REVIEW Yang Sulit Dimengerti adalah Perempuan

PicsArt_12_01_2016 13_41_25Kebahagiaan itu kalau dibagi bakal bertambah. Sebaliknya, kesedihan justru berkurang kalau dibagi. (hlm. 153)

Dua sepasang manusia ditakdirkan bertemu kembali setelah bertahun-tahun hidup terpisah. Adalah Renja dan Adel. Dulunya mereka bersekolah di SD yang sama. Karena suatu hal, keluarga Adel pindah yang otomatis juga pindah sekolah. Ketika mereka menginjak bangku kuliah, mereka kuliah di fakultas yang sama meski berbeda jurusan. Sebuah kebetulan (lagi), kosan mereka ternyata berdekatan.

Adel kuliah di Teknik Sipil yang didominasi oleh laki-laki, sedangkan Renja kuliah di Teknik Arsitektur. Fakultas teknik, di kampus mana pun identik dengan keras secara fisik maupun mental. Begitu juga dengan Kampus Merah, kampus tempat Adel maupun Renja menimba ilmu. Dari awal cerita sudah terasa sekali aura kehidupan kuliah yang identik dengan organisasi, tawuran, OSPEK dan sebagainya. Yup, kehidupan mahasiswa di buku ini tidak terkesan label semata, tapi benar-benar terasa. Pas baca ini jadi berasa de javu saat masa-masa kuliah. Apalagi aroma mahasiswa yang dideskripsikan dalam buku ini sepertinya di zaman saya kuliah yang identik dengan idealisme, rapat, berorganisasi, kritik sosial, intimidasi dari senior, dan sebagainya. Beda sekali dengan mahasiswa zaman sekarang yang cenderung tidak peduli dengan urusan sosial, yang waktunya banyak di habiskan dengan di kafe maupun nongkrong di mall.. x))

Beberapa kritik sosial yang disampaikan penulisnya lewat cerita dalam buku ini:

  1. Tisu toilet di halaman 60
  2. Teh dalam kemasan di halaman 62
  3. Pencucian otak di halaman 69
  4. Bermain kartu di halaman 162
  5. Koleksi buku perpustakaan kampus di halaman 182

Suka dengan gaya bahasa penulisnya. Cerita dituturkan dengan Bahasa Indonesia yang berkategori sastra. Poin plus dari buku ini adalah selain menyelipkan banyak kritik sosial, juga menyuguhkan nuansa kedaerahan yang amat kental. Misalnya menyelipkan lagu Bugis Alosi Ri Polo Dua, ada tentang Sayyang Pattudu sebuah syukuran khataman Quran ala Mandar, maupun menampilkan Pantai Akkarena. Langsung jatuh cinta ama penerbit ini. Dan ini adalah buku terbitan Exchange yang saya baca. Jadi penasaran dengan buku-buku lainnya terbitan ini, ada Patah Hati Terindah, Titik Balik dan Wuni.

Selain dua tokoh utama; Renja dan Adel, saya juga menyukai beberapa tokoh pendukung. Ada Rustang yang setia kawan dan selalu mencairkan segala suasana, dan ada juga Naufal calon dokter gigi yang hobi membaca dan gemar sekali menyelipkan kata-kata bijak untuk Renja ketika hatinya sedang gundah gulana.

Pesan moral dari kisah dalam buku ini adalah masa lalu memang terkadang menggerogoti masa depan. Tapi tataplah masa depan, dan masa lalu biarlah menjadi masa lalu saja.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ya, takdir. Ia memang selalu bekerja secara ajaib. (hlm. 10)
  2. Semua perempuan suka dengan laki-laki yang berjuang. (hlm. 74)
  3. Jodoh dan cinta itu berbeda. (hlm. 113)
  4. Jodoh bisa diantar dan dipilih, tetapi cinta tidak. Seseorang tak pernah bisa merencanakan bakal jatuh cinta dengan siapa. (hlm. 116)
  5. Sungguh, bagaimanapun, orangtua punya hak atas diri kita. (hlm. 121)
  6. Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan. (hlm. 153)
  7. Belajar melepaskan orang yang dicintai. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar. (hlm. 229)
  8. Apa arti cinta tanpa bisa memiliki? Jika kau jatuh cinta, maka milikilah ia yang kau cinta. Jika kau jatuh cinta, maka yakinlah bahwa kau adalah orang yang tepat untuk menjaga dirinya selamanya. (hlm. 234)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Perempuan selalu suka dipuji, walaupun mereka sering kali menuding laki-laki sebagai penggombal sebagai tanggapan atas pujian itu. (hlm. 16)
  2. Kenapa laki-laki suka berkelahi? Padahal kadang masalahnya sepele. (hlm. 17)
  3. Orangtua capek-capek banting tulang, mereka hanya sibuk tawuran. (hlm. 33)
  4. Tidak ada yang sia-sia jika kita berbicara dengan teman lama. Tepatnya, teman lama yang seorang perempuan. Dan cantik. Segalanya menjadi hal penting yang sangat sederhana. (hlm. 41)
  5. Perempuan selalu makan sedikit di hadapan laki-laki. (hlm. 53)
  6. Kata orang, ketika perempuan bicara dengan semangat, kita hanya perlu terkesan antusias. Tidak peduli apakah kalimat-kalimat itu nantinya hanya melintas di telinga belaka. (hlm. 61)
  7. Jangan cuma berani sama perempuan. (hlm. 65)
  8. Melihat orang yang kau cintai bersedih di sore hari adalah pemandangan yang kurang baik. (hlm. 79)
  9. Belajarlah berdialog dengan hujan, suatu saat kau pasti akan kesepian. (hlm. 89)
  10. Orang-orang yang lebih tua suka menceritakan hal-hal konyol kita di masa kecil. (hlm. 94)
  11. Konon, jika seorang perempuan berkata kau terlalu baik untukku, kau terlalu sempurna, atau semacamnya, itu sama buruknya dengan kalimat aku membencimu. Demikiankah? (hlm. 110)
  12. Jangan asal bicara. (hlm. 172)
  13. Kalau kau tidak berniat mencintai seseorang, jangan biarkan ia menaruh harapan terlalu lama kepadamu. (hlm. 196)
  14. Bagaimana perasaanmu jika engkau melihat orang yang paling bersetia kepadamu, paling menyayangimu, tetapi kemudian ia menderita karena dirimu? (hlm. 201)
  15. Melupakan seseorang lalu mencintai seseorang yang lain tidaklah semudah menguras bak mandi lalu mengisinya lagi. (hlm. 209)
  16. Bagaimana jika engkau di posisi hendak membuka hatimu pada orang lain, tiba-tiba seseorang yang benar kau harapkan datang menghampirimu? (hlm. 213)
  17. Kenapa berharap yang tidak pasti? (hlm. 220)
  18. Yang bisa membuatmu mati adalah perasaan bersalah. (hlm. 234)
  19. Pada dasarnya perempuan punya watak pelupa jika mendapatkan cinta lain yang membuatnya nyaman berlindung di dalamnya. (hlm. 235)
  20. Setiap orang akan memiliki kehilangan. Sepanjang waktu orang akan dibayang-bayangi kehilangan. (hlm. 237)
  21. Memang perempuan sudah dari sananya ditakdirkan menjadi mahluk yang membingungkan. (hlm. 241)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Yang Sulit Dimengerti adalah Perempuan

Penulis                                                 : Fitrawan Umar

Penyunting                                         : Pringadi Abdi

Penyelaras akhir                               : Shalahuddin Gh

Pemindai aksara                               : Chandra Citrawati

Pendesain sampul                           : Iksaka Banu

Penata letak                                       : desain651

Penerbit                                              : Exchange

Terbit                                                    : Desember 2015

Tebal                                                     : 245 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-72793-3-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s