[BLOGTOUR] REVIEW Love in Paris + GIVEAWAY

love in parisNggak ada manusia yang berhasil tanpa proses. (hlm. 172)

SHEILA ADEEVA DJAYANTI. Gadis berusia delapan belas tahun ini memang sangat menyukai Paris. Selain bahasanya yang menurutnya seksi untuk diucapkan, di Paris terdapat banyak bangunan klasik Eropa bernilai tinggi dan mengandung nilai historis yang berharga. Selera busana para penduduknya pun amat berkelas.

Menariknya, semakin Sheila besar, ia mulai tak percaya jika Paris adalah kota yang sangat ‘perempuan’ atau romantis. Semua ini karena Sheila banyak mendengar kejadian buruk di ibu kota Prancis ini.

Sheila memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa Paris bukanlah kota romantis. Dari kecil, ia sering mendengar banyak kejadian aneh seputar cinta yang terjadi di kota Paris. Misalnya saka kisah anak sahabat mamanya yang ditinggal nikah oleh tunangannya, tetangganya yang ketahuan menyelingkuhi istrinya, kakak teman sekelasnya yang pernah melihat seorang gadis mati gantung diri di apartemennya karena putus dengan sang pacar, dan pamannya seorang calon mempelai laki-laki, tewas dalam tabrakan mobil di pusat kota Paris. Jadi, hilang sudah citra romantisme Paris dalam kehidupan Sheila.

Sebenarnya peristiwa-peristiwa sejenis itu bisa saja terjadi di setiap kota di dunia ini. Sayangnya, dalam kehidupan Sheila, kejadian buruk yang dialami kenalannya kebetulan terjadi di kota Paris. Kalau bukan karena bahasa, budaya, dan fashion-nya, Sheila tak akan menginjakkan kaki di Paris lagi. Tapi, tiga hal itu saja sudah cukup menjadi alasan bagi Sheila untuk memilih Paris sebagai tempatnya menuntut ilmu. Alasan selanjutnya tentu Paris cukup jauh dari Jakarta, sehingga Sheila berharap bisa mengambil sedikit jarak dari keluarganya supaya bisa mandiri.

Selama di Jakarta, Sheila selalu jadi emas anak kesayangan keluarganya. Bukannya tidak menyenangkan, tapi terkadang Sheila juga merasa agak terkekang. Kuliah di Paris ini bisa jadi salah satu jalan keluar baginya untuk merasa sedikit bebas.

Di BAB pembuka, terutama halaman 1-6, sangat terlihat sekali jika semua keluarganya, tidak hanya papa mama dan juga kakaknya, tapi juga beberapa saudaranya ikut mengantarkan keberangkatannya ke bandara untuk Paris. Baca adegan ini jadi keinget zaman pertama kali mau merantau kuliah, banyak saudara yang mengantarkan, mereka mencemaskan bahwa anak tipe seperti saya ini apakah bisa hidup mandiri di pulau seberang, ternyata eh ternyata, saya yang anak desa ini mending banget mandirinya dibandingkan teman-teman sekosan yang rata-rata anak Jabodetabek, bahkan ada yang nggak bisa masak mie instan karena di rumahnya satu anak memiliki satu pengasuh, orangtuanya saking kayanya, jadi begitu memasuki tahun kedua, dia pindah kosan ke kontrakan yang bisa bawa pembantu. Wkwkwk…ada banget loh di kejadian nyata kayak gini… x))

“Kalau kamu ke Paris, kita LDR empat tahun dan aku nggak mau. Kalau kamu kuliah di sini, kan kita bisa pakai waktu empat tahun itu sebagai ajang untuk lebih deket.”

“Kamu cari alasan saja. Sekarang kan zaman udah canggih. Ada Skype, kan? Kita bisa nge-Skype tiap hari.”

“Kalau kamu ngomong soal mimpi, aku juga punya mimpi.”

“Aku nggak minta kamu nyamperin aku, Sony. Kita bisa LDR-an.”

“Aku udah bilang berkali-kali, aku nggak bisa LDR-an. Rasanya bakal beda sama ketemuan langsung.”

“Aku juga udah ngomong berkali-kali kalau aku mau kuliah di Paris.”

“Kayaknya kita nemuin jalan buntu. Mencari jalan keluar dari jalan buntu itu cuma buang-buang waktu. Lebih gampang kalau kita keluar lagi dari jalan itu dan mencari jalan yang baru. Kamu ngerti maksudku kan, Sheil? Kita harus realistis! ”

“Realistis?”

“Lagipula, pendidikan dokter itu panjang. Habis kuliah, aku juga harus koas dan buka izin praktik. Belum lagi kalau aku mau ngambil spesialis. Jadi, kalau kamu masih mau ingin nikah muda, mungkin nggak sama aku.”

“Sony? Kamu ngomong apa?”

“Kita putus aja.” (hlm. 18-20)

Menjalani hidup di negeri orang, masalah yang dihadapi bukan karena harus tinggal di lingkungan baru. Meski dia susah bergaul di kampus, tapi dia hidup di apartemen. Untuk ukuran mahasiswa, hidup di apartemen termasuk golongan menengah ke atas, apalagi kuliahnya di luar negeri. Ya, urusan finasial nggak jadi masalah dalam hidup Sheila karena papa mamanya mampu memberinya materi lebih dari cukup. Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, masalah hubungan asmaralah yang menjadi hal yang mengganjal dalam hidupnya, apalagi kuliah di luar negeri, LDR akan menjadi masalah yang nggak akan habis dibahas.

“Ngejalanin gaya hidup kayak sekarang aja udah membuat aku ngerasa kurang ngejar target. Apalagi kalau waktu kerja dipotong lagi sama hal-hal nggak penting kayak wudhu, shalat, nyari makanan halal, terus nggak boleh minum wine, cuci mata…” (hlm. 98)

Ketika tinggal di Paris, meski sering stalking akun instagram Sony, sang mantan, Sheila berusaha mencoba hidupnya yang baru di Paris. Salah satunya adalah bergaul dengan Leon. Sayangnya, kini Leon menjadi pribadi yang jauh berbeda dengan Leon yang dikenalnya saat satu sekolah dengan kakaknya saat di Indonesia. Leon yang dulu bertransformasi menjadi pemuda di negara modern pada umumnya; pergaulan bebas dan lupa dengan segala hal ritual yang berbau agama.

“Kenapa Engkau membolak-balik perasaanku kepada Kak Leon? Sebentar-sebentar kepercayaan dan keimanannya bisa dipegang, ia memberikan perubahan yang baik. Namun mengapa sebentar-sebentar ia mengajukan perdebatan tentang agama yang sulit untuk dipahami? Mungkin ini saat bagiku untuk menata iman dan masa depanku sendiri. Mungkin setelah aku yakin dan berhasil mencapai apa yang aku inginkan, barulah pasangan hidup yang siap menjadi imanku akan datang menjemput.” (hlm. 196)

Dibandingkan dengan tiga novel di serial Around the World With Love yang telah dibaca sebelumnya, novel ini temanya paling ringan. Tapi justru paling banyak melanda masyarakat kita, remaja pada umumnya. Ya, kalau dulu nggak puasa di bulan Ramadhan rasanya malu banget. Pas saya kuliah agak kaget juga ternyata lumayan banyak warung makan yang buka, padahal setahu saya mereka yang makan adalah muslim. Apalagi di Prancis, salah satu negara modern. Ada yang namanya laique di sistem pendidikan Prancis. Semua siswa di sekolah umum nggak boleh pakai atribut keagamaan. Nggak hanya jilbab, kalung salib atau atribut agama lain juga nggak boleh. Hal ini juga pernah dibahas dalam novel Segenggam Daun di Tepi Sungai La Seine.

“Bagaimana menjadi imam yang baik? Kasih aku waktu, Sheila. Kasih aku waktu untuk memahami.”

“Memahami apa?”

“Memahami cara mengimami cinta.” (hlm. 166)

Sedangkan Leon adalah representasi pemuda di era modern. Mapan dan karir cemerlang, tapi krisis iman. Pesan moral di buku ini adalah bahwa seseorang berubah menjadi lebih butuh proses, tidak bisa instan dan harus dari hati. Karena berubah karena orang lain nggak akan begitu berpengaruh pada hidup seseorang. Berubah karena keyakinan hati tentu lebih memantapkan diri untuk menuju ke jalan yang lebih baik.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Untuk membuat dirinya cantik, cewek terkadang harus mengeluarkan banyak usaha dan waktu yang panjang. Di sinilah cowok hadir untuk membantunya. (hlm. 62)
  2. Kota yang dibangun dengan keteraturan akan menghasilkan pemandangan yang indah. (hlm. 65)
  3. Aku dan dia punya hak atas mimpi pribadi masing-masing. (hlm. 68)
  4. Memang sih, menikah juga bisa cerai, tapi setidaknya menikah itu kan menghindari zina, juga jadi sumber ibadah. (hlm. 69)
  5. Kalau kita nggak jadiin semua itu sebagai beban, kita juga enjoy ngejalaninnya. (hlm. 97)
  6. Allah itu selalu nolong kita. Jadi, bersyukur saja melalui ibadah. (hlm. 157)
  7. Tunjukkan rasa syukur dengan berbagi. (hlm. 161)
  8. Cinta? Perasaan itu diberikan Allah untuk manusia. Allah berikan hati untuk merasakannya. Allah berikan otak untuk mengendalikannya. Allah berikan iman untuk mengarahkannya ke jalan yang benar. (hlm. 165)
  9. Cinta tak mengenal perbedaan. (hlm. 195)

Ada juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Teknologi itu diciptakan untuk mempermudah hidup orang lain, kan? Bukannya membuat orang jadi tambah susah atau tambah sesat. (hlm. 118)
  2. Harus punya harga diri. Harga diri untuk menunjukkan bahwa kita sudah dewasa, tak membebani orang lain. (hlm. 123)
  3. Cuma diomongin kata-kata yang sebenarnya juga nggak pedas-pedas amat, udah putus asa nemenin tuh orang ke jalan yang benar. (hlm. 179)
  4. Udah rajin ibadah tapi mabuk juga. Sama aja boong. (hlm. 179)
  5. Orang salah itu bukan orang yang melakukan kesalahan, tapi orang yang sudah tahu itu salah, tapi masih juga dilakukan. (hlm. 181)
  6. Janjia adalah utang. Apalagi janji kepada orang yang begitu kita cintai. Janji jenis ini tak sekedar utang. Ia sama pentingnya dengan nyawa. (hlm. 206)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love in Paris

Penulis                                 : Silvarani

Editor                                    : Donna Widjajanto

Desain sampul                   : Orkha Creative

Desain isi                             : Nur Wulan

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 207 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2661-0

blogtour around the world series

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs dan @silvarani. Jangan lupa share dengan hestek #GALoveInParis dan mention via twitter.

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Giveaway kali ini tidak menjawab pertanyaan, tapi buat photo quotes dari novel #GALoveInParis ini. Setiap peserta membuat satu photo quotes atau boleh lebih dari satu, jadi jumlah photo quotes yang diikutkan tidak dibatasi ya. Kalimat yang diambil bisa dari kalimat favorit atau kalimat sindiran yang saya tulis di review ini ya.

5. Upload photos quotes via twitter dengan format: #GALoveInParis @lucktygs @silvarani twitpic photo quotes

6. Di kolom komentar di bawah ini, tuliskan nama, akun twitter, dan kota tinggal, dan link twitpic yang sudah diupload dari twitter agar mudah dalam pendataan peserta.

7. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek #GALoveInParis yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

#GALoveInParis ini berlangsung tujuh hari saja: 25-31 Maret 2016. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 April 2016.

Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penerbitnya yaaaa… ;) Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

-@lucktygs-

1Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-102497/love-in-paris.html

Pengumuman Pemenang Giveaway Love in Paris

Terima kasih buat semua peserta yang ikutan giveaway ini, ada 90 photo quotes yang masuk, dan aku arsipkan di album facebook. Bisa di cek LINK INI:

Pemenang giveaway kali ini adalah:

paris 1 paris 2 paris 3

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang GIVEAWAY Love in Paris. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penerbitnya ya.

Terima kasih buat Mbak Silvarani yang telah mengajak kerjasama untuk pertama kalinya, sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya. Semoga sukses selalu dengan karya-karyanya… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

@lucktygs

31 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Love in Paris + GIVEAWAY

  1. Nama: Annisa Hanako Nurfarah Cahyani
    Akun twitter: @AnnisaHanako
    Kota tinggal: Kampar, Riau
    Link twiwpic:

    Wish me luck ^^

  2. Nama: Famia Kamilia
    Twitter: @amifamia
    Kota tinggal: Bangkalan, Madura
    Link tweetpic:
    pic.twitter.com/KhksYwmQwM
    pic.twitter.com/YmHmo3Oe6H
    pic.twitter.com/P4T6bsiHr8
    pic.twitter.com/BHWxlT4HVM
    pic.twitter.com/FT2SlMV9k7
    pic.twitter.com/u4EfcxYwni
    pic.twitter.com/JOY3yqecJD
    pic.twitter.com/XEP8ggl6U8
    pic.twitter.com/1UADX61J5j
    pic.twitter.com/MGaISVpssK

  3. Nama : Miftahur Rizqi
    Twitter : @MR_Laros
    Kota Tinggal : Banyuwangi, Jawa Timur
    Link Twitpic :

  4. Nama: Amilatun Sakinah
    Twitter: @amilatunS
    Domisili: Yogyakarta
    Link:

  5. nama: Visca Apriliyanti
    twitter: @Visca_Apr
    kota: Belinyu
    link pict:

  6. nama : Aziza Avita
    twitter : @avitasari
    kota : salatiga

    link :
    1 : pic.twitter.com/B1NDvgJGcf
    2 : pic.twitter.com/wLN2kk5rx8
    3 : pic.twitter.com/jvy7Y4n9QX
    4 : pic.twitter.com/o10lXX8L15

  7. Nama : dera devalina
    Akun twitter : @deradevalina
    Kota Tinggal : Belinyu, Bangka

  8. Nama: Husnul Aini
    Akun twitter: @azadinda
    Kota tinggal: Mataram, Lombok
    Link twiwpic:

  9. Pingback: [Baca Bareng] REVIEW Love in London | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s