REVIEW Everything I Do

WP_20150510_009

“Jadi orang yang biasa-biasa saja. Nggak usah kebanyakan gaya, biar bisa nikmatin hidup!” (hlm. 50)

“Manusia kan punya jatahnya sendiri-sendiri.” (hlm. 91)

FYANTI. Cewek cantik ini duduk di kelas dua belas SMA Sukacita yang terkenal seantero Bandung. Selain karena banyak anak pejabat dan artis-artis terkenal bersekolah di sana, SMA itu juga dikenal sebagai gudangnya para juara pelajaran. Dari juara lokal daerah sampai nasional. Internasional malah. Salah satunya, ya si Fyanti ini.

Fyanti merupakan anak pengusaha terkenal di Jawa Barat. Papanya, Ferdian Sukmana, punya usaha garmen di beberapa kota. Kalau kita menyebut nama Pak Ferdian, orang Bandung pasti langsung ngeh dengan factory outlet yang bertebaran di jalanan besar Bandung. Soal kepintaran, si cewek berambut bob dengan poni menyamping itu nggak perlu diragukan lagi deh. Waktu SMP, dia malah langganan ikut cerdas cermat tingkat sekolahan.

Fyanti ini anak tunggal. Nggak aneh sih kalau nyaris semua fasilitas bisa dia dapat. Sudah anak orang kaya, cantik, anak tunggal, bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, pintar pula. Wuih, komplet rasanya! Siapa pula yang nggak iri melihat kehidupannya.

Meski begitu, dalam pergaulan, Fyanti sama dengan cewek-cewek lainnya. Bahkan dari penampilan sehari-hari, nggak ada yang nyangka dia adalah salah satu ‘anak orang penting’. Fyanti memang nggak biasa berlaku seperti tuan putri. Dia lebih senang tampil biasa-biasa saja. Makanya, teman-temannya Fyanti pun beraneka ragam. Mulai bos-bos, teman papanya, sampai tukang becak yang ngetem ujung jalan kompleks rumahnya. Para pembantu di rumahnya yang berjumlah enam orang itu sangat dekat dengannya. Itu bisa terlihat dari keseharian mereka di rumahnya yang besar dan megah.

Fyanti memang berasal dari keluarga yang sangat berada dan terkenal, namun dia nggak pernah sombong. Malah Fyanti selalu berusaha rendah hati. Dan, sahabat-sahabatnya tahu sejak awal mereka dekat.

“Capek deh kalo tiap hari harus ulangan ngapal gini.” (hlm. 11)

Dibalik kesempurnaannya, Fyanti juga seperti ababil pada umumnya; mengalami rasa jatuh cinta. Tau sendiri donk bagaimana ababil jatuh cinta, mulai dari nyari segala info gebetan, stalking akun sosmed sang gebetan bahkan akan mencari tahu keseharian si gebetan, dan berbagai upaya modus yang dilakukan demi bisa ketemu ama gebetan. Khas remaja banget!😀

“Kalo udah pasti, terus apa urusan lo?”

“Ya, boleh dong kenalan lebih jauh.”

“Lebih jauh sampe ke Mars?”

“Emang lo nggak mau kita mengenal satu sama lain?”

“Lo aja sana. Gue mending skip aja.” (hlm. 45)

Membaca novel ini mengingatkan tingkah polah murid-murid unyu di sekolah yang sedang mengalami namanya fase remaja; jatuh cinta, patah hati kemudian move on #eaaa

Suka ama covernya yang super unyu. Warna-warni gitu. Merepresentasikan berwarnanya kehidupan yang dijalani Fyanti dan kawan-kawannya. Cuma yang agak ganjil satu, di ceritanya disebutkan jika memiliki rambut bob dengan poni menyamping, tapi di covernya, si Fyanti ini digambarkan berambut panjang dengan satu kepang dan poninya lurus menutupi dahinya. Nah…tampak beda kan… x)

Ada beberapa pesan moral yang diselipkan dalam novel unyu ini. Misalnya lewat kisah adik Edwin yang bernama Didot, mengalami down syndrome. Di halaman 123 diselipkan pesan jika kita memiliki keluarga atau teman seperti ini, tidak boleh dijauhi, apalagi dihina, justru harus dirangkul. Betapa baiknya Fyanti yang meski kaya ini justru tidak melupakan orang-orangnya seperti tukang becak langganannya saat masih kanak-kanak yang bernama Pak Ranu. Fyanti iba melihat keadaan si bapak ini yang sepi penumpang, maklumlah sekarang ojek lebih ngehits digunakan jasanya ketimbang becak. Di halaman 73, Fyanti membelikan motor untuk Pak Ranu dengan cara pinjaman lunak, untuk memudahkan Pak Ranu mencari nafkah beralih menjadi tukang ojek.

Jika biasanya dalam merebutkan cinta seseorang dengan cara adu balap motor atau balap mobil, di novel ini dua pemuda yang menyukai Fyanti akan adu layang-layang. Gyahahahah…sungguh unyu, apalagi jaman sekarang udah jarang anak-anak main layangan x)

“Ternyata titik kelemahan Dixon justru hatinya sendiri. Pantes selama ini gue nggak pernah bisa bikin dia jera. Soalnya hatinya masih sekeras batu sih.” (hlm. 177)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Everythng I Do

Penulis                                 : Anjar Anastasia

Desain sampul                   : Orkha Creative

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 184 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1390-0

7 thoughts on “REVIEW Everything I Do

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. “Jadi orang yang biasa-biasa saja. Nggak usah kebanyakan gaya, biar bisa nikmatin hidup!” (hlm. 50)
    reetwet

  3. Fyanti kayaknya serba sempurna banget deh hidupnya. Hahah.

    Btw sama kaya kakak, aku suka covernya! Luvchu banget! ^^

  4. Aku selalu mikir “orang kaya sombong wajar, orang kaya ga sombong langka”😀

    Rebutin cewek pake adu layang-layang, oke. Asal jangan maenin hati cewek kayak layang-layang, tarik-ulur tarik-ulur terus, ada yang nyomot dari arah lain baru sadar udah terbang jauh tuh cewek😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s