REVIEW Brink of Senses

brink of sensesTidak ada gunanya menunggu-nunggu yang tak pasti, seperti menunggu air hujan menjadi permata atau menunggu Patung Liberty tersenyum padamu. (hlm. 204)

KEVIN HUSTON. Dia merasa lega tinggal di kotanya sekarang, New York City. Suasananya jelas berbeda dengan suasana kampung halamannya, Newport. Setelah ibunya meninggal, ayahnya depresi berat. Di luarnya, Joseph Huston memang keras seperti tukang gertak, tapi hatinya sangat rapuh. Keputusan ayahnya mengajak Kevin dan adiknya pindah ke New York juga ditujukan untuk melupakan betapa tragis istrinya meninggal. Bukan berarti Kevin sendiri tidak depresi. Dia sangat,sangat depresi, sampai mengalami Post-traumatic Stress Dosorder atau PTSD. Kevin masih bisa merasakan kembali betapa perih pergelangan tangan dan kakinya saat dipasung dan betapa memuakkan obat-obatan yang pernah ditelannya. Pilihan ayah mereka untuk pindah ke New York City benar-benar memberikan angin segar bagi hidup dan nama Kevin Huston.

SCARLETT. Sejak dulu, dia sulit berteman. Tidak seorang pun mau berdekatan dengannya untuk alasan yang Scarlett sendiri tidak ketahui. Bahkan tetangga-tetangganya tidak mau berteman dengannya. Di sekolah pun, dia tidak pernah punya teman.

“Aku sudah menunggumu lama sekali. Itu karena aku ingin mengenalmu lebih dekat.”

“Kenapa?”

“Aku ingin berteman denganmu.”

“Teman?”

“Makanya aku selalu menunggumu.”

“Kau menungguku untuk menjadi temanku? Memangnya berteman perlu menunggu?”

“Tidak, kurasa.” (hlm. 116-117)

Banyak poin lebih dari buku ini. Pertama, covernya yang hitam putih ini memikat banget! Kedua, tema yang diangkat. Ini memang kisah remaja, tapi tema yang diangkat cukup berat. Baik dari sisi Kevin maupun Scarlett sama-sama memiliki trauma yang cukup berat bagi seusia mereka. Menyangkut kisah keluarga masing-masing. Saya lebih bisa merasakan apa yang dialami oleh Kevin, karena bisa merasakan bagaimana sedihnya ditinggal orang yang melahirkan kita. Ini seperti kisah adik saya, tapi kasusnya nggak seberat apa yang dialami Kevin. Begitu juga dengan Scarlett, remaja seperti ini bukannya dijauhi, tapi harus dirangkul. Bagian Scarlett memang nggak tertebak akan apa yang dialaminya, tapi rada buru-buru pas di endingnya. Meski begitu, saya mengacungkan jempol untuk novel perdana penulisnya. Berasa baca novel terjemahan loh. Iya, biasanya kasus-kasus remaja seperti ini diangkat oleh novel luar. Karena novel remaja versi lokal biasanya hanya membahas seputaran percintaan ala-ala ababil. Novel ini lebih dari itu. Recomended! Pesan moral dari buku ini adalah belajar menerima kenyataan, meskipun itu pahit.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Punya banyak hobi itu bagus. Kau tidak akan terus terpaku pada hal yang itu-itu saja. (hlm. 26)
  2. Seperti senyum, menular. Kalau kau tersenyum, aku pasti akan tersenyum juga. (hlm. 40)
  3. Kalau kau berdekatan dengan orang yang kau sukai, jantungmu pasti berdebar-debar tak keruan dan perasaanmu jadi campur aduk. (hlm. 169)
  4. Inilah wujud cinta sesungguhnya: kesetiaan. (hlm. 188)
  5. Jika kau punya keinginan, semesta pasti akan mendukungmu. Semesta selalu ada untuk seluruh penghuninya. (hlm. 248)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan bicara yang bukan-bukan. (hlm. 70)
  2. Menunggu itu menyebalkan. (hlm. 83)
  3. Punya banyak teman itu menyenangkan. (hlm. 116)
  4. Memangnya berteman perlu menunggu? (hlm. 117)
  5. Memang apa pentingnya buatmu? (hlm. 143)
  6. Ini bukan cinta. Cinta tidak menunggu. Cinta tidak menyiksa dirinya sendiri dengan menunggu selama hampir setahun, dan tidak mendapat kabar apa-apa. (hlm. 188)
  7. Cinta tidak menunggu. Cinta tahu siapa yang sedang menderita. Biarkan hatimu yang memberitahumu apa yang harus kau lakukan. Jika kau memang menyukainya, cobalah rajut persahabatan yang erat dengannya dulu, sebelum melangkah kejauhan. Intinya, cobalah bicara dengannya. (hlm. 195)
  8. Kau ini laki-laki. Kalau ada yang berani mengganggumu, hajar saja dia. (hlm. 205)
  9. Lebih baik dibenci daripada melihat orang yang kausayangi sakit dan menderita. (hlm. 212)
  10. Kadang berbohong bisa menyelamatkan seseorang. (hlm. 224)
  11. Kau tidak bisa lari dari kenyataan ini terus-menerus. Kau harus menerimanya. (hlm. 230)
  12. Karena cinta tak menunggu. (hlm. 253)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Brink of Senses

Penulis                                                 : Mertha Sanjaya

Penyunting                                         : Katrine Gabby Kusuma

Perancang sampul dan isi             : Deborah Amadis Mawa

Penata letak                                       : Deborah Amadis Mawa

Penerbit                                              : Ice Cube

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 254 hlm.

ISBN                                                      : 978-979-91-0906-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s