REVIEW Pulang

WP_20151217_036

“Kehidupan ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghirup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan. Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari yang terbit. Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur, terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan.” (hlm. 337)

BUJANG. Seperti remaja kampung pada umumnya di kala itu. Terlebih dia adalah anak satu- satunya. Orangtuanya, terutama mamaknya sangat menyayanginya. Bujang tidak bersekolah karena kehidupan ekonomi keluarganya memang memprihatinkan, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bujang juga tidak pernah menyicip apalagi merasakan dunia luar. Jangankan ke kota, ke hutan dekat rumah pun dia tidak pernah, tidak diperbolehkan mamaknya, lebih tepatnya. Mamak sangat mengkhawatirkan anak semata wayangnya ini. Meski bapaknya juga menyayangi anaknya ini, jiwa seorang bapak lebih percaya melepas anak mereka ini ketika Tauke Muda, teman lama bapaknya memboyongnya ke kota dan berjanji untuk menjaga Bujang dan menyekolahkannya meski bisa dikatakan telat bagi Bujang untuk masuk sekolah, karena waktu itu umurnya sudah menginjak usia lima belas tahun yang artinya sejajar dengan siswa SMA kelas X. Tauke Muda bahkan sudah berjanji akan mengurus Bujang seperti mengurus anaknya sendiri.

“Biarkan anak laki-lakimu punya kesempatan menaklukkan dunia ini. Biarkan dia mewarisi darah perewa dari keluargaku. Mungkin itu sudah takdir hidup bujang. Biarkan dia pergi, dan kita berdua bisa menghabiskan sisa hidup bersama di sini dengan damai. Aku akan mati bahagaia setelah tahu Bujang memiliki masa depan.” (hlm. 22)

Hati seorang ibu memang berbeda dengan hati seorang ayah. Begitu pula dengan Mamaknya Bujang yang mengingatkan saya akan almarumah mama yang menangisi saya ketika pertama kalinya akan kuliah dan merantau ke pulau seberang. Tokoh mamak memang porsinya sedikit, dan itupun jarang terlihat percakapan yang keluar dari mulut sang mamak. Mamak Bujang tipikal ibu yang sangat menyayangi anaknya;

“”Mamak akan mengizinkan kau pergi, Bujang. Meski itu sama saja dengan merobek separuh hati Mamak. Pergilah anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang…”

“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika bapak kau tidak ada di rumah. Mamak tahu kau akan jadi apa pun di kota sana. Mamak tahu, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.”

“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna.” (hlm. 24)

Di Kota, selain hidup dengan Tuan Tauke Muda, dia akan memiliki beberapa rekan hidup dan akan memberikan dampak besar dalam hidupnya. Ada Frans yang akan menjadi guru privatnya. Ada Kopong si kepala tukang pukul, meski rambutnya ikal dan wajahnya sangar, tapi dia yang mengerti isi hati Bujang. Ada Parwez yang sebenarnya otaknya lebih encer dari Bujang, tapi hatinya terlalu lembut, membunuh nyamuk saja tidak tega dilakukannya. Dan ada juga Basyir yang hanya terpaut satu tahun usianya di atas Bujang yang kamarnya dihiasi pepatah suku Bedouin; “I against my brother, my brothers and I against my cousins, then my cousins and I against strangers.”

Dari sekian banyak tokoh yang muncul, pilihan favorit justru jatuh pada Tuanku Imam. Meski porsinya hanya muncul di hampir akhir cerita, di BAB 21 tentang Memeluk Erat, adalah BAB yang paling mengiris hati. Ini adalah pesan Tuanku Imam untuk Bujang yang bikin hati #JLEBB saat membacanya:

Mau kita menyaksikannya atau tidak, matahari selalu terbit. Mau ditutup mendung atau kabut, matahari juga tetap terbit. Mau kita menyadarinya atau tidak, matahari tetap terbit. (hlm. 336)

Jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. (hlm. 339)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tidak ada yang perlu ditakutkan. (hlm. 6)
  2. Tapi jodoh adalah jodoh. (hlm. 13)
  3. Tidak ada yang perlu dicemaskan. (hlm. 62)
  4. Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. (hlm. 101)
  5. Kau tidak pernah bisa meninggalkan masa lalu. (hlm. 205)
  6. Kita baru merasa kehilangan setelah sesuatu itu benar-benar telah pergi, tidak akan mungkin kembali lagi. (hlm. 241)
  7. Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. (hlm. 262)
  8. Bersabarlah, maka gunung-gung akan luruh dengan sendirinya. Biarkan waktu menghabisi semuanya. (hlm. 288)
  9. Hidup ini penuh misteri. (hlm. 322)
  10. Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya kedamaian dihatimu. (hlm. 340)
  11. Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. (hlm. 345)
  12. Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan terbaik. (hlm. 348)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka. (hlm. 1)
  2. Siapa yang memegang janji dunia hitam? Setiap periode tertentu siklus berubah, kepemimpinan selalu menyesuaikan perubahan zaman. (hlm. 32)
  3. Zaman tidak pernah berubah. Di dunia hitam, cara-cara selalu sama. (hlm. 64)
  4. Tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang. (hlm. 122)
  5. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang. (hlm. 153)
  6. Tidak semua harus dilakukan dengan kekerasan. (hlm. 167)
  7. Apalah artinya menunggu lagi bertahun-tahun? Tidak masalah. (hlm. 289)
  8. Kehidupan berkeluarga kadang tidak mudah karena pasti banyak masalah yang datang. (hlm. 314)

Ada beberapa pesan moral yang disampaikan dalam buku ini:

  1. CINTA SEJATI tidak akan pernah padam. Kisah Bapak dan Mamak-nya Bujang adalah bukti nyata salah satu bahwa cinta sejati meski diterjang badai dan dihantam ombak kehidupan sekalipun, cinta sejati tidak akan pernah putus. Cinta sejati juga tidak akan pupus meski maut memisahkan. Tidak hanya setahun atau dua tahun, tokoh bapak harus menunggu lima belas tahun untuk menunggu cinta tokoh mamak. Tidak hanya itu, sang mamak juga rela meninggalkan keluarga dan semua yang dimilikinya demi cinta yang diraihnya bersama bapak.
  2. ANAK adalah harta yang paling berharga yang dimiliki orangtua. Bagaimana pun keadaan sang anak, orangtua tak pernah lelah mendoakan yang terbaik untuk anaknya meski tidak berdampingan.
  3. Sehebat apapun hidup, manusia tidak akan sempurna jika JIWA KERING akan siraman rohani yang mengalir ke tubuh dan darahnya. Seperti yang direpresentasikan lewat sosok Bujang sebagai tokoh utama. Bujang si anak kampung yang bermetamorfosis menjadi sosok jenius dan memiliki beberapa keahlian, kesempurnaannya tidak mampu membuat hidupnya bahagia. Hatinya bergemuruh jika mendengar suara azan yang selalu mengingatkannya akan kampung halaman dan kenangan masa kecilnya.
  4. BALAS DENDAM, dengan alasan apa pun tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Balas dendam hanya akan menimbulkan luka dan akan menumbuhkan dendam-dendam lainnya yang akan selalu mengakar.
  5. Setegar apa pun manusia, sekeras apa pun hati seseorang, jika sudah berurusan dengan kehilangan, apalagi kehilangan orangtua, hati pasti langsung terkoyak. Rasa kehilangan bisa kita lihat di halaman 193, 240, dan 257. Butuh waktu lama untuk membangkitkan semangat hidup ketika kita kehilangan orangtua. Orang yang kehilangan atau ditinggalkan selamanya tidak butuh rentetan nasihat, hanya butuh waktu untuk sendiri, itu saja. #PernahNgalamin
  6. Sekuat apapun OTOT, tidak akan pernah mampu mengalahkan OTAK. Setangguh apa pun OTOT, tidak akan bisa menang melawan kejeniusan OTAK.

Kesekian kalinya membaca karya Tere Liye. Penulis satu ini memang bisa menulis dengan berbagai genre. Buku terakhir yang saya baca adalah BUMI dan BULAN, yang bergenre fantasi, nggak sabar nunggu MATAHARI.

Ini adalah buku ketiga dari Tere Liye yang bertema EKONOMI – POLITIK yang saya baca. Sebelumnya ada Negeri Para Bedah dan Negeri di Ujung Tanduk. Jika di Negeri Para Bedebah memuat Kasus Bank Semesta milik Om Lim mengingatkan akan kasus Bank Century yang tak pernah habis dibahas, Kisah Negeri di Ujung Tanduk representasi dunia politik Indonesia dengan segala carut-marutnya, dan di novel ini diselipkan akan pengetahuan seputaran shadow economy yang diulas lengkap di halaman 30-34. Di halaman 235 disebutkan jika skripsi Bujang membahas shadow economy. Pengen toss ama Bujang soal ini, bahwa skripsi bukanlah sekedar tumpukan tulisan yang mengendap di lemari perpustakaan kampus. Skripsi haruslah sesuatu yang bermanfaat. Apalah arti kuliah lama bertahun-tahun jika skripsi yang dibuat hanyalah seonggok tumpukan kertas dengan tema mainstream seperti kebanyakan orang?!?😉 #TossAmaBujang

Tere Liye ini memang produktif sekali dalam menelurkan karya. Novel Rindu yang halamannya tebal masih teronggok di timbunan, novel Pulang baru dibeli ini sudah memasuki cetakan ke sepuluh, dan akhir tahun ini ada buku baru lagi yang terbit; Hujan. Luar biasa!! X))

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Pulang

Penulis                                                 : Tere Liye

Editor                                                    : Triana Rahmawati

Cover                                                    : Resoluzy

Lay out                                                 : Alfian

Penerbit                                              : Republika

Terbit                                                    : November 2015 (Cetakan IX)

Tebal                                                     : 400 hlm.

ISBN                                                      : 9786020822129

12 thoughts on “REVIEW Pulang

  1. Saya penasaran banget sama bukunya. Dan jujur saya belum pernah sama sekali membaca novel karangan Tere Liye. Tapi mengingat tema yang dibawakan tentang intrik politik saya jadi pengen baca (pinjem bukunya. Bukunya siapa?):mrgreen:

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Bujang dengan rantaunya. Sedih baca reviewnya kak Luckty. Terutama dialog mamak nya..😥

    Bukunya tebal juga ya😦

  4. SUKA BANGET BUKU INI!! (excited). Dari semua buku Bang Tere yang pernah aku baca, yang jadi favorit itu Rindu, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Sunset Bersama Rosie, dan buku Pulang ini. Alurnya yang maju-mundur sangat asyik untuk dibaca. Dengan perjalanan hidup Bujang yang amat menyentuh, juga banyaknya pengetahuan dalam buku ini, maka membaca buku Pulang ini harus melibatkan perasaan dan pemikiran yang seimbang. Gak tau deh harus mendeskripsikannya bagaimana, pokoknya Pulang is dabest! <3<3

  5. Aku mah ga mau komen kalo karyanya Tere Liye. 1 bukunya aja aku belum kelar “berjuta rasanya” kata-katanya itu loh, bikin jlebb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s