REVIEW Broken Vow

broken vow coverDalam pernikahan, bentuk cinta menjadi berbeda. Saat merasa terluka dan sakit hati, sepertinya cinta itu akan hilang dan menguap. Tidak ada istilah bisa saling melupakan bekas luka yang tercetak jelas dan mulai belajar saling jatuh cinta lagi. Yang ada kita selesai. Melupakan semua janji suci yang sudah patah dan rusak. Enggak ada alasan untuk saling mencintai lagi. Forgiven but not fogotten. (hlm. 227)

AMARA. Menikah dengan arsitek yang juga anak konglomerat di negeri ini. Dia beruntung bertemu tanpa sengaja dengan seorang pangeran keluarga Adiwinata yang terkenal tampan tapi seorang Don Juan itu. Nathan bertekuk lutut di hadapan Amara. Ya, bagaimana enggak bertekuk lutut? Amara memiliki kecantikan seorang dewi. Memakai baju rombeng pun dia akan tetap menawan, apalagi jika tanpa sehelai baju di tubuhnya. Pasti Nathan dibuat tergila-gila oleh kecantikan Amara. Hidup Amara benar-benar seperti dongeng.

Amara tidak mau ada yang tahu dan khawatir tentang masalahnya dengan Nathan. Amara tidak mau masalah keluarganya menjadi gosip nasional. Sekalinya Amara bercerita pada Irena dan Nadya, Amara takut ada yang menguping dan menyadap pembicaraan mereka. Amara ingin menjaga nama baik Nathan di depan sahabat-sahabatnya dan publik. Amara juga harus menjaga harga dirinya sendiri yang telah diinjak-injak oleh Nathan.

“Enak apanya? Hidup gue itu membosankan. Flat. Kerjaan gue kalau enggak nyalon ya ke yayasan atau ngantar Kev ke tempat les. Udah gitu doang!” (hlm. 35)

NADYA. Menikah merupakan keputusan berat yang harus diambilnya. Umurnya tiga puluh tahun dan orangtuanya sudah panik bukan kepalang melihatnya yang tidak ada tanda-tanda akan menikah. Mereka memaksanya, berusaha menjodohkannya dengan siapa saja yang terlintas di kepala mereka. Laki-laki yang mereka pilihkan itu baik untuk mereka, tapi tidak untukknya. Nadya bukannya tidak mau menikah, tapi Nadya menunggu kepastian. Menunggu kepastian dari seseorang yang ternyata tak kunjung kembali.

Untuk menghentikan kekhawatiran ibu dan bapaknya yang berlebihan, akhirnya dia nekat menikah dengan sahabatnya sendiri. Nadya tahu dari dulu Dion mencintainya. Dia selalu ada setiap Nadya membutuhkannya. Tapi sayangnya Nadya tidak mencintainya. Mungkin belum. Yang terpenting bagi Nadya adalah menikah dulu dengannya. Tentang bagaimana kehidupan pernikahannya dengan Dion nantinya, Nadya tidak mau memikirkannya.

Menikah itu menyenangkan, kok. Lo cuma harus berbagi hidup dengan suami lo seumur hidup. Nggak perlu dibikin ribet. Nikmati aja, selama kalian berdua enggak saling menyakiti. Intinya, kita harus saling setia, saling cinta dan saling mendukung. (hlm. 4)

IRENA. Sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus pegawai kantoran, Irena harus bisa mengatasi semuanya sendiri. Dia harus bangun lebih pagi. Jam empat subuh sudah mencuci pakaian, membuat sarapan, dan membereskan rumah. Belum lagi dia harus mengurus keperluan Ara, anak bungsunya yang berumur empat tahun, dan mengurus dirinya sendiri sebelum berangkat ke kantor. Untung saja Aron sudah berusia delapan tahun sehingga dia bisa mengurus keperluannya sendiri walau terkadang membuat ulah. Kadang dia tidak mau memakan sarapannya yang membuat Irena tambah pening saja.

Dari jam empat subuh, Irena sudah sibuk setiap harinya. Dan suaminya tidak sedikit pun membantunya. Irena tahu, Irena ibu rumah tangga di sini, tapi juga bekerja. Ingin ia ungkapkan semuanya, tapi pasti Mas Juna suaminya akan berkata, “Suruh siapa kamu kerja? Uang dariku memangnya tidak cukup?”

“Harusnya kamu bisa memanage waktu biar enggak keteteran.” (hlm. 29)

Tiga sahabat. Tiga pernikahan. Tiga luka. Tagline buku ini sungguh menarik, memikat hati untuk berburu bukunya. Tiga tokoh dalam buku ini merepresentasikan problema perempuan dalam menghadapi pernikahan. Dalam kehidupan nyata, kita akan menemukan banyak sekali yang kisah hidupnya seperti Amara, Irena maupun Nadya. Kalau kisah hidup saya sih nyerempet sebelas dua belas kayak hidup Nadya. Saya juga punya teman meski bukan sahabat ya, seperti Amara maupun Irena. Ada, ada banget kok kisah mereka dalam kehidupan nyata. Bahkan ada juga hidupnya berakhir lebih tragis dari kisah tiga perempuan dalam buku ini.

Sejatinya, dalam pernikahan tidak ada yang namanya suka melulu, tapi akan banyak juga dukanya. Perempuan mau bagaimanapun selalu harus lebih banyak mengalah. Perempuan menggunakan perasaan, sedangkan laki-laki menggunakan logika. Ketika memutuskan memasuki gerbang pernikahan, berarti harus menerima paket di dalamnya; kebahagiaan dan penderitaan.

Pesan moral dari buku ini adalah apapun pilihan yang harus kita hadapi dalam sebuah pernikahan, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Jangan lupa, terkadang untuk mewujudkan sebuah kebahagiaan akan perlu banyak pengorbanan yang harus dilalui.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bahagia itu relatif. Tergantung gimana lo memandang pernikahan lo. (hlm. 5)
  2. Pernikahan tidak selamanya indah karena nantinya akan banyak kerikil, batu, bahkan tebing terjal yang harus dilewati. (hlm. 5)
  3. Kita enggak pernah bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. (hlm. 90)
  4. Tapi memang itu kan, esensi pernikahan? Saling mencintai dan saling memiliki. (hlm. 96)
  5. Namanya juga jodoh. Nggak bisa kita tebak arahnya ke mana. (hlm. 99)
  6. Senang dan cinta itu berbeda ya. (hlm. 105)
  7. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta karena hati tidak bisa diprediksi. Begitu juga dengan jodoh, keinginan dan harapan kadang berbenturan dengan realitas yang ada. (hlm. 168)
  8. Peristiwa mengubah seseorang. (hlm. 266)
  9. Cinta mengubah seseorang. (hlm. 267)
  10. Peristiwa memang bisa mengubah siapa saja. (hlm. 269)
  11. Tidak ada hidup yang sempurna. Hidup itu pilihan, begitu juga dengan kebahagiaan. (hlm. 270)

Banyak juga selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jadi nyonya kaya tetap aja suka telat. (hlm. 35)
  2. Hati-hati lho, benci bisa cinta. (hlm. 59)
  3. I loye you. Kamu nggak perlu membalasnya. (hlm. 92)
  4. Kecewa sih kecewa, tapi jangan melampiaskan ke lo dong. (hlm. 135)
  5. Memukuli orang yang dicintai? Kita tidak akan menyakiti orang yang kita cintai, kan? Atau malah sebaliknya? Karena cinta, kita bisa seenaknya pada orang yang kita cintai? (hlm. 135)
  6. Jangan berkata sembarangan. (hlm. 164)
  7. Jangan membicarakan hal yang sudah berlalu. (hlm. 170)
  8. Jadi laki-laki kok cengeng. (hlm. 187)
  9. Jangan pura-pura kaget. (hlm. 200)
  10. Kamu juga bisa kaget. Enggak semua masalah bisa diselesaikan dengan kata maaf. (hlm. 200)
  11. Mana ada laki-laki yang mau diajak menikah hanya demi status? (hlm. 250)
  12. Cinta bikin kita nggak waras. Tanpa mikirin cinta, hidup jadi waras. (hlm. 268)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Broken Vow

Penulis                                                 : Yuris Afrizal

Editor                                                    : Weka Swasti

Proof reader                                      : Herlina P Dewi & Tikah Kumala

Desain cover                                      : Theresia Rosary

Layout isi                                             : Arya Zendi

Penerbit                                              : Stiletto Book

Terbit                                                    : Agustus 2015

Tebal                                                     : 271 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-7572-41-6

One thought on “REVIEW Broken Vow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s