REVIEW Summit

summit

“Pendakian itu bukan untuk menaklukkan puncak gunung, tapi menaklukkan ego.” (hlm. 5)

“Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, bahkan ratusan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.” (hlm. 161)

LIKA. Dia sangat dekat ayahnya dan meski dia anak perempuan, beliau tak pernah membedakannya dengan kakak laki-lakinya. Sejak kecil, ayahnya selalu membawanya ke mana-mana, bahkan ketika beliau sedang memandu tamu asing ke Rinjani. Itulah yang membuat Lika sangat mencintai kegiatan alam bebas ini dan bercita-cita meneruskan usaha ayahnya itu. Para kerabat dan para sepuh bangsawan banyak yang menentang karena bagi seorang gadis bangsawan Sasak seperti dirinya, bekerja di luar rumah adalah tabu. Menurut adat Sasak yang berlaku, dia harus menikah secepatnya dengan salah satu sepupunya atau dengan lelaki Sasak dari golongan bangsawan yang bergelar Lalu. Bila dia nekat menikah dengan lekaki dari jajar karang –golongan biasa- dia harus siap dikucilkan, diasingkan, dilarag tinggal di desanya, dan gelar bangsawannya akan dicabut. Sebuah hukuman yang berat, bukan? Bagaimanapun sampai saat ini Lika sama sekali tak berniat menikah muda. Meski teman sepermainannya sewaktu kecil hampir semuanya sudah memiliki anak, dia tetap bersikeras pada pendiriannya.

“Adakah pekerjaan lain di dunia ini yang lebih indah daripada itu? Membantu para wisatawan yang datang melepas kejenuhan dari rutiitas mereka sehari-hari. Turut tersenyum ketika aura kebahagiaan terpancar dari rutinitas mereka sehari-hari. Turut tersenyum ketika aura kebahagiaan terpancar dari wajah mereka saat menikmati panorama Rinjani yang tak ubahnya secuil debris surge di muka bumi.” (hlm. 57)

IDAN. Penderitaannya seperti tumpukan baju kotor di sudut kamar yang menggunung. Pacarnya, yang kini resmi menjadi mantan pacarnya, Yona lebih memilih lelaki lain yang merupakan pendaki gunung. Idan merasa terbuang. Mungkin harga dirinya terempas. Mungkin egonya sebagai lelaki tergerus. Yang jelas, dia ingin membuat Yona menyesal. Biar dia gigit jari. Biar Yona memohon kembali padanya. Konyol memang, tapi Idan tak peduli. Teman-teman bilang dia gila. Kata mereka, Idan sama saja cari mati mendaki Rinjani tanpa persiapan apa pun.

“Aku tak ingin galau berlarut-larut. Tekadku sudah bulat. Akan kujebol tabunganku selama tiga tahun terakhir ini. Kurelakan impian membeli seperangkat drum baru yang membuatnya meneteskan air liur setiap kali melewati toko alat musik itu. Aku akan menaklukkan puncak Rinjani. Akan kutunjukkan pada Yona, aku lebih hebat daripada kekasih barunya itu. Aku juga bisa mendaki gunung!” (hlm. 13)

Ada beberapa hal tertarik untuk membaca buku ini. Pertama, ini seri YARN terbitan Ice Cube rasa lokal yang kali pertama saya baca. Seri YARN sebelumnya yang dibaca bersetting luar semua. Kedua, RINJANI. Yup, salah satu tempat yang diidamkan sejak zaman kuliah adalah mencapai puncak Rinjani. Dulu pas lulus kuliah ada kesempatan untuk ke sana karena ada beberapa teman yang juga mau ke sana, tapi sayangnya saya nggak lolos kualifikasi, gyahahaha.. x) Mudah-mudahan suatu saat alam berkonspirasi mewujudkannya. Ketiga, tokoh utamanya pendaki. Salah satu kriteria yang ‘laki banget’ adalah pendaki. Pokoknya dulu kalo liat laki-laki yang suka naik gunung, kadar kegantengannya langsung naik tiga kali lipat, gyahahaha… x))

Dulu saya beberapa kali ikutan naik gunung. Tapi hanya taraf gunung-gunung yang ‘aman’. Kenapa saya berani? Karena waktu itu teman-temannya sudah lebih berpengalaman. Jadi dijamin nggak nyasar dan nggak kelaparan. Apalagi kalo naiknya ama cowok-cowok, kita sebagai cewek nggak bakal dibuat susah. Dijamin deh!😀

“Kau akan jatuh cinta pada sebuah gunung. Untungnya, cintamu pada gunung tak akan membuat sakit. Hanya akan menyiksamu ketika kau merasa rindu.” (hlm. 139)

Dari awal cerita, aroma lokal suku Sasak dan dunia pendakian terasa kental. Maklum, penulisnya memang memahami dunia ini. Lewat buku ini, penulis menyelipkan pengetahuan seputaran dunia pendakian. Beberapa diantaranya;

  1. Jangan menggantungkan matras di atas carrier. Bisa berisiko tersangkut dahan pepohonan, juga basah karena hujan. (hlm. 95)
  2. Anak Mapala jarang menggunakan porter. Semuanya mereka angkut sendiri. Semua logistik dan peralatan lainnya mereka bagi di masing-masing carrier. (hlm. 113)
  3. Jangan membuang sampah di gunung. Kau harus bertanggung jawab dengan sampahmu sendiri. (hlm. 117)
  4. Dalam pendakian, penting untuk memiliki cadangan minuman dan makanan untuk mengantisipasi hal yang tak terduga seperti cuaca buruk. Tidak bisa cuma mengandalkan air yag kita bawa dari rumah. (hlm. 127)
  5. Mendaki gunung membantu belajar menghargai kehidupan. Sebagai anggota Mapala,biasanya terikat dalam sebuah keluarga besar. (hlm. 147)

Suka banget ama ceritanya. Suka juga ama tokoh-tokohnya. Gemas lihat hubungan antara Lika sebagai guide dan Idan sebagai pendaki abal-abal. Banyak momen-momen unyu ketika mereka berantem. Benci-benci cinta gitu deh… x))

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Hidup itu tidak melulu berputar di masalah hati. Ada banyak hal lain yang lebih penting. (hlm. 91)
  2. Semua orang punya dunianya sendiri. (hlm. 114)
  3. Butuh inspirasi? Sering-sering aja naik gunung. (hlm. 135)
  4. Hidup ini terdiri dari berbagai pilihan dan kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. (hlm. 161)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Buat apa kau lanjutkan kuliahmu? Apa kau ingin menjadi perawan tua? (hlm. 8)
  2. Mungkin ini salah satu efek dari patah hati, jadi sedikit melankolis. (hlm. 11)
  3. Yang benar saja! Zaman sekarang semua orang sibuk bicara konversi, setengah mati berupaya menyelamatkan alam. Kok, dia seenaknya mau memetik bunga abadi itu yang jelas-jelas dilindungi? (hlm. 18)
  4. Ternyata ngelupain kenangan itu nggak semudah yang dipikir. (hlm. 19)
  5. Siapa suruh bertingkah sok hebat, meremehkan alam? Belum lagi aksi gombalnya. (hlm. 21)
  6. Dipikirnya semua bisa didapat dengan uang, ya? (hlm. 45)
  7. Meski sekarang sudah zaman digital, tetap saja orang masih memandang sebelah mata pada kaum perempuan. (hlm. 83)
  8. Masa belum berangkat saja sudah menyerah? (hlm. 88)
  9. Kalau alasannya memang penting, kenapa tidak kau katakana saja? (hlm. 89)
  10. Apanya yang romantis? Kau hanya akan mati tragis kalau asal-asalan mendaki gunung. (hlm. 90)
  11. Masa mudamu sia-sia kalau hanya dipenuhi emosi negatif begitu. (hlm. 91)
  12. Kau tak mau tahu tentang apa pun selain dirimu. Kau egois. (hlm. 92)
  13. Kau cuma melihat dunia dari matamu saja. Apa kau tahu ada banyak kehidupan lain di luar sana yang jauh lebih menyedihkan dan berat daripada sekadar patah hatimu ini? (hlm. 92)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Summit

Penulis                                                 : Peringga Ancala

Penyunting                                         : Anida Nurrahmi

Penerbit                                              : Ice Cube

Terbit                                                    : Mei 2015

Tebal                                                     : 193 hlm.

ISBN                                                      : 978-979-91-0871-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s