REVIEW Meniti Cahaya

WP_20151116_001Islam is easy. Islam itu memudahkan. Tidak pernah mempersulit. Manusialah yang kadang mempersulit. (hlm. 202)

Ini adalah kumpulan kisah nyata pengalaman para penulisnya sebagai muslim yang tinggal di luar negeri. Bagaimana perjuangan mereka menjadi kaum minoritas, namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjadi agen muslim yang baik.

Dari sekian banyak pengalaman, pilihan favorit saya adalah kisah di halaman 163 tentang bagaimana seorang ibu memperjuangkan hak shalat anaknya di sekolah. Hal ini mengingatkan saya saat magang di perpustakaan berbasis Internasional zaman kuliah. Kebetulan saya magang bersama dua teman lainnya yang sama-sama muslim. Namanya juga sekolah internasional, bisa dipastikan baik pelajar maupun pengajarnya adalah bule. Saat di sini, kesulitan kami di sini hanya ada dua; soal makanan (tak jarang kami membuat bekal jika sempat) dan urusan shalat dhuhur dan asar yang dilakukan di sebuah ruangan yang mirip gudang. Ruangan itu memang kerap dijadikan sebagai ruang shalat bagi para OB (yang rata-rata orang Indonesia dan kebanyakan muslim) juga beberapa siswa yang beragama Islam. Waktu itu kalo pas shalat dhuhur ataupun asar, hampir tidak pernah menemukan siswa yang juga shalat. Pas pertama kalinya liat siswa shalat, kakak beradik, mukanya muka-muka Timur Tengah gitu, langsung merinding gitu. Hebat banget euy mereka. Si kakak, yang laki-laki jadi imam bagi adiknya. Dua-duanya masih di bawah 10 tahun :’)

Inilah beberapa intisari dari delapan pengalaman penulisnya di delapan negara yang bisa kita ambil hikmahnya:

CAHAYA DARI PRANCIS

  1. Muslimah selalu di cap dengan stempel Arab. Arab yang sama dengan orang-orang Maghreb, potret muslim Prancisa saat ini. Perempuan Arab yang terbelakang, yang datang ke Prancis tanpa pendidikan cukup. Yang datag ke Prancis karena ingin memperbaiki taraf hidup. Istri yang ikut suami, yang tidak boleh bekerja di luar, melainkan hanya mengurus rumah setiap hari. Begitulah stereotif muslimah di Prancis. Pandangan seperti itu tidak hanya datang daro orang-orang yang berdarah Eropa, tapi memang itu yang berlaku dan terjadi di antara muslim Prancis kebanyakan.
  2. Muslimah Asia, dalam hal ini muslimah Indonesia, memang muslimah yang spesial. Mereka yang menginjakkan kaki sampai ke Prancis adalah perempuan-perempuan terpelajar. Mereka juga jauh lebih terbuka dibandingkan dengan potret muslimah Prancis selama ini. satu lagi, muslimah Indonesia adalah muslimah pratiquant. Artinya, mereka menjalankan ibadah sesuai yang diperintahkan oleh agama. Sebenarnya tidak hanya penganut Islam. di semua agama, banyak penganutnya yang menyatakan diri sebagai non pratiquant. Muslim hanya identitas, bahkan cenderung dianggap kesukaan. Karena itulah lembaga muslim di Prancis bukan disebut lembaga keagamaan, tetapi association culturulle, lembaga kebudayaan.
  3. Di satu sisi ideologi sekuler sistem pendidikan Prancis cukup menguntungkan bagi pemeluk agama karena itu berarti tidak ada paksaan bagi anak-anak untuk mengikuti pelajaran agama tertentu, dan tidak ada pengaruh agama apa pun dalam pelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari.

CAHAYA DARI SPANYOL

  1. Madrid adalah kota yang bisa dibilang Islami, apalagijikadibandingkan dengan kota lain di negara-negara sekitarnya. Madrid memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Islam. mungkin banyak yang belum tahu kalau kaum musliminlah yang mendirikan kota ini. Banyak sumber menyebutkan, kata Madrid itu sendiri berakar dari bahasa Arab ‘al-Majrit’ yang berarti saluran air. Orang-orang muslim pada masa lalu menggelarinya demikian karena kawasan Andalusia ini ternama berkat majunya teknologi irigasi yang dimilikinya.

CAHAYA DARI KUWAIT

  1. Kenapa orang Kuwait ‘hobi’ mengucapkan ‘masya Allah’? Ternyata, tujuan dari pengucapan serta penulisan kata ‘masya Allah’ itu adalah salah satunya untuk menghindari penyakit ‘ain (perasaan iri, dengki, atau tidak suka) yang bisa membawa keburukan. Jadi, kata ‘masya Allah’ adalah doa bagi si pemilik, sekaligus memberikan pahala bagi yang mengucapkannya karena selalu mengingat Allah.
  2. Di Kuwait, hampir tiap perempuan yang datang ke masjid berpakaian abaya dan hijab hitam atapun thoub. Dengan pakaian seperti itu, tidak terlihat perbedaan yang mencolok antara satu dengan lainnya. Semua tampak sama dan sederhana.
  3. Kuwait adalah surga kuliner halal. Dan yang paling menyenangkan adalah konsumen tidak perlu pusing memikirkan halal atau tidaknya makanan tersebut. Tentu semua halal. Status kehalalan makanan ini sangat diperhatikan dan diatur ketat. Sekali saja ketahuan ada unsur haram dalam suatu produk, maka restoran itu bakal ditutup atau dicabut izinnya oleh Baladiya –semacam BPOM-nya Indonesia.

CAHAYA DARI THAILAND

  1. Negeri ini menjamin penuh kebabasan beragama. Bagi pemeluk Islam, jaminan tersebut tidak hanya terwujud lewat banyakanya bangunan masjid, tetapi juga lewat organisasi di pemerintahan.
  2. Bangkok menyediakan segalanya. Segala koleksi baju serba tertutup banyak sekali di temukan dengan mudah di sini.

CAHAYA DARI JEPANG

  1. Jepang adalah negeri yang unik dalam hal agama. Banyak tempat ibadah yang dipenuhi jemaat pada waktu-waktu tertentu, namun hampir semua penduduknya justru mengaku tidak menganut satu agama secara khusus. Tidak mengenal aturan agama dan awam tentang Islam, namun ternyata begitu ‘Islami’. Dan toleransi mereka akan kehidupan beragama para pendatang, sungguh layak diacungi jempol.
  2. Orang-orang Jepang lebih mengedepankan etika, tata krama dan sopan santun ketimbang agama. Tidak masalah bagi mereka, jika seseorang tidak mau memeluk salah satu agama.
  3. Bagi masyarakat Jepang, terikat pada hanya satu agama bukanlah hal menarik. Kepercayaan orang Jepang memang sangat kompleks karena keterbukaannya pada semua agama. Mereka lebih memilih tidak terikat sehingga bebas mencampuradukkan ritual dan perayaan dari bermacam-macam agama dalam kehidupannya.

CAHAYA DARI KOREA

  1. Korea sudah memiliki KMF (Korean Muslim Federation) yang berpusat di Seoul. Bisa dibilang, Islam bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi penduduk setempat.
  2. Karena Seoul sudah banyak didatangi wisatawan dari berbagai penjuru dunia, tidak ada lagi yang memandang aneh perempuan berhijab, termasuk perempuan Arab yang tampil khas dengan abaya hitam mereka.

CAHAYA DARI AUSTRALIA

  1. Di Melbourne saja sekitar ada 25 masjid yang tersebar di dalam dan luar kota (suburban). Ada tujuh universitas besar di Melbourne yang hampir semua kampusnya memiliki fasilitas tempat shalat, termasuk fasilitas khusus untuk berwudhu.

CAHAYA DARI AMERIKA

  1. Menjalankan aturan Islam dan mempertahankan keimanan di Las Vegas memang jihad yang tidak mudah. Berbeda dengan Indonesia, kehidupan masyarakat Las Vegas sangat tidak islami. Orang Islam pun belum banyak.
  2. Amerika Sering, negara adidaya yang disuka sekaligus dibenci oleh beberapa negara lain memiliki sistem yang cukup baik dalam membebaskan warga negaranya untuk melakukan aktivitas keagamaannya. Itu sebab jumlah imigran dari negara-negara mayoritas berpenduduk muslim semakin meningkat setiap akhir tahun.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Meniti Cahaya

Penulis                                 : Irene Dyah dkk.

Penyunting                         : Irene Dyah

Editor                                    : Gita Savitria

Desain sampul                   : Suprianto

Desain isi                             : Nur Wulan Dari

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 227 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1929-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s