REVIEW Bad Boys

PicsArt_12_11_2015 13_30_52

“Jadi lo merasa nggak boleh suka sama dia karena lo tahu lo cuma akan patah hati?” (hlm. 91)

TROY. Selalu tampil urakan. Kemejanya tidak pernah dimasukkan dan dua kancing teratasnya selalu dibiarkan terbuka. Di bagian lengan ada bekas coretan spidol yang membentuk tanda tangan. Mungkin itu tanda tangannya sendiri. Dia kan memang narsis. Banyak cewek yang suka Troy. Hal itu jelas menguntungkan karena dia memang playboy. Entah sudah berapa banyak cewek yang dia pacari kemudian dia campakkan begitu saja. Troy memang dianugerahi fisik yang menarik. Tubuhnya tinggi besar dengan potongan rambut cepak. Dia rajin nge-gym untuk melatih otot. Tidak heran kalau cewek-cewek sampai harus membawa ember untuk menampung air liur ketika melihatnya.

AUSTIN. Sedikit bagian di sisi kiri rambutnya yang memanjang hingga mencapai poni berwarna merah. Dia memiliki rahang tegas, hidung mancung, dan bulu mata panjang. Gaya berpakaiannya benar-benar sama dengan Troy, begitu urakan dengan kemeja yang tidak dimasukkan dan dua kancing teratas dibiarkan terbuka. Dia sangat arogan dan memiliki darah pemberontak di dalam dirinya, tapi entah kenapa hal itu justru menambah daya tariknya.

Troy dan Austin memiliki kesamaan lain, mereka sama-sama sebagai ketua geng di sekolahnya. Troy berkuasa di SMA Emerald, sedangkan Austin memegang SMA Vilmaris. Sekolah mereka memang tidak pernah akur dan menjadi musuh bebuyutan.

Yang bikin repot adalah Ivy, adik Troy justru malah bersekolah di sekolahan musuh geng kakaknya. Ya, Ivy sekolah di SMA Vilmaris, sekolahnya Austin. Kenapa Ivy tidak bersekolah di tempat yang sama dengan kakaknya? Dia memilih bersekolah di SMA Vilmaris karena tidak ingin berpisah dengan sahabatnya, Sophie. Padahal sebenarnya Sophie juga pengen banget bersekolah di SMA Emerald, karena dia memang ngefans berat dengan kakaknya Ivy, Troy sang ketua geng Emerald. Dari semua tokoh, saya justru menjatuhkan pilihan tokoh favorit pada Sophie. Sesekali nyengir kalau baca tingkah Sophie kalo udah berhubungan dengan dunia Troy, apa pun dia lakukan. Dulu saya pikir, remaja-remaja seperti ini hanya ada di sinetron-sinetron, ternyata menginjak lima tahun bekerja di sekolah, saya hampir setiap hari bisa merasakan aura keababilan murid-murid unyu. Mulai dari suka ngemodus kalo kecengannya ke perpus, atau bisa histeris karena kecengannya lewat perpustakaan x))

Ada adegan di perpustakaan lumayan banyak dari halaman 67-73 saat Ivy berusaha menghindari Austin yang selalu menerornya. Tapi sayang, Bu Lisa, pustakawati di sekolah Ivy dideskripsikan sebagai pustakawati sekolah yang lebih sering tidur daripada melaksanakan tugas. Duh…pasti ini bukan pustakawati, tapi penjaga perpustakaan x)) Ada juga bagian ending buku yang menjadikan perpustakaan sebagai settingnya, dari halaman 208-211. Uhuk, adegan di ending yang pas di perpustakaan ini bikin ngagetin buat saya yang berprofesi sebagai pustakawan. Untuk itulah salah satu alasan saya merombak perpustakaan sekolah menjadi lesehan dan tanpa sekat apa-apa, agar saya bisa memantau setiap gerak-gerik perilaku murid-murid unyu meski sudah dipasang CCTV sejak tiga tahun yang lalu. Penasaran kan?!? Baca aja langsung bukunya😀

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Mandi sekarang. Gue bunuh lo kalau sampai bikin gue telat! (hlm. 8)
  2. Kalau lo makan kayak siput begitu, lo bakal bikin gue telat. (hlm. 9)
  3. Kalau dia emang mau bicara sama gue, kenapa bukan dia yang datang ke sini? (hlm. 15)
  4. Lo sengaja ngajak ketemuan di ruang kelas yang sepi untuk menggoda dia, kan? (hlm. 19)
  5. Jangan asal menuduh. (hlm. 20)
  6. Jangan teriak-teriak gitu! (hlm. 28)
  7. Emangnya kenapa lo mesti bohong? (hlm. 35)
  8. Makanya jangan jaim. (hlm. 40)
  9. Sedikit aja lo melakukan hal yang nggak menyenangkan, pacar lo yang akan mendapatkan akibatnya. (hlm. 42)
  10. Mana ada orang yang kelilipan malah melotot begitu. (hlm. 52)
  11. Apa hobi lo emang membuat orang takut? (hlm. 81)
  12. Takut karena lo belum siap pacaran dengannya, atau takut karena lo harus nolak dia? (hlm. 86)
  13. Apa lo pikir perasaan benci itu nggak bisa berubah jadi cinta? (hlm. 90)
  14. Jangan pasang tampang sedih begini terus. (hlm. 107)
  15. Jangan ngajarin anak orang jadi nggak bener kayak lo, ah. (hlm. 120)
  16. Jangan mikir yang aneh-aneh. (hlm. 134)
  17. “Jangan menyerah. Nggak bersama dengan orang yang kita cintai itu rasanya menyakitkan.” (hlm. 175)
  18. Katanya, orang yang sedang jatuh cinta kan memang bodoh. (hlm. 144)
  19. Kalau lo emang salah, lo harus berani mengakui. (hlm. 193)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Bad Boys

Penulis                                 : Nathalia Theodora

Ilustrasi sampul                 : Yanagi Yie

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 216 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-0662-9

9 thoughts on “REVIEW Bad Boys

  1. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW Bad Boys 2 + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. jadi inget novel jingga dan senja deh. ari kan bad boys banget hehe. novel khas remaja banget. menarik

  4. Sepertinya ingin bertemu Troy dan Austin haha soalnya di dunia nyata blm kesampean liat bad boy yang playboy😄

  5. Pengen baca buku iNiiiiiii

    Itu Ivy sekolah di Vilmaris ikutin Sophie, sahabatnya. Tapi sahabatnya pengen sekolah di Emerald sebenernya, terus kenapa ga di Emerald aja, biar Ivy juga di Emerald.

    Ada apakah yang terjadi diantara sekat-sekat rak buku di perpustakaan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s