REVIEW Sunrise at the Sunset

PicsArt_31_10_2015 9_08_31

Untuk apa kamu memperjuangkan seseorang? Padahal orang itu hanya berdiam diri. Mengabaikanmu sesuka hati. Sedikit pun tak peduli pada kamu yang memberi cinta sepenuh hati. (hlm. 147)

Sejak hari pertama bertemu Rudi menjadi mahasiswa baru di kampus mereka, ia sudah tertarik pada Sasa yang ceria dan bersemangat. Ia semakin bahagia saat mengetahui dirinya sekelas dengan Sasa. Rudi selalu mengamati Sasa dari kejauhan. Ia akan ikut tertawa ketika Sasa terlihat tertawa. Ia tidak pernah bosan mengamati Sasa.

Lalu mendadak semuanya berubah. Sasa sempat menghilang beberapa waktu. Pada saat ia hadir kembali di kampus, ia sudah bukan Sasa yang dulu lagi. Wajah cerianya menghilang begitu saja dan berganti dengan wajah muram yang setiap saat bisa berubah menjadi wajah yang penuh dengan air mata.

Rudi ingin sekali mendatangi Sasa, bertanya padanya apa yang membuatnya berubah. Ia ingin mengusap mendung dan menghadirkan kembali keceriaan Sasa yang menghilang. Tapi ia tak memiliki keberanian. Sasa tak pernah menyadari kehadirannya. Meski sekelas, mereka nyaris tak pernah bertegur sapa. Sasa seolah hidup dalam dunianya sendiri. tertutup dan terlihat sangat kesepian. Cerita yang didengar Rudi dari beberapa teman mengatakan kalau Sasa baru saja kehilangan laki-laki yang dicintainya.

Entah bagaimana awal mulanya ketertarikan pada Rudi terlihat di mata Sasa yang berbinar redup. Mungkin saat kejadian di kantin sewaktu Rudi salah tingkah hingga menumpahkan minuman dan membuat basah celana kedua temannya. Atau mungkin sejak Sasa duduk disebelahnya ketika perempuan itu terlambat masuk kelas. Bisa jadi, Sasa baru tahu kalau Rudi itu ada, saat Rudi menyerahkan lembar absensi pada Sasa dengan wajah yang merah padam. Entahlah. Keberaniannya yang mulai diakui Sasa ternyata menimbulkan semangat baru dalam diri Rudi.

Bagaimana melukiskan rasa ini padamu? Pikiranmu penuh dengan bayanganmu. Hatiku hanya menjeritkan namamu. Rasa apakah ini? Tapi saat aku melihatnya memelukmu, mendadak semua rasa seketika membeku. Apakah ini saatnya aku berlalu? (hlm. 6)

Yang namanya orang jatuh cinta, terkadang ada hal-hal bodoh di luar logika yang dilakukan. Seperti Rudi ini. Misalnya di halaman 7 ketika memasak mie karena melamun dia menambahkan bubuk kopi ke dalam panci mie yang sedang dibuatnya, di halaman 8 ketika keluar rumah hendak ke kampus lupa mengganti kaus lusuh dan celana pendek berwarna abu-abu kusam sebatas lutut yang dikenakannnya semalam untuk tidur, dan perasaan galau di halamn 11 ketika Sasa tak kunjung membaca bbm yang dikirimnya x))

Kisah Rudi – Sasa – Ari ini mengambil rumus yang sama dengan kisah dalam 30 Days Revenge yang juga ditulis oleh Mbak Monica Anggen. Sama-sama membahas tentang cinta segitiga. Tapi cerita yang diangkat jauh berbeda. Pesan moral dari buku ini adalah bahwa yang namanya takdir hidup sudah ditentukan oleh Sang Kuasa sekuat apa pun kita menyangkalnya😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Benarkah cinta pertama tak pernah mati? Bagaimana jika ternyata takdir sudah terpatri? Hidup sudah ditentukan awal dan bagaimana harus diakhiri. Cinta dalam hati pun bisa perlahan mati tanpa kita sadari. (hlm. v)
  2. Dalam hidup ini, bkan kita yang memegang kendali. Ada suatu kekuatan tak kasat mata milik Sang Pencipta yang telah mengatur segalanya dengan sangat sempurna. Ingatlah, apa yang kita inginkan tidak akan selalu tewujud, karena sesuatu yang kita anggap baik, tidak selalu baik pula di mata Tuhan. Adakalanya kita harus berkubang dalam masalah yang tiada habisnya. Pertengkaran, sakit hati, permusuhan bahkan momen indah yang perlahan menghilang dari kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan untuk mengatasi semuanya adalah dengan bertanya pada hati kita sendiri. Apa yang sebaiknya kita lakukan? Hanya hati kita sendirilah yang memiliki jawaban. Hati nurani itu tidak pernah berbohong. (hlm. 144)
  3. Hidup ini bisa diibaratkan layaknya kita sedang mengendarai sepeda. Coba kamu hanya duduk di atas sepeda dengan kedua kaki terangkat di sadelnya tanpa sedikit pun bergerak. Apakah kamu bisa tetap bertahan di atas sepeda itu? Kamu pasti akan oleng dan akhirnya akan jatuh. Begitu pula dengan hidup. Jika kamu hanya berdiam diri di satu titik dan tidak mau bergerak, maka lama kelamaan kamu akan oleh dan jatuh juga. Kamu tidak akan bisa meneruskan hidupmu jika kamu berhenti bergerak. (hlm. 233)

Banyak sekali selipan kalimat sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Kebohongan yang satu pastinya akan diikuti dengan rangkaian kebohongan lain yang tak ada habisnya. (hlm. 17)
  2. Cinta seperti itu hanya akan membawa keduanya ke neraka. (hlm. 61)
  3. Jangan coba-coba mengambil kesempatan untuk memeluk! (hlm. 63)
  4. Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengantar dan menjemput ke kampus? (hlm. 105)
  5. Kamu itu sudah tidak ada harapan lagi. Hidup segan, mati juga malu-malu. (hlm. 107)
  6. Benci dan cinta menyelimuti hati. Membuat hati buruk datang silih berganti. Cinta seperti apakah yang sejati? (hlm. 111)
  7. Kamu membangun cinta di atas puing-puing masa lalu. Surga kecilmu yang retak berubah perlahan menjadi neraka gelap. (hlm. 128)
  8. Jangan pergi dengan lelaki mana pun selain aku. Karena cuma aku yang bisa menjagamu. (hlm. 140)
  9. Apakah cara ini caramu untuk melepaskanku? Kenapa kamu tak langsung mengatakannya saja? Cinta itu sudah tak ada lagi di hatimu. Cinta itu sudah lebur dalam luka dan bencimu. (hlm. 164)
  10. Kalian menyamakan aku dengan tokoh sinetron? Sinting! (hlm. 169)
  11. Laki-laki yang sudah pernah melakukan hubungan terlarang memang tidak akan terlihat bedanya. Tidak begitu halnya dengan perempuan. Seperti sebuah gelas yang mudah retak dan pecah, begitulah perempuan adanya. Sekali saja rusak, maka tidak akan bisa dikembalikan seperti semula. (hlm. 179)
  12. Apa sih kerja dosen-dosen itu? Masa memeriksa hasil ujian aja lama sekali. (hlm. 200)
  13. Ungkapan cinta yang lama bersemi kembali itu bagai meminum susu basi dalam keadaan perut kosong. Sangat memualkan. (hlm. 231)
  14. Apakah wujud cinta memang menyakitkan seperti ini? (hlm. 259)
  15. Aku membiarkanmu menjadi bagian dalam hidupku. Bermain-main dengan hati yang rapuh. Sepuas yang kamu mau. Apakah cinta yang seperti ini tidak cukup bagimu? (hlm. 267)
  16. Kalau mau jalan, pasang mata dulu baik-baik. (hlm. 319)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Sunrise at the Sunset

Penulis                                 : Monica Anggen

Editor                                    : Anin Patrajuangga

Proof reader                      : Punto Wicaksono

Desainer                              : Stefani

Penata isi                             : Yusuf Pramono

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 330 hlm.

ISBN                                      : 978-602-251-203-5

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s