REVIEW Persuasion

WP_20150819_016Di luar lingkup pergaulan kita sendiri, kita tidak memiliki arti penting. (hlm. 57)

Beberapa tahun silam, Anne Elliot adalah gadis yang sangat ayu, tapi kecantikannya telah layu kelewat cepat. Bahkan ketika Anne sedang mekar-mekarnya, sang ayah tidak melihat apa pun yang patut dikagumi pada diri putrinya. Wajah lembut dan mata kalem Anne yang berwarna gelap berbeda sekali dengan wajah dan matanya sendiri, begitu pikir Sir Walter dahulu. Karena itu, kini setelah Anne kian kuyu dan kian kurus, Sir Walter semakin tak menghiraukan putrinya itu. Baik dulu maupun sekarang, Sir Walter tidak pernah mimpi bakal melihat nama Anne tertera di bagian lain kitab kesayangannya. Harapan untuk mendapat besan terpandang kini tertumpu seluruhnya kepada Elizabeth, sebab Mary menikahi seorang pria desa. Memang, keluarga pria itu berada lagi terhormat, tapi mereka bukan bangswan. Setidak-tidaknya, Sir Walter masih optimis bahwa kelak Elizabeth akan menikahi orang yang pantas.

Anne pernah jatuh cinta. Waktu itu keakraban yang baru terjalin beberapa bulan pun kandas. Namun, derita Anne tidak berakhir hanya dalam hitungan bulan. Lama sekali cinta dan penyesalan Anne memupus seluruh keasyikan masa muda. Akibatnya adalah kemudaan yang layu terlampau dini dan kelesuan semangat nan berkepanjangan.

Tujuh tahun lebih telah berlalu sejak babak kehidupan nan mengibakan ini berakhir dan waktu telah mengikis hampir seluruh kasih sayang Anne kepada pria tersebut. Masalahnya, untuk mengobati luka di hatinya, Anne kelewat bergantung pada waktu semata. Hidup Anne praktis tidak berwarna: tidak pernah kemana-mana, tidak punya kenalan baru, lingkungan pergaulannya terbatas di Kellynch dan sekitarnya saja. Tak seorang pun yang bersinggungan dengan Anne sejak saat itu dapat diperbandingkan dengan Frederick Wentworth, saking cemerlangnya pria itu dalam memori Anne. Dia tidak pernah jatuh cinta lagi, kendati itulah satu-satunya obat alami yang mujarab untuk menyembuhkan patah hati.

Bagi seorang Anne, yang pilih-pilih dan mengutamakan keluhuran budi di atas segala-galanya, tak satu pun di lingkungan kecil mereka layak menggantikan Kapten Wentworth. Lady Russel bahkan nyaris putus asa, kalau-kalau Anne takkan pernah terketuk hatinya, oleh pria berbakat dan berkecukupan yang mana pun, untuk mengarungi biduk rumah tangga yang sejatinya amat cocok baginya.

Namun, di usianya sekarang yang sudah dua puluh tujuh, cara berpikir Anne lain sekali dengan dulu, sewaktu dirinya baru sembilan belas. Anne tidak menyalahkan dirinya sendiri. Menurutnya, andai seorang anak muda yang mengalami dilema seperti dirinya dulu meminta nasihat, Anne takkan mengatakan bahwa dia niscaya menyesal atau pasti bahagia walau masa depan tidak menentu.

“Aku bukan makcomblang sebagaimana yang sudah kau tahu. Aku terlalu sadar betapa perasaan dan perkiraan manusia kerap melesat. Maksudku begini, jika Mr. Elliot suatu saat nanti melamarmu, dan jika kau ingin menerimanya, menurutku kalian sangat mungkin berbahagia bersama. Ditinjau dari segala aspek, pernikahan antara kalian berdua amat berterima, tapi bukan cuma itu, menurutku kalian barangkali akan sangat bahagia.” (hlm. 230)

Pengakuan dosa, buku ini sebenarnya udah dikirim Ibu Peri sejak empat bulan lalu dan baru dibaca tahun ini. Kenapa? Karena buku klasik membutuhkan waktu yang ekstra untuk membacanya. Covernya manis, bahkan saking manisnya, ada seorang murid unyu yang dihadiahi buku ini oleh gebetannya (yang sekarang mungkin sudah jadi pacarnya). Karena waktu itu dia belum sempat membaca, nguber-nguber saya untuk membacanya dan nanti memberitahu jalan ceritanya ke dia agar pas ditanyain yang ngasih nggak bengong x))

Kisah Anne, seperti kisah klasik pada umumnya yang berkutat pada urusan JODOH dan HARTA. Ya, hubungan dua insan manusia kerapkali terhambat hanya karena dua insan manusia yang sedang memadu kasih ini tidak sederat. Itulah pemikiran Sir Walter yang ditanamkan pada ketiga putrinya. Seperti kebanyakan suami yang ditinggal mati oleh istri, Sir Walter kelabakan mengurus ketiga putrinya yang tumbuh dewasa dan juga soal mengurus kehidupannya. Pengeluarannya yang dulu diurus istrinya, kini membengkak sejak dipegang langsung oleh. Demi gengsi dan harga diri, dia masih saja sombong dan menginginkan menantu-menantu dari kalangan bangsawan x)) #TepokJidat

Butuh waktu tujuh tahun bagi Anne untuk bangit. Kalau istilah zaman sekarang bisa dikatakan move on. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun masih sendiri. Umur segitu kalau buat ukuran sekarang sih biasa banget kalo masih single, kalau untuk ukuran zaman dulu kesannya perawan tua kali ya. Apalagi kakaknya, Elizabeth yang usianya terpaut dua tahun di atasnya ini juga belum menemukan jodoh. Sebagai anak pertama, Elizabeth kerap menggantikan peran ibu yang meninggal di kala itu. Seperti mengurus adik-adiknya dan juga urusan keluarga. Anak pertama sih memang gitu, tanggung jawabnya lebih besar dan paling diandalkan x)) #TossAmaElizabeth

Pesan moral dari buku ini adalah bahwa cinta sejati tidak akan pernah lekang oleh waktu meski banyak badai yang akan menghampiri x)) #eaaa #JodohManaJodoh

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Alangkah cepatnya nalar menjustifikasi sesuatu yang memang kita dambakan! (hlm. 19)
  2. Tak satu pun dari kami mendambakan perjalanan yang senantiasa mulus tanpa riak-riak sepanjang hidup kami. (hlm. 99)
  3. Ketika kepedihan usai, mengenang masa lalu justru sering kali menyenangkan. (hlm. 267)
  4. Jadi, karena kaum laki-laki lebih kuat, maka perasaan kami juga lebih kuat, lebih sanggup menghadapi tantangan dan mengarungi cobaan berat. (hlm. 342)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Biar bagaimanapun, publik yang kecewa terhadap janda yang menolak mencari suami baru biasanya malah lebih kecewa apabila sang janda memutuskan menikah lagi. (hlm. 4)
  2. Anak muda memang kerap malu-malu. (hlm. 8)
  3. Biar bagaimanapun, seorang debitur harus membayar utangnya. (hlm. 15)
  4. Kepedihan akibat memutuskan pertunangan justru lebih mengiris-iris hati ketimbang rasa resah dan bimbang yang dirasakan apabila mempertahankan pertunangan. (hlm. 39)
  5. Merawat anak bukanlah tugas ataupun kebisaan laki-laki. Anak yang sakit selalu diurus sang ibu, biasanya karena sang ibu sendirilah yang menginginkannya. (hlm. 79)
  6. Semua orang memiliki selera masing-masing perihal keriuhan dan perkara-perkara lain. Apabila, mengganggu atau tidak mengganggu, enak atau tidak enaknya bunyi-bunyian ditentukan oleh jenis alih-alih kuantitas. (hlm. 192)
  7. Manusia adakalanya bertindak luar biasa di hadapan cobaa, tapi secara umum, yang lebih sering muncul di kamar opname adalah kelemahan dan bukan kekuatan, yang lebih sering kita dengar adalah keegoisan dan ketidaksabaran alih-alih kemurahan hati dan ketegaran. (hlm. 225)
  8. Biar bagaimanapun, kaum perempuanlah yang paling piawai dalam menilai orang. (hlm. 249)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Persuasion

Penulis                                 : Jane Austen

Penyelaras aksara            : Lani Rahmah

Penata aksara                    : Denny Prabowo

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Mei 2015

Tebal                                     : 372 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0989-45-7

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-91119/persuasion.html

6 thoughts on “REVIEW Persuasion

  1. Sudah masuk reading list tapi masih belum sempat baca. Buku Jane Austen favorit aku yang Emma mbak. Btw aku pengagum berat mbak Luckty, lihat foto2 murid unyu2 dan website sekolah mbak Luckty aku terharu lho. Seandainya librarian sekolah aku dulu seperti mbak Luckty… Ah indahnya duniaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s