperti umumnya hasil persilangan, keluarnya ya lebih baik dari sang induk. Jojo tercatat sebagai mahasiswa semester terakhir di Program D3 Teknik sebuah universitas swasta di Jakarta. Tinggal menyelesaikan tugas akhir bikin laporan yang ternyata lebih sulit dibandingkan praktek kerjanya. Itu menurut pengakuannya.

Hidupnya hampir sempurna, selain kuliah, dia juga bekerja dan punya penghasilan sendiri. Melanjutkan usaha orangtuanya, berdagang telur bebek dalam kapasitas pedagang partai besar. Siapa sangka dia patah hati karena baru saja diputuskan pacarnya, Ila hanya gara-gara namanya yang terkesan kampungan.

“Jadi, kamu nggak menimbang cintaku? Mau membohongi perasaan sendiri hanya gara-gara sebuah nama? Sebuah nama yang, kata William Shakepeare…”

Yup, hanya gara-gara nama seseorang bisa mengalami kesialan dan patah hati berulang kali. Jojo ini contohnya, ini kali ketiga diputuskan pacarnya hanya gara-gara nama!! X)) #PukPukJojo

“Mas, kenapa nggak nyoba nyaleg aja? Mas kan pinter, anak kuliahan, sukses lagi. tenaga dan pikiran Mas Jojo sangat diperlukan bangsa ini.” (hlm. 35)

“Aku enggak mau bikin susah hidupku sendiri, Dol. Jadi caleg itu menyiksa, belum lagi risiko stres dan jadi gila kalau nggak kepilih. Ngerti?” (hlm. 37)

Adalah Rudy yang mendorong Jojo untuk terjun ke dunia politik. Jojo, jangan jadi salah satu partai, masuk ke dunia politik pun tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, sekali masuk ya tanggung kalau nggak nyebur sekalian. Begitulah ibarat Jojo di dunia politik

“Diperlukan niat dan semangat yang kuat untuk menjadi caleg. Dia tidak boleh egois, memikirkan sendiri atau golongannya. Jadi caleg itu adalah cita-cita luhur yang diembankan kepada orang-orang yang dikaruniai Tuhan dengan kecerdasan dan kebajikan di dalam hatinya. Merekalah yang rela berkorban demi kemajuan bangsa dan negara, demi menjaga pilar-pilar demokrasi, demi tegaknya demokrasi di negeri tercinta ini. Negeri yang diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan dan orang-orang jelata. Negeri kita yang tercinta. REPUBLIK INDONESIA!” (hlm. 48)

Membaca kisah Jojo ini mengingatkan akan kisah sendiri sekitar 2-3 tahun lalu, pernah didekati salah satu anggota dewan, masih muda sih, hanya terpaut dua tahun di atas saya. Tapi saya tolak mentah-mentah, serem euy, jangan-jangan nanti tiap hari suruh ngapalin undang-undang melulu, gyahahaha… x)) #TututpPintuRapatRapat Lagian kita juga tahu jika profesi ini merupakan lahan basah untuk mencari seseran, nggak jelas mana halal dan haramnya x)) #TutupPintuMakinRapat #GembokSekalian

Tahun 2009, ketika baru lulus kuliah merupakan tahun yang susah bagi fresh graduate untuk mencari pekerjaan. Kenapa? Karena tahun itu adalah masa-masa PEMILU. Dimana-mana hawanya panas. Dan menjadi calon anggota legislatif adalah salah satu jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan pernah sahabat sendiri, perempuan, mencalonkan diri jadi salah satu kandidat yang diusung sebuah partai. Tapi dia hanya sebagai umpan untuk menaikkan suara calon yang diatasnya, ibaratnya dia hanya dijadikan tumbal saja.

Kasus stresnya caleg nggak hanya bisa kita temui di TV ataupun berita, dalam kehidupan sehari-hari juga kita bisa lihat terpampang nyata. Salah satunya adalah sepupu membeli sebuah rumah beserta pekarangan yang bisa dikategorikan murah karena pemiliknya habis kalah jadi caleg. Terus, nggak jauh dari rumah juga ada posko Tim Sukses Kampanye salah satu calon, dulu tetangga ini gembor-gembor kalo calonnya jadi walikota, rumahnya dijanjiin bakal di lantai keramik. Nyatanya sampai walikotanya udah turun pun, janjinya nggak ditunaikan. Herannya, tahun ini pun jadi posko Tim Sukses Kampanye meski beda calon, nggak kapok juga ya kena janji-janji manis. Saya mah ogah sempat ditawari jadi buzzer suatu calon walikota dengan imbalan yang lumayan menggiurkan, padahal kalo memang kualitasnya bagus, akan saya dukung meski tanpa embel-embel imbalan apa pun X)) #AkuMahGituOrangnya

Dalam kehidupan nyata, kita akan menemukan sosok Rudy si jurkam atau caleg macam John Arbayn. Ada, ada banget orang macam ini. Oya, tipikal macam ibunya Jojo yang perhitungan cenderung pelit dan percaya hal-hal mistis macam ini juga ada banget di zaman era digitalisasi sekarang ini. Orang kaya tapi menyusahkan diri, makan roti mahal sesekali aja mikir-mikir, byuh… Ngeri juga kalo punya mertua kayak gini x)) #AmitAmitJabangBayi #JanganSampe

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Nggak usah nyari penyakit. Santai aja. (hlm. 5)
  2. Pagi mengantar ke kampus, siang atau sore mengantar pulang ke rumah. Robert Pattinson jadi sopir! (hlm. 8)
  3. Kesimpulan yang logis, bukan? logis dan cukup menghibur bagi mereka yang baru patah hati. (hlm. 13)
  4. Sekarang bukan zamannya William Shakespeare, tapi zamannya Prince William. (hlm. 16)
  5. Putus cinta itu menyakitkan. Kiamat mini bagi orang-orang yang mengalami. Kiamat mini yang rasanya seakan-akan kiamat sungguhan. (hlm. 18)
  6. Ya gitu deh, abis manis sepah dibuang. (hlm. 28)
  7. Seperti kata orang-orang, hidup di Jakarta nggak gampang. (hlm. 32)
  8. Sejak kapan mencalonkan diri jadi anggota legislatif disamakan dengan pasang lotere? (hlm. 47)
  9. Lulusan apa saja nggak jadi masalah. Ijazah sarjana nggak menjamin seseorang lebih cerdas atau lebih punya empati. (hlm. 65)
  10. Penyakit yang mendadak menyerang mereka yang udah terpilih menjadi wakil rakyat. (hlm. 83)
  11. Hidup cuma sekali, seharusnya dinikmati, bukan diisi dengan menyiksa diri. (hlm. 93)
  12. Pedagang juga manusia, punya harga diri, bisa kesal dan eneg. Bisa punya ambisi membalas juga. (hlm. 126)
  13. Sudahlah nggak usah dibahas. Memangnya salah ya, kalau jadi orang pede? (hlm. 234)

Membaca kisah Jojo dalam buku ini, kita bisa melihat representasi kehidupan caleg di daerah. Tentang pemilih pemula yang memilih calon dari segi tampang di halaman 150, cari muka ketika ada bencana seperti di halaman 161, ada juga versus antara partai besar dan partai kecil seperti di halaman 188.

Uniknya kisah Jojo ini diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, yaitu adik Jojo😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Namaku Subardjo

Penulis                                 : Hapsari Hangarini

Editor                                    : A. Mellyora

Desain sampul & isi         : Rendra TH

Penata letak isi                  : Diyantomo

Proofreader                       : Hartanto

Terbit                                    : Juli 2015

Tebal                                     : 240 hlm.

ISBN                                      : 978-602-72834-0-4

PicsArt_27_10_2015 18_03_11 PicsArt_27_10_2015 18_04_33

8 thoughts on “REVIEW Namaku Subardjo

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Sudut pandangnya orang ketiga tapi judulnya Namaku Subardjo. Wkwk.
    Keliatannya si Jojo anak baik-baik, kalau diputusin gegara nama doang.. sama aku aja sini mas.😄

  3. wkwkwk kasian banget yaampun, diputusin sama pacarnya terus gara2 masalah nama :v lah emang mereka pas mau pacaran sama Jojo nggak tau nama aslinya gitu?

  4. Dari urusan cinta, patah hati jadi ke caleg.
    Iya ka, sekatnya tipis, mana tau yang haram dan halal.

    Ceritanya dari orang ketiga, si adik ini ngintilin kakanya kemana-mana ya?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s