REVIEW Friendklops

WP_20150510_007

Persahabatan bukanlah sesuatu yang bisa kita pelajari di sekolah. Tapi jika kita belum belajar arti persahabatan, kita benar-benar tidak pernah belajar apa-apa. (hlm. 53)

Di mata Papi, Vena gadis paling sempurna. Dari dulu Vena tidak pernah mengecewakannya. Papi sangat membanggakan putri kesayangannya itu. Papi yakin Vena akan mampu menjadi penerus perusahaan periklanan yang telah dirintisnya. Prestasi akademik Vena yang sangat memuaskan. Dia tidak pernah bermasalah di sekolah. Hidupnya sangat teratur dan tertata rapi. Tak ada satu pun perbuatan Vena yang bikin kecewa.

Vena tidak pernah membantah atas apa yang diperintahkan Papi. Vena takut kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali. Saat itu Mami mencoba memperjuangkan keinginan Vena untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya, tapi Papi tidak mengizinkan. Keduanya berdebat dan bertengkar hebat, hingga tak bertegur sapa selama beberapa bulan. Situasi rumah menjadi tidak nyaman. Vena jadi kasihan sama Mami, dan ia bertekad tidak akan menentang keinginan Papi lagi dan menurut saja.

Begitu juga dengan urusan sekolah. Vena dengan berat hati mengikuti sekolah pilihan Papi. Hidupnya seperti robot yang harus menuruti segala perintah Papi. Di pikirannya hanya belajar, belajar dan belajar.

Kadang Vena merasa Papi berlebihan, tapi ia bisa memahami pemikiran Papi itu sebagai seorang pebisnis. Segala sesuatu dihitung dengan uang. Tapi sebenarnya kerugian materi bagi Papi tidak begitu penting dibandingkan dengan rugi karena tidak mengikuti pelajaran. Jika Vena hendak memutuskan tidak masuk sekolah, ia harus pikirkan cara mengejar ketertinggalan materi pelajaran yaitu dengan belajar dua kali lebih kelas.

“Kamu tidak harus menuruti semua perintah Papi jika memang bertentangan dengan keinginanmu.” (hlm. 9-10)

Vena telah menemukan dunianya. Dan ia tahu, satu-satunya hal yang dapat membuatnya bahagia adalah mencurahkan segala pikiran dan perasaannya dalam bentuk tulisan. Saat menulis Vena bisa melupakan semua masalah dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, atau menjadi sosok lain yang dia sukai, dan tak harus menjadi sosok yang Papi inginkan. Ia bisa bebas mengungkapkan perasaannya tanpa harus membuat Papi marah. Dunia begitu indah dan mengasyikkan saat ia masuk dan menyatu dengan tulisan yang ia buat.

“Perjuangkan mimpimu. Hidupmu, cita-citamu dan jadilah seorang penulis yang akan membahagiakan jiwamu.” (hlm. 90)

“Anggaplah ini sebuah hambatan yang harus kamu lewati untuk meraih kesuksesan. Suatu saat kamu akan menjadi penulis yang hebat. Bukumu akan dibaca banyak orang.” (hlm. 81)

Papi adalah representasi sosok orangtua yang keras dalam mendidik anak. Menjadikan anak pintar itu perlu, tapi mendidik anak untuk menjadi dirinya sendiri itu lebih penting. Terkadang banyak orangtua yang memaksakan keinginannya dan mengubur impian anaknya. Padahal jika impian sang anak direstui, bisa jadi sang anak kelak bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan orangtuanya.

Papi adalah sosok orangtua yang menginginkan anaknya dididik sempurna dan nyaris tanpa cela. Misalnya di halaman 43 ketika Vena terlambat beberapa menit saja untuk sarapan pagi yang berarti akan molor juga waktu berangkat sekolahnya. Di halaman 77 ketika Vena ketahuan tidak menyimak guru di kelas malah sibuk menulis novel yang sedang ia susun, Papinya marah besar. Begitu juga di halaman 83-84 yang lagi-lagi Papi memarahi Vena dan menganggap hobi menulisnya itu tidak bisa bisa memberi masa depan yaang cerah dan hanya akan sia-sia. Belum lagi di halaman 109, Papi menampar Vena karena ketahuan bolos sekolah demi bisa ikutan sebuah launching buku dan temu penulis remaja. Duh…ngelus dada deh kalo punya orangtua kayak Papi ini…. :’)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Datanglah ke skolah lebih awal kamu bisa mempersiapkan diri lebih baik. Dengan datang lebih awal kamu bisa mempersiapkan diri lebih baik. Otak lebih siap menerima pelajaran. (hlm. 20)
  2. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat dibandingkan dengan persahabatan yang mendalam dan nyata. (hlm. 52)
  3. Sahabat sejati adalah yang paling berharga dari semua harta, tapi paling jarang kita pikirkan untuk dimiliki. (hlm. 52)
  4. Persahabatan adalah satu-satunya perekat yang akan mempersatukan dunia selama-lamanya. (hlm. 52)

Ada juga selipan sindiran halusnya:

  1. Tidak perlu sedih. Itu tidak penting. (hlm. 18)
  2. Jika kamu sering datang telat, atau tiba saat bel masuk sudah berbunyi, hatimu tidak akan tenang dan akan membuyarkan konsentrasi belajar. (hlm. 20)
  3. Hidup ini adalah realita, bukan khayalan. (hlm. 83)

Orangtua tetaplah manusia, bukanlah Tuhan. Kita memang harus patuh pada peritah dan nasihat orangtua selama itu benar. Tetapi terkadang orangtua juga bisa salah. Hanya perintah Tuhan yang tak pernah salah. Jadi, jika perintah orangtua bertentangan dengan hati nurani dan perintah Tuhan, kita harus bisa membantahnya dengan cara yang baik.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Friendsklops

Penulis                                 : Sara Tee

Editor                                    : Ezri TS

Desain sampul                   : Chyntia Yanetha

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 184 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1562-1

8 thoughts on “REVIEW Friendklops

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Bisa ya Vena nurutin kata Papi nya mulu, kalau ada yg nggak sesuao sama hati dan keinginannya masa hrs diturutin juga?

  3. Aku bersyukur ga mengalami itu.

    Menurutku, kalo anak dididik seperti itu, anaknya tak akan dekat dengan orang tua, ada batas tak kasat mata yang timbul memisahkan keduanya.

    Terus friendklops nya dimana ka? Belum muncul teman Vena nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s