REVIEW Ayat-ayat Cinta 2

WP_20151213_004

Menasihati orang lain itu mudah, tetapi mengamalkan pada diri diri sendiri tidak mudah. (hlm. 401)

Lebih dari sepuluh tahun lalu, tepatnya di tahun 2004 terbit buku pertama Ayat-ayat Cinta lewat Penerbit Basmala dan Republika. Di tahun itu adalah awal saya memasuki gerbang masa-masa kuliah. Saya yang masih cupu di kala itu haus bacaan dan terobsesi banget ama Palasari; sebuah pasar yang semua kiosnya menjajakan buku-buku dengan harga miring. Hingga suatu hari di Palasari membeli buku Ayat-ayat Cinta atas hasil rayuan maut AA’ Palasari yang menawarkan buku ini dengan jaminan isinya bagus, begitu promosinya.

Inilah awal mula saya mengenal Ayat-ayat Cinta yang fenomenal banget di tahun berikutnya. Saya juga meracuni teman-teman untuk membaca buku ini. Bahkan teman SMA, yang waktu itu masih sering meminjam buku kalau saya mudik pas libur kuliah, juga kepincut ama buku ini. Dia laki-laki, saya pernah berdebat dengannya, apakah ada laki-laki yang sesempurna Fahri. Siapa sangka, dulu dia yang sering gonta-ganti pacar kini setelah menikah jadi soleh banget. Bahkan saya yang sudah berteman dengannya sejak zaman piyik pun kini menjaga jarak. Katanya, bukan muhrim x))

Kemudian saya jadi ingat lewat buku Fenomena Ayat-ayat Cinta yang ditulis oleh Anif Sirsaeba El Shirazy. Dalam buku ini juga menjawab pertanyaan yang pernah saya ajukan ke teman saya itu; apakah ada sosok laki-laki sempurna seperti Fahri. Kang Abik bilang ada, bahkan banyak. JLEBB!!

Sosok Fahri makin terdongkrak ketika buku tersebut di angkat ke layar lebar. Pro kontra menjadi perbincangan yang hangat bahkan sebelum filmnya rilis pun sudah bocor isinya. Yang namanya buku diangkat ke layar lebar selalu menimbulkan rasa tidak puas bagi pembacanya. Saya seperti pembaca awam pada umumnya yang memvonis jika film yang diangkat ke layar lebar pasti tidak memuaskan. Bahkan saya berdebat dengan teman kuliah untuk membahas ini, Resty namanya. Siapa sangka, karena perdebatan yang tak kunjung usai itu justru saya angkat sebagai objek penelitian untuk skripsi meski dari awal sudah menyadari bakal berat beban yang akan ditanggung jika akan mengangkat tema ini karena bakal ada tiga poin yang harus dibahas; buku dan film. Ternyata keliru, diantara buku dan film ada proses yang bernama skenario. Kebayang kan, saya harus mengkaji buku, skenario dan film sekaligus. Nasi sudah menjadi bubur, saya sudah terlanjur memilih tema ini untuk skripsi. Meski jalan yang harus dilalui tidak mudah dan hampir memakan waktu sampai dua tahun, akhirnya mengantarkan ke gerbang ritual bertoga alias wisuda x))

skripsi ayat-ayat cinta

Sesungguhnya yang saya lalui dalam menjalankan skripsi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan orang-orang dibalik layar pembuatan filmnya yang memakan waktu lama. Dalam kasus buku yang akan difilmkan, ada beberapa kacamata yang menilai; produser, sutradara, penulis dan tidak lupa dari segi pembaca.

Menurut Dwight V Swain dan Joye R Swain yang dikutip Maroeli Simbolon, ada tiga cara utama untuk mengadaptasi karya sastra ke film, yaitu mengikuti buku, mengambil konflik-konflik penting, dan membuat cerita baru. Cara ketiga adalah yang sering dilakukan.

Namun ketika film ditayangkan, sangat mungkin timbul pula rasa kecewa terhadap hasilnya, baik dari penulis karya yang diadaptasi maupun para pembaca karya tersebut. Timbulnya kekecewaan atau sebaliknya, akan menjadi hal yang sangat lumrah dalam proses adaptasi karena proses tersebut selalu menimbulkan suatu perubahan sebagai akibat dari perubahan media dan pemaknaan.

Menurut Hanung Bramantyo, sutradara Ayat-ayat Cinta, film adalah bahasa visual sedangkan novel adalah bahasa tulis. Teks mampu membimbing imajinasi kita secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk ‘nyata’. Teks juga mampu menggambarkan secara detil suasana hati, sudut lokasi secara berurutan kiasan-kiasannya, juga memaparkan latar belakang persoalan secara berkelindan, meloncat ke masa silam atau mendadak menjamah masa depan seolah tanpa ada beban. Tapi visual, dengan sifatnya yang nyata, bukan berarti tidak mampu menggambarkan detil persoalan, suasana hati dan latar belakang, akan tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.

Ada saat-saat manusia dihadapkan dua pilihan yang tampaknya sederhana namun sesungguhnya tidak sederhana. (hlm. 471)

Sosok Fahri dalam buku Ayat-ayat Cinta sudah mengakar pada pikiran pembaca maupun penonton versi filmnya. Siapa sangka sebelas tahun kemudian, Kang Abik menelurkan sekuelnya. Jujur, saya nggak tahu sebelumnya kalau bakal ada lanjutannya. Tahu-tahu pas ada pre ordernya di sebuah toko buku online. Beruntungnya saya kebagian salah satu buku dari sepuluh ribu eksemplar yang ditandatangani langsung oleh Kang Abik. Ehem, dapet cetakan pertama donk.. x))

PicsArt_08_12_2015 15_10_21Di buku sekuelnya ini, Fahri terlihat makin sempurna; menjadi dosen di sebuah universitas ternama, karir yang gemilang dan memiliki aset berbagai bisnis yang dijalaninya. Namun, dibalik hidupnya yang mapan itu sesungguhnya tidak sempurna karena Fahri hanya hidup seorang diri tanpa Aisha yang dicintainya. Setelah kehilangan Maria, Fahri juga harus kehilangan Aisha yang nggak jelas rimbanya. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, Fahri merasa Aisha masih ada menunggunya.

Hidupnya yang nyaris sempurna namun jiwanya kering. Begitulah kira-kira gambaran sosok Fahri di buku kedua ini. Meski begitu, bukan berarti sepi dari rayuan para wanita. Sama seperti di buku pertamanya, di buku ini Fahri juga dikelilingi beberapa wanita. Namun baginya tidak ada satu pun yang bisa menggantikan Aisha di relung hatinya yang paling dalam.

Bertemu jodoh di mana saja asal itu yang paling baik di mata Allah dan paling mendapatkan ridha Allah. (hlm. 537)

Selain menceritakaan kisah percintaan hidup Fahri yang kini membujang, penulisnya menyelipkan banyak pesan moral yang dibungkus islami di dalamnya; bagaimana pentingnya sholat tepat lima waktu meski di mana pun berada, tentang salah kaprah bom bunuh diri yang selalu diidentikkan dengan Islam yang mengakibatkan islamphobia, dan yang paling saya suka adalah sikap tenggang rasa terhadap sesama meski orang tersebut berbeda agama yang diterapkan Fahri dalam kehidupan sehari-hari dengan tetangganya; Keira, Jason dan juga Nenek Catarina.

Ada beberapa kelemahan dalam buku yang memiliki ketebalan sejumlah 690 halaman ini; masih ditemukan banyak typo di beberapa kata maupun kalimat padahal editornya dua loh, ada beberapa bagian yang kesannya terlalu menggurui, dan saya kurang menemukan rasa Edinburgh dalam cerita yang disajikan dalam buku ini. Dan yang masih mengganjal sampai sekarang adalah sosok Fahri yang bisa dikatakan mendekati sempurna, bahkan melebihi kesempurnaan di buku pertama x))

Terlepas dari itu, saya menyukai buku ini karena mengobati rasa penasaran saya dan juga banyak pembaca setia Ayat-ayat Cinta yang sudah menunggu sekuelnya bertahun-tahun. Dibutuhkan waktu seminggu untuk saya menyelesaikan buku ini dan sempat hang bookover sehingga beberapa minggu ke depannya setelah membaca ini tidak bisa mood membaca buku lainnya. Begitu pula dengan menulis resensinya. Bacanya Desember 2015, nulis resensinya Februari 2016 x))

WP_20151230_022

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Segala yang baik hanya milik Allah. (hlm. 18)
  2. Segala kebaikan kembalinya kepada Tuhan. (hlm. 38)
  3. Terhadap sesuatu yang kurang biasa memang kadang terasa aneh dan rumit. Tapi kalau terbiasa, mudah saja. (hlm. 46)
  4. Tidak ada yang terlalu baik dan terlalu pemurah dibandingkan dengan kebaikan dan kemurahan Allah. (hlm. 49)
  5. Kita tentu tidak menginginkan peran agama. Karena pada kenyataannya, perang agama tidak membuat sebuah agama itu musnah, yang musnah adalah umat manusianya yang berperang. (hlm. 111)
  6. Di hadapan bara api yang membakar kita jangan nyalakan sumbu dinamit. Hancur semua akibatnya. Di hadapan bara api kita gunakan air dingin. (hlm. 133)
  7. Puasa adalah ibadah yang paling dijauhkan dari riya’. Hanya Allah yang tahu. Semestinya keluar dari Ramadhan, semua yang berpuasa rendah diri, tawadhu’, mudah bertemu hati dengan saudaranya, mudah mengalah demi saudara. (hlm. 143)
  8. Semakin lapar, kita akan semakin nikmat makannya. (hlm. 173)
  9. Kita beramal tidak usah tapi-tapian. Kita berusaha ikhlas, namun demikian, hanya Allah saja yang berhak menilai. Jika itu semua diterima Allah sebagai amal saleh selain mengharap ridha-Nya di akhirat. (hlm. 226)
  10. Lepaskan beban masa lalu. Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. (hlm. 278)
  11. Jangan disesali. Ini mungkin jalan terbaik yang digariskan oleh Allah. (hlm. 354)
  12. Terkadang, apa yang tidak kita sukai bisa jadi itu justru baik bagi kita. Dan apa yang kita sukai, bisa jadi tidak baik. (hlm. 405)
  13. Perlu proses agar seseorang bisa menghargai dirinya sendiri dan orang lain. (hlm. 492)
  14. Siapa yang sabar dia akan meraih apa yang diinginkannya. (hlm. 605)
  15. Dan ketahuilah, tidak ada jalan yang lebih dekat dari kejujuran, tidak ada dalil yang lebih berhasil dari ilmu, dan tidak ada bekal yang lebih sampai dari takwa. (hlm. 651)

Beberapa selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tidak semua orang mendapat informasi yang benar dan jujur tentang Islam. (hlm. 8)
  2. Al-Quran melarang membunuh dan Al-Quran justru menyuruh menjaga kehidupan. (hlm. 8)
  3. Menghadaplah kepada Allah dengan hati luluh. Hindarkan dirimu dari sikap ujub dan angkuh. Pergaulilah manusia yang jahat dengan baik, karena pada hakikatnya kamu sedang bermuamalah dengan Allah yang Maha Besar. (hlm. 10)
  4. Secara undang-undang, negara tidak boleh diskriminasi. Tetapi praktiknya tetap ada perlakuan diskriminasi bahkan intimidasi terhadap orang Islam. (hlm. 25)
  5. Kita jangan masuk rumah orang tanpa izin. (hlm. 30)
  6. Jangan gegabah menuduh. (hlm. 34)
  7. Kebencian jangan kita balas dengan kebencian. (hlm. 34)
  8. Kita tidak cukup hanya melarang saudara-saudara kita mengemis. Kita semua umat Islam, bertanggung jawab atas nasib mereka. Kita harus intropeksi, sudah genapkah zakat kita? Ada hak mereka dalam harta kita. Apakah kita yang nasibnya lebih baik telah membuat program riil untuk perbaikan nasib mereka? (hlm. 85)
  9. Kalau sudah tua, hidup sendiri susah. (hlm. 103)
  10. Dasar wanita pemalas. Tidak mau kerja, maunya senang-senang. (hlm. 153)
  11. Engkau sendiri yang tidak menghormati dirimu sendiri. (hlm. 239)
  12. Kalau kita tidak perhatian pada saudara kita, risiko di akhirat lebih berat lagi. (hlm. 327)
  13. Kesombongan sebesar apa pun akan luluh ketika mengingat kematian. (hlm. 476)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Ayat-ayat Cinta 2

Penulis                                                 : Habiburrahman El Shirazy

Editor                                                    : Syahruddin El-Fikri dan Triana Rahmawati

Cover                                                    : Putri Suzan Nurtania

Penerbit                                              : Republika

Terbit                                                    : November 2015

Tebal                                                     : 690 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-0822-15-0

WP_20160102_017Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Novel Ayat-ayat Cinta:

lomba resensi aac2 aac2

6 thoughts on “REVIEW Ayat-ayat Cinta 2

  1. ayat ayat cinta 1, pnulisnya juga habiburrahman el shirazy mbak. kok ditulis anif sirsaeba el shirazy. klo anif sirsaeba itu,beliau adek dari ust habiburrahman el shirazy.

    • Buku Ayat-ayat Cinta 1 memang ditulis Habiburrahman El Shirazy, tapi buku Fenomena Ayat-ayat Cinta ditulis Anif Sirsaeba El Shirazy. Dua buku tersebut berbeda loh ya. Coba teliti lagi kalimat yang aku tulis di postingan😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s