REVIEW New York After the Rain

WP_20151221_002

“Cinta itu di luar akal, kau tidak mungkin tidak memikirkannya. Meski kau sudah menutup mata untuk tidak melihatnya, menutup telinga untuk tidak mendengarnya, dan menutup mulut untuk tidak membicarakannya. Sekuat apa pun usahamu untuk mencegah keberadaannya dengan semua indra yang kau miliki, kau tetap bisa merasakannya dengan hatimu.” (hlm. 245)

Selama ini hanya Brianna McAdams dan Luke Nelson yang tahu Jane Martin adalah Julia Milano. Brianna memang sahabat Julia, namun di sisi lain dia merangkap editor untuk Jane Martin.

BlackInk adalah penerbit yang cukup ketat dengan peraturan. Editor di sana tidak boleh menjadi penulis di tempat yang sama. Kalau editor berencana menerbitkan buku karyanya sebaiknya memilih penerbit lain, meski tentu itu memancing persaingan bisnis antarpenerbit dan dianggap pengkhianat.

Julia tidak bermaksud curang. Ia hanya tidak percaya penerbit besar seperti BlackInk masik memberlakukan peraturan kolot seperti itu. Saat itu pilihan yang tersisa hanya dua: tetap menjadi editor BlackInk tanpa menjadi penulis, atau menjadi penulis BlackInk tanpa menjadi editor. Dilema. Julia telanjur mencintai kedua pekerjaanya dan BlackInk. Termasuk menyukai Jacob Pierce, pemuda dengan aksen Inggris kental yang menurutnya sangat menarik.

Sebenarnya tidak masalah untuk Julia menyembunyikan identitasnya. Permasalahan muncul adalah ketika pihak BlackInk mendesak Jane Martin untuk muncul karena selama ini tidak pernah hadir dalam setiap pertemuan penulis, dan penulis lainnya menganggap penulis yang telah menelurkan sembilan buku ini dengan cap penulis arogan. Permasalahan mulai muncul ketika salah satu novelnya akan diadaptasi ke film oleh sutradara ternama; Ethan Hall.

Sudah bukan rahasia lagi jika seorang penulis merahasiakan identitasnya rapat-rapat. Itu zaman dulu. Zaman sekarang mah yang ada baru nulis sebiji, satu buku keroyokan pula, bangganya minta ampun. Pamer sana-sini. Itu sih yang kerap saya lihat beberapa tahun terakhir. Apalagi orang-orang yang di cap selebtwit. Nggak masalah isi bukunya apa, kalau punya follower bejibun, pasti dilirik penerbit. Namun, kini pembaca kian pintar. Buku-buku hasil racikan selebtwit abal-abal mulai nggak laku. Selebtwit yang memiliki darah literasilah yang mampu bertahan di dunia penerbitan. Nah, masih ada juga kok beberapa penulis yang menurut saya masih misterius. Salah satunya adalah Ilana Tan. Kalau kita googling, kita tidak bisa menemukan fotonya satu lembar pun meski telah belasan buku yang ditulisnya, bahkan beberapa bukunya sudah di adaptasi ke layar lebar.

Lewat buku ini, kita menjadi tahu dunia penerbitan dan juga dunia penerbitan. Ada beberapa hal tak terduga yang disampaikan buku ini baik lewat tokoh Julia a.k.a. Jane maupun Ethan. Ternyata selain Julia yang menyimpan identitasnya, Ethan juga menyimpan masa lalunya yang membuatnya ingin mengadaptasi novel Jane yang berjudul Goodbye, Autumn ini ke layar lebar. Penasaran kan?!?

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bukankah terkadang petunjuk muncul saat kita hampir putus asa? (hlm. 43)
  2. Cinta itu adalah ketika kau memilih memendam perasaan untuk orang kau cintai, namun diam-diam tetap mengharapkannya, meski ia sudah memiliki orang lain di sisinya. (hlm. 84)
  3. Jangan pernah sia-siakan air matamu untuk orang yang salah. Karena ketika air mata sudah terlanjur mengalir, sulit sekali bagi siapa pun menghentikannya. (hlm. 186)
  4. Seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. (hlm. 222)
  5. Tidak ada kata terlambat untuk cinta, mencintai dan dicintai. (hlm. 233)
  6. Jatuh cinta memang mudah sementara menyatakan cinta sama sekali bukan hal mudah. Tapi kalau kau sudah merasakan yang pertama, seharusnya hal kedua akan menjadi lebih mudah, bukan begitu? (hlm. 233)
  7. Kalau kau bisa mencintainya, kau pun pasti bisa mengatakannya. (hlm. 233)
  8. Kau tidak boleh menyalahkan perasaanmu. (hlm. 245)

Keterangan Buku:

Judul                                     : New York After the Rain

Penulis                                 : Vira Safitri

Desain cover                      : Marcel A. W.

Editor                                    : Irna Permanasari

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 288 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1506-5

10 thoughts on “REVIEW New York After the Rain

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pas baca review kakak aku langsung kefikira Ilana Tan juga, hehe.
    Tapi kalau difikir jadi penulis misterius emang seru juga.
    Apa nanti akan kebongkar kah identitas Jane ini? Apa akan ada konspirasi-konspirasi lain? Tanda tanya…

  3. Jujur aku tertarik sama dunia penerbitan, tetarik buat bekerja disitu. Mungkin di buku ini diselipin pekerjaan2nya kayak gimana yg menjadi ilmu berguna bagi aku. Harus baca bukunya nih

  4. Ngena banget mbak nyindirnya penulis buku kroyokan wkwkwkwk.
    Petunjuk muncul saat kita sedang putus asa. Kalau gak salah inilah namanya intuisi. Intuisi adalah petunjuk Tuhan bagi mereka yang telah berusaha keras (berfikir) dan berdoa. Biasanya muncul ketika kepepet atau sudah putus asa dengan apa yang dipikirkan. Jadi kalau tidak mau berfikir dulu, gak usah terlalu berharap mendapatkan intuisi, hehe

  5. Menyembunyikan jati diri waktu menulis ?
    Hmm menarik
    lalu apakah bakal terungkap ? terus nasip jadi editor gimana ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s