REVIEW Jane Si Kutu Loncat

WP_20160202_009Persimpangan selalu ada dalam kehidupan. Pada satu titik, kita harus memutuskan untuk membuat pilihan. (hlm. 219)

JANE SHAKUNTALA. Berusia dua puluhan, segar, cukup cantik, tapi tidak dengan gaya mencolok yang akan memaksa semua mata mengarah kepadanya. Ada kacamata tanpa frame yang memberi kesan profesional sekaligus intelektual. Makeup-nya bagus, membuat wajah Jane cerah namun tidak terlalu pucat. Konon, orang yang memakai kosmetik berlebihan seperti berusaha menutupi sesuatu yang buruk saja. Dan biasanya orang begini tidak jujur. Hanya mau menunjukkan yang indah-indah. Jane jauh dari kesan itu.

“Dengan pindah-pindah kerja kayak gitu, gue masih belum ngerti deh.”

“Tempat kerja yang sempurna.”

“Maksudnya?”

“Ya, cuma itu. Lingkungan kerja yang kondusif. Rekan kerja yang suportif. Bos yang asyik, patut dikagumi tapi nggak sewenang-wenang. Gaji yang pas –nggak usah terlalu tinggilah, asal cukup dan bisa ditabung. Fasilitas yang oke dan memungkinkan untuk berkembang.”

“Dan… lo sudah berusaha cari tempat kerja yang sempurna itu selama lima tahun?”

“Ya, emang. Gue tahu nggak akan langsung menemukannya. Tapi justru di sana asyiknya, kan? Tiap kali ganti kerja, gue selalu optimis tempat itu adalah tempat yang sempurna bagi gue.”

“Yap. Sampai sesuatu terjadi –ada yang kurang atau sesuatu kurang asyik, jadi lo mutusin untuk ganti kerja lagi.”

“Jane, percaya deh. Tempat kayak gitu nggak bakal ada.”

“Karena gue belum nemu. Nanti kalau gue udah nemu, lo pasti mengakui eksistensinya.”(hlm. 24)

Permasalahan yang dihadapi Jane sebenarnya representasi kehidupan para pekerja yang umumnya fresh graduate, apalagi yang masih lajang. Menginginkan tempat kerja yang segalanya nyaman, mulai dari tugas pekerjaan yang mudah hingga rekan kerja yang bersikap sahabat. Jika kita sudah memasuki gerbang kerja, kita baru memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Dalam dunia kerja, kita akan menemukan banyak sekali realita yang terbayangkan saat masa-masa kuliah. Bagi kebanyakan orang, dunia kerja adalah dunia yang keras; pekerjaan yang menumpuk dan seringkali berat hati mengerjakannya, rekan kerja yang saling sikut, dan belum lagi jika adanya intimidasi dari atasan yang seringkali semena-mena dalam memberikan perintah bagi bawahannya. Ada, ada banget dimana-mana tipikal tadi di tempat kerja mana pun.

Mengingat kasus Jane yang selalu berpindah-pindah tempat tempat kerja, jadi mengingatkan akan diri sendiri. Lulus kuliah sekitar tujuh tahun yang lalu; setahun tidak melamar kerja di mana pun karena menikmati hidup setelah tujuh belas tahun belajar dan belajar, setahun bekerja di perpustakaan universitas dan kini menginjak tahun kelima bekerja di perpustakaan sekolah. Sebenarnya bekerja di perpustakaan sekolah amatlah di luar dugaan. Dulu waktu daftar jadi abdi negara, mengira akan di tempatkan di perpustakaan daerah. Siapa sangka, ternyata sepuluh pustakawan ditempatkan masing-masing sekolah satu pustakawan. Seperti saya, sembilan orang lainnya juga kaget dengan kondisi ini, bahkan yang urutan nomer satu tidak daftar ulang. Kini yang bertahan hanya tinggal enam, sisanya sudah pindah bahkan ada yang beralih ke profesi lain. Kendalanya sama, di sekolah negeri pada umumnya sebuah perpustakaan tidak begitu diperhatikan, ada nggak ada nggak begitu pengaruh keadaannya bagi sekolah. Apalagi pustakawannya, tunjangan dari sekolah amat sangat kecil dibandingkan dengan profesi lain yang ada di sekolah. Dulu saat pertama kali diterima bekerja di sekolah pun menangis, karena di awal ada kekhawatiran jika bekerja di sekolah akan membosankan, ternyata sangat menyenangkan setelah dilalui. Hidup tidak ada yang serba instan, begitu juga dengan tempat kerja, perlu ada penyesuaian dengan lingkungan kerja. Karena itu merupakan kunci dalam bekerja. Jika kita sudah nyaman, kita akan menikmati apa pun hambatan yang harus dilalui.

Kembali ke kisah Jane, mau lima bulan, lima tahun bahkan lima puluh tahun jika kita masih kuat bekerja, nggak bakalan ketemu tempat kerja yang sempurna. Selalu ada sisi baik maupun kebalikannya. Tinggal bagaimana kita menikmatinya. Saya jadi teringat kutipan Andy F. Noya minggu lalu saat acara Kick Andy Show mengundang para pekerja dengan jenis pekerjaan yang tidak biasa; “Profesi apa pun yang kita tekuni, berbahagialah menjalankannya.”

Sebenarnya buku ini nggak hanya memuat tentang dunia pekerjaan, tapi juga membahas kisah Jane yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya, persahabatan dan juga keluarga. Lewat tokoh Chira Andashvari, sahabat Jane ini kita bisa melihat dunia penulis. Misalnya, bahwa kehidupan penulis tidak sesantai yang dibayangkan, juga musti disiplin dalam memanajemen waktu bukan hanya menulis tergantung mood semata.

WP_20160202_005Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau tahu apa yang diinginkan, suatu hari, mungkin saja kita akan menemukannya secara kebetulan. (hlm. 11)
  2. Karena untuk yang namanya sahabat, kau akan bersedia melakukan banyak hal, demi memastikan senyum tetap terukir di wajahnya. (hlm. 27)
  3. Sahabat, dia yang membuat segalanya terasa menyenangkan. Sahabat, dia yang menjauhkan dirimu dari kesepian. (hlm. 33)
  4. Tantangan, cobaan. Selalu ada dalam yang namanya kehidupan. (hlm. 49)
  5. Kalau merasa benar, tetaplah berpegangan pada dirimu yang anggap benar itu. (hlm. 57)
  6. Adakalanya, semua itu harus segera di hadapi. (hlm. 79)
  7. Begitulah kehidupan. Kadang alurnya tak bisa kau ramalkan. (hlm. 115)
  8. Rasa itu bisa muncul kapan saja. Biasanya di saat kita paling tidak menduganya. (hlm. 143)
  9. Ada beberapa hal yang tak bisa dicegah. Karena kita bisa mengendalikan semua hal yang ada di dunia. (hlm. 151)
  10. Ketika kesialan bertubi-tubi… Syukurilah. Apa pun yang menimpamu, dirimu masih bertahan hidup. Pasti akan lebih baik, pasti akan lebih indah, keesokan hari. (hlm. 157)
  11. Hantu masa lalu akan selalu ada, kalau kau membiarkannya. Biarkan saja, terima saja. Masa lalu adalah bagian dari dirimu. (hlm. 179)
  12. Semudah itukah manusia menyerah? Barangkali itulah yang membuat harapan pecah. Kadang di satu titik, kita ingin berhenti. Kita tak mau lagi berlari. Karena memang lebih mudah untuk mengurung diri daripada terus-menerus mengejar ambisi. (hlm. 193)
  13. Manusia bertahan kalau mereka mau. (hlm. 204)
  14. Cinta dan percaya harus berjalan beriringan. Cinta hanya bisa diberikan ketika kita yakin orang itu layak mendapatkannya. (hlm. 229)
  15. Ketika mencintai, kau ingin melindungi. Tidak dengan cara menutupi. Tapi dengan memberitahu, apa pun yang terjadi, kau akan tetap berada di sisinya. (hlm. 242)
  16. Kadang kau menyadari sesuatu itu berharga ketika nyaris terlambat melakukan apa pun mengenainya. (hlm. 269)

Banyak juga selipan sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Biar duit pas-pasan, penampilan harus meyakinkan. (hlm. 16)
  2. Jadi orang kudu konsisten. Boleh-boleh aja coba ke daerah lain yang belum dirambah tapi nggak usah ngotot gitulah. (hlm. 22)
  3. Setiap orang punya berkatnya sendiri. Namun berkat yang dimiliki orang lain kadang terasa lebih menggiurkan daripada yang kita miliki. (hlm. 30)
  4. Adakalanya kita harus mendengarkan kata hati dan menjaga diri untuk tidak menceletukkan kata-kata yang akan disesali di kemudian hari. (hlm. 55)
  5. Ketika menemukan tantangan, kamu hendak lari, dicekam kengerian, atau… melawan? (hlm. 59)
  6. Setiap tindakan, pasti memiliki konsekuensi. Siap berbuat, bersiaplah menerima akibat. (hlm. 69)
  7. Seperti jailangkung saja, datang sembarang tidak diundang. (hlm. 72)
  8. Hari yang menyebalkan bisa beralih jadi menyenangkan. Asalkan ada sahabat yang mau mendengarkan semua keluhan. (hlm. 87)
  9. Kalau kesal pada sahabat, harus langsung diberitahukan. Jangan disimpan-simpan. (hlm. 107)
  10. Dendam haruslah dibayar tunai. (hlm. 109)
  11. Utang adalah utang. Dendam pun demikian. (hlm. 110)
  12. Kalau tidak dihadapi, apa pun dari masa lalu, akan berpotensi menyakiti. (hlm. 131)
  13. Wajah cantik tidak memastikan isinya juga cantik. (hlm. 138)
  14. Dunia ini kabarnya sempit, bukan? (hlm. 161)
  15. Manusia toh tidak butuh terlalu banyak benda untuk bertahan hidup. (hlm. 203)
  16. Perempuan hanya bisa membawa masalah. (hlm. 206)
  17. Begitulah sifat dasar manusia, kan? Mereka senang drama. Mereka senang melihat kehebohan, kekacauan apalagi kalau mereka tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu. (hlm. 209)
  18. Ketika sudah memutuskan, harus berani menerima apa pun konsekuensinya. (hlm. 213)
  19. Melarikan diri. Mudah sekali. Tapi begitu mengambil ini sebagai pilihan, seumur hidup kita akan selalu dalam pelarian. (hlm. 233)
  20. Semua orang punya hantu masa lalu; yang menjadi masalah, beranikah menghadapi mereka? Beranikah mengubah kejadian masa silam yang beraura negatif agar menjadi kemenangan di kemudian hari? (hlm. 242)
  21. Manusia, sekejam apa pun, kalau melihat seseorang yang sedang menderita, akan tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu. (hlm. 255)
  22. Fantasi ya fantasi, seindah apa pun, realita tetap yang paling penting. Karena tanpa realitas, kita akan mengawang terbang tanpa sadar apa yang ada di bumi sana. Karena memanjakan diri dengan fantasi, akan membuat kita gila ketika kita harus berhubungan dengan dunia nyata. (hlm. 257)
  23. Kadang kau menyadari sesuatu itu berharga ketika nyaris terlambat melakukan apa pun mengenainya. (hlm. 269)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jane Si Kutu Loncat

Penulis                                 : Primadonna Angela

Editor                                    : Dini Novita Sari

Desain sampul                   : Orkha Creative

Ilustrasi isi                           : Yulianto Qin

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 312 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2409-8

WP_20160202_013

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-100502/metropop-jane-si-kutu-loncat.html

2 thoughts on “REVIEW Jane Si Kutu Loncat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s