REVIEW 3

WP_20151208_030

Kita semua punya sesuatu yang akan kita bela sampai titik darah penghabisan. (hlm. 158)

ALIF. Menjulang ke atas, tegak tanpa memiliki liukam sana-sini. Tegasnya tidak bisa ditawar-tawar. Kukuh dan teguh dalam menjalani hidup. Seperti huruf hijaiah pertama itu, Alif adalah pionir. Dia seorang pemimpin. Dan sebagai pemimpin, dia harus berani menegakkan kebenaran.

LAM. Huruf hijaiah Lam membentuk kurva, melengkung. Dia tetap tegak, namun dia luwes. Dia fleksibel. Lam menunjukkan seseorang tetap bisa memegang prinsip sekaligus baik hati dan pemurah pada sesama.

MIM. Huruf hijaiah yang membentuk lingkaran. Menandakan kesempurnaan. Manusia bisa dikatakan mendekati sempurna kalau dia menerima dirinya sebagai insan yang tunduk di hadapan Tuhannya, kalau dia ikhlas hidup dan matinya hanya untuk Allah semata, kalau yang dia cari dalam hidup adalah keadaan berpulang pada-Nya dalam keadaan khusnul khotimah.

Adakah negara yang sempurna? Kita, manusia, mungkin hanya bisa mengupayakannya. (hlm. 153)

Tiga. Seperti judulnya, buku ini terdiri dari tiga tokoh utama; Alif si penegak hukum, Lam sebagai wartawan yang idealis, dan Mim yang patuh dan tunduk pada ajaran agama yang dianutnya.

Alif, dibalik sifatnya yang keras dan tanpa pandang bulu dalam menumpas kejahatan, sesunguhnya dia adalah sosok yang lemah. Apalagi yang melemahkan hati seorang lelaki jika bukan urusan cinta. Ya, butuh waktu dua belas tahun bagi Alif untuk menunggu Laras yang dicintainya dari dulu. Ada adegan-adegan meleleh antara Alif dan Laras, terutama di halaman 57, 100 dan 220.

Lam. Wartawan yang tidak hanya idealis pada pekerjaannya, tapi juga pada agamanya. Diantara tokoh lainnya, saya paling suka tokoh Lam ini. Konsisten dalam menekuni pekerjaannya dan mencintai keluarganya; anak dan istrinya. Suka cara dia mendidik anaknya, tidak terkesan menggurui dan pengertian banget ama istrinya. Oya, saya juga suka ama tokoh Gendis, istrinya Lam ini. Ada kalimat yang meluncur dari bibir Gendis yang #JLEBB banget di halaman 117-118; “Aku nggak akan pernah lupa. Kamu minta izin ke Papa untuk mengajakku menemanimu berjuang bareng, sepanjang sisa umur hidup kita. Kamu nggak menjaminku untuk bahagia, tapi kamu bilang ingin berjuang bareng bersamaku. Itu yang bikin Papa berhenti berharap mendapatkan menantu yang sempurna, karena dia telah bertemu dengan suami yang sempurna untukku. Mana bisa kamu menentukan sikap sembari khawatir kehilangan pekerjaan. Kalau kamu takut nggak ada uang karen mikirin aku dan Gilang, artinya kamu sama saja nggak kasih aku dan Gilang kesempatan untuk menemanimu berjuang.”

Mim. Porsinya memang lebih sedikit dibandingkan tokoh Alif dan Mim. Tapi bukan berarti dia tidak memiliki peranan penting dalam cerita ini. Tokoh Mim justru menjadi kunci cerita dengan pesan moral jangan selalu gegabah menyimpulkan sesuatu hanya dari sisi luarnya saja.

Buku ini saya baca dua hari yang lalu. Siapa sangka pas rencanya malam ini buat nulis review bukunya, tadi siang ada kejadian yang sekilas mirip di buku ini. jika hari ini Indonesia berduka karena ada bom Thamrin, di buku ini ada peledakan bom di sebuah kafe!

Ini merupakan adaptasi dari film ke buku. Novel dan Film 3 Alif Lam Mim merupakan mix genre antara action, drama dan religi menjadi suguhan utuh yang disajikan secara kekinian kepada penikmat novel dan film remaja dewasa. Tiga karakter dalam cerita mengekspresikan tiga watak yang merupakan cerminan filosofis dari tampilan huruf Alif yang tegak lurus, huruf Lam yang melengkung dan huruf Mim yang melingkar. Dengan balutan kisah fiksi dari perspektif psikologi sosial di masa depan, tahun 2036.

Abis baca ini, langsung penasaran ama versi filmnya. Duh, menyesal baru nonton versi filmnya sekarang #Kudet #BaruTahu. Versi visualnya bagus. Sutradaranya adalah Anggy Umbara dan Bounty Umbara. Apalagi akting Abimana Arsatya paling juara, semakin meleleh ama tokoh Lam!😉

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ada banyak cara untuk membayangkan masa depan. (hlm. 8)
  2. Hidup itu untuk dinikmati. (hlm. 9)
  3. Seseorang yang memiliki misi akan cenderung lebih berani. (hlm. 24)
  4. Semua tak selalu berjalan sesuai keinginan. Begitulah kehidupan. (hlm. 35)
  5. Kata orang, waktu bisa menyembuhkan luka. Waktu bisa menumpulkan luka. (hlm. 41)
  6. Kadang hanya dibutuhkan satu pertemuan untuk menyadari bahwa rasa itu masih bertahan. (hlm. 50)
  7. Bisakah masa depan ditata dari masa lalu yang dipenuhi derita? (hlm. 57)
  8. Penyesalan nggak ada gunanya. Kita nggak bisa mengubah masa lalu. Tapi masih ada hari esok. Kita masih bisa mengubah masa depan. (hlm. 61)
  9. Kita masih bisa berubah kalau mau. (hlm. 61)
  10. Siapa pun bersedia berjuang dan berusaha, demi sesuatu bernama harapan. (hlm. 62)
  11. Masa lalu dan masa depan. Antara kawan dan lawan. Kadang keduanya berkesinambungan. (hlm. 72)
  12. Apa pun, kalau dilakukan sepenuh hati hasilnya akan istimewa sekali. (hlm. 88)
  13. Tiap keluarga, punya cara dan aturan sendiri dalam menjalani hari. (hlm. 97)
  14. Memutuskan mungkin akan lebih mudah kalau mendengarkan kata hati. Dan kalau tahu kita akan selalu dapat dukungan dari mereka yang kita sayangi. (hlm. 104)
  15. Hanya dalam waktu satu hari, apa pun bisa terjadi. (hlm. 119)
  16. Begitu cepat sebuah ruangan kehilangan makna. (hlm. 121)
  17. Cobaan akan selalu ada. Siapkah kita menerimanya? (hlm. 124)
  18. Bantuan kadang datang dari tempat tak terduga. (hlm. 166)
  19. Ketika penyesalan tiba, kadang kita berharap andai bisa mengulang kembali selamanya. (hlm. 175)
  20. Masa lalu dan masa kini. Selalu ada kaitannya, selalu ada benang merahnya. (hlm. 180)
  21. Kadang kebetulan memanglah kebetulan. Waspadalah, karena bisa jadi itu adalah rancangan. (hlm. 190)

Banyak juga selipan kalimat sindiran halusnya:

  1. Sia-sia menghabiskan waktu bersedih-sedih untuk hal atau seseorang yang jelas tidak memedulikan kita. (hlm. 9)
  2. Apa gunanya uang kalau tidak dihabiskan? (hlm. 11)
  3. Ketika kekacauan terjadi, acap kali orang-orang mengedepankan diri sendiri. (hlm. 13)
  4. Kemaksiatan harus diberantas. (hlm. 15)
  5. Zaman berganti. Ideologi bisa berubah dengan mudah sekali. Semua memiliki untung dan rugi. (hlm. 20)
  6. Tidak semua bisa dibayar dengan uang. (hlm. 32)
  7. Zaman sekarang berantem beneran itu ya pake internet! Perang ya, lewat media. (hlm. 45)
  8. Kapan sih otak dan hati kita berhenti berantem? Itu kan pertempuran sesungguhnya dalam hidup kita! (hlm. 47)
  9. Siapa pun bersedia berjuang dan berusaha, demi sesuatu bernama harapan. (hlm. 63)
  10. Kalau dibutakan emosi, kawan dengan mudah bisa menjadi lawan. (hlm. 78)
  11. Kamu harus balas ejekan dengan karya yang keren. (hlm. 101)
  12. Jangan semudah itu bilang orang bohong sebelum bisa membuktikannya sendiri. (hlm. 106)
  13. Ada kalanya kita tidak bisa percaya begitu saja. (hlm. 163)
  14. Karena masalahnya adalah cinta, biarkan cinta jadi pemecahannya. (hlm. 215)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : 3

Penulis                                                 : Primadonna Angela

Desain cover                                      : MVP/ EndOneStuff & Graphz Thofva CB

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 232 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-2094-6

FILM 3 (TIGA) – OFFICIAL MOVIE TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=v-RlfhYi4xI

Cast Film “3” Bercerita tentang Pengalaman Mereka Saat Proses Syuting

https://www.youtube.com/watch?v=EbqVMGtuY5E

3 thoughts on “REVIEW 3

  1. kalimat Gendis itu tersampaikan dengan baik di filmnya & membuat hati hangat. senang dapat kesempatan nonton filmnya walau waktu itu di Lampung tayangnya cuma seminggu😥. baca ulasan ini jadi tergoda baca bukunya, karena kalau di film, kisah Alif & Laras gak dibahas secara mendalam. oh iya libur tahun baru kemarin film 3 ditayangin di tv. semoga di libur lebaran nanti film ini diputar kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s