REVIEW Happiness

happiness

Kamu berhak menentukan masa depanmu sendiri. (hlm. 204)

CERIA DANDELIA. Tidak seperti namanya. Ceria malah jarang kelihatan ceria. Ini semua gara-gara Matematika. Ceria tahu, ia tak pernah lagi merasa benar-benar bahagia. Semua yang ada di kepalanya hanya tentang menyesuaikan diri di jurusan Matematika. Mengimbangi Reina bahkan melebihi gadis itu. Belajar lebih keras dari yang pernah dilakukannya selama ini. Merasa bahwa apa yang dilakukannya masih belum cukup dan ia melakukan lebih banyak lagi. Tapi tetap saja tidak ada hasilnya, dan tetap saja ia tidak merasa bahagia.

Ceria ingin merasa bebas seperti saat ia pergi ke Australia untuk studi banding waktu itu. Merasa hatinya lebih lapang dengan tulisan-tulisan di blognya. Merasa semangatnya meletup-letup saat berpikir akan keliling dunia. Merasa begitu benar meski bagi Mama dan Papa itu jelas salah.

“Pariwisata bagus kok, Cher. Sastra Inggris juga. Berani taruhan, kamu bakal sukses di bidang itu.”

“Kenapa nilai Matematika kamu merah, Cheria?”

“Ceria, coba kamu pintar kayak Farhan. Mama ini dosen Matematika, masak anak Mama nilai Matematika di rapornya merah?”

“Kalau kamu mau berpikiran ke depan, Papa sarankan ambil Alam aja. Kalau kamu keburu masuk Sosial, nanti pilihan jurusan untuk kuliah jadi terbatas.”

“Cher, pilih jurusan kelas yang kamu suka aja. Jangan sama-samain kayak Mama, Papa, dan Abang. Kalau kamu nggak suka, nggak usah dipaksa. Nggak usah nyiksa diri kamu sendiri.”

“Masak anak dosen Matematika nggak masuk IPA? Coba kamu lihat Reina. Nilai Matematikanya dari dulu selalu lebih bagus daripada kamu. Kamu sebenarnya bisa, kok. Cuma malas aja.” (hlm. 5-6)

Kisah Ceria ini representasi kehidupan para remaja saat duduk di bangku putih abu-abu. Kegalaun memilih jurusan. Antara jurusan pilihan orangtua atau pilihan hati. Seringkali orangtua memaksakan pilihannya yang terkadang nggak sesuai dengan minat anaknya. Salah satunya ya kayak Mama dan Papa-nya Ceria ini. Bayangkan saja, Ceria selalu didoktrin untuk menyukai Matematika. Hal yang paling menyesakkan adalah selalu dibandingkan dengan teman sekelasnya yang jago Matematika sekaligus tetangga rumahnya. Ada, ada banyak orangtua seperti ini di kehidupan nyata. Dari zaman saya sekolah sampai kerja di sekolah, melihat dengan mata kepala sendiri banyak orangtua yang memaksakan pilihan yang belum tentu sejalan dengan anaknya.

Dulu waktu sekolah, punya teman yang bisa dikatakan sahabat, hidupnya sangat didikte orangtuanya, terutama ibunya. Bayangkan, hanya memakai kacamata saja, pilihan ibunya. Lulus SMA, dia lulus masuk Jurusan Bahasa Inggris, dia memang pintar di bidang ini. Sayangnya, orangtuanya ingin dia masuk Kuliah Kedokteran. Jadi dia disuruh berhenti setahun. Selama setahun itu, dia dibuatkan toko oleh orangtuanya. Sampai beberapa tahun kemudian, dia nggak melanjutkan pendidikan kuliah karena udah enak punya usaha sendiri. Yang nggak habis pikir sampai sekarang adalah ibunya merupakan dosen, tapi kenapa pikirannya sempit ya?!? X))

Di sekolah pun, nggak jarang ada anak yang tertekan akan pilihan orangtuanya jika kuliah kelak. Dua tahun lalu, ada seorang murid yang suka banget naik gunung, pokoknya petualang banget tipenya. Lulus SNMPTN pun Jurusan Kehutanan. Cocok banget, kan? Tapi bapaknya melarang dan menyuruhnya kuliah Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, padahal biayanya lebih mahal karena di swasta. Hanya karena bapaknya melihat tetanngganya yang kuliah di jurusan tersebut sukses, sang bapak ‘memaksa’ anaknya kuliah di jurusan tersebut. Menjelang UN kurang dua minggu, murid ini jatuh sakit, stres karena tertekan oleh pilihan bapaknya. Sampai sekarang saya menyayangkan pilihannya yang mengikuti apa kata bapaknya. Tapi ya mau bagaimana lagi, ridho orangtua tetap yang utama. Sang bapak nggak akan membiayai kuliahnya jika jurusan bukan yang dipilihnya.

Setahun lalu, juga ada seorang murid yang lulus jurusan Fisika lewat jalur SBMPTN. Nggak boleh diambil ama orangtuanya. Berhari-hari nangis sampai matanya sembab. Sang bapak (lagi-lagi) menyuruhnya kuliah yang ‘hanya’ satu tahun alias ambil D1 apoteker, biar nggak usah kuliah lama-lama, biar langsung kerja. Murid beda lagi, ada juga yang hobi banget gambar, udah rela berhenti setahun, ‘tetap’ dipaksa orangtuanya untuk ambil Jurusan PGSD.

Suka geleng-geleng kepala di zaman seperti ini masih banyak orangtua yang berpikirannya sempit. Masih saja ada anggapan yang sukses hanyalah yang menempuh jurusan MIPA. Padahal kenyataannya, yang pintar (pintar banget malah) pas di sekolah dan jago itung-itungan pas sekolah, sepuluh atau lima belas tahun kemudian belum tentu sukses menjadi yang pertama. Karena sesungguhnya yang sukses itu adalah yang mengikuti passion.

Pesan moral dari kisah Ceria ini adalah ikuti kata hatimu. Kalau kita hidup mengikuti kata orang lain, kita akan capek sendiri dan nggak bisa mengembangkan minat apa yang kita punya. Kita akan lelah sendiri hanya demi mendapat pengakuan dari orang lain. Jika kita melakukan sesuatu yang kita minati, rasa lelah nggak akan terasa. Percayalah, saya sudah membuktikan hidup dengan passion itu lebih indah!😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Belajar yang rajin ya, Nak. (hlm. 41)
  2. Belajarnya yang sungguh-sungguh, ya. (hlm. 41)
  3. Karena cinta tidak pernah mau menunjukkan wujudnya. (hlm. 79)
  4. Ini hidup kamu, kamu berhak atas hidup kamu sendiri. (hlm. 107)
  5. Selama semuanya dilakukan dengan hati senang, capek itu nggak ada artinya loh. (hlm. 121)
  6. Ternyata di dunia ini buka hanya soal kebisaan, tapi juga kemauan. (hlm. 136)
  7. Masih banyak hal yang jauh lebih penting daripada status pacaran. (hlm. 177)
  8. Kamu harus berani mengutarakan apa yang kamu inginkan. (hlm. 204)
  9. Yakinkan kalau orangtuamu kalau kamu berani bertanggung jawab atas jalan yang akan kamu pilih untuk menggapai seluruh impianmu. (hlm. 204)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Keliru, kan, berarti belum benar. (hlm. 113)
  2. Apakah kamu berharap selalu dibantu orang lain? (hlm. 169)
  3. Pendeki tidak akan pernah bahagia. (hlm. 186)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Happiness

Penulis                                                 : Fakhrisina Amalia

Penyunting                                         : Rina Fatiha

Perancang sampul                           : Teguh Tri Erdyan

Penata letak                                       : Teguh Tri Erdyan

Penerbit                                              : Ice Cube

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 223 hlm.

ISBN                                                      : 978-979-91-0907-1

2 thoughts on “REVIEW Happiness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s