REVIEW Last Forever

WP_20151214_089[1]

Mengapa semua orang melepaskan kehidupannya demi cinta? (hlm. 349)

SAMUEL. Tiga puluh tiga tahun. Umur yang matang bagi lelaki lajang. Meski lajang, sudah banyak perempuan yang bertekuk lutut di hadapannya. Sutradara muda dengan karir cemerlang. Tidak seperti sutradara pada umumnya yang terkesan cuek akan penampilan dan terkadang lupa mandi, Samuel malah justru jauh dari kesan itu. Semua yang dikenakannya bermerk. Meski banyak perempuan silih berganti datang, tidak ada yang menyentuh hati Samuel. Dia tidak percaya akan pernikahan, dan yang mengerikan lagi baginya adalah memiliki anak. Maka dari itu dia tidak mau berkomitmen dengan perempuan, termasuk pada Lana yang dikencaninya sejak bertahun lamanya.

LANA. Dia separuh Amerika, separuh Indonesia. Oleh ibunya, dia diberi nama tengah Lituhayu yang berasal dari Jawa dan berarti cantik. Perempuan itu memang cantik. Dia memiliki wajah unik perpaduan barat dan timur. Matanya cokelat keemas-emasan. Kulitnya tidak pucat, cenderung gelap. Alisnya tebal dan meliuk sempurna. Bibirnya penuh. Tulang pipinya tegas, begitu pula garis hidungnya. Selain itu, dia tinggi dan tubuhnya membentuk profil kesukaan lelaki atau lebih tepatnya; profil kesukaan Samuel. Namun, wajah cantik dan tubuh indah yang membuat Lana sangat menarik –meskipun sejujurnya, itu dua hal pertama yang dilihat Samuel dalam diri seorang perempuan. Lana pintar dan berbakat, dua kualitas yang entah mengapa jarang berdampingan dengan wajah cantik dan tubuh indah.

Sama seperti Samuel, Lana bergelut di dunia perfilman dokumenter. Dia satu dari sedikit perempuan yang berhasil menjadi produser tetap di National Geographic Channel. Sehari-hari, dia bepergian ke tempat-tempat menarik di Asia dan Eropa; menyusuri jalan berliku di antara tebing-tebing yang belum tersentuh peradaban modern, mengintip kota kecil yang terlupakan, mencari budaya usang yang nyaris hilang, dan mereka semua itu.

Film-filmnya kaya. Lana punya sudut pandang yang tidak biasa. Apa yang dia tangkap lewat lensa kameranya pasti menjelma cerita yang menarik untuk disimak. Sebagai sineas, perempuan itu hebat. Bahkan, Samuel mengakui hal tersebut.

Dengan perempuan lain, Samuel sebatas berkencan. Dengan Lana, dia bisa melakukan semua itu sambil membicarakan film dan budaya. Dan itu menyenangkan.

Itu sebabnya Samuel selalu menunggu-nunggu pertemuan dengan Lana. Sayangnya, pertemua mereka tidak pernah lama, hanya satu-dua minggu atau bahkan beberapa hari. Setelah itu, dia dan Lana kembali berpisah untuk jeda panjang yang tidak tentu.

Dan, karena hubungan mereka tanpa ikatan, dalam jeda panjang yang tidak tentu itu, ada perempuan-perempuan lain. Namun, perempuan-perempuan lain tersebut –cepat atau lambat- akan membuat Samuel bosan.

Lana berbeda. Perempuan itu tidak pernah membuatnya bosan.

“Memang tidak masuk akal. Kau racun, Samuel. Semakin lama aku mengenalm, semakin aku sulit menyingkirkanmu dari kepalaku.”

“Kenapa kau harus menyingkirkanku dari kepalamu?”

“Aku tidak ingin terikat denganmu.” (hlm. 57)

Sama-sama mapan dan memiliki pekerjaan yang sejalan. Lana butuh Samuel, begitu pula sebaliknya. Lalu apa yang kurang? Mereka sama-sama tidak percaya akan komitmen, keterikatan, apalagi pernikahan. Buat mereka yang sedang di ambang karir yang matang, pernikahan akan menghambat karir. Terlebih bagi Lana, baginya hidup yang dijalaninya ini akan sia-sia jika harus berkorban untuk sebuah komitmen yang namanya pernikahan. Hal itu disimpulkannya berkaca dari pengalaman kedua orangtuanya, yang saling mencinta tapi saling berjauhan. Karena pernikahan pula, ibunya terpaksa menggerus mimpinya di masa muda. Lana tidak mau seperti ibunya. Lana tidak percaya akan pernikahan. Ya, seringkali keluarga akan membentuk karakter seseorang di masa dewasanya kelak.

“Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri.” (hlm. 87)

Saya setengah pendapat akan sikap Lana. Di masa muda, kita harus banyak berkarya. Seringkali terjadi, teman-teman saya tergerus pernikahan dan akhirnya hanya berujung pada sumur, kasur dan dapur. Sebuah rutinitas yang menjemukan. Hidup seperti hanya sebuah kewajiban. Tidak ada gebrakan, seperti air yang mengalir, lama-lama hanyut tertelan arus. Setengahnya lagi tidak sependapat dengan Lana, sekerasnya hidup tetap harus kembali pada fitrah manusia diturunkan ke bumi, diciptakan untuk berpasang-pasangan. Apalagi dalam agama juga dijelaskan jika menikah ibarat menyempurnakan ibadah kita. #MendadakJadiMamahDedeh #JodohManaJodoh

Saya yang seperti ini saja sudah dianggap keras kepala oleh saudara-saudara (namanya juga di desa, kehidupan setelah sekolah adalah menikah, selesai hidupmu), apalagi seperti Lana ini ya. Tapi di kota besar, kita akan banyak sekali menemukan Lana-Lana yang lain. Sibuk mengejar masa depan. Sibuk mengejar karir. Sibuk mengejar cita-cita. Kalau saya sih prinsipnya gini, orangtua aja nikah di usia matang, anaknya udah gede-gede tapi masih belum pensiun kok. Dan inilah jawaban telak yang saya berikan jika ada yang mencecar kapan nikah, gyahaha… x)) #DikeprukMassal

Kenapa saya lebih menyikapi dari sisi Lana? Karena pernikahan seringkali melemahkan perempuan. Padahal, banyak juga kok perempuan yang memiliki karir matang dan membina rumah tangga yang bahagia. Pesan moral dari buku ini adalah ketika sepasang manusia yang saling mencintai, ada kalanya memiliki kekhawatiran atau ketakutan untuk berkomitmen karena akan menghambat satu sama lain, padahal tidak semua. Tergantung dari sisi mana kita menilai. Jadi inget nasehat saudara yang paling bikin #JLEBB, sesusah-susahnya hidup, jika pulang ke rumah mendapati anak yang memeluk kita dan suami yang menyambut kita, rasa capek langsung hilang. #eaaa #LangsungNyariJodoh

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Wajar lelaki dan perempuan jadi terikat. Itu tujuan mereka menikah. Supaya bisa saling memiliki. (hlm. 15)
  2. Karena suatu kondisi, manusia bisa berubah. (hlm. 254)
  3. Kebahagiaanku ada di tanganmu sekarang. (hlm. 361)

Banyak selipan sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Gonta-ganti perempuan, itu yang dimaksud dengan kebebasan? Memangnya kau tidak bisa ya, memilih satu saja untuk dimiliki? Kau tidak muda lagi. (hlm. 15)
  2. Komitmen adalah penyakit. Itu sesuatu yang menggerogoti hubungan lelaki dan perempuan sampai habis, sampai keduanya tidak lagi apa yang dulu membuat mereka bergairah. Mereka jadi terikat. (hlm. 15)
  3. Kau bukan remaja lagi. sudah waktunya kau membina hubungan yang serius dengan lelaki. Jangan cuma memikirkan pekerjaan. Pikirkan juga pernikahan. Masa kau mau hidup sendiri terus-menerus seperti ini? (hlm. 70)
  4. Perempuan tidak pernah bisa tutup mulut. (hlm. 80)
  5. Tolong jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali. Pikir dulu baik-baik. (hlm. 108)
  6. Semua orang punya mimpi buruk, sesuatu yang mengerikan, yang paling tidak diharapkan terjadi, yang bisa membuat mereka kehilangan kendali atas kehidupan. Semua orang. (hlm. 139)
  7. Kau tidak bisa memperbaiki situasi. (hlm. 259)
  8. Kalian perempuan dan lelaki dewasa. Masa kalian tidak bisa menemukan jalan tengah? (hlm. 262)
  9. Ternyata, melamar seorang perempuan bukan perkara mudah. Apalagi, jika perempuan tersebut membenci komitmet dan pernikahan. (hlm. 323)
  10. Tidak semua perempuan menemukan cinta. (hlm. 340)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Last Forever

Penulis                                                 : Windry Ramadhina

Editor                                                    : Jia Effendie

Penyelaras aksara                            : Mursyidatul Umamah

Penata letak                                       : Erina Puspitasari

Penyelaras tata letak                      : Putra Julianto dan Gita Ramayudha

Ilustrator isi                                        : Windry Ramadhina

Desain sampul                                   : Ayu Widjaja

Penerbit                                              : GagasMedia

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 378 hlm.

ISBN                                                      : 978-780-843-2

WP_20151214_091[1]

One thought on “REVIEW Last Forever

  1. Bagi perempuan menikah di usia matang memang kerap menjadi bisik-bisik gosip. Dan tidak sedikit yang kemudian terjebak pada status perawan tua. Ada kejadian nyata, ada perempuan yang ambisius mengejar karir. Cemerlang memang hasilnya. Namun ketika mencari pasangan, usianya sudah lumayan dan yang dicari harus paling tidak sama dengan dengan pencapaiannya. Susah. Asal tahu, pria dewasa selalu punya keinginan mencari pasangan yang fresh. Kadang tidak perlu melihat isi rekening si perempuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s