REVIEW Peek a Boo, Love

WP_20160220_049[1]Kadang kebanyakan orang suka salah mengartikan kebaikan orang lain. (hlm. 91)

Novel ini merepresentasikan kehidupan para pekerja di Jakarta dengansegala macam hiruk pikuknya; termasuk macetnya Jakarta dan persaingan antar rekan kerja. Kenapa ketika lulus kuliah saya memilih pulang kampong ketimbang bekerja di kota besar untuk mendapatkan pekerjaan di tempat bergengsi seperti teman-teman lainnya? Karena saya tidak bakal kuat menghadapi macetnya kota. Cukup ngerasain zaman kuliah dan masa-masa PPL yang harus berangkat pulang saja menghabiskan waktu berjam-jam yang otomatis begitu sampai di rumah hanya rasa lelah yang tersisa dan kita tidak biasa mengoptimalkan diri untuk melakukan sesuatu selain bekerja, bekerja dan bekerja.

Tapi, justru lewat Trans Jakartalah Lulu dan Evan berkenalan. Meski beda lantai, mereka satu perusahaan yang artinya kemungkinan besar mereka bertemu setiap hari ketika berangkat maupun pulang dari kantor. Rasa lelah dan jenuh karena menghadapi macetnya Jakarta akan terkikis dengan perjumpaan seseorang yang menjadi pemompa semangat bekerja setiap harinya. Pernah merasa bertemu seseorang di angkutan umum? Kemudian ada rasa semangat berangkat karena tahu bakal bertemu dengan seseorang tersebut? Bahkan bias senyum-senyum sendiri. Pernah seperti ini?!? Saya pernah ngalamin… x))

Apa pun masalah pribadi, harap bias profesional. Divisi butuh kerja tim yang kuat. (hlm. 130)

Kemudian tentang persaingan kerja. Dimana pun kita ditempatkan pasti ada yang namanya teman dan lawan. Semakin besar satu tempat kerja, akan semakin berat persaingan. Seperti halnya Lulu ketika bekerja di sebuahperusahaan. Rekan kerjanya, Cindy selalu mencari kesalahan untuk menjatuhkannya di hadapan atasan, sekecil apa pun kesalahan yang Lulu lakukan. Ada, ada tipe banget loh tipe pekerja macam Cindy ini… x)) #RasanyaPengenGetok

Kalau di tahun 2015 tanpa disadari banyak membaca tentang novel bertema pernikahan, tahun 2016 nggak sengaja baca buku-buku yang didominasi bertema PHP, seperti buku ini. Ihhh..pengen getok Evan. Nggak kebayang ya ada cowok PHP akut macam Evan ini.. X)) #Karungin #LemparKeTimbuktu

Buku ini hanya terdiri dari beberapa tokoh, namun penulisnya berhasil meremas jantung pembaca lewat tokoh Lulu. Seandainya saja dibuat juga dari sisi cowok; Evan, Sam dan Daniel tentu lebih ciamik karena kita jadi bias tahu perasaan mereka kepada Lulu.

Hanya ada satu keganjilan dalam buku ini. Di zaman gadget dengan bejibun akun sosmed seperti whatsapp, line, dan bmm untuk berkomunikasi, apakah masih ada yang menggunakan yahoo messenger untuk berkomunikasi antar pribadi? Setahu saya, yang masih menggunakan yahoo messeger hanya komunikasi di kantor. Memang sih, untuk kasus dalam cerita ini nggak mungkin menggunakan whatsapp yang artinya pasti mengetahui nomer telepon seseorang.

Oya, poin lebih dari buku ini adalah deskripsi pekerjaan tokoh utamanya gamblang banget. Mungkin karena penulisnya memang bekerja di kantor, jadi bisa pas mendekripsikan suatu pekerjaan terutama di bidang marketing tanpa terkesan tempelan. Cek saja di halaman-halaman berikut ini:

  1. Jika memang kesediaan barang di gudang terlalu banyak, salah satu jalan untuk mengurangi stok barang yang ada adalah dengan meningkatkan penjualan. (hlm. 15)
  2. Perusahaan bisa dipastikan akan mengalami kerugian kalau stok inventori yang terdata di laporan keuangan bulan ini melebihi daya tampung gudang. (hlm. 17)
  3. Perusahaan distributor menjual barang ke distributor lain. Jadi bisa menjual di atas harga modal. Harga yang di dapat dari supplier kan merupakan harga potongan. Distribusi kecil pasti mendapat harga lebih tinggi. Selisih yang ada bisa jadi daya tarik distribusi kecil untuk membeli kelebihan barang sementara perusahaan masih bisa mendapat sedikit keuntungan untuk menutupi biaya operasional. (hlm. 20)
  4. Meski merugikan, perusahaan terpaksa melakukan pemesanan di luar jadwal regular. Perusahaan menyetujui penambahan ongkos produksi karena tanpa supply yang cukup, distribusi barang ke konsumen akan mengalami hambatan (hlm. 175)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tidak ada salahnya mencoba kan? (hlm. 16)
  2. Bagaimana bisa seseorang begitu gamblang minta diantar pulang-pergi oleh orang yang baru dikenalnya? (hlm. 38)
  3. Kenapa kalian harus naik Transjakarta sih? Lagi pula katanya banyak pelecehan seksual, kan? (hlm. 43)
  4. Selama janur kuning belum melengkung, artinya harapan masih ada. (hlm. 66)
  5. Primadona itu memang levelnya sama manajer. Yang sabar ya. (hlm. 66)
  6. Memang tidak banyak orang yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca. (hlm. 87)
  7. Kalau ada masalah jangan disimpan sendiri. (hlm. 111)
  8. Jangan bicara macam-macam kalau kamu nggak tahu apa-apa. (hlm. 128)
  9. Apa yang orang bilang benar. Tidak sepatutnya orang dinilai sepenuhnya dari penampilan luarnya saja. (hlm. 163)
  10. Kami memang tidak punya kuasa untuk memaksa sesama rekan kerja untuk berteman, tapi harap kamu ingat bahwa terkadang permasalahan pribadi dapat memengaruhi kinerja seseorang. (hlm. 178)
  11. Bunuh diri namanya kalau marathon tanpa sarapan. (hlm. 181)
  12. Bukankah pasangan itu harusnya selalu bersama? (hlm. 182)
  13. Dibiarkan saja. Berita yang nggak benar nggak akan bertahan lama. (hlm. 202)
  14. Takut semakin banyak cowok yang deketin dia pas lo nggak ada? (hlm. 245)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Peek a Boo, Love

Penulis                                 : Sofi Meloni

Editor                                    : Irna Permanasari

Desain sampul                   : Marcel A. W.

Layout                                  : Ayu Lestari

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2408-1

WP_20160220_050[1]

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-101104/amore-peek-a-boo.html

2 thoughts on “REVIEW Peek a Boo, Love

  1. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW 17:17 + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: REVIEW Look at Me Please + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s