[BLOGTOUR] REVIEW Come Back to Me

WP_20160325_008

Semua orang punya seseorang yang sulit dilupakan. (hlm. 363)

Tahun lalu, SENNA merasa tidak bisa diam di rumah tanpa melakukan sesuatu. Dia pun mulai bisa membuat cookies, hobinya sejak kecil. Awalnya Senna sendiri tak terlalu yakin akan berhasil. Tapi setelah berkali-kali mencoba, mama yang bertindak sebagai tester mengatakan cookiesnya enak sekali. Senna pun mulai menjualnya. Awalnya hanya dititipkan di rumah makan tempat mama kerja, sayang oenjualannya tidak begitu bagus. Karena tidak ada orang yang tertarik membeli cookies di rumah makan masakan jawa. Senna tak patah semangat dan mencoba menghubungi kafe-kafe dan toko kue. Beberapa akhirnya tertarik mencoba cookies bauatan Senna. Kafe Bittersweet miliki Bu Mira adalah pelanggannya yang paling setia. Lokasinya yang tak jauh dari rumah juga membuat Mira bisa mengantar cookiesnya sendiri ke sana, setiap hari Jumat.

Kecintaan CED pada furniture kadang membuat Malik berdecak heran. Ced mengabaikan statusnya sebagai sarjana ekonomi, melepas kemewahan dan fasilitas dari keluarganya yang berada, lalu membuka carpentry studio kecil dengan uang simpanannya sendiri. Bersama Paman Widi, guru sekaligus pendukung terbesarnya, Ced memulai ide gila carpentry studio ini. Perlahan Malik dan Tanu ikut bergabung, membagi mimpi bersama untuk mendirikan toko furnitur besar nantinya. Bagi Malik, ide itu sedikit gila. Dia tahu persis bagaimana ayah Ced menentang mimpi Ced itu. Dia juga menjadi saksi bagaimana Ced menghabiskan seluruh tabungannya untuk studio kecil ini, meninggalkan fasilitas di rumahnya dan tidur dengan kasur kempes dari Paman Widi di studio itu. Padahal dengan apa yang dimilikinya, Ced bisa hidup dengan mudah. Bahkan Ced bisa saja jadi selebriti atau model jika dia mau, dengan wajah tampan, kulit putih, dan tubuhnya yang tinggi tegap itu. Namun, sahabatnya itu memilih membiarkan tangannya terluka dan tubuhnya bau keringat di studio kecil ini.

 “Kamu lihat sekarang? Nyatanya kamu bisa naklukin kayu itu juga. Sekarang kamu bisa bikin meja, kursi, rak, apa pun dari kayu itu. Jadi untuk Senna, kenapa kamu nggak bersikap sama? Jangan nyerah. Hati Senna mungkin sekeras kayu. Tapi kamu kan tukang kayu, jadi apa masalahnya?” (hlm. 247)

Setiap Senin dan Jumat, Ced akan berjalan ke rumah Senna, lalu mengantarnya sampai ke Bittersweet. Tak jarang Ced sengaja berjalan sampai rumah Senna, memergoki gadis itu menyirami taman dan membantunya. Sesi menyiram juga akan berlanjut dengan bincang-bincang ringan di teras, sambil menyantap cookies atau kue lain buatan Senna.

Mereka tak kehabisan obrolan. Mereka bicara tentang hal kesukaan mereka. Ced dan furniturnya. Senna dan cookiesnya. Sejujurnya, Senna tak banyak tahu tentang kayu maupun furnitur. Begitu pun Ced yang buta soal baking. Tapi mereka terus mendengarkan satu sama lain dengan seksama. Terus tertarik untuk tahu lebih banyak. Seakan mengetahui hal-hal yang disukai adalah salah satu cara untuk saling mengenal lebih jauh.

Senna mulai tahu hal-hal kecil tentang Ced. Seperti Ced yang suka cokelat, Ced yang minum kopi setiap malam, Ced yang menyukai warna alami kayu. Ced juga semakin memahami Senna. Senna yang suka buah stroberi, Senna yang suka musik akustik, Senna yang pernah bercita-cita menjadi balerina, Senna yang menyukai warna merah jambu walaupun tak bisa lagi menikmatinya. Semakin mengenal semakin pula mereka menyadari bahwa mereka sama-sama tak sempurna. Ced yang sulit mengungkapkan isi hatinya. Senna yang keras hati. Ced yang mudah tersulut emosinya. Senna yang terlalu mudah sakit hati. Namun semua kelemahan itu tak mengurangi kekaguman mereka. Bagi mereka, kelemahan itu terlihat seperti sisi manis.

“Di depanku, kamu boleh nunjukin semua kelemahanmu. Di depanku, kamu boleh nunjukkin sisi terburukmu. Di depanku, kamu boleh jadi dirimu yang mana aja. Aku nggak akan pergi karena itu. Aku nggak akan benci kamu karena itu. Aku akan tetap di sini, menerima kamu. Jadi, di sampingku, kamu boleh jadi cengeng. Kamu bisa nangis sepuasnya. Aku akan terus di sini.” (hlm. 280)

Senna dan Ced sama-sama memiliki kekurangan. Senna yang tidak bisa melihat dunia, termasuk tidak bisa melihat Ced. Sedangkan Ced yang dingin dan terkesan anti sosial, lebih senang bergumul dengan kayu dibandingkan bersosialisasi dengan orang lain. Tapi mereka sama-sama punya mimpi. Senna sangat menyukai cookies, sedangkan sangat menyukai segala hal beraoma kayu. Dua hal ini merupakan salah satu kelebihan buku ini, mengulas sesuatu yang baru; dunia baking dari sisi Senna, dan dunia kayu dari sisi Ced. Untuk dunia baking memang sering diulas dalam sebuah novel, tapi untuk dunia kayu, saya baru kali ini membacanya dalam sebuah novel. Kita akan mendapatkan pengetahuan seputaran kayu lewat dunia yang digeluti Ced.

Salah satu kesamaan mereka lainnya adalah memiliki ayah yang menyayangi mereka meski cara yang ditunjukkan mereka berbeda. Senna, yang dulunya sangat terpuruk ketika kehilangan penglihatannya, ada papa yang menyemangatinya meski terkesan tegas, yang menunjukkan padanya bahwa hidup harus berjalan, dan tidak boleh terus-terusan meratapi nasib. Pesan papa yang ditanamkan padanya dia terapkan meski papa sudah tidak ada di sampingnya lagi.

Begitu juga dengan Ced. Meski ayahnya terkesan posesif dan selalu mau mengatur ‘dunia’ Ced, sesungguhnya beliau sangat menyayangi anak tapi lupa akan cita-cita yang dimiliki anaknya itu dianggapnya tidak memberikan masa depan cerah seperti yang ia harapkan dan kelak bisa menggantinya memimpin perusahaan yang beliau miliki. Orangtua terkadang begitu, selalu menganggap yang terbaik bagi anaknya, padahal yang baik menurut buat orang tua, belum tentu sesuai yang diinginkan sang anak. Tak jarang, dalam kehidupan nyata kita bisa melihat banyak anak yang mimpinya tergerus karena keegoisan orangtua. Saya bersyukur memiliki orangtua yang membebaskan anak-anaknya menjadi apa yang mereka inginkan; saya menjadi pustakawan karena menyukai hal beraoma buku, adik laki yang membuka usaha sablon karena menyukai segala hal berbau desain, dan adik perempuan yang kini menempuh pendidikan khusus olahraga karena menyukai hal-hal yang beraroma olahraga, terutama dunia softball. Kami memang aneh, tidak seperti kebanyakan anak lainnya yang memilih sesuatu yang lumrah, tapi bahagia dengan pilihan ini. Bagaimana dengan kamu?😉

WP_20160325_013

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Akan selalu ada orang baik yang nolong. (hlm. 18)
  2. Buat bahagia itu enggak susah kok. Dalam keadaan apa pun seharusnya kita bisa bahagia, karena bahagia itu pilihan. (hlm. 115)
  3. Setiap ngerasain pedih dan marah, tarik napas dan berusaha ingat hal-hal kecil yang kita punya. (hlm. 116)
  4. Bukannya teman memang harus selalu ada kapan pun? (hlm. 117)
  5. Butuh waktu buat mempelajari semuanya. (hlm. 139)
  6. Mungkin belum bisa sebesar yang kamu harapkan. Tapi untuk awal kita memang harus mulai dari kecil, kan? (hlm. 169)
  7. Dibanding bergantung sama orang lain, makin lama kemampuan kita yang sebenarnya bisa tertelan bersama ketergantungan kita. (hlm. 222)
  8. Kita semua manusia. Kamu juga manusia, kan? Wajar kalau manusia ngerasa kecewa. Wajar kalau manusia sedikit egois. Semuanya wajar, enggak ada yang salah dengan itu. Selama kamu bisa ngelawan semua itu dengan tindakan, kamu masih menjadi pemenangnya. (hlm. 279)
  9. Rasanya pasti sulit, kan? Melepas impian kamu buat orang lain? (hlm. 290)
  10. Kadang ada yang lebih berharga dari impian kita. Kebahagiaan orang itu, lebih berharga dari ambisi kita. (hlm. 294)
  11. Jika aku bisa lebih bahagia, itu karena kamu. (hlm. 337)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan terlalu memaksakan diri. (hlm. 28)
  2. Kamu masa kecil kurang bahagia apa bagaimana, kurang kerjaan banget. Biasanya juga kamu ngurung diri di kamar kalau hujan. (hlm. 75)
  3. Selera orang bisa berubah. (hlm. 86)
  4. Yang jelas aku nggak pernah main-main sama siapa pun. (hlm. 142)
  5. Kamu harus realistis. (hlm. 143)
  6. Tolong berhenti mengekang. (hlm. 298)
  7. Rasa cinta bisa juga terasa menyakitkan. Bahwa hal yang kita lakukan karena cinta, bisa juga menyakiti hati orang yang kita sayang. (hlm. 307)
  8. Sebesar apa pun cinta, waktu akan mengikisnya perlahan. (hlm. 333)
  9. Apa semudah itu melepaskan seseorang yang pernah berharga buat kamu? (hlm. 343)

Keterangan  Buku:

Judul                                     : Come Back to Me

Penulis                                 : Arini Putri

Editor                                    : Tharien Indri

Desaigner sampul            : Dwi Anissa Anindhika

Penata letak                       : Gita Mariana

Ilustrasi isi                           : Maillor

Penerbit                              : Twigora

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 378 hlm.

ISBN                                      : 978-602-70362-5-3

Photo challenge kali ini adalah host berpose sesedih mungkin, disertai caption KAPAN PULANG? AKU RINDU—Come Back To Me, Arini Putri. Nah, minggu ini momennya pas banget. Sabtu lalu mantan menikah, jadilah ini muka sedihnya beneran… x)) #PukPukDiriSendiri

me 1

Mau juga buku ini? Tunggu giveawaynya di postingan berikutnya yaa…😉

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-101197/come-back-to-me.html

24 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Come Back to Me

  1. Pingback: [BLOGTOUR] Giveaway Come Back to Me | Luckty Si Pustakawin

  2. Masya Allah, sweet banget sih mereka berdua❤ , Banyak kekurangan tp saling melengkapi gitoh. Iya emang, untuk menggapai mimpi memang harus ada yg dikorbanin, contohnya si Ced ini. Hueeeee baperrrr~

  3. Mereka berdua kelihatan klop. Sama, Mbak Luckty, ini pertama kalinya aku tahu ada novel yg bahas ttg kayu. Nggak nyangka bakal ada yang bahas itu😆

  4. Saya lagi lagi fokus ke photo challenge – nya apalah daya diri ini 😂
    Pertama baca review soal novel ini, belum kenalan langsung saya merasa sudah naksir berat ke dua karakter yang dipasang dalam Come Back To Me. Di mana sebuah kekurangan saling bertemu, kita tidak akan tau kelebihan macam apa yang disiapkan takdir.

  5. Cinta yang sama-sama membutuhkan, ditengah kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling berkorban demi kebahagiaan orang yang disayangi. Cinta yang dewasa dan saling melengkapi. How sweet this

    Cinta yang tulus itu tanpa alasan, seperti cinta Ced pada Senna dan cinta Senna pada Ced. Aku suka perasaan mereka yang alami apa adanya, seperti covernya. Lewat cover, kayu, bunga dan tagline, mereka semua seolah menggambarkan betapa besar cinta Ced & Senna. Kisah mereka menyentuh hati sekali.

    Come Back To Me bikin aku baper cuma liat reviewnya aja.

  6. Sebenarnya inti cerita Ced dan Senna adalah meraih mimpi dan kisah cinta yang sederhana.

    Mereka berdua punya mimpi yang ingin sekali dicapai. Ced yang terhalang ambisi besar ayahnya yang selalu mengatur segala kehidupannya. Sedangkan Senna yang dahulunya sudah bisa menerima kekurangan pada dirinya kini merasa ia harus mewujudkan apa yang sebenarnya ia impikan. Bagaimana perasaan cinta dan impian yang sangat kecil dari seorang gadis buta yang menginginkan melihat dunia, memandang orang yang dicintainya tiap kali mereka berada disisinya. Tema yang sederhana ini makin menarik saat dibumbui kisah cinta diam-diam yang dialami Ced dan Senna. Kisah cinta mereka tidak diungkap secara eksplisit, tapi mampu memikat dengan ungkapan dan interaksinya.

    Arini sukses besar menyatukan dua karakter yang berbeda antara Ced dan Senna.. ^_^

  7. Iiih… Gila! Sumpah ini keren banget!

    Cerita yang sangat manis untuk dibaca, serta kedua tokoh utama yang sangat memikat dengan segala kekurangan mereka membuatku ingin segera membaca novel ini.

    Senna dan Ced memang sangat bertolak belakang dan berbeda, namun mereka berusaha menyatukan perbedaan itu dengan sangat manis dan menyentuh hati.

    Pokoknya keren banget deh. Hihihi …. ^^

  8. Buku pertamanya kak arini, perlu di coba buat di baca ini. biar punya bnyak ilmu buat ngadepin masalah kalo pas sedih sekaligus aku mau belajar menjadi dewasa.
    kita sehati ya kak..

  9. Bakalan seruu ini ceritanya…
    Si tukang kayu bertaruh cintanya dengan pembuat Cookies..
    Ada manis yg terbentuk dr kayu dan Cookies..
    Yuhuuuu…

    Dari baca review di atas, kayaknya #CBTM ini buat baper para pemirsaa BookLovers…

  10. “Di depanku, kamu boleh nunjukin semua kelemahanmu. Di depanku, kamu boleh nunjukkin sisi terburukmu. Di depanku, kamu boleh jadi dirimu yang mana aja. Aku nggak akan pergi karena itu. Aku nggak akan benci kamu karena itu. Aku akan tetap di sini, menerima kamu. Jadi, di sampingku, kamu boleh jadi cengeng. Kamu bisa nangis sepuasnya. Aku akan terus di sini.” (hlm. 280)

    Bilang ini buat aku Ced😀

  11. Baca review disini seperti biasa bisa menemukan bayak quote dan kata2 dari dalem bukunya. Dan seperti biasa juga selalu bikin tertarik karena dari petikan2 quote bisa mengntip sedikit isi buku😀

  12. Rasa penasaran akan buku
    ‘Come back to me’ semakin jadi
    setelah membaca reviewnya
    mba luckty. Ced yang mudah
    tersulut emosinya, Senna yang
    terlalu mudah sakit hati. Wah
    padahal kalau didunia nyata
    2orang yg punya sifat seperti
    ini disatukan menurut saya itu
    gak akan mungkin bisa ,tapi
    kak arini membuat 2 tokoh
    yang benar-benar unik itu
    saling membutuhkan. Huaa
    semakin Semangat buat
    mendapatkannya .

  13. baca kisah Ced & Senna baru dari reviewnya aja sudah suka banget! makin penasaran dengan kisah mereka. dunia Senna yg suka baking cookies dan Ced yg jatuh cinta pd kayu sangat menarik. berharap bgt bisa dapet novel ini dan baca langsung full!😀

  14. Merasa terkesan setelah baca review-nya. Juga merasa malu karena aku belum tau cita-citaku apa, tidak seperti Ced & Senna. Sepertinya aku jatuh cinta sama karakter Ced & Senna, walaupun baru dipaparkan sedikit🙂 .

  15. “Hati Senna mungkin sekeras kayu. Tapi kamu kan tukang kayu, jadi apa masalahnya?” Acikiwiiiiirrrrr _< Ehh btw, mbak luckty belakangan ini foto buku-bukunya sama makanan, ya? Bikin laperrrrr~

  16. “Orangtua terkadang begitu, selalu menganggap yang terbaik bagi anaknya, padahal yang baik menurut buat orang tua, belum tentu sesuai yang diinginkan sang anak..”

    Bener kak, ini sering terjadi. Kadang aku juga denger curhatan temen yang merasa langkahnya terhambat karena nggak ada dukungan dari keluarga. Aku beruntung sih punya orang tua yang support dan demokratis. Gimana kalau kita undang ayahnya Ced sambil ngopi-ngopi? Hehe..
    Semoga Ced dan Senna mampu mewujudkan mimpinya, tetap bersama-sama untuk saling melengkapi

  17. “Tapi mereka terus mendengarkan satu sama lain dengan seksama. Terus tertarik untuk tahu lebih banyak. Seakan mengetahui hal-hal yang disukai adalah salah satu cara untuk saling mengenal lebih jauh.”

    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .

    Apalah ini si Ced kok idaman banget sih! Huhuuuu!

    Apa harus jadi baker dan nyaris ditabrak gerombolan skateboard kayak Senna sebelum ketemu orang kayak Ced ya? *ngimpi*

  18. Kisah Ced mirip sama aku. Punya mimpi tapi terhalangi sama orang tua. Tapi tetap ya, bahagiain orang tua itu penting. Kisah cinta Ced dan Senna yang manis banget karena mereka pasangan yang saling melengkapi dan menerima kekurangan satu sama lain, semakin bikin aku penasaran sama novel ini.

  19. Cookies vs Kayu, Unik nih,tiap tokoh punya passionnya sendiri. Penasaran apa mrk berdua sama2 sukses,atau ada kejutan nyakitin di ending. Dan bener juga,kalau tiap orangtua itu punya caranya sendiri buat melindungi anaknya dari masa depan yg kejam. meskipun kadang nyakitin.:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s