REVIEW Think Like a Freak

WP_20160225_001[1]Kadang-kadang dalam hidup kita menghadapi sebuah keputusan besar, dan kita tidak tahu apa yang yang harus dilakukan. Kita telah memikirkan masalah tersebut dari berbagai sudut. Dan bagaimanapun kita melihatnya, tidak ada keputusan yang tampaknya tepat. Pada akhirnya, apa pun yang kita pilih pada dasarnya akan seperti sebuah lemparan koin. (hlm. 210)

Bukan hanya kita tahu lebih sedikit daripada yang kita pura-pura tahu tentang dunia luar; kita bahkan tidak tahu tentang diri sendiri sebaik itu. Kebanyakan orang payah dalam tugas yang tampaknya sederhana dalam menilai bakat mereka sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh dua psikolog; “Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu dengan diri sendiri daripada dengan orang lain, orang sering kali memiliki wawasan yang sangat sedikit tentang keterampilan dan kemampuan mereka.”

Jika konsekuensi dari pura-pura tahu dapat sebegitu merusak mengapa orang-orang terus melakukannya? Jawabannya mudah; dalam kebanyakan kasus, akibat dari mengatakan ‘saya tidak tahu’ lebih besar daripada akibat karena salah –setidaknya bagi individu.

Ada satu penjelasan lagi mengapa begitu banyak dari kita berpikir kita tahu lebih banyak daripada yang kita tahu. Ini ada hubungannya dengan sesuatu yang kita semua bawa ke mana-mana, walaupun mungkin kita tidak sadar memikirkannya: kompas moral.

Masing-masing dari kita menumbuhkan sebuah kompas moral saat kita hidup di dunia. Secara garis besar, ini hal yang luar biasa. Siapa yang ingin hidup di dunia tempat orang-orang berkeliaran tanpa menghargai perbedaan antara benar dan salah?

Namun bila menyangkut pemecahan masalah, salah satu cara terbaik untuk memulai adalah dengan menanggalkan kompas moral kita. Mengapa?

Ketika dikuasai oleh kebenaran atau kesalahan atau masalah tertentu, sangat mudah untuk kehilangan jejak atas apa masalah yang sebenarnya. Kompas moral dapat meyakinkan kita bahwa semua jawaban sudah jelas; bahwa ada garis tegas antara benar dan salah; dan yang terburuk, bahwa kita yakin kita sudah tahu segala yang kita perlu tahu tentang suatu subjek sehingga kita berhenti berusaha mempelajari lebih lanjut.

Masalah apa pun yang coba kita pecahkan, pastikan kita tidak hanya sedang menyerang bagian bising dari masalah yang kebetulan memikat perhatian kita. (hlm. 57)

Buku ini pas banget saya baca ketika dihadapkan oleh sebuah kepalsuan. Meski sakit hati karena diintimidasi, saya akan berpegang teguh bahwa kebenaran harus diungkap. Bekerja boleh di negeri, tapi idealisme harga mati. Itu prinsip yang saya pegang hingga kini.

Salah satu cara merileksikan diri dari kepenatan bekerja salah satunya adalah bersenang-senang. Mengapa bersenang-senang itu sangat penting? Dalam buku ini dijelaskan jika kita menyukai pekerjaan kita (atau aktivitas kita atau waktu kita bersama keluarga), kita bakal ingin melakukannya lagi, kita akan memikirkannya sebelum kita beranjak tidur dan segera setelah kita bangun; pikiran kita selalu siap sedia. Saat kita seasyik itu, kita akan mengungguli orang lain. Ihhhh…bener banget ini!! #TossAmaPenulisnya

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu untuk diri sendiri daripada dengan orang lain, orang sering kali memiliki wawasan yang sangat sedikit tentang keterampilan dan kemampuan mereka. (hlm. 31)
  2. Jika kita tidak bahagia dan kita punya sesuatu yang bisa disalahkan atas ketidakbahagiaan kita, maka hal itu membuat kita kebal terhadap tindakan bunuh diri. (hlm. 37)
  3. Kunci untuk belajar adalah umpan balik. Hampir mustahil untuk mempelajari apa pun tanpa hal itu. (hlm. 38)
  4. Semakin rumit sebuah masalah, semakin sulit untuk menangkap umpan balik yang baik. (hlm. 42)
  5. Berpikir seperti orang aneh berarti kita harus bekerja sangat keras untuk mengidentifikasi dan memecahkan akar penyebab masalah. (hlm. 73)
  6. Begitu kita mulai melihat dunia melalui sebuah lensa yang panjang, kita akan menemukan banyak contoh perilaku kontemporer yang digerakkan oleh akar penyebab dari berabad-abad yang lalu. (hlm. 80)
  7. Bila kita berpikir kecil, taruhannya mungkin berkurang, tetapi setidaknya kita dapat relatif yakin kita tahu apa yang sedang kita bicarakan. (hlm. 99)
  8. Bersenang-senang, berpikir kecil, jangan takut pada sesuatu yang sudah jelas. (hlm. 107)
  9. Memahami insentif semua pelaku dalam sebuah skenario tertentu merupakan langkah fundamental dalam memecahkan masalah apa pun. (hlm. 116)
  10. Jangan dengarkan apa kata orang; lihatlah apa yang mereka lakukan. (hlm. 124)
  11. Mengubah kerangka kerja dari sebuah hubungan dapat menghasilkan kegembiraan. (hlm. 137)
  12. Berpikir seperti orang aneh berarti berpikir sederhana. (hlm. 151)
  13. Orang yang berbohong sering kali merespons sebuah insentif dengan cara yang berbeda daripada orang yang jujur. (hlm. 156)
  14. Berhenti itu sulit, sebagian karena hal ini disamakan dengan kegagalan, dan tidak ada yang suka gagal, atau setidaknya terlihat gagal. Namun, apakah kegagalan selalu begitu mengerikan? (hlm. 202)
  15. Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meninggalkan suatu ide adalah sebuah tantangan abadi. (hlm. 206)
  16. Beberapa perubahan memang membuat orang-orang bahagia, termasuk dua dari tindakan berhenti paling penting; putus dengan pacar dan berhenti kerja. (hlm. 214)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Think Like a Freak

Penulis                                 : Steven D.Levitt & Stephen J. Dubner

Penerjemah                       : Adi Toha

Penyunting                         : Ida Wajdi

Penyelaras aksara            : Lian Kagura, Putri Rosdiana

Penata aksara                    : Puthut TS.

Perancang sampul           : Muhammad Usman

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Januari 2016

Tebal                                     : 268 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-007-5

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-101656/think-like-a-freak.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s