[LOMBA BLOG] Book Addict is the New Sexy: Virus Membaca

WP_20160109_044

“My books are water; those of the great geniuses is wine. Everybody drinks water.” ― Mark Twain, Notebook

Hobi membaca sebenarnya sudah mendarah daging sejak kecil. Dari SD sudah langganan majalah Bobo. Dulu saya memang hobi banget baca majalah atau tabloid; mulai dari Fantasi, Hopla, Keren Beken, Anek Yess, KaWanku, Gadis, bahkan sampai Soccer serta Sabili dan Annida pun saya baca. Manfaatnya adalah jadi tahu perkembangan dunia luar, mulai dari info musik sampai info pemain bola, pasti saya hapal di masanya x)) #Generasi90an Oya, saking tiap minggu beli majalah/tabloid, agen korannya kenal saya, begitu pun ketika lulus kuliah sempat berlangganan majalah, tapi sayangnya kini setelah si bapak meninggal, anaknya tidak ada yang meneruskan usaha bapaknya itu. Saya pernah tanya, anaknya bilang kalo orang baca majalah gak seantusias ketika kami masih remaja. Sekarang apa-apa tinggal baca di internet :’) #PukPuk

Ketika lulus kuliah, hal yang pertama saya lakukan adalah menyiangi majalah dan tabloid yang mencapai karungan. Saya gunting info yang disuka dan jadilah kliping karikatur, kliping flora dan fauna, kliping tokoh, bahkan punya juga kliping khusus seri Mice & Mirsad di Kompas Minggu, hingga kliping masakan yang bisa jadi empat bagian; masakan berat, camilan, minuman dan kue kering. Empat bundel kliping bertema masakan ini sudah saya sumbangkan untuk menjadi koleksi perpustakaan sekolah di tempat saya bekerja sekarang ini.

Alhamdulilah tidak pernah sekalipun orangtua melarang hobi saya (dan juga adik-adik) yang memang anti mainstream bagi kebanyakan orang pada umumnya. Bahkan ruang tamu di rumah pun separuhnya disekat menjadi perpustakaan mini sejak SMP, pokoknya berasa surganya dunia, hehehe.. Dari zaman SMP & SMA, banyak teman yang meminjam novel. Memang sih resikonya bakal rusak atau rentan hilang, tapi sampai sekarang pun masih ada beberapa teman SMA yang main ke rumah hanya untuk meminjam buku, padahal rata-rata sudah berkeluarga loh… x))

rak perpus rumah

Bukan berarti mudah dalam mendapatkan buku. Zaman sekolah, saya selalu menyisihkan jatah uang jajan untuk dibelikan buku. Dulu saya belinya di dua toko. Satu, toko alat tulis yang menjual komik Monika dan Doraemon dan kedua adalah toko penyewaan buku yang juga menjual novel tapi harus pesan dulu meski harganya agak mahal dari harga aslinya. Oya, lewat toko penyewaan buku ini bisa melampiaskan hasrat membaca, mulai dari komik serial cantik dibabat habis (waktu itu hanya dua ratus lima puluh perak per komik) sampai saya pesan sama si bapak pemilik untuk beli koleksi buku Putri Huan Zhu (serial Mandarin yang ngehitz banget di zamannya. Saking saban hari ke penyewaaan buku ini, saya sampai akrab ama bapak yang punya toko ini. Bahkan beliau membeli serial Harry Potter pun atas rekomendasi saya karena waktu tahun sekitar 1998-1999, Harry Potter baru terbit dan belum booming banget. Kalau dipikir-pikir, saya memang gampang akrab dengan bapak-bapak, mulai dari loper koran, agen majalah, pemilik penyewaaan buku hingga mas-mas Gramedia x))

Selepas lulus SMA, ketika teman-teman sudah memantapkan hati memilih jurusan yang dipilih, saya masih bingung pala barbie. Nggak ada jurusan yang memikat hati. Kata mama, kalo nggak mau kuliah disuruh keliling jualan telor, gyahahaha… x)) Nah, pas baru beli formulir pendaftaran kuliah, saya baru tahu ada Jurusan Ilmu Perpustakaan, jurusan yang aneh tapi saya banget!! X))

Ketika masa kuliah inilah hobi membaca makin menggurita. Ditambah lagi menemukan teman-teman yang setipe. Kuliahnya pun nggak jauh-jauh dari dunia buku. Jadi, semasa kuliah rasanya seperti melakukan hobi, karena hampir semua mata kuliah rasanya seperti bersenang-senang; observasi ke penerbit, observasi ke perpustakaan, observasi ke museum, membuat paket informasi, membuat film dokumenter, bahkan sampai ada mata kuliah Penulisan Resensi Buku. Ini sebenarnya mata kuliah Jurusan Jurnalistik, tapi di Jurusan Ilmu Perpustakaan juga mempelajarinya. Ya, beruntungnya yang kuliah Jurusan Ilmu Perpustakaan adalah mempelajari juga beberapa mata kuliah di jurusan lain yang sepayung sesama Fakultas Ilmu Komunikasi di UNPAD.

Hal pertama tentang minat baca di perkuliahan adalah saat semester satu. Sebenarnya ini bukan di jam kuliah, tapi lebih ke acara HIMA jurusan; HIMAKA. Waktu itu pertama kalinya diajak kakak-kakak angkatan untuk bedah perpustakaan desa yang akan mengikuti lomba perpustakaan desa. Lupa nama desanya, kalo nggak salah nama daerahnya Desa Pasir Endah, Ujung Berung. Disini pertama kalinya praktek langsung tentang dunia baca dan perpustakaan, mulai dari menyampul, klasifikasi buku, cap inventaris hingga labeling. Ada rasa bahagia tersendiri melihat buku-buku yang telah disusun dengan label yang rapi.

Lewat kakak-kakak angkatan jugalah saya diajak pertama kalinya ke pameran buku. Waktu itu juga masih semester satu, diajak ke pameran buku di Sasana Budaya Ganesha. Wow, mata langsung ijo pas liat bertebaran buku-buku, rasanya pengen bawa karung!! X))

Tiap tahun, ada acara besar di jurusan yang berhubungan dengan buku, semacam book fair gitu yang acara puncaknya biasanya ada bedah buku. Yang namanya book fair, pasti dimana-mana ada stand buku beberapa penerbit. Semenjak semester tiga sampai lima, saya menjadi kordinator bazar buku. Bisa dipastikan ketemu buku lagi, buku lagi dan lagi!!😀

Begitu juga dengan program Kerja Kuliah Nyata , tiap kelompok berisi 27 orang yang terdiri dari berbagai jurusan. Kebetulan di kelompok KKN, saya satu-satunya yang jurusan Ilmu Perpustakaan, berinisiatif membongkar perpustakaan SMP di daerah Cisempur. Cara cepatnya adalah saya mengajak teman-teman KKN untuk melabeli buku-buku pelajaran yang ada dengan karton warna-warni sebagai label untuk pembeda tiap pelajaran. Kami ulang tata ruangnya. Begitu ruangannya bersih dan buku-bukunya tertata rapi, siswa-siswa mulai berdatangan ke perpustakaan tapi sayang koleksinya hanya terbatas buku-buku pelajaran. Saya dan teman-teman KKN berburu novel-novel murah hasil dari uang denda (yang dateng terlambat selama rangkaian acara KKN kena denda; 5 menit 5 ribu, 10 menit 10 ribu dan seterusnya) dan bisa membeli banyak buku untuk perpustakaan sekolah ini. Jadi keinget obrolan ama Teh Tias Tatanka pendiri Rumah Dunia pernah bertemu beberapa bulan yang lalu, mahasiwa sekarang bukannya ngasih buku malah nodong minta buku ke taman bacaan untuk program KKN. Bener banget, mahasiswa sekarang gadget-nya yang terbaru, bajunya kekinian, tapi nyumbang buku aja berat! X))

Angkatan saya di kuliah juga berhasil mendirikan Rumah Mandalawangi, semacam taman bacaan. Lokasinya di Nagrek, tempatnya bekas balai desa yang nggak terpakai. Dimulai dari membersihkan lantainya sampe disikat biar kinclong, cat ulang sampai mengisinya dengan buku-buku yang kami bawa. Semenjak program ini ikut berpartisipasi di acara World Book Day 2008, taman bacaan ini langsung terdongkrak dan banyak mendapat sumbangan buku dari berbagai pihak. Selain meningkatkan minat baca, kami menumbuhkan budaya literasi lainnya, yaitu story telling dan minat menulis.

Mungkin dari awal kuliah inilah mulai timbul rasa kesadaran tidak hanya membaca untuk diri sendiri, tapi menebarkan virus gemar membaca kepada orang lain. Hal ini berlanjut ketika lulus kuliah, saya lebih memilih untuk pulang kampung dan bekerja di daerah sendiri. Hal yang sangat terasa adalah ketika mulai bekerja di perpustakaan sekolah. Semuanya dari nol banget. Pustakawan ibarat menyulap gudang menjadi sebuah perpustakaan yang layak. Serba-serbi tentang dunia perpustakaan, tiap tahun saya tulis lengkap laporannya di postingan dengan LABEL PUSTAKAWAN.

1 Di perpustakaan sekolah tempat saya bekerja seperti perpustakaan sekolah negeri pada umumnya; lokasinya jauh dari kelas bahkan terkadang cenderung diletakkan di pojokan sekolah, koleksi seadanya yang didominasi oleh buku-buku paket zaman kapan yang tidak pernah di up date, pelayanan masih manual yang susah sekali untuk mengontrol keluar masuknya buku yang dipinjam atau ruangannya yang menyampur dengan ruangan lain. Bisa dibayangkan berapa jumlah siswa yang datang ke perpustakaan jika kondisinya seperti ini.

16

Awal bekerja, saya nangis dan syok dapat penempatan seperti ini. Setelah dua minggu, saya memulainya dengan memilih buku mana saja yang masih layak dipakai dan buku yang musti dimasukkan ke kardus (tidak sesuai kurikulum lagi, misalnya). Buku yang masih layak dipakai, saya entri ke komputer dengan menggunakan program SLIMS. Di program ini sudah layak untuk software perpustakaan sekolah. Saya juga membawa sekitar seratusan novel remaja dan puluhan majalah dari rumah. Untuk sebuah awalan perubahan, memang harus banyak pengorbanan. Tiap hari pulang sore demi selesainya barcode-barcode. Prinsip saya, biarlah capek di awal, toh kalo bukunya sudah terbarcode semua justru memudahkan pekerjaan pelayanan ke depannya nanti.

30 31

Lewat rangsangan novel-novel dan majalah yang saya bawa dari rumah, murid unyu mulai berdatangan ke perpustakaan. Apalagi semenjak perpustakaan di buat lesehan, ruangannya terasa lebih lapang. Kemudian sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari denda bisa membeli novel-novel yang murah. Dari semester ke semester berikutnya, minat baca semakin menggurita. Murid-murid sudah mulai tertib dalam peminjaman buku. Senang, berati mereka sudah mulai mengikuti aturan. Sedihnya, berarti pemasukan denda makin berkurang karena sudah jarang yang terlambat mengembalikan buku. Harus cari akal, lalu saya jualan danbo. Nah, dari berjualan danbo inilah pemasukan perpustakaaan mengalir deras dan bisa membeli banyak novel. Kelemahannya adalah cartridge printer gampang jebol karena dibuat ngeprint pola-pola danbo ini.. x))

18 19

Kemudian, cara lainnnya adalah saya mengikuti kuis-kuis buku di twitter. Pokoknya tahun 2012-2013 banci kuis banget lah, demi mendapatkan buntelan buku gratis untuk memenuhi minat baca murid-murid unyu ini. Hasilnya? Lumayan banget. Kemudian mulai di tahun 2014, saya rajin upload foto murid-murid unyu pose sama buku. Banyak penulis dan penerbit yang membaca postingan saya ini. Belum lagi, kalo saya posting review buku di facebook dan twitter. Jadi, kalo ditanya alasan utama menulis review di posting di notes facebook karena tujuannya untuk menarik minat murid unyu, berawal dari baca postingan review yang biasanya akan didominasi quotes buku yang di ulas, mereka akan tertarik untuk membaca bukunya. Tak jarang juga menemukan quotes sebuah buku yang habis dibaca, dijadikan status oleh mereka di sosmed atau selfie dengan buku yang mereka pinjam.  Selain kebanjiran buntelan buku, banyak penulis dan penerbit yang mengajarkan kerjasama untuk mengadakan giveaway maupun blogtour.

WP_20160109_045

Perkenalan saya dengan Stiletto Book adalah di tahun 2013. Waktu itu saya menang mengikuti Indonesia Romance Reading Challenge 2013 di blognya Mbak Yuska di periode bulan Januari. Hadiahnya adalah buku Last Roommate dan Cinta Bersemi di Negeri Sakura. Dari dua buku ini, saya baru tahu kalo Stiletto Book merupakan Penerbit Buku Perempuan. Kemudian di akhir 2013, Mbak Meta, penulis buku Don’t Worry to be a Mommy mengajak kerjasama untuk mengadakan giveway. Kemudian di tahun 2014, Mbak Herlina yang merupakan ‘kepala suku’ penerbit ini mengajak kerjasama untuk mengadakan giveaway buku yang ditulisnya, Seribu Kerinduan. Meski bukan buku baru, tapi tanpa disangka peserta giveawaynya membludak, menembus 91 peserta. Nggak lama kemudian dapet tawaran lagi kerjasama dengan Stiletto Books, kali ini bukan berbentuk giveaway, tapi stars contest untuk buku Pre Wedding Rush-nya Mbak Okke ‘sepatumerah’. Berlanjut dengan tawaran kerjasama Book Review Contest untuk novel Finally You-nya Mbak Dian Mariani. Selain itu, pernah dapat kiriman buku-buku terbitan Stiletto Book untuk direview, ada Geek in High HeelsDunia Trisa, Dear My Friend with Love, Everlasting, The Marriage Roller Coaster dan Girl Talk. Untuk program blogtour yang diadakan Stiletto Book malah belum pernah berpartsipasi, soalnya waktu itu belum gabung di Stiletto Book Club, baru tahun ini bergabung dengan nomor anggota SBC-403. Semoga kedepannya bisa berpartisipasi kembali bekerjasama dengan Stiletto Books di program-program lainnya.

Dari rangkaian yang saya tulis ini, sangat terlihat bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya minat baca rendah. Kalau kita terjun langsung ke dunia literasi, kita jadi bakal banyak tahu betapa hausnya masyarakat kita akan bahan bacaan. Dengan berbagi bukan untuk mengurangi, tapi justru semakin menambah apa yang sudah dimiliki. Semakin sering saya memberikan buku untuk perpustakaan, akan semakin banyak penulis dan penerbit yang memberikan buntelan.

6 7Kenapa sebuah perpustakaan atau taman bacaan sepi peminat? Ada banyak faktor, salah satunya adalah keramahan pustakawannya. Seringkali terjadi, sebuah perpustakaan atau taman bacaan memiliki koleksi lengkap tapi sepi, coba cek pustakawannya apakah ramah atau tidak. Atau misalnya sebuah perpustakaan atau taman bacaan di desa yang rata-rata penduduknya mencari nafkah sebagai petani, koleksi buku-bukunya tentang hukum, jelas nggak nyambung. Koleksi buku harus disesuaikan dengan kondisi si pemustakanya. Misalnya di sekolah, saya berusaha keras mendapatkan buku-buku fiksi daripada buku pelajaran. Kenapa? Lewat buku fiksi, selain untuk rekreasi atau refreshing dari kepenatan selama belajar di kelas, ada selipan pengetahuan yang bisa di dapat dari buku fiksi. Biasanya mereka lebih gampang menyerap isi buku fiksi, ketimbang buku pelajaran. Sering juga sehabis meminjam buku, mereka berceloteh isi buku yang mereka baca, tanpa disadari sebenarnya mereka secara tak langsung sudah mereview isi buku tersebut dengan bahasa lisan. Makanya saya hati-hati banget kalo menulis sebuah review, bukan takut sama penulis atau penerbitnya, tapi lebih ke ekspetasi murid terhadap sebuah buku. Kalo bukunya saya bilang bagus, pasti mereka langsung tertarik membacanya. Kebalikannya, kalo saya bilang bukunya menye-menye, dijamin nggak ada yang nyentuh buku itu buat membacanya. Repot juga berprofesi pustakawan, jadi barometer selera murid-murid unyu… x))

antrian perpusUntuk memulai menebarkan virus membaca, nggak usah muluk-muluk. Dimulai terlebih dahulu dari diri sendiri. Tiga tahun berturut-turut konsisten posting 200 review buku; 205 review buku di tahun 2013, 223 buku di tahun 2014 dan 230 buku di tahun 2015. Total dari semenjak pertama kalinya posting review buku via blog di tahun 2008, lebih dari 1000 buku telah diposting reviewnya. Sebenarnya itu masih jauh dari kata cukup untuk takaran kemampuan membaca buku. Seringkali saya masih belum membaca buku yang ditanyakan murid unyu di sekolah. Untuk buku-buku pelajaran di sekolah, minimal saya harus tahu garis besar isi buku tersebut, cara paling gampang ya cek daftar isinya! Jadi jangan sibuk mengkampanyekan gemar membaca jika kita saja masih malas membaca. Tips membaca dan menuliskan reviewnya sudah pernah saya posting DI SINI.

Jadi, jangan patah semangat untuk menebarkan virus membaca. Yang suka menimbun buku untuk diri sendiri, mulailah berbagi timbunannya untuk orang lain. Yang masih suka pelit meminjamkan buku, mulailah ikhlas dengan buku yang dipinjamkannya. Lebih baik sebuah buku rusak atau lecek karena dibaca daripada rusak di makan rayap! X))

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Ulang Tahun Kelima Stiletto Book: Book Addict is the New Sexy:

stiletto book

Luckty Giyan Sukarno

https://twitter.com/lucktygs

https://www.facebook.com/luckty

catatanluckty@gmail.com

18 thoughts on “[LOMBA BLOG] Book Addict is the New Sexy: Virus Membaca

  1. selamat berlomba yaaa…semoga menjadi yang terbaik..
    keep happy blogging always…salam dari makassar – banjarbaru🙂

  2. Jadi pengen sekolah lagi. terus nyari perpus.
    perpus itu sewaktu aku SD, merupakan tempat ternyaman kalo misalnya pelajaran agama (teman-temanku muslim semua jd aku sendiri yg non-muslim) apalagi pas keluar maen-maen, lebih banyak berdiam di perpus dan salah satu cara terampuh untuk ngilangin lapar kalo uang jajan habis untuk bayar iuran kelas.
    Kalo beli buku atau majalah waktu dulu (sampe sekarang) kurang mampu. Maklum lah harus mengerti keadaan keuangan orangtua sendiri.

    Kangen kalilah ngebaca buku lagi di perpus SD Angkasa 2 Lanud-Medan.

  3. Wih udah gede gitu perpusnya, saya sendiri baru tahu kalau membaca hobi saya pas masuk kuliah. Dan pengen juga jadi pustakawan, ditemenin kucing pasti lebih asyik, tapi sekarang cuma bisa jadi Goodreads Librarian dulu.

    Sukse GA-nya mbak!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s