REVIEW Interlude

interludeDi dunia ini, beberapa orang hidup tenang, beberapa orang sebaliknya –mengalami kejadian buruk. Kedengarannya tidak adil, memang. Tapi, mereka yang mengalami kejadian buruk dan bertahan dari semua itu akan menjadi lebih kuat dari yang lain. (hlm. 304)

HANNA. Dia menyukai kesendirian dan kesenyapan. Kemana-mana, dia selalu membawa perekam suara. Alat itu mungil, seukuran ponsel dan dapat dengan mudah disimpan di saku pakaian. Dia senang merekam situasi di sekelilingnya, memerangkap suara-suara yang ditemuinya untuk disimpan dan didengarkan berulang-ulang. Ini kegemaran lama. Dahulu, dia melakukan itu karena dia ingin menjadi jurnalis. Kini, dia melakukannya karena suara-suara yang terperangkap itu adalah satu-satunya hal yang bisa menemaninya dalam kesendirian. Namun, tentu saja tak semudah itu dia bisa melepaskan diri dari luka. Bahkan, dia tidak tahu apakah dia akan bisa melepaskan diri. Luka telah meresap terlalu dalam ke jiwanya, terlalu jauh. Satu-satunya jalan keluar, barangkali adalah laut.

KAI. Bosan mendengar ketika orangtuanya ribut. Kakak-kakaknya malah pergi dari rumah karena tidak tahan. Ada saatnya Kai berpikiran naif dan berusaha memperbaiki situasi, tapi percuma. Mereka tidak peduli. Orangtuanya sudah mencapai titik saat mereka menyesali semua yang pernah mereka miliki bersama, termasuk dirinya sebagai anak. Kai sebenarnya bisa dikategorikan sebagai mahasiswa yang cerdas, IPK-nya selalu nyaris sempurna. Kuliah di jurusan hukum di universitas paling ternama di Indonesia justru membuatnya bosan karena merasa tak ada tantangan lagi yang harus dipelajarinya. Musik adalah panggilan jiwanya. Bersama Second Day Charm, grup musik yang menggusung genre jazz. Kai dengan gitarnya, Gitta di posisi vokalis, dan Jun yang memainkan bas.

Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan Second Day Charm? Musik bukan satu-satunya daya tarik mereka. Gitta memesona –tidak ada lelaki yang tidak menyukai gadis itu dan sikapnya yang sinis justru membuat dia semakin diinginkan. Jun misterius –ketenangannya menghanyutkan. Kai menggoda –dia punya senyum sensual yang membuat gadis-gadis meleleh. Cepat atau lambat, memang mereka pasti dilirik label besar.

“Kau tidak kotor, Hanna. Kau cantik. Salah. Kau sempurna. Bagiku, kau tidak punya cela.”

“Bagimu. Bagiku, saat ini aku cuma punya cela.”

“Kalau begitu, biar aku jadi lautmu. Aku akan membantumu meluruhkan semua cela itu.” (hlm. 195)

KAI dan HANNA, sama-sama tak sempurna. Masing-masing memiliki problematika dalam menghadapi hidup. Justru di sinilah terletak keunikan mereka. Hanna yang harus berjuang meneruskan hidup karena sebagian jiwanya telah digerogoti masa lalu, sedangkan Kai pun juga berjuang hidup dengan masalah keluarga yang tak kunjung usai dan membuatnya tidak betah di rumah.

Dalam hidup, terkadang kita harus menghadapi cobaan dan hambatan yang harus dilalui. Tapi percayalah, hanya orang-orang terpilihlah yang berhasil melewati semuanya. Itu adalah salah satu nasehat dari Papa Hanna, meski hanya muncul sebentar tapi justru menjadi tokoh paling favorit. Papa Hanna terlihat bijak dalam menyikapi masalah anaknya. Beda dengan mama Hanna. Memang, terkadang orangtua yang terlalu mencemaskan keadaan anak, justru malah membuat sang anak tidak nyaman. Seperti itulah yang dihadapi Hanna. Dan membuatnya merasa tidak dekat dengan mama.

Gitta, meski dia bukan tokoh utama, tapi memiliki peran penting. Bagaimana dia peduli dengan Hanna yang tidak begitu dikenalnya sampai kepada empati yang diberikannya untuk Hanna. Seseorang akan bisa berempati dengan masalah orang lain jika pernah mengalami masalah yang sama. Apa masalah Gitta?

Novel ini tidak hanya menyajikan dua permasalahan yang dihadapi masing-masing tokoh utamanya, tapi juga menawarkan solusi di akhir cerita. Seberat apa pun masalah, hidup harus tetap bergerak ke depan.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hari pertama semester baru biasanya membosankan. (hlm. 7)
  2. Di dunia ini, tidak ada perempuan yang sungguh-sungguh tidak berdaya. (hlm. 23)
  3. Jangan pedulikan pendapat mahasiswa-mahasiswa lain. Mereka bisa bicara semau mereka karena tidak mengalami apa yang kau alami. (hlm. 65)
  4. Sejak kapan kau tahu sopan santun? Kau cuma mau lari dari pembicaraan. (hlm. 77)
  5. Untuk apa dulu mengikat janji kalau sekarang saling membenci? (hlm. 138)
  6. Kau masih muda, saat kau lebih dewasa, kau akan tahu. Manusia tidak selamanya sama. (hlm. 217)
  7. Beri kesempatan kepada dirimu sendiri. Kalau tidak, selamanya kau tidak akan bisa menjalin hubungan. (hlm. 254)
  8. Orangtua kangen dan mau tahu keadaan anaknya, masa tidak boleh? (hlm. 260)
  9. Rasa tidak menjamin kebahagiaan. (hlm. 287)
  10. Di era media sosial begini, kau masih percaya dukun? (hlm. 363)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Interlude

Penulis                                                 : Windry Ramadhina

Editor                                                    : Gita Ramadhona & Ayuning

Proofreader                                       : Widyawati Oktavia

Penata letak                                       : Gita Ramayudha

Desain & ilustrasi cover                 : Levina Lesmana

Penerbit                                              : GagasMedia

Terbit                                                    : 2014

Tebal                                                     : 372 hlm.

ISBN                                                      : 979-780-722-3

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-84892/interlude.html

One thought on “REVIEW Interlude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s