REVIEW Sequence

sequence
Cinta diuji pada masa-masa sulit. Bahwa sangat mudah untuk mencintai seseorang saat kita bahagia, tak punyaa masalah, cukup uang atau punya atap di atas kepala. (hlm. 174)

KLARIS

Banting setir memang tidak mudah, salah-salah bisa terpleset dan masuk jurang. Namun, siapa bilang hidup itu mudah? Selama ini Klaris merasa terpanggil untuk mengikuti aktivitas sosial yang melibatkan anak-anak. Mungkin ini momen tepat baginya untuk serius menekuni apa yang ia anggap baik itu. Ia memantapkan hati untuk melamar ke Sekolah Hebat, bukan menjadi konselor seperti ilmu yang ia ambil ketika kuliah, ia ingin lebih dekat dengan anak-anak, ia ingin menjadi guru seperti Rosi temannya sejak SMP. Tak segampang yang ia kira. Tedi, pacarnya selama beberapa tahun tampak keberatan dengan keputusan yang akan diambilnya. Manakah jalan yang akan dipilih Klaris?

INE

Ternyata karir dan jabatan yang tinggi bukan jaminan seseorang bahagia dalam hidupnya. Seperti itulah yang dialami Ine. Meragkak dalam di usia empat puluhan, punya anak yang mandiri, harta berkecukupan bahkan lebih karena dia bisa membeli apa yang dia suka meski harganya selangit seperti tas-tas koleksinya. Tapi tetap saja ada yang kurang dalam dirinya; keutuhan rumah tangga. Ketika keresahan menggelayuti hidupnya, muncullah Ludi pemuda yang membuatnya kembali semangat dalam hidup. Jalan manakah yang harus dipilih Ine?

YUNI

Pramukantor di salah satu kantor perusahaan. Pekerjaan dengan gaji tak seberapa ini mengharuskannya berangkat pagi-pagi. Menitipkan anaknya, Dewa ke tetangga yang bisa dipercaya. Sebenarnya Yuni tidak tega menitipkan Dewa kepada orang lain. Tapi mau bagaimana lagi, jika dia tidak bekerja tidak bisa menutupi kebutuhan hidup Dewa. Suaminya sudah banting tulang untuk biaya mereka sehari-hari tak bisa menutupi kebutuhan yang ada. Hal yang menjadi masalah lagi adalah anaknya tidak seperti anak-anak yang lain. Di usianya yang sudah seharusnya bisa berbicara, justru diam dan tidak menunjukkan respon kepada siapa pun termasuk kepada orantuanya sendiri. Hidup di ambang garis kemiskinan, Yuni tak mampu membawa Dewa untuk berobat. Apakah yang harus Yuni lakukan, memilih tetap bekerja dengan perasaan was-was jika setiap saat anaknya bisa saja mengamuk dan tantrumnya kumat atau menjaga Dewa selama dua puluh empat jam di rumah dengan resiko tidak ada penghasilan?

Banyak kalimat favorit:

  1. Mimpi seringkali menyampaikan sesuatu yang terpendam di alam bawah sadar subjek. (hlm. 5)
  2. Manusia juga belajar dari kesalahan, enggak melulu cuma dari kebenaran. (hlm. 65)
  3. Siapa pun tak luput dari masalah. (hlm. 113)
  4. Bahwa tiap orang punya cetakan dan panggilan hidup masing-masing. (hlm. 131)
  5. Selalu dibutuhkan kehadiran atau kepergian orang lain untuk mencari tahu  kedalaman hati. (hlm. 150)
  6. Cinta menunjukkan kekuatannya atau kelemahannya saat ada sesuatu yang menimbulkan pergesekan kepentingan dan menuntut kompromi. (hlm. 174)
  7. Mata orang waktu memandang pacarnya sama mandang orang lewat itu beda. (hlm. 179)
  8. Pernikahan itu bukan hasil dari investasi hubungan sekian tahun atau pelabuhan terakhir saat kamu punya masalah. (hlm. 206)
  9. Enggak ada kata terlambat. (hlm. 214)
  10. Cinta bukan diajarkan, tapi disalurkan. Bukan kepandaian yang dibutuhkan, tapi ketulusan. (hlm. 215)
  11. Seorang anak berhak dan layak dapat pendidikan terbaik. (hlm. 241)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Pada saat iklan dan sinetron mempertontonkan kemewahan dengan makeup tak bercela, organisasi dan yayasan kemanusiaan juga mengangkat serta mengampanyekan kegiatan pengentasan kemiskinan dan kebodohan pada waktu yang sama. (hlm. 12)
  2. Kepala sekolah kan belum tentu harus tua. (hlm. 27)
  3. Anak muda zaman sekarang, hobi flirting tanpa peduli status. (hlm. 41)
  4. Selingkuh itu dari hati. (hlm. 77)
  5. Teknologi pintar mestinya sudah tak butuh pengguna pintar juga donk? (hlm. 155)
  6. Enggak ada manusia yang lebih superior daripada yang lain. (hlm. 173)
  7. Sebagai laki-laki seharusnya tahu diri gimana mesti bersikap ke cewek yang udah berpasangan. (hlm. 202)

Lewat tiga tokoh dari latar belakang yang berbeda baik dari segi umur, status maupun pekerjaan memberikan kita banyak pesan. Bahwa masalah tidak hanya di hadapi orang yang di ambang garis kemiskinan saja, yang banyak uang pun seringkali merasa tak bahagia.

Buku ini mengajarkan bahwa tanpa kita sadari, dengan berbagi kita akan merasa bahagia. Bahagia tidak harus diukur dengan seberapa banyak harta yang kita dapatkan, bahagia adalah ketika kita bisa membuat orang lain tersenyum🙂

Keterangan Buku:

Judul                                     : Sequence

Penulis                                 : Shita Hapsari

Penyunting                         : Pratiwi Utami

Perancang sampul           : Citra Yoona

Pemeriksa aksara             : Intan Dyah P. & Intan P.

Penata aksara                    : Endah Aditya

Ilustrasi sampul                 : Shutterstock & iStock

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 254 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-001-5

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-83257/sequence.html

4 thoughts on “REVIEW Sequence

    • Tantrum yang alami, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka, karena tidak terpenuhinya keinginan mereka.

  1. Wahh…menarik, Tokohnya utamanya perempuan semuanya. Saya baca karya Shita Hapsari yang judulnya Dangerously Perfect itu menunjukkan sisi wanita (usia dewasa) banget. Yahh seperti lika-liku kehidupan wanita begitu. Dan karya yang satu ini juga ditampilkan dengan kisah 3 tokoh wanita dengan latar belakang berbeda berikut berbagai kemelutnya. Kece deh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s