REVIEW Ayah Edy: Menjawab Problematika Orangtua ABG & Remaja

WP_20151121_013

Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra-putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milkmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, tetapi jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. (hlm. 75)

Ada tujuh puluh sembilan pertanyaan yang diajukan para orang tua di buku ini. Mulai antara Remaja dan Gadget sampai ke Remaja dan Uang. Ini beberapa pertanyaan favorit yang menjadi pilihan karena menarik dan melekat dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Tentang Sosmed. Banyak sekali orang tua yang agak lebay mengkhawatirkan anaknya. Misalnya sang anak tidak boleh memiliki akun sosmed. Padahal, siapa yang tahu jika anaknya malah diam-diam memiliki akun sosmed tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sosmed, jika diambil positifnya, banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari ini. Ada banyak anak muda yang eksis karena postingan videonya via youtube, atau terkenal karena akun instagramnya. Bahkan saya pun pernah merasakan imbas dari memiliki sosmed; tahun lalu juara 1 Lomba Pustakawan Berprestasi, salah satunya adalah membuat karya tulis dan saya mengambil tema manfaat sosmed sebagai salah satu promosi perpustakaan. Sebenarnya ada banyak solusi yang bisa diterapkan dalam pengaturan penggunaan internet, beberapa diantaranya adalah; blokir situs tertentu (di sekolah menutup akses sosmed dan youtube saat jam belajar, bisa juga diterapkan di rumah), akses internet seperti modem dan laptop letakkan di ruang terbuka jadi orangtua bisa mengecek apa saja yang dibuka anaknya saat mengakses internet seperti yang saya lakukan di rumah adalah laptop dan internet diletakkan di meja belajar dekat ruang TV jadi babe bisa lihat anaknya ini tiap malem online ngapain aja yang pasti nggak jauh-jauh dari buku buku dan buku x)) dan terakhir adalah jika orang tua memiliki anak yang menggunakan internet di dalam kamar bisa menyambungkan salurannya ke internet yang ada di laptop/ PC milik orangtua, jadi orangtua bisa mengecek hal apa saja yang dilakukan anaknya saat mengakses internet.
  2. Poin kedua adalah tentang sekolah. Sebagai orangtua, hendaknya lebih mementingkan minat dan bakat anak daripada sekolahnya. Percayalah, sehebat apa pun sekolahnya, takkan menjamin kehidupan anak kelak. Artinya, pikiran kita harus diubah. Jangan jadikan sekolah sebagai alat ukur satu-satunya bagi kesuksesan anak. Namun, justru sebaliknya, anaklah yang kita jadikan sebagai alat ukur sekolah, apakah sekolah tersebut bermutu atau tidak. Mengapa? Anak adalah ciptaan Tuhan yang Mahasempurna. Ciptaan Tuhan yang Mahasempurna pasti juga sempurna. Karena anak sudah sempurna sebagaimana adanya, tentu kita bisa menjadikan mereka alat ukur bagi sekolah. Bukan sebaliknya. Jadi, bila anak tidak cocok dengan satu sekolah (karena beban akademisnya), pilihkanlah yang cocok. Sekolah yang harus memahami anak, bukan anak yang memahami sekolahnya. Beruntung, saya dan adik-adik dibebaskan orangtua untuk sekolah maupun kuliah di yang sesuai dengan minat. Saya boleh kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan (jurusan yang sangat asing di telinga) yang mengantarkan saya pada pekerjaan yang sesuai passion yaitu sebagai pustakawan, begitu juga dengan adik saya yang tomboy memilih kuliah jurusan Penjasorkes karena dari kecil hobinya memang olahraga dan alhamdulillah sedari SMA sampai kuliah sekarang beberapa kali mengukir prestasi di bidang olahraga softball, olahraga yang ditekuninya sedari SMA dan kini menjadi pelatih eskul tersebut di sekolahnya meski belum lulus kuliah. Begitu juga dengan sekolah tempat saya bekerja, di sekolah ini memang ukuran prestasinya bukan dari nilai akademis tapi lebih ke prestasi bakat anak-anaknya; eskul Multimedia selalu meraih prestasi memenangkan kompetisi film pendek, eskul basket dan futsal yang para pemainnya sering memboyong piala, begitu juga dengan eskul pramuka yang tiap lomba pasti langganan membawa pulang piala. Dan masih banyak eskul lainnya yang mengukir prestasi. Jadi, seorang anak tidak bisa dipaksakan untuk suka Matematika semua, atau Kimia semua. Setiap anak memiliki bakat masing-masing. Karena tidak ada orang sukses yang menekuni bidang yang tidak disukainya. Jadi, jangan lagi ada orangtua yang memaksakan anaknya masuk IPA, karena merasa IPS tidak bergengsi. Beruntung dulu saya boleh masuk IPS, padahal semua teman akrab saya masuk IPA, bahkan sempat dipanggil wali kelas karena meragukan pilihan saya, dengan mantap saya mengatakan saya memang lebih menyukai pelajaran seperti sejarh, sosiologi, antropologi dan sebagainya ketimbang menghitung ala matematika, fisika maupun kimia yang lihat soalnya saja sudah bikin pusing apalagi disuruh menjawab pertanyaannya x))
  3. Tentang kasus bully. Seringkali terjadi kasus melanda di negeri ini. Dan seringkali kasus bully melipatkan para orangtua. Agar sesama orangtua tidak bertengkar, sekolah harus menjadi penyelesaian masalah. Guru-guru seharusnya dilatih untuk menyelesaikan masalah bullying. Sayangnya, tidak ada pelatihan bullying untuk guru. Akibatnya, terkadang mereka tidak tahu harus bagaimana. Apalagi kalau ayah si pelaku bullying adalah pejabat atau tokoh penting. Selanjutnya, sekolah harus menindaklanjuti pelaku bully. Bukan dengan menghukum, tetapi mencari tahu mengapa ia sampai mem-bully temannya. Rata-rata pelaku bully adalah korban bully di rumah sendiri, entah oleh ayah, ibu, paman atau kerabat lainnya. Bentuk bully bisa beragam, tetapi yang jelas anak akan belajar untuk menjadi pelaku juga. Di rumah, ia mungkin tak bisa melawan saat di-bully orangtuanya, tetapi kemudian ia melampiaskannya di sekolah. Jika terbukti bahwa sumber kelakuan si anak pelaku bully memang dari rumah, maka tugas sekolah adalah menawarkan keluarga untuk mengikuti konseling. Karena jika anak pelaku bully saja yang ditangani, sementara sumber di rumahnya tidak dibereskan, tentu percuma saja.

Masih banyak sekali problematikan orangtua ABG dan remaja yang dibahas dalam buku ini. Cocok dibaca dan diterapkan para orang tua dalam menghadapi anak!😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ayah Edy: Menjawab Problematika Orangtua ABG & Remaja

Penulis                                 : Ayah Edy

Penulis pendamping       : Sherly Puspita

Penyunting                         : Laura Ariestiyanty

Penyelaras aksara            : Lian Kagura, Novia Fajriani

Perancang sampul           : cddc

Ilustrasi isi                           : Koko Andiko

Foto sampul                       : www.shutterstock.com

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : September 2015

Tebal                                     : 336 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-015-0

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-99074/ayah-edy-menjawab-problematika-orangtua-abg-remaja.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s