REVIEW Cameo Revenge

PicsArt_11_12_2015_16_37_36[1]Semua orang berhak bermimpi menjadi nomor satu. (hlm. 148)

JULY CHALLEGE, festival yang dilaksanakan setiap tahun. Tak sekedar hadiah uang senilai seratus juta rupiah yang mereka bawa pulang, namun juga sebuah kontrak rekaman dari sebuah major label.

“Ikut July Challenge bukan berarti kita tidak punya idealisme. Kita tetap bermusik sesuai dengan idealisme kita. Sekarang ini yang diperlukan hanya memanfaatkan peluang yang ada.” (hlm. 221)

CAMEO. Lagu yang mereka bawakan malam itu, July Lullaby, ternyata begitu disukai. Walau festival tersebut sudah lima tahun terakhir ini diadakan, dan lima band sudah memenangkan hadiah berlimpah, namun Cameo sepertinya mendapatkan lebih dari mereka semua. Tiba-tba saja band yang tak pernah terdengar namanya sebelumnya ini dibicarakan di mana-mana. Radio-radio berulang kali memutar lagu mereka. Koran dan tabloid mengangkat kisah tentang mereka. Video penampilan mereka pun dounggah di youtube oleh ratusan user, tersebar di seluruh media social dan mendapat jumah viewer yang tinggi.

Beberapa stasiun televisi swasta pun pada akhirnya mulai menayangkan berita tentang kesuksesan mereka. Bahkan sebuah stasiun televise lokal berhasil mewawancarai para personelnya secara khusus. Hanya dalam hitungan hari saja, lagu July Lullaby tiba-tiba menjadi begitu tenar. Setiap orang tiba-tiba menyanyikannya. Membuat orang-orang melupakan lagu-lagu yang hits sebelumnya, seperti Sakitnya Tuh Di Sini ataupun Goyang Dumang. Sementara itu, di antara kehebohan itu, hidup keempat personel Cameo benar-benar terasa berubah.

“Ini semacam efek domino. Ketika kita menolak satu dari tawaran mereka sekarang, ini akan memengaruhi tawaran berikutnya. Padahal sebentar lagi album kita akan keluar, dan kita akan membutuhkan tawaran-tawaran seperti itu untuk promosi.” (hlm. 87)

Sementara REVENGE, band rock yang sudah lima tahun selalu mengambil bagian di panggung music rock Kota Cahaya, hanya mendapat skor yang persis di bawah Cameo. Bagi personal Revenge, ini bukan masalah besar. Revenge merasa bahwa July Challenge tidak berpengaruh apa-apa pada eksistensi mereka.

Namun, di antara mereka ada sepasang mata menyorotkan kekecewaan mendalam. Gadis cantik berambut setelinga, bergaun pendek gaya kasual dan berjaket warna hitam, dengan boots silver. Senyum yang mengulas di bibirnya terasa hambar. Senyum sang vokalis yang baru saja mendapat predikat best vocal.

Baginya, apa yang terjadi malam itu cukup untuk mengempaskannya ke palung kekecewaan. Sia-sia sudah perjuangan yang selama ini ia lakukan demi memenangkan festival musik paling bergengsi di Kota Cahaya itu. Sedih, marah, perasaan gagal, dan entah apa lagi. Rasanya hancur berantakan seperti rangkaian keping puzzle yang jatuh berhamburan. Perlu waktu yang menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi utuh kembali. Pada saat itulah ia merasa harus memilih. Antara tetap berada pada band rock nomor dua di Kota Cahaya, atau menjadi seperti mimpi-mimpinya; be the real rock star.

“Sudahlah, jangan sedih. Kita kan masih bisa terus berkarya. Jangan terpuruk hanya karena menjadi runner up. Anggap saja kita memang baru pantas erada di runner up. Suatu saat, kita yang ada di puncaknya.” (hlm. 134)

CAMEO dan REVENGE. Dua band yang berbeda dengan tujuan yang berbeda. Cameo sekumpulan orang yang disatukan tak sengaja oleh sebuah kafe. Satunya lagi, Revenge merupakan band festival rintisan yang mengadu nasib dari satu panggung ke panggung lainnya.

Musik, cita-cita dan keambisusan sifat manusia merupakan benang merah dari novel ini dengan dua sisi yang berbeda dari dua penulis. Meski berbeda cerita dan tokoh, yang menyatukan adalah tujuan dari masing-masing band; efek pasca Juli Challenge. Dunia band yang diceritakan dari buku ini merepresentasikan kehidupan band dalam kehidupan nyata; ambisius, pahit, tikam-menikam dan popularitas.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kau tahu kan, tak ada yang bisa mengelak dari cinta? (hlm. 46)
  2. Bangun lebih awal dan memulai hari sebelum matahari terbit adalah keinginan banyak orang. (hlm. 130)
  3. Kalau kamu tidak bisa menghargai karya orang lain, bagaimana orang lain mampu menghargai karyamu? (hlm. 143)
  4. Mimpi untuk mendapatkan yang terbaik tidak boleh berhenti dengan hal-hal kecil yang sudah didapat. (hlm. 160)
  5. Kamu sangat berhak tidak menyukai seseorang, tapi kamu tidak berhak memaksa orang lain untuk bersikap sama denganmu. (hlm. 179)
  6. Keberhasilan yang sejati adalah ketika kita lebih hebat dari kita yang lama. (hlm. 225)
  7. Kamu boleh memilih antara melindungi dirimu sendiri, tetap bersembunyi, atau menyelamatkan. (hlm. 234)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kadang cowok-cowok idiot menyama-nyamakan apa yang dilakukannya di depan seorang cewek untuk memberi kesan bagus. (hlm. 26)
  2. Sekian banyak orang yang ingin ada dalam posisi seperti kita, tapi kalian malah menolaknya? (hlm. 33)
  3. Tapi tak semua orang punya masa lalu yang sangat buruk. (hlm. 36)
  4. Internet sudah menjadi monster bagi orang-orang dengan masa lalu kelam. (hlm. 37)
  5. Apa benar setiap kota menyimpan luka? Bagi orang-orang yang tak pernah jatuh cinta, tentu akan menolak ucapan itu. (hlm. 51)
  6. Mencari pekerjaan memang sulit, dan bajingan-bajingan selalu tersebar dan memanfaatkan keadaan sulit orang-orang itu. (hlm. 53)
  7. Kenangan buruk tak sekadar diciptakan untuk dilupakan. Kenangan buruk diciptakan untuk selalu menguntit, bagai bayangan yang diciptakan matahari. (hlm. 64)
  8. Perasaanmu itu terlalu tertutup oleh rasa sayangmu. (hlm. 212)
  9. Bagaimanapun mereka adalah kaum kapitalis bisnis, segala sesuatu dihitung untung ruginya. (hlm. 217)
  10. Untuk mencapai popularitas itu harus ada pengorbanan. Tidak ada jalan yang mulus menuju popularitas. (hlm. 229)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cameo Revenge

Penulis                                 : Ary Yulistiana & Yudhi Herwibowo

Desain kover                      : Dyndha Hanjani P. & Ivana PD

Penata isi                             : Putri Widia Novita

Penerbit                              : Grasindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 236 hlm.

ISBN                                      : 9786023752072

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-99438/cameo-revenge.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s