REVIEW Pesawat Kertas Terakhir

pesawat 1

“Jadi lo mutusin persahabatan kita cuma gara-gara ada anak baru yang bakal pindah ke kelas ini dan lo ngincer dia jadi pacar?” (hlm. 6)

Entah sudah berapa banyak pesawat kertas yang Gilang berikan untuk Angel ketika berterima kasih padanya. Semakin banyak pesawat kertas yang dia dapat semakin Angel bingung harus menyimpannya ke mana. Lalu ketika dia kebetulan ke gudang untuk mengambil taplak meja lama, dia melihat stoples kue tak terpakai milik ibunya. Angel mendapat ide untuk memasukkan pesawat-pesawat pemberian Gilang ke sana.

Awalnya, pesawat-pesawat kertas itu hanya disimpannya di kotak sepatu bekas ayahnya, tapi begitu melihat stoples itu, Angel terpikir untuk membuat pajangan berisi pesawat-pesawat kertas itu.

Dengan cermat, diletakkanya pesawat-pesawat kertas pemberian Gilang ke dalam stoples, berhati-hati agar tidak membuatnya terlipat atau robek. Setelah itu, Angel menaruh stoples itu di mejanya di ruang belajar. Seiring berjalannya waktu, hampir separuh stoples terisi penuh dengan pesawat kertas. Masing-masing pesawat memiliki ukuran yang sama, karena dibentuk dari potongan buku tulis. Angel menghitung jumlah pesawat yang diterimanya, dan ternyata banyak sekali. Itu artinya sudah begitu banyak ucapan terima kasih yang Gilang berikan untuknya.

Jika setiap pesawat kertas bermakna satu ucapan terima kasih, entah berapa banyak pesawat kertas yang dibuat manusia untuk Sang MahaKuasa.

Gilang tak pernah tahu apa yang Angel lakukan pada pesawat-pesawat itu. Dia berpikir pesawat itu bisa saja dibuang atau ditelantarkan di suatu tempat, saking banyaknya pesawat yang dia berikan.

“Gilang, kenapa sih kamu suka kasih saya pesawat kertas?”

“Ooo… pesawat kertas?”

“Iya, cerita dong!”

“Panjang banget. Intinya, gue punya cita-cita pengen jadi pilot pesawat tempur. Gue pengen jadi tentara Angkatan Udara.”

“wah.. serius?”

“Yap, sejak kecil gue suka banget lihat tentara. Tapi ayah gue bilang kalau mau masuk tentara lebih baik gue ikut pendidikan dulu setelah lulus SMA. Kebetulan akhir caturwulan ini, gue bakal ikut tes masuknya. Doain sukses ya.”

“Insha Allah kamu pasti diterima. Saya doakan, tapi janjilah, jika suatu saat kamu jadi pilot, ajak aku naik pesawat ya.” (hlm. 43)

Setelah bertemu Angel, Gilang merasa berbeda. Ada banyak hal yang diajarkan oleh Angel,terutama untuk dekat dengan kepada Sang Pencipta. Dari sosok Angel yang serba tertutup, hingga caranya selalu ingat beribadah sampai bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan. Bagi Gilang, Angel benar-benar seperti malaikat. Membawa angin segar dan kesadaran untuknya.

Tapi bagaimanapun, Angel tetaplah Angel bagi mereka. Malaikat dalam sosok manusia, yang hadir untuk memberikan cahaya kehidupan dan masa depan di penghujung sekolah.

“Saat-saat inilah kita bisa mengenang masa-masa di sekolah. Kelak setelah lulus, kita pasti merindukan masa-masa berada di perpustakaan. Dan ini juga adalah modal awal kita untuk berperang menghadapi ujian nasional. Nah, mari kita mulai menjadikan perpustakaan sebagai tempat perjuangan.” (hlm. 19)

Pas baca quote di atas, saya sudah membayangkan jika bakal banyak adegan di perpustakaan ala-ala anak sekolah. Apalagi diceritakan jika Angel saat suka membaca buku. Andaikan bisa tereksplor adegan-adegan di perpustakaan pasti lebih greget😉

pesawat 2

Buku dengan cerita bertema tentang anak sekolahan, pasti bejibun peminatnya buat antri baca. Kayak buku ini, belum sempat dibarcode apalagi di sampul, udah digilir baca murid-murid unyu ampe agak lecek x)) Ini pun nguber dulu ama Gusti yang lagi baca ini, saya janji ama dia begitu bukunya sudah saya review, dia boleh baca lagi x))

Tema yang diangkat di awal cerita sudah menarik. Tentang dua sahabat yang menyukai satu orang yang sama, tapi sayang makin ke belakang konflik mereka justru tidak terasa. Seandainya mereka dibuat seakan bermusuhan atau minimal dibuat bersaing sehat untuk mendapatkan hati sang pujaan, pasti lebih greget atau minimal gemas dengan konflik yang disajikan. Khas Agnes Davonar, mengangkat kisah remaja dengan nuansa sendu.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Pada dasarnya semua yang kita kerjakan itu mudah, kok, asal kita mau berusaha. Kamu juga bisa. (hlm. 26)
  2. Kalau mau usaha, ternyata apa pun bisa tercapai. (hlm. 29)
  3. Teruslah belajar dengan giat. (hlm. 33)
  4. Berterima kasihlah pada Allah, berkat Dia kita semua bisa. Saya hanya hamba-Nya yang berusaha membantu sesama. (hlm. 36)
  5. Cinta datang yang terlalu cepat, kadang berlalu terlalu kilat. (hlm. 37)
  6. Berteman boleh, tapi ingat bahwa kamu belajar demi meraih cita-cita. (hlm. 50)
  7. Umur kita juga masih kecil, masa suda mikirin nikah? (hlm. 60)
  8. Jangan ragu. Yakin saja kalau kamu bisa dan usahakan yang terbaik, serahkan semua kepada Allah dan Insha Allah kamu akan bisa. (hlm. 63)
  9. Impian kadang bisa menahan arus cinta yang begitu deras. (hlm. 75)
  10. Ini sudah kehendak Allah. Ikhlaskan. Jika memang berjodoh, Allah pasti akan mempertemukan kalian lagi. (hlm. 83)
  11. Tidak ada yang sia-sia. Kamu harus kuat. Banyak yang mencoba bangkit dan kamu juga harus bangkit. (hlm. 182)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Pesawat Kertas Terakhir

Penulis                                                 :Agnes Davonar

Penyunting                                         : Stanley Meulen

Penata letak                                       : Iyek Mu

Pewajah sampul                               : Yhogi Yordan

Penerbit                                              : Loveable

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 222 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-72905-7-0

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-99101/novel-fiksi-cerpen/pesawat-kertas-terakhir.html

10 thoughts on “REVIEW Pesawat Kertas Terakhir

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Agnes Davonar mah aku no comment lah.
    Eh tapi berhubung dah terlanjur komen yaudahlah.
    Yang jadi pertanyaan akan kemana kertas itu. Dan… apa Gilang akan jadi pilot? :3

  3. Kalau aku jadi Angel sih pesawat2 kertasnya aku buang, terus aku blg ke Gilang kalau mau berterima kasih cukup ucapan aja, kalau mau memberi, kasih novel aja yg berguna dikit wkwk

  4. Begitu baca judul, udah mulai aga sedih. Pas baca review ko makin sedih ya. Apa salah satu bakal ada yang pergi???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s