REVIEW Steal Like an Artist

WP_20151121_014

“Mulailah meniru yang kamu suka. Tiru, tiru, tiru dan tiru. Suatu saat kamu akan menemukan dirimu sendiri.” (hlm. 33)

Harusnya saya baca buku ini dulu, baru baca buku Show Your Work. Tapi nggak papalah, saya memang udah nyidam banget buku ini. Dan Peri Buku ternyata tahu banget selera saya, mamacih Ibu Peri… ^^ #peyuk

Ada sepuluh poin penting yang dijabarkan dalam buku ini. Seperti di buku Austin Kleon yang pertama saya baca, review kali ini juga mengandung spoiler akut x))

MENCURI SEPERTI SENIMAN

Seniman adalah kolektor. Bukan penimbun. Apa bedanya? Penimbun mengumpulkan buku apa saja, seniman selektif mengoleksi. Mereka hanya mengumpulkan yang benar-benar disukai. Tugas kita adalah menghimpun gagasan bagus. Semakin banyak ide keren yang kita kumpulkan, semakin banyak pengaruh yang bisa kita pilih.

Sekolah itu satu hal. Pendidikan lain lagi. Keduanya tidak selalu beriringan. Besrsekolah atau tidak, belajar selalu menjadi tugasmu. Rasa ingin tahu kunci utamanya. Perhatikanlah berbagai hal. Buru semua referensi dan telusuri lebih dalam dibandingkan siapa pun. Begitulah cara belajar yang baik. Teruslah membaca. Pergi ke perpustakaan. Ada keajaiban saat kita berada di tengah banyak buku. Tenggelamlah dalam tumpukannya. Baca bibliografi. Jangan hanya tahu soal buku yang sedang kita baca, tetapi juga referensi yang diacu buku tersebut. Kumpulkan buku, walaupun tidak langsung kita baca. Buku-buku yang belum dibaca adalah aset kita. Belajar itu mudah. Asal kita punya keinginan.

Bawalah buku catatan dan pulpen kemana pun kita pergi. Biasakan mengeluarkannya lalu catat hasil pemikiran dan pengamatan kita. Salin kalimat favorit dalam buku. Nah, ini saya banget. Semua hal remeh temeh mukai dari hal-hal yang akan saya lakukan sampai saat membaca sebuah buku, biasanya saya tuliskan dalam blocknotes atau minimal secarik kertas. Biar nggak lupa dan mudah jika kita menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kadang ide justru muncul tiba-tiba, inilah gunanya dicatat agar kita bisa mengingat memori yang lampau, terutama buat yang pelupa akut macam saya x))

UNTUK MEMULAI, TAK PERLU MENUNGGU SAMPAI KAU TEMUKAN JATI DIRIMU

Tak ada yang terlahir dengan gaya atau suara khas. Begitu keluar dari rahim, kita belum punya jati diri. Awalnya, kita belajar dengan pura-pura menjadi panutan kita. Kita belajar dengan meniru.

Meniru yang dimaksud adalah berlatih, bukan plagiat. Plagiarisme artinya mengklaim karya orang lain. Meniru berarti mengotak-atik. Seperti montir yang membongkar mobil untuk mencari tahu cara kerja mesinnya. Proses meniru memang agak rumit. Jangan hanya mencuri gaya, curi pemikiran di baliknya. Jangan hanya kelihatan seperti panutan, samakan juga cara pandang kita.

Karena saya bekerja di perpustakaan, saya meniru orang-orang kreatif di dunia perpustakaan. Saya ambil ilmunya dan diterapkan dalam perpustakaan kita. Tidak hanya dari satu sumber, tapi dari berbagai panutan. Yang lebih bagus lagi jika kita bisa memiliki followers dalam kehidupan kita, bukan hanya sekedar jadi following.

TULIS YANG MENARIK BAGIMU

Kita menghasilkan karya karena kita menyukainya. Kita asyik mengerjakan hal tertentu karena terinspirasi orang-orang yang menekuninya. Saran terbaik bukan menulis yang kita tahu, tapi yang kita suka. Tulis jenis cerita yang paling kita suka –cerita yang ingin kita baca. Prinsip ini berlaku dalam hidup dan karir kita.

Bila sangat suka suatu karya, kita akan ketagihan. Kita menuntut lanjutannya. Kenapa dorongan itu tidak disalurkan menjadi sesuatu yang produtktif?

GUNAKAN TANGANMU

Komputer sangat bagus untuk mengedit ide-ide kita, juga untuk mempersiapkannya sebelum dipublikasikan, tetapi tidak cocok untuk memancing gagasan. Terlalu besar kemungkinan memencet tombol delete. Komputer memunculkan sisi perfeksionis yang rewel dalam diri kita –ide yang belum ada pun kita edit.

Kita tetap bisa memunculkan ide dengan kedua tangan yang kita miliki. Corat-coret. Lipat-lipat dan segala macam yang bisa memunculkan tingkat kreativitas dalam diri. Begitu mendapat ide, kita bisa pindah ke pojok digital. Gunakan komputer untuk melaksanakan dan menyebarluaskan gagasan. Ketika pikiran buntu, kembalilah ke pojok manual lalu bermain.

PROYEK SAMPINGAN DAN HOBI ITU PENTING

Bila ada dua atau tiga hal yang kita minati, jangan merasa harus memilih. Jangan ada yang dikesampingkan. Rawat semua minat kita selama hidup. Jika menyukai hal yang beragam, tetaplah meluangkan waktu untuk itu. Biarkan semua itu terhubung. Siapa tahu muncul ide baru.

Punya hobi itu penting sekali. Hobi adalah kegiatan rekreatif untuk diri sendiri. Bukan demi uang atau popularitas, kita melakukannya hanya karena suka. Hobi itu memberi, tak pernah menuntut.

Jangan kehilangan jati diri. Tak perlu bersikeras merancang skema dan menyatukan karya kita. Jangan hiraukan keterkaitan, yang menghubungkan karya kita adalah pembuatnya. Suatu hari nanti, kita akan menengok ke belakang dan memahaminya.

RAHASIANYA: KERJAKAN DENGAN BAIK DAN BERBAGILAH

Langkah 1; Tertariklah pada sesuatu. Langkah 2; Buat yang lain tertarik juga. Yang menarik minat kita itu harus belum diketahui orang. Semakin kita terbuka untuk berbagi semangat, semakin mampu orang merasakan karya kita. Seniman bukan pesulap. Tidak ada kerugian jika rahasia kita diungkap.

Orang senang jika kita membocorkan rahasia, dan kadang kalau kita cerdik, mereka memberi imbalan dengan membeli apa yang kita jual.

Belajarlah coding. Cari tahu cara membuat website. Mulailah blogging. Pelajari media sosial dan sejenisnya. Cari orang-orang di internet yang menyukai bidang serupa dengan kita lalu berhubunglah dengan mereka. Berbagilah dengan mereka.

Jika khawatir membuka rahasia, kita bisa berbagi titik-titik tanpa menghubungkannya. Jari kitalah yang harus menekan tombol penyebaran. Kita memegang kendali atas apa yang dibagi dan seberapa banyak yang diungkap.

LOKASI TAK JADI MASALAH

Taruh buku-buku dan berbagai benda yang kita sukai di sekitar kita. Tempelkan apa saja yang ada di dinding. Ciptakan dunia kita sendiri. Dulu sebelum mau pulang kampung setelah lulus kuliah, ada kekhawatiran tersendiri jika pulang nanti; nggak bisa lagi nonton di bioskop, nggak bisa beli buku dan milih-milih buku sesuka hati apalagi bisa ikutan kegiatan bazar buku dan bedah buku sejenisnya, nggak bisa internetan yang gampang di mana saja. Dan yang pasti, masalah listrik padam yang tak pernah usai sampai sekarang.

Saya harus mengakali semua kendala ini. Beli buku via toko buku online shop, nonton film via youtube atau DVD, dan pasang speedy di rumah biar nggak bolak-balik ke warnet meski di sekolah juga ada internet tapi ya nggak bisa bebas sesuka hati karena banyak pekerjaan yang menumpuk x))

Jadi, meskipun kini saya tinggal di rumah orang tua di ujung perbatasan (satu kilometer adalah perbatasan lintas kabupaten), jalanan rusak karena banyaknya truk yang melintas (alhamdulillah berkat gubernur baru, jalanan di mana-mana kinclong cin!), dan masih saja listrik byar pet tiap hari kayak minum obat karena padamnya bisa tiga kali sehari (PR banget buat pemerintah), nggak ada mall apalagi toko buku, saya masih bisa up to date soal buku, apalagi kiriman buntelan buku dari penulis maupun penerbit yang bisa dipastikan buku-buku yang dikirim adalah buku-buku terbaru bahkan terkadang malah belum ada di toko buku. Dari sini saya belajar bahwa berkembang tak menjadi masalah meski hidup di pelosok sekalipun!😉

BERSIKAPLAH BAIK (DUNIA SEMPIT)

Bertemanlah, abaikan musuh. Aturan penting menjadi semakin penting di dunia kita yang luar biasa terkoneksi. Camkan satu hal; jika kita membicarakan orang di internet, mereka pasti tahu. Semua memasang Google Alert untuk nama masing-masing. Cara terbaik untuk membasmi musuh-musuh di internet? Abaikan mereka. Cara terbaik untuk berteman di internet? Katakan yang baik-baik saja. Inilah salah satu faktor kenapa saya hanya share berita yang baik-baik saja. Karena prinsip saya adalah jika kita menanam sepuluh berita baik, niscaya kita akan menuai lebih banyak kebaikan yang akan kita peroleh suatu saat nanti. Coba saja!😉

JADILAH MEMBOSANKAN (HANYA ITU CARA MENYELESAIKAN PEKERJAAN)

Dalam BAB ini ada dua poin yang menjadi favorit; hindari utang dan pekerjaan tetap. Tahun ini banyak pelajaran hidup dari beberapa orang yang terlilit utang, rata-rata karena tidak bisa mengimbangi antara pendapatan dan pengeluaran. Dan saya juga capek beberapa kali berurusan dengan orang yang terlilit utang, pas kita kasih pinjaman, balikinnya susah banget… x))

Pekerjaan tetap menghasilkan uang, networking dan rutinitas. Bebas dari tekanan finansial juga berarti kebebasan dalam berkarya. Pekerjaan tetap membuat kita sejalur dengan manusia lain. Belajar dari mereka, mencurilah dari mereka. Sisi terburuk pekerjaan tetap adalah merampas waktu kita, tetapi rutinitas harian membuat kita mampu menjadwalkan waktu untuk mengejar cita-cita secara teratur. Menyusun dan menjaga rutinitas bisa jadi lebih penting daripada punya banyak waktu. Diam berarti kematian kreativitas. Kita harus terus berkembang. Jika mengalami kebuntuan, kita juga akan jenuh dengan pekerjaan kita. Lalu kita butuh lama untuk ke kondisi semula.

Kiatnya adalah menemukan pekerjaan tetap yang bergaji layak, tidak membuat kita mual, dan masih menyisakan energi untuk berkarya di waktu luang. Pekerjaan tetap yang bagus memang sulit ditemukan, tetapi ada. Saya mengalaminya, mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan impian dengan gaji yang layak tidak bisa datang tiba-tiba, butuh proses. Jadi salah banget jika baru lulus kuliah sudah memasang gaji yang tinggi pas wawancara kecuali jika sudah punya banyak pengalaman yang bisa dipamerkan. Bahkan setahun lulus kuliah pun saya tidak memutuskan untuk mencari pekerjaan karena memang tidak ada, meski banyak nada nyinyir yang mengatakan percuma kuliah jauh-jauh jika nganggur juga, nyatanya ketika saya sudah pekerjaan tetap pun masih ada juga yang nyinyir dan menyepelakan pekerjaan yang kini saya pilih saat ini x))

KREATIVITAS BERARTI KETERBATASAN

Kreativitas bukan hanya soal apa yang kita pilih, tapi juga yang kita tinggalkan. Pilih dengan bijak dan bersenang-senanglah!😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Steal Like an Artist

Penulis                                 : Austin Kleon

Penerjemah                       : Rini Nurul Badariah

Penyunting                         : Richanadia

Penyelaras aksara            : M. Naufal

Penata aksara                    : Farida

Desain sampul                   : Austin Kleon

Desain sampul versi Indonesia: Hedotz K Lee Won

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : 2015 (Cetakan kelima)

Tebal                                     : 147 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1606-81-0

WP_20151121_004 WP_20151121_005

5 thoughts on “REVIEW Steal Like an Artist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s