REVIEW Psikologi Kematian

psikologi kematianKematian adalah pintu gerbang untuk meneruskan dan memasuki kehidupan baru yang lebih indah dan lebih berkualitas karena kehidupan dan kenikmatan ruhani, derajat dan kualitasnya lebih tinggi, ketimbang kenikmatan badan yang durasinya sangat pendek dan fluktuatif. (hlm. 96)

Mengapa kematian begitu menakutkan, sedangkan dunia sangat sayang untuk ditinggalkan? Terdapat beberapa kemungkinan jawaban muncul. Antara lain, bagi sebagian orang yang merasa dimanjakan oleh kenikmatan yang telah dipeluknya selama ini. Dengan demikian, memasuki hari tua berarti memasuki fase penyesalan, sedangkan kematian adalah puncak kekalahan dan penderitaan. Jawaban lain, kematian ditakuti karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mati. Kalau saja seseorang bisa menghilangkan benih iman dan argumen filosofi akan adanya keabadian jiwa, sangat mungkin orang tak akan takut akan mati. Bukankah setelah kematian tidak ada kehidupan lagi? Namun persoalannya, manusia sulit untuk mengingkari kebenaran ajaran agama, rasa keadilan moral dan argumen filosofis bahwa keabadian jiwa dan hari perhitungan itu pasti terjadi. Alangkah absurd dan nistanya pengorbanan para pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan kalau saja setelah mati ada perhitungan lanjut. Lalu, apa bedanya antara pejuang dan pecundang jika setelah itu tidak ada lagi mahkamah pengadilan yang benar-benar adil? Jawaban lainnya ialah orang takut mati karena seseorang merasa banyak dosanya, lebih banyak amal kejahatannya ketimbang kebaikannya, sehingga takut akan imbalan siksa yang hendak diterimanya kelak.

Sebagai ilustrasi, mengapa kehidupan di dunia ini disebut sebagai permainan dan sesuatu yang melalaikan, kita bisa merasakan saat kita masih kecil. Pada masa kanak-kanak kita biasanya terlalu asyik bermain hingga lupa makan, lupa tidur siang, lupa belajar, atau lupa membantu orangtua. Demikian juga dalam menjalani hidup di dunia ini, mengerjar kekayaan itu tidak dilarang, memburu jabatan juga diperbolehkan, tetapi harus diingat agar apa yang dikejar itu menjadi instrumen untuk meningkatkan iman dan memperbanyak amal kebajikan. Kita semua tahu, hanya mereka yang kaya yang bisa menolong orang miskin, hanya mereka yang pintar yang bisa menolong yang bodoh, dan hanya mereka yang kuat yang bisa menolong yang lemah.

Dunia ini memiliki dimensi permainan yang bisa membuat orang lalai. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk menyibukkan diri dengan berbuat baik, sehingga tak ada waktu bagi kita untuk berbuat buruk. Rasulullah bersabda; “Berbahagialah orang yang sibuk berbuat baik sampai tidak sempat untuk berbuat buruk. Berbahagialah mereka yang sibuk mengintropeksi kekurangan dirinya sendiri sehingga lupa melihat kekurangan orang lain. Berbahagialah seseorang yang hatinya diisi kerinduan kepada Tuhan sampai tidak ada ruang untuk menampung bisikan setan.” Sementara menunggu pesawat kematian, mari kita menyibukkan diri dengan kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

Ada berbagai cara bagaimana manusia memberikan makna bagi hidupnya. Bagi orang yang beriman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat, tentunya iman mereka akan mengacu untuk berprestasi dalam melayani Tuhan, antara lain pelayanan menolong hamba-hamba-Nya. Di dalamAl-Quran ditegaskan bahwa seseorang yang beriman kepada Allah dan dilanjutkan dengan berbuat baik terhadap sesamanya, yang demikian itu sesungguhnya dia berbuat baik serta menolong pada dirinya sendiri. Dari sekian banyak perintah berbuat baik di mata Tuhan, pada praktiknya adalah juga kebaikan langsung menurut ukuran akal sehat.

Dalam hidup ini, taka da orang yang tak takut kehilangan. Bahwa sadar seseorang yang menyimpan rangkaian kenangan pahit masa lalu menuntut kompensasi dan subtitusi. Bagi sementara orang, bisa jadi kompensasi itu diproyeksikan dalam limpahan materi, jabatan, kekuasaan dan popularitas. Ketika semuanya telah berada di tangan terdapat kekuatan bawah sadar yang memberikan dorongan untuk memeluknya erat-erat karena kenangan pahit masa lalu yang tidak lagi disadari akibat kehilangan objek yang dicintai. Dari semua BAB, saya paling menyukai BAB Kehilangan. Tidak mudah bagi kita untuk menerima sebuah kehilangan. Apalagi kehilangan orang yang paling kita cintai, yaitu orangtua. Pasangan mungkin bisa berganti, tapi orangtua tidak bakal ada bisa yang tergantikan.

Tataplah kematian sebagai penyemangat kita melakukan sebanyak mungkin kebaikan. Bayangkan kematian akan terjadi besok. Begitu nasihat Nabi Saw. ketika memerintahkan umatnya berkarya untuk kehidupan akhirat. Ke mana pun pergi, di mana pun berada, kematian adalah teman yang paling dekat dengan kita.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Psikologi Kematian

Penulis                                 : Komaruddin Hidayat

Penyunting                         : Cecep Romli

Penyelaras aksara            : Lya Astika

Desain isi                             : Nurul M. Janna

Desain sampul                   : iggrafix

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Desember 2015

Tebal                                     : 226 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-027-3

Komaruddin Hidayat – Psikologi Kematian

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-63832/psikologi-kematian-new.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s