REVIEW Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

WP_20150724_048

Kau  harus jadi tokoh utama dalam hidupmu, jangan sampai cuma jadi figuran atau pelengkap. Di mana pun, kapan pun, kau harus jadi penting. Ingat itu. (hlm. 130)

Ini adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Bernard Batubara. Sebelumnya ada Milana dan Surat untuk Ruth. Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri terdiri dari 15 cerpen dengan berbagai rasa dan aroma.

HAMIDAH TAK BOLEH KELUAR RUMAH

Hamidah berbohong kepada dirinya sendiri. Sebenarnya, ia menyimpan hati kepada seorang lelaki. Namun, Hamidah tak bisa berharap banyak, sebab dengan rupa seperti itu, manalah ada lelaki yang mau menyukainya. Jangankan menyukai, hanya melihat dirinya pun orang-orang langsung membalikkan badan. (hlm. 7)

NYANYIAN KUNTILANAK

Maka aku mulai mencaro-cari siasat. Kugoyangkan daun-daun. Ia hanya menganggap daun-daun itu tertiup oleh kesiur angin. Kupatahkan ranting-ranting. Ia mengira ranting-ranting itu terlalu kurus dan rapuh sehingga layaklah mereka jatuh. Kekacaukan semak-semak. Ia berpikir belukan itu hanya sedang tersenggol oleh kelinci atau ayam hutan. (hlm. 16)

SEORANG PEREMPUAN DI LOFTUS ROAD

Kami, para perempuan yang telah mati sebagai manusia dan tetap hidup sebagai pohon, memiliki cinta yang tak akan mampu diukur oleh lelaki mana pun di dunia. Kami menunggu, bahkan setelah tahu bahwa seseorang yang kami tunggu takkan pernah datang. Aku sendiri menunggu lelaki itu, bahkan ketika tahu bahwa lelaki itu kini telah menikah dengan seorang perempuan dan memiliki anak perempuan yang lucu, mirip sekali istrinya. (hlm. 27)

HUJAN SUDAH BERHENTI

Mama tak pernah tahu bahwa aku bisa berbicara kepada hujan. Percakapan kami memang tidak menggunakan bahasa manusia. Bahasaku dan bahasa hujan sungguh berbeda. Aku tak bisa bicara kepadanya menggunakan bahasaku dan dia tak bisa bercerita kepadaku memakai bahasanya. Maka, kami bersepakat untuk menciptakan bahasa baru. Bahasa yang hanya dipahmai oleh kami berdua. Awan hitam adalah temanku yang lain. Dia yang selalu mengantarkan hujan kepadaku. Namun, dia tidak pernah mengantarkan Papa. (hlm. 43)

BAYI DI TEPI SUNGAI ARE

Di salah satu sudut tepi tubuh Sungai Kayu Are, terpancang tegak batang pohon Are. Sebenarnya, pohon itu pun tak lagi tampak seperti sebatang pohon. Tak ada daun atau ranting yang banyak dengan cabang-cabangnya pada tubuh pohon itu. Yang tersisa pada tubuh pohon tersebut hanyalah kaki-kakinya menancap di tanah dasar sungai dan perut juga dada lebar yang tak terasa kukuh lagi. Seumpanya pohon are itu menjelma manusia, ia akan menjadi manusia tua yang gemuk dan tanpa kepala. Dan, jika ia adalah manusia, mungkin pohon Are telah berusia tak kurang dari seratus tahun. (hlm. 57)

SERIBU MATAHARI UNTUK ARIYANI

Aku duduk di pinggir trotoar depan sekolah. Aku menggambar. Aku duduk menggambar setiap sore. Aku menggambar sendirian. Tidak ada yang menemani aku. Aku tidak punya teman. Aku punya pensil dan penghapus. Aku punya spidol dan penggaris. Aku punya krayon dan buku gambar. Aku punya buku catatan dan kertas-kertas. Aku punya bujur sangkar. Aku tidak punya teman. (hlm. 81)

LANGKAHAN

Lina, adik bungsunya itu akan dilamar oleh Roni, seorang pilot, sang kekasih yang baru sekitar empat bulan menjalin hubungan dengannya. Mariani, bukannya tak bahagia mendengar kabar itu, hanya saja ada sesuatu di dalam hatinya yang menginginkan agar Lina menunda rencana tersebut. Setidaknya, sampai ia bisa mencari penyangkalan yang tepat untuk pertanyaan yang keluarganya tujukan, dan sebenarnya juga, ia hujamkan kepada dirinya sendiri; kapan ia menikah? (hlm. 101)

MERIAM BERANAK

Purnama kedua telah terbentuk sempurna di atas sana. Perempuan janda beranak satu itu tengah bersenandung sendirian di atas papan di pinggir sungai tempat ia biasa mandi. Tentu saja, senandungnya hanya terlantun di dalam dada. Menyatu bersama kesunyian gelombang kecil Sungai Kapuas dan kepak sayap burung-burung di udara. (hlm. 120)

LUKISAN NYAI ONTOSOROH

Jika ayah tak memaksaku membaca buku-buku Pram, mungkin aku tak akan menyadari bahwa lukisan yang dibawa dan dipasang Ibu di ruang tamu sore ini adalah potret wajah seseorang yang, anehnya, tepat seperti bayanganku atasnya. Potret wajah ituseperti bayanganku saat membaca deskripsi Pram lewat mata Minke tentang tokoh tersebut dalam Tetralogi Baru; Nyai Ontosoroh. (hlm. 127)

BAYANG-BAYANG MASA LALU

Lalu, tak sampai semenit, tubuh kurus di hadapan Ainun itu bercampur dengan nyala api. Warga desa membakarnya. Oh, betapa! Betapa amarah massa begitu menjadi raja, bahkan di atas keadilan itu sendiri. Tak ada keadilan, Ainun meraung dalam hatinya, tak ada keadilan bagi orang yang lemah dan tak mampu bersuara. (hlm. 153)

ORANG YANG PALING MENCINTAIMU

Tahukah engkau apa yang yang kusuka dari Miranda? Ia orangnya begitu bersih dan rajin membakar sampah, seperti Ibu. Seminggu sekali atau dua kali Miranda membakar sampah di halaman belakang rumah. Aku membantunya memungut daun-daun kering dan mengumpulkan sampah-sampah lain. Miranda tersenyum kepadanya, lalu membakar tumpukan sampah itu. Aku senang sekali kala aku tahu Miranda senang dengan perbuatanku. Senyuman itulah buktinya. (hlm. 162)

NCYTOPHILIA

Nyctophilia. Katanya, kau menemukan rasa kenyamanan dalam kegelapan. Bahkan kau mencintai kegelapan. Aku tak tahu ada istilah untuk itu. Aku memang lebih menyukai malam hari daripada siang atau pagi karena pada waktu-waktu itu aku masih mengantuk dan tak ingin melakukan apa-apa. Kalaupun itu kelainan, tak akan mengubah apa pun cintaku kepadamu. (hlm. 188)

BULU MATA SEORANG PEREMPUAN

Rumah indekosnya tak seberapa jauh dari rumah indekos perempuan itu. Hanya sekitar lima belas menit naik motor. Sejak pertemuan pertama dan perkenalan mereka dua bulan lalu di perpustakaan kota, ia dan perempuan itu menjalin komunikasi. Tidak begitu intens. Hanya saat ia hendak meminjam atau mengembalikan buku, atau mengajak perempuan itu makan siang. Kadang, ia juga mengajak perempuan itu keluar makan pada jam-jam dini hari seperti ini. (hlm. 200)

MENJELANG KEMATIAN MUSTAFA

Mustafa bin Meksum kembali melemparkan pandangan ke arah laut. Ia tak menyangka kematiannya akan datang secepat itu. Ia memang sudah berhenti membunuh orang dan berniat untuk pensiun dan menjalankan kehidupan sebagaimana manusia normal, tetapi bukan berarti ia sudah siap untuk menyambut malaikat maut. Ia masih ingin mengendarai mobilnya sendiri mengelilingi kota dan bermain golf dan membaca banyak novel. (hlm. 224)

JATUH CINTA ADALAH CARA TERBAIK UNTUK BUNUH DIRI

Aku terpesona pada cara gadis asing itu membuka laptop dan bloknotnya. Sambil mengetik di laptop, ia membuka sebuah novel, seperti mencatat sesuatu dari novel di laptopnya. Mungkin menulis sebuah ulasan, atau hal lain. Aku tidak tahu. Aku terpesona pada caranya membolak-balik halaman novel itu. Aku terpesona pada caranya mengetik, pada caranya bergerak sedikit-sedikit saat mengganti posisi duduknya. Aku terpesona pada caranya membenarkan letak kacamat. (hlm. 257)

Kesekian kalinya membaca tulisan Bernard Batubara, dan sejujurnya saya selalu lebih menyukai tulisannya lewat cerpen ketimbang novel. Seperti dalam kumcer MILANA, di kumcer ini kita akan disuguhkan belasan cerpen yang rata-rata memang absurd, mulai dari perempuan berwajah buruk rupa, janda bisu, bahkan kuntilanak pun terjabarkan dalam buku ini. Pesan moral buku ini adalah cinta tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Cinta juga bisa mewujud apa pun. Cinta bisa abadi. Cinta juga bisa berubah menjadi benci hanya dalam hitungan waktu. Cinta juga menyelamatkan keadaan.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tak perlu cantik untuk hidup dengan baik. (hlm. 5)
  2. Perkara cinta. Mana bisa aku mengatur hati ini jatuh cinta kepada siapa. (hlm. 19)
  3. Begitulah cinta. Cinta itu terus menunggu. (hlm. 31)
  4. Seburuk apa pun nasih menimpamu, harapan tak pernah lenyap. (hlm. 44)
  5. Jodoh di tangan Tuhan. (hlm. 105)
  6. Rindu tidak selamanya mampu diucapkan. (hlm. 193)
  7. Kau tak akan pernah tahu sebelum mencoba. (hlm. 278)
  8. Kau bisa jatuh cinta kepada orang yang sangat berbeda darimu, bukan? (hlm. 286)
  9. Jatuh cinta bukan perkara memilih, bukan? (hlm. 286)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kita semua menungggu, dan terus menunggu. Hingga kita mejadi semakin tua dan tak mampu lagi menahan harapan, lalu mati ditebang atau terkubur dalam penantian. (hlm. 30)
  2. Jangankan memahami bahasa pohon-pohon, memahami bahasa perempuan saja mereka tak pernah bisa. Para lelaki itu. (hlm. 30)
  3. Kehidupan rumah tangga itu rumit. (hlm. 36)
  4. Bahwa sebuah kadang tak pernah cukup bagi seorang perempuan. (hlm. 40)
  5. Hukuman tak bisa menahan rasa tak puas. (hlm. 60)
  6. Keadilan macam apa rupanya dengan beramai-ramai menghakimi seorang lelaki tak berdaya tanpa sebuah pembuktian? (hlm. 151)
  7. Tak ada keadilan bagi perbuatan tak senonoh! (hlm. 154)
  8. Hanya orang yang paling mencintaimu, yang mampu membunuhmu. (hlm. 174)
  9. Kau tahu, setelah disisihkan dari orang-orang terkasihmu dan dibuang dari kehidupan, kau tak akan mudah percaya dengan apa pun lagi atau siapa pun. (hlm. 177)
  10. Dunia ini penuh orang-orang aneh. (hlm. 185)
  11. Kapankah cinta tidak membuatmu gila? (hlm. 186)
  12. Jika kau belum gila karena cinta, kau masih memberi hatim dengan setengah-setengah. (hlm. 186)
  13. Negara akan melakukan apa pun untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap kasus-kasus dan isu yang lebih penting. (hlm. 203)
  14. Bagaimana rasanya menghabiskan masa tua sendirian? (hlm. 219)
  15. Hidup pada akhirnya akan menyisakan ruang yang hanya muat untuk dirimu sendiri. (hlm. 219)
  16. Pacar lebih merepotkan ketimbang senjata. (hlm. 224)
  17. Kalau hidupmu sudah kelewat rusak dan tak bisa diapa-apakan lagi, kau tidak akan bisa bercanda sekalipun sampai kau mati. (hlm. 242)
  18. Orang-orang tidak memperhatikan apa yang tidak ingin mereka perhatikan. (hlm. 266)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Penulis                                 : Bernard Batubara

Editor                                    : Ayuning & Gita Romadhona

Penyelaras aksara            : Widyawati Oktavia

Desainer sampul              : Levina Lesmana

Penata letak                       : Erina Puspitasari

Penyelaras tata letak      : Landi A. Handwiko

Ilsutrator sampul & isi    : Ida Bagus Gede Wiraga

Penerbit                              : GagasMedia

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-88623/jatuh-cinta-adalah-cara-terbaik-untuk-bunuh-diri.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s