REVIEW Interval

WP_20160229_008[1]

Mencintai seni itu harus dari hati. (hlm. 16)

Bukankah seni itu sifatnya memberi kebahagiaan, bukan hanya materi? (hlm. 29)

Dulu, saat Kinanti sudah mulai mengerti tentang makna orangtua, seria dia bertanya pada orang-orag disekitar tempat tinggal, namun mereka berkespresi sama. Hanya saling pandang, kadang tersenyum. Jika dia bertanya pada ibu-ibu tetangga, mereka malah menertawakannya. Kata mereka, ibunya hanyalah perempuan jalang.

Rasa sakit saat ibunya digunjing seperti itu tak begitu terasa karena dia tidak pernah mengenalnya sampai dia remaja. Hanya saja, dia merasa kalau ibunya pasti punya alasan tersendiri. Ia pasti perempuan baik-baik, Kinanti meyakininya.

Sedangkan gambaran seorang ayah, Kinanti tak cukup sulit memikirkannya. Maksudnya, Kakek sudah lebih dari seorang ayah. Kakek yang mencari uang dan membayar semua tagihan sekolahnya, bahkan ia pula yang selalu mencium pipi kanan dan kiri saat hari raya Lebaran. Kalau tak kerepotan, Kakek juga selalu datang ke sekolah untuk mengambil rapor. Bagi Kinanti, kakek sudah lebih dari seorang ayah.

Kakek memang sudah lanjut usia dan terbiasa membuat topeng Bujang Ganong sesuai pakem yang biasa dipakai saat pentas seni. Terkadang, kakek menjualnya pada tengkulak yang hanya bisa memberi untung kisaran lima rupiah per satu topeng, padahal tengkulak bisa menjualnya berlipat ganda. Menurut kakek, hal itu masih disyukuri karena ada sedikit laba yang didapat daripada keliling kampung yang belum tentu membuat topeng dagangan Kakek terjual habis.

Hidup dengan keterbatasan ekonomi, adalah salah satu faktor Kinanti memutuskan menjadi penari jathil keliling. Di sekolahnya, dia kerap dicibir teman-temannya. Begitu juga di lingkungan rumah, para tetangga juga memandang rendah atas profesi yang dilakoninya itu.

Saya tahu buku ini saat akun twitter penerbitnya share buk ini. Saya tertarik untuk membacanya. Ada beberapa factor yang menarik untuk membacanya. Lewat tokoh Kakek yang membuat topeng Bujang Ganong, salah satu ciri khas daerah Ponorogo. Saya sampai googling nih bentuknya:

bujangganong dewasa 800rbu-250 ribu- 150ribu 1Oya, lewat tokoh Kinanti dan Rey, kita jadi tahu bagaimana kehidupan penari jathil yang masih dianggap sebelah mata. Padahal tidak semuanya buruk, ada yang memlih profesi ini karena panggilan jiwa memiliki darah seni yang mengalir, bukan hanya karena tuntutan ekonomi semata.

kelompok-penari-jathilan-grup-reog-ponorogo2

“Ayah masih tetap pada keputusannya yang dulu, Kin. Aku harus berhenti menjadi jathil dan fokus pada sekolah. Tiap aku protes, ia tak peduli. Toh, nilaiku masih yang terbaik dan menari tidak berpengaruh pada itu.”

Mungkin ayahmu takut kalau kamu akan menjadi jathil edgreg seperti mereka. Siapa juga orangtua yang sudi melihat anak mereka berlaku seperti itu di depan umum, Rey? Ayahmu punya cukup banyak uang untuk sekedar memenuhi apa yang kamu inginkan, maka pantas kalau ia marah.”(hlm. 19)

“Kami tidak butuh maafmu, wong kami tidak salah.”

“Ya, anggaplah ini sebuah tantangan untuk membuktikan bahwa penari jathil keliling harus naik kasta lebih tinggi. Tidak hanya berada di kelas rendah, kaum yang berada di kasta Sudra, kubangan lumpur.” (hlm. 43)

Kekurangan dari buku ini hanyalah terletak pada perubahan dari kehidupan Kinanti di Ponorogo saat masih remaja dan kehidupannya di Amerika Serikat saat dewasa. Rada terlalu jetlag. Terlalu tiba-tiba, nggak ada proses perpindahan di antara kehidupan yang berbeda itu. Selain masalah keluarga, hal yang diangkat dalam buku ini adalah tentang persahabatan. Berteman dengan siapa saja boleh, namun bersahabat harus pilih-pilih. Karena seorang sahabat akan sangat mempengaruhi kehidupan kita di masa nanti dan masa mendatang.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Dalam hidup, kita belum tentu mendapatkan segalanya. (hlm. 25)
  2. Wajar kalau kamu menyukai seseorang. (hlm. 61)
  3. Kenapa di dunia yang maha luas ini ada memori? Sesuatu yang terus melintas di dalam pikiran kita tanpa bisa dihapus begitu saja meski kita berusaha sekuat tenaga. Atau, kita biasa menyebutnya kenangan. (hlm. 118)
  4. Kehidupan memang selalu menyimpan misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari selain merencanakannya.(hlm. 167)
  5. Hidup itu pilihan, kan? Dan kita berhak menentukan apa yang kita mau karena itulah yang membedakan kita dengan orang lain. (hlm. 169)
  6. Zaman sudah berubah. Perempuan tak masalah menikah di usia yang matang. (hlm. 171)
  7. Jika seseorang memintamu menjadi istrinya, apakah itu pertanda bahwa ia benar-benar serius? (hlm. 174)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan banyak. Itu adalah sebuah peraturan. (hlm. 10)
  2. Kalau kamu sering bolos, gimana kamu akan mengejar ketinggalan? (hlm. 12)
  3. Bullying itu tidak hanya terjadi di drama TV, tapi di kehidupan nyata pun. (hlm. 23)
  4. Toh rasa takut hanya akan membunuhmu, maka kamu perlu membunuh rasa takut itu lebih dahulu. (hlm. 38)
  5. Jangan pernah mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. (hlm. 43)
  6. Jangan terpancing emosi. (hlm. 43)
  7. Tidak selamanya aku harus melaporkan semua kegiatanku padamu, bukan? (hlm. 51)
  8. Apakah kamu pernah merasakan sakit hati atau semacam perasaan terbuang atau dikucilkan? (hlm. 56)

Keterangan Buku:

Judul                                       : Interval

Penulis                                     : Diasya Kurnia

Penyunting                              : Akhir RN.

Tata sampul                             : Wulan Nugra

Tata isi                                     : Violetta

Pracetak                                  : Endang

Penerbit                                   : PING

Terbit                                       : 2016

Tebal                                       : 176 hlm.

ISBN                                       : 978-602-391-059-5

WP_20160229_009[1]

One thought on “REVIEW Interval

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s