[BLOGTOUR] REVIEW 17:17 + GIVEAWAY

WP_20160406_002[1]

Hidup memang cuma satu kali, dan mungkin tidak ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Mungkin cuma ada satu kemungkinan dalam hidup kita, berhasil atau tidak. Tapi itu yang bikin kita mau berjuang supaya hidup kita berkesan, kan? (hlm. 173)

Kehidupan di Jakarta kerap identik dengan macet. Ya, masalah terjebak macet menjadi bumbu utama bagi kehidupan para pekerja yang mengadu nasib di kota ini.

Kenapa ketika lulus kuliah saya memilih pulang kampung ketimbang bekerja di kota besar untuk mendapatkan pekerjaan di tempat bergengsi seperti teman-teman lainnya? Karena saya tidak bakal kuat menghadapi macetnya kota. Cukup ngerasain zaman kuliah dan masa-masa PPL yang harus berangkat pulang saja menghabiskan waktu berjam-jam yang otomatis begitu sampai di rumah hanya rasa lelah yang tersisa dan kita tidak bisa mengoptimalkan diri untuk melakukan sesuatu selain bekerja, bekerja dan bekerja.

tua di jakarta

Jika dalam novel Peek a Boo, Love-nya Sofi Meloni merepresentasikan sepasang manusia pekerja bertemu karena sering bersama di TransJakarta, di buku yang ditulis Sheva ini merepresentasikan dua manusia yang awalnya tidak saling kenal, sama-sama mengadu nasib untuk memenuhi panggilan wawancara ketika melamar pekerjaan dan sama-sama melarikan diri dari sesi wawancara tersebut.

Saya jadi ingat, pernah melamar pekerjaan di sekolah swasta yang terkenal di Bandar Lampung. Bisa dipastikan saya berpeluang besar untuk diterima. Bukan PD karena merasa pintar, tapi karena jurusan saya ini memang jarang banget ada. Bisa dipastikan yang melamar sedikit. Jenis pekerjaannya sih sesuai dengan jurusan saat kuliah, tapi yang nggak bikin sreg adalah lokasinya yang lumayan jauh dari rumah. Metro – Bandar Lampung sekitar 2-3 jam, sama halnya Jakarta – Bekasi seperti yang akan dilakoni Sara dalam novel ini. Pilihannya PP tiap hari, yang bisa dipastikan sangat melelahkan. Atau indekos, tapi kalau dipikir-pikir gaji yang diterima nggak sebanding dengan pengeluaran biaya hidup jika ngekos. Terus, yang bikin mundur adalah jika diterima nanti harus menerima kontrak kerja yang mengharuskan ijazah asli ditahan selama dua tahun. Jadilah saya kabur setelah tes tertulis, padahal tinggal selangkah lagi; tes wawancara. Pas di angkot, bertemu dengan beberapa orang yang melamar untuk lowongan guru di sekolah tersebut. Ternyata mereka juga kabur seperti saya untuk sesi wawancara, dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah karena peraturan yang melarang jika menjadi guru di sekolah tersebut tidak boleh mengajar di bimbel manapun. Tapi yang paling banyak sih alasannya seperti saya, yaitu karena soal penahanan ijazah x))

Apa iya ini hal yang benar untuk dilakukan? (hlm. 13)

RAKA. Dahulu suka drum. Dia bisa menghabiskan begitu saja banyak waktu hanya untuk menabuh drum bersama dengan beberapa anak lain yang juga menyukai musik. Hingga akhirnya dia menemukan mainan baru; desain grafis. Hampir semua teman-temannya melakukan ini saat SMA. Mencoba mengotak-atik suatu bidang polos menjadi suatu yang penuh warna, tanpa kuas cat air atau cat semprot. Hingga akhirnya setelah lulus kuliah, dua tahun bekerja di tempat yang begitu kurang disukainya yang mengakibatkannya menjadi pekerja yang selalu mengeluh. Maka, dia mencoba mencari pekerjaan lain meskipun (lagi-lagi) itu bukan bidang yang disukainya.

Kerja zaman sekarang kan begitu, pasti bikin stres. (hlm. 5)

SARA. Seperti fresh graduate pada umumnya. Akan mengalami masa-masa menganggur. Ada yang stress karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, ada yang menikmatinya sebagai pertanda lepas dari kepenatan masa kuliah, ada juga yang pesimis menjalani kehidupan selanjutnya. Opsi yang terakhir ini dialami oleh Sara. Yup, dari awal sampai akhir cerita, kelihatan banget Sara ini tipikal pesimis banget akan hidupnya. Padahal dia memiliki ibu dan om yang sangat bijak. Sara ini representasi remaja zaman sekarang, mikirnya terlalu lama untuk melangkah melakukan sesuatu dan kerap berpikir khawatir terhadap sesuatu yang bahkan belum dilakukan.

Jangan cepat putus asa. Kalau cepat menyerah, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut panci panas. (hlm. 7)

Suka dengan penuturan Sheva dalam menuliskan kisah baik dari segi Sara maupun Raka. Bayangkan, hanya dalam kurun satu hari bisa menghasilkan rangkaian cerita dengan berbagai kejadian di dalamnya. Representasi kehidupan masyarakat di kota besar. Pertama, macet dan harus berhadapan dengan hiruk pikuk di kendaraan umum. Kemacetan di Jakarta memang terlalu berlebihan. Dengan TransJakarta juga tidak jauh berbeda. Dengan kereta, ada banyak daerah yang bisa dijangkau. Waktunya sedikit lebih cepat dibandingkan bermacet ria di jalan raya. Tapi, adegan sinetron sering terjadi di stasiun. Ibu-ibu bertengkat karena berlomba-lomba untuk masuk, bapak-bapak terjepit pintu kereta yang sudah hampir jalan, dan belum lagi teriakan kecil yang tanpa disadari berubah jadi umpatan para penumpang. Dulu, zaman PPL tiap pulang kebagian busnya yang terakhir, jadilah super sesak macam pepes ikan dijadiin satu. Pernah kejadian ada penumpang yang hampir pingsan, mungkin karena sesaknya bus, saya ngasih air mineral dan teman ngasih minyak kayu putih yang selalu dibawanya. Pernah juga pas pulang PPL, busnya mogok, mesinnya panas hampir meledak gitu, mana udah lelah banget, kalau naik angkot musti tiga kali naik angkot. Tobat…tobat…nggak bakat deh hidup di kota besar… x)) #LambaikanBenderaPutih

Kedua, hidup di kota besar juga identik dengan makan di tempat siap saji. Kalau sesekali sih nggak masalah, tapi kalau hampir tiap hari ya bikin kantong jebol. Seperti yang dilakoni Sara dan Raka, tokoh utama dalam buku ini. Tanpa di sadari, tanpa di sadari mereka sudah berpindah tiga tempat di restoran siap saji, dan yang terakhir tempat yang satu cangkir kopinya saja bikin kantong bolong. Padahal mereka ini sama-sama pengangguran. Tapi begitulah, hidup di kota, meski menganggur, nongkrong di kafe atau ngopi-ngopi cantik sudah seperti menjadi bagian gaya hidup masyarakatnya.

Pesan moral dari buku ini adalah sesekali boleh meratapi nasib. Merasa hidup paling susah, tapi ternyata di luaran sana banyak yang lebih susah dari kita. Tapi mengapa mereka lebih sukses? Karena mereka berusaha dan mau berjuang. Sebab hidup bukan sekedar kemampuan, tapi juga kemauan.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Rezeki kan nggak boleh ditolak. (hlm. 5)
  2. Jika seseorang bisa tertawa, ia punya kekuatan positif yang bisa menular ke orang lain. (hlm. 47)
  3. Anak-anak kreatif selalu punya aura sendiri yang nggak bisa dijelaskan. (hlm. 65)
  4. Kadang apa yang udah dibuat nggak selalu menyenangkan orang lain. (hlm. 65)
  5. Jika sendiri sudah menyenangkan melakukannya bersama-sama seolah menjadi hal yang lebih menyenangkan lagi. (hlm. 72)
  6. Di mana pun, dan kapan pun kita siap, apa pun cita-cita kita nantinya, selalu diperlukan bantuan dari orang lain. (hlm. 113)
  7. Kita nggak tahu dari mana kesempatan untuk diri kita bisa datang. Bisa aja dari orang lain. Ya kan? (hlm. 113)
  8. Kadang selain kesempatan, kita juga butuh keberuntungan. Dan kadang, keberuntungan nggak datang hanya dari diri sendiri. Tapi, juga dari orang lain. (hlm. 113-114)
  9. Kadang keberuntungan kan juga bisa datang dari diri sendiri. Jika kita memang benar-benar menunjukkan kemampuan bagus dan menunjukkannya pada orang dan waktu yang tepat, kita bisa jadi beruntung. (hlm. 114)
  10. Ada waktunya bagi kita untuk nanti bisa bikin mimpi jadi beneran terjadi. (hlm. 124)
  11. Kadang kita harus lupakan atau anggap beban itu nggak ada. Sekali-kali, supaya kita lebih gembira sedikit. (hlm. 136)
  12. Mungkin kita nggak akan punya impian atau hal-hal yang ingin kita dapatkan. Sedikit memikirkannya sebagai beban perlu, supaya kita terpacu. (hlm. 137-138)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jika ada banyak lelucon yang mengatakan bahwa Bekasi jauh dari Jakarta, harus diakui, memang benar adanya. (hlm. 1)
  2. Rupanya betul kata orang. Mencari pekerjaan memang sulit. (hlm. 14)
  3. Ketika hari sedang nahas, tekanan ruangan kosong pada perut bertambah besar. (hlm. 25)
  4. Manusia memang sulit dimengerti. Mungkin karena itulah tidak ada yang pernah benar-benar memahami dirinya sendiri. Selalu ada yang membingungkan dari diri kita. (hlm. 31)
  5. Wajar sih ya, kalau di kota besar seperti ini semua orang pasti curiga. (hlm. 42)
  6. Kita nggak tahu hujan akan makin deras atau bagaimana. Tapi, kalau tidak pulang sekarang, mau tunggu sampai kapan? (hlm. 57)
  7. Setiap orang kan punya kebiasaan aneh. (hlm. 61)
  8. Persepsi orang tentang ‘pengalaman berkesan’ kan nggak bisa disamain. (hlm. 62)
  9. Tertawa di saat sedih adalah salah satu gestur menyenangkan di dunia. (hlm. 72)
  10. Mana ada hidup yang tidak penuh dengan kesulitan? Kesulitan itulah yang membuat diri kita semakin dewasa setiap harinya. (hlm. 75)
  11. Sepatu yang menyulitkan, tapi disukai para perempuan. Entah mengapa, mungkin perempuan memang suka menyakiti tumitnya sendiri. (hlm. 82)
  12. Pikiran manusia memang suka membuat kesimpulannya masing-masing. (hlm. 84)
  13. Penampilan luar memang tidak selalu bisa dipercaya. (hlm. 85)
  14. Apa ada ya, orang-orang yang benar tahu cita-cita mereka? (hlm. 105)
  15. Gimana kalau ternyata kesempatan berikutnya nggak pernah datang? (hlm. 111)
  16. Jangan terlalu cepat percaya kepada orang lain. Ada satu hari ketika kita akan bertemu dengan orang yang tampaknya bisa kita percayai. Tapi, jangan berikan seluruh rasa percaya kita kepada orang itu. (hlm. 120)
  17. Hidup rupanya nggak bisa egois-egois amat. Harus mikirin orang lain juga. (hlm. 123)
  18. Hidup orang juga sama kompleksnya dengan hidup kita. Punya kesalahan dan punya hal-hal yang mengejutkan. (hlm. 125)
  19. Tidak ada yang mudah diduga dari orang lain. (hlm. 126)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : 17:17

Penulis                                                 : Sheva

Editor                                                    : Septi Ws

Desainer kover                                 : Teguh

Ilustrator isi                                        : Cynthia

Penata isi                                             : Tim Desain Broccoli

Penerbit                                              : PT Grasindo

Terbit                                                    : 2016

Tebal                                                     : 183 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-375-377-2

1(1)

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs, dan @dearsheva. Jangan lupa share dengan hestek #1717Sheva dan mention via twitter.

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah berikan alasan kenapa kamu ingin membaca buku ini. Mudah kan? 😉

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek  #1717Sheva yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

GA #1717Sheva ini berlangsung seminggu: 18-23 April 2016. Pemenang akan diumumkan tanggal  24 April 2016.

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya!😉

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pengumuman Pemenang Giveaway 17:17

Terima kasih dengan keantusiasan teman-teman untuk mengikuti Giveaway 17:17. Ternyata banyak sekali ya yang mengalami nasib seperti Sara maupun Raka dalam buku ini; terjebak dengan rutinitas macet dan jobless. Semoga yang masih kuliah atau baru lulus kuliah, nantinya memilih pekerjaan yang diidamkan. Begitu juga dengan yang sudah bekerja tapi merasa tak nyaman, jangan buang waktu; resign dan cari pekerjaan yang menyenangkan hati. Tapi semua itu adalah pilihan hidup masing-masing😉

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Hendi Setiyanto/@hendisetiyanto/Banjarnegara

Sebelum menjawab pertanyaan mengapa saya ingin membaca buku ini, saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya saat mencicipi hidup di Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Saya tinggal dan sekolah di sebuah desa bernama Punggelan dari TK hingga SMP. Sebuah desa di ujung barat wilayah kabupaten Banjarnegara.

Semenjak kecil jarang sekali bepergian jauh-jauh karena akses jalan dan transportasi yang saat itu masih sangat terbatas. Walhasil kehidupan pergaulan hingga masa puber (SMP) hanya dihabiskan di lingkup Punggelan saja.

Ada memang kesempatan beberapa kali keluar kota saat sekolah mengadakan darma wisata seperti saat ke Jogjakarta itu pun saat masa sekolah SMP.

Mulailah saya bisa sedikit memperluas pergaulan saat bersekolah di SMK yang lokasinya berada di ibukota kabupaten. Jaraknya kurang lebih 25 km ditempuh dengan beberapa kali naik angkot yang kalau ngetem bisa berjam-jam. Bayangkan itu semuanya berlangsung selama tiga tahun. Saat itu saya memutuskan untuk tidak ngekos karena lebih betah tinggal di rumah sendiri.

Bangun pagi saat azan subuh dan jam 05.30 sudah naik angkot agar tidak terlambat sampai sekolah sekitar pukul 06.30. Banyak tenaga, pikiran dan uang yang harus dikorbankan demi mengenyam pendidikan.

***
Hingga akhirnya saya menamatkan sekolah SMK dan seperti orang-orang kebanyakan, saya mempunyai mimpi suatu saat bisa bekerja di ibukota Indonesia-Jakarta. Ya saya hanya lulusan SMK karena ketiadaan biaya orang tua, sementara adik masih masuk sekolah dan kakak yang selama ini membantu sudah “saatnya” memiliki rumah tangga sendiri.

Bayangan ibukota tak seindah yang terdengar dari mulut manis orang-orang atau serial sinetron televisi. Malam itu tepat pukul 02.00 dini hari, saya menginjakan kaki di kota Jakarta setelah menempuh perjalanan bis selama lebih dari 8 jam.

Saya masih terpesoan dengan gedung-gedung pencakar langit yang baru kali ini bisa saya saksikan dengan mata dan kepala sendiri. Pemandangan indah itu hanya berlangsung beberapa menit saja, karena kenyataannya berikutnya berbeda.

Malam pertama saya harus dihabiskan dengan kenyataan pahit. Sebuah rumah kontrakan berbentuk petak seluas satu ranjang saja harus berdesakan dengan orang berjumlah hingga 6 orang. Saya syok dan saya memilih untuk tidur di luar hingga saya akhirnya terdampar jauh di jakarta utara. Berjalan kaki dengan orang yang belum saya kenal untuk sekedar bisa tidur semalam.

Namun malam itu saya tidak bisa tidur karena banyak sekali tikus-tikus got yang berukuran besar berkeliaran di sekitar daerah Pesing-Jakut. Saya terjaga semalamam hingga pagi menjelang.

Akhirnya saya melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan yang saat itu memproduksi voucher isi ulang pulsa. Dengan bayaran sekitar 600.000 per bulan (bekerja dari pukul 08.00-21.00) saya merasa syok menerima kenyataan pahit ini. Belum lagi omelan-omelan yang harus saya terima tiap saat dari si bos.

Untunglah untuk makan saat itu cukup dengan uang segitu. Namun masalah air dan sampah membuat hati ini rasanya memberontak dan tidak betah. Belum lagi kesemrawutan dan bisingnya kota yang sepertinya tidak pernah tidur ini membuat semacam shock culture saat itu.

Hingga pada suatu waktu akhirnya saya memutuskan keluar dengan alasan pulang sebentar ke kampung karena ada keluarga yang hendak menikah. Untungnya ijazah asli tidak ditahan perusahaan dan juga tidak ada kontrak tertulis yang menyatakan jika sampai batas tertentu pekerja tidak betah maka kena denda.

Ya total saya hanya betah berada di ibukota selama 4 bulan saat itu. Rasanya itu sudah cukup menjadi pengalaman seumur hidup apalagi jika kemampuan dan keterampilan terbatas ingin mengadu nasib ke kota besar macam Jakarta.

Jadi sudah jelas, kenapa saya ingin membaca buku #1717Sheva ini. Buku #1717Sheva ini semacam memorabelia bagi saya saat jaman dulu pernah tinggal di kota besar. Sebuah pengalaman yang takkan pernah terlupa seumur hidup saya.

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul:konfirmasi pemenang Giveaway 17:17. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penerbitnya ya.

Terima kasih buat Sheva atas kerjasamanya, sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya. Dan nantikan giveaway feat Sheva di bulan Mei 2016 dalam blogtour #Memorabilia😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

@lucktygs

30 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW 17:17 + GIVEAWAY

  1. Nama: Arini Angger
    Twitter: @ariniangger
    Kota: Jakarta

    Buku ini memiliki begitu banyak motivasi untuk remaja yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan seperti halnya saya, menjadi terbuka pemikiran saya setelah membaca review kak luckty. Dan saya tertarik untuk membacanya lebih lanjut, berusaha menjadi orang yang terus berusaha demi menggapai masa depan yang gemilang. Buku ini juga membuka cerita yang sangat sama dengan kehidupan yang ada di kota Metropolitan seperti Jakarta. Maka dari itu buku ini sangat menarik minat baca saya.

  2. Nama: Ratna Sari
    Akun Twitter: @nAshari3
    Domisili : Cikampek

    Alasan saya ingin membaca buku ini:
    1. Ingin membaca karya kak Sheva yang satu ini, karena sebelumnya saya sudah membaca novelnya terdahulu yaitu Blue Romance
    2. Saya penasaran dengan judulnya yang 1717. Angka yang mungkin merupakan benang merah dari kisah Raka dan Sara.
    3. Kisah sara, mengingatkan saya dengan kisah saya beberapa tahun yang lalu, saat saya kuliah di Jakarta, kemudian mencari pekerjaan disana. Saya juga pernah merasakan menjadi pengangguran, dan tidak tau bagaimana masa depan saya, yang membuat saya hopeless. Jadi saya ingin bernostalgia dengan novel ini.

  3. Hendi Setiyanto/@hendisetiyanto/Banjarnegara

    Sebelum menjawab pertanyaan mengapa saya ingin membaca buku ini, saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya saat mencicipi hidup di Jakarta beberapa tahun yang lalu.

    Saya tinggal dan sekolah di sebuah desa bernama Punggelan dari TK hingga SMP. Sebuah desa di ujung barat wilayah kabupaten Banjarnegara.

    Semenjak kecil jarang sekali bepergian jauh-jauh karena akses jalan dan transportasi yang saat itu masih sangat terbatas. Walhasil kehidupan pergaulan hingga masa puber (SMP) hanya dihabiskan di lingkup Punggelan saja.

    Ada memang kesempatan beberapa kali keluar kota saat sekolah mengadakan darma wisata seperti saat ke Jogjakarta itu pun saat masa sekolah SMP.

    Mulailah saya bisa sedikit memperluas pergaulan saat bersekolah di SMK yang lokasinya berada di ibukota kabupaten. Jaraknya kurang lebih 25 km ditempuh dengan beberapa kali naik angkot yang kalau ngetem bisa berjam-jam. Bayangkan itu semuanya berlangsung selama tiga tahun. Saat itu saya memutuskan untuk tidak ngekos karena lebih betah tinggal di rumah sendiri.

    Bangun pagi saat azan subuh dan jam 05.30 sudah naik angkot agar tidak terlambat sampai sekolah sekitar pukul 06.30. Banyak tenaga, pikiran dan uang yang harus dikorbankan demi mengenyam pendidikan.

    ***
    Hingga akhirnya saya menamatkan sekolah SMK dan seperti orang-orang kebanyakan, saya mempunyai mimpi suatu saat bisa bekerja di ibukota Indonesia-Jakarta. Ya saya hanya lulusan SMK karena ketiadaan biaya orang tua, sementara adik masih masuk sekolah dan kakak yang selama ini membantu sudah “saatnya” memiliki rumah tangga sendiri.

    Bayangan ibukota tak seindah yang terdengar dari mulut manis orang-orang atau serial sinetron televisi. Malam itu tepat pukul 02.00 dini hari, saya menginjakan kaki di kota Jakarta setelah menempuh perjalanan bis selama lebih dari 8 jam.

    Saya masih terpesoan dengan gedung-gedung pencakar langit yang baru kali ini bisa saya saksikan dengan mata dan kepala sendiri. Pemandangan indah itu hanya berlangsung beberapa menit saja, karena kenyataannya berikutnya berbeda.

    Malam pertama saya harus dihabiskan dengan kenyataan pahit. Sebuah rumah kontrakan berbentuk petak seluas satu ranjang saja harus berdesakan dengan orang berjumlah hingga 6 orang. Saya syok dan saya memilih untuk tidur di luar hingga saya akhirnya terdampar jauh di jakarta utara. Berjalan kaki dengan orang yang belum saya kenal untuk sekedar bisa tidur semalam.

    Namun malam itu saya tidak bisa tidur karena banyak sekali tikus-tikus got yang berukuran besar berkeliaran di sekitar daerah Pesing-Jakut. Saya terjaga semalamam hingga pagi menjelang.

    Akhirnya saya melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan yang saat itu memproduksi voucher isi ulang pulsa. Dengan bayaran sekitar 600.000 per bulan (bekerja dari pukul 08.00-21.00) saya merasa syok menerima kenyataan pahit ini. Belum lagi omelan-omelan yang harus saya terima tiap saat dari si bos.

    Untunglah untuk makan saat itu cukup dengan uang segitu. Namun masalah air dan sampah membuat hati ini rasanya memberontak dan tidak betah. Belum lagi kesemrawutan dan bisingnya kota yang sepertinya tidak pernah tidur ini membuat semacam shock culture saat itu.

    Hingga pada suatu waktu akhirnya saya memutuskan keluar dengan alasan pulang sebentar ke kampung karena ada keluarga yang hendak menikah. Untungnya ijazah asli tidak ditahan perusahaan dan juga tidak ada kontrak tertulis yang menyatakan jika sampai batas tertentu pekerja tidak betah maka kena denda.

    Ya total saya hanya betah berada di ibukota selama 4 bulan saat itu. Rasanya itu sudah cukup menjadi pengalaman seumur hidup apalagi jika kemampuan dan keterampilan terbatas ingin mengadu nasib ke kota besar macam Jakarta.

    Jadi sudah jelas, kenapa saya ingin membaca buku #1717Sheva ini. Buku #1717Sheva ini semacam memorabelia bagi saya saat jaman dulu pernah tinggal di kota besar. Sebuah pengalaman yang takkan pernah terlupa seumur hidup saya.

    Salam….

  4. Wenny, @widywenny, Jogja

    Aku, belum pernah hidup di kota metropolitan. Ke Jakarta juga baru sekali, waktu lomba doang. Jadi, aku nggak tahu gimana rasanya hidup di kota metropolitan. Penasaran? Tentu saja. Kalau orang lain jenuh dengan berdesak-desakan di kereta, bosan naik busway, aku malah pengen merasakannya. Mengetahui bagaimana rasanya hidup di ibukota, tampaknya menarik. Apalagi mengetahuinya lewat novel ini😀

  5. Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Kota Tinggal : Purwakarta

    Pertanyaannya adalah berikan alasan kenapa kamu ingin membaca buku ini?

    Aku terlalu penasaran dengan judulnya yang ga biasa, dan apa alasan yang membuat novel ini diberi judul seperti itu. Kisah Sara dan Raka membuat aku ingin menguliknya lebih lanjut, alasan mereka bisa bertemu dan alasan hubungan mereka bisa terjadi. Kerumitan tinggal di ibu kota dan kemacetannya yang jarang diceritakan secara lengkap, biasanya hanya sedikit, sebagai pelengkap saja. Tapi, disini malah dijadikan poin utama yang membuat cerita ini bisa bergulir. Penasaran dengan konflik yang akan mereka berdua hadapi dan cara mereka mengatasinya. Bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari, mereka yang lebih memilih pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan bidang kuliah yang diambil. Dimana hal tersebut sangat sulit dilakukan, apalagi ini di kota besar.

  6. Kurnia Dwi Pertiwi
    @KDP264
    Bekasi, jawa barat
    Karena saya bisa Ngerasain bagaimana jadi penggangguran. Susahnya cari pekerjaan. Usaha pun serasa nggak di anggap sama orang lain karena belum ada hasilnya. Yang di lakukan jadi serba salah. Semua jadi bahan omongan. Hidup di kota ya begini resikonya. Akhirnya mengembangkan skill. Hidup di kota harus punya keahlian kalau nggak mau mati kelaparan. Karena pekerja akan punah di makan usia. Tapi, skill tidak. Perusahaan jarang yang mau menerima orang yang sudah tua kan? Karena di anggap tenaganya udah nggak ada. Saat ini saya sedang belajar design. Saya percaya, yang punya keahlian yang akan lama bertahan.

  7. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang

    Judul buku ini unik dan harus baca bukunya kalau mau tahu apa maksud yg tersirat dari judul tersebut😀
    Dari review mba Luckty, tema yg diangkat tentang kehidupan di kota besar bisa menjadi bahan pertimbangan untuk orang yg berniat menjalani hidup di kota besar tentang segala lika-liku yg akan mereka hadapi.
    Kisah tokohnya yg bergulat dengan usaha mereka mencari pekerjaan dan menentukan masa depan bisa memberikan inspirasi dan motivasi untuk pembaca.
    Karena itu aku sangat tertarik untuk membaca buku ini.

  8. Diki Siswanto
    @diki_twips
    Masamba, Sul-Sel

    Alasan ingin membaca buku ini karena judulnya yang unik, 17.17. Angka yang menunjukkan waktu juga (mungkin) menjadi titik balik cerita yang ada di dalamnya.

    Aku juga penasaran, ada apa dengan angka 17.17 itu sendiri. Sebegitu istimewakah angka itu?

    Satu lagi, buku ini akan membawaku berimajinasi tinggal di kota besar dengan segala hiruk pikuk dan keegoisannya

  9. Sylvia
    @sylnamira
    Depok

    Tertarik karena tertohok banget sama kutipan dari Pak Seno Gumira Ajidarma di atas. Itu tuh kehidupan saya dan kebanyakan orang yang tinggal di kota besar banget! Mungkin setelah baca buku ini, ada sedikit pencerahan, bagaimana supaya rutinitas ini tidak menjadi penyesalan di masa tua.

  10. Nama : Mega Widyawati
    Akun twitter : @widy4_w
    Kota tinggal : Nganjuk-Jatim

    Dari segi visual, Mulai dari judul novelnya sangat tidak biasa.
    17:17 ..
    Sebuah nomer kembar, ganjil semua pula. Lagian aku suka angka ganjil, terutama angka 1,3,5,7.
    By The Way, Mengenai judul tak biasa itu, menurutku malah cenderung unik dan antiq banget. yang jarang banget ditemuin di judul novel yang lain. Jarang banget ditemuin di judul novel yang lain.
    Ah, makin membuatku penasaran sama novel berjudul unik plus antiq ini.

    Konbanwa.

  11. Ayatin Anisa
    @tenchoQ
    Solo

    Dari ketiga buki grasindo yg menggunakan judul dg angka. 17:17 yg trlihat eye-catching. Entah dr covernya yg semi2 hujan gt dan blurb yg menarik. Kmrn mau sempet beli ini tokbuk online. Tp melihat tumpukan buku segel di pojok tmpt tidur, agak mengurungkan niat. Moga2 bs dpt dr giveaway ini🙂

  12. Juna
    @junabei
    Jakarta Selatan

    Buku ini membuat saya tertarik karena idenya yang unik. Sangat membuat penasaran bagaimana bisa menuliskan cerita satu hari ke dalam ratusan halaman. Saya selalu ingin memiliki buku dengan cara cerita seperti ini.
    Juga dari tema cerita yang sebenarnya sederhana, ada di sekitar kita tapi jarang diangkat.

  13. Nama: Selvia Sari Rahmawati
    Akun Twitter: @vyselvia
    Kota Tinggal: Malang

    Berikan alasan kenapa kamu ingin membaca buku ini?

    Pertama, judulnya menarik dan unik. Singkat, padat, dan sukses bikin penasaran. Baru pertama kali lihat covernya pasti langsung menanyakan kenapa judulnya musti ’17:17′. .__.

    Kedua, penasaran sama kisah Raka dan Sara.

    Ketiga, bukunya nggak terlalu tebel. Aku kadang suka nimbun buku terutama pada buku-buku yang tebelnya kayak kamus. Ahaha… aku rasa kalau aku dapat buku ini nggak bakalan dianggurin terlalu lama.

    Keempat, aku belum pernah menang giveaway di blog mbak Luckty :”))) Aku kudu piye toh? wkwk

    So, wish me luck! Wish me win! :3

  14. Saya tahu betul rasanya jadi fresh graduate yang menganggur berbulan-bulan mencari kerja kesana-kemari. Menghadiri berbagai psikotest dari satu instansi ke instansi lainnya. Nangis-nangis karena gagal di satu tes. Dapat Jadi karena itu saya tertarik untuk baca kisah Sara. Alhamdulillah sekarang sih (akhirnya) berhasil dapetin kerjaan kece dengan gaji yang sama kecenya. Dan tetap di kota besar. Iya, saya cinta kota besar. Memang sih, apa-apa semua serba mahal. Good thing is: apa-apa gampang. Mau kemana-mana gampang. Mau beli ini-itu ada. Semua-muanya bisa didapatkan. Tapi ya itu sih, harus kerja keras biar semua keinginan juga bisa kesampaian.😀

    Nama: Dian Maya
    Twitter: @dianbookshelf
    Link share: https://twitter.com/dianbookshelf/status/723058755689050114

  15. Bintang Maharani
    @btgmr
    Palembang

    Saya tertarik ingin baca buku ini karena niat saya adalah setelah saya baca nanti mau saya kasih ke saudara yang sedang butuh gambaran tentang kehidupan di kota besar sebagai motovasi dia untuk melanjutkan hidupnya. Setelah saya baca, saya bisa lebih yakinkan dia kalau buku ini memang layak dibaca olehnya.

    Daripada soal huhungan Sara dan Raka yang saya tidak tahu persis apa peran mereka secara spesifik di buku ini, saya lebih menyoroti pesan dan motovasi yang coba disampaikan oleh si penulis.

    Terima kasih🙂

  16. Nama : Agustin Kurnia Dewi
    Twitter : akdewi_
    Domisili : Cibinong, Bogor.

    Ah, penasaran dengan judulnya. 17:17. Dari review-nya menceritakan betapa peliknya ibukota dengan segala kesumpekannya. Lalu apa arti dari 17:17? Menunjukkan jam, perbandingan, atau apa? Itu bikin saya penasaran. Yang pasti judulnya akan menghubungkan dua tokoh si Raka dan Sara.
    Saya juga kerja merantau. Hampir 2 tahun ini setelah lulus SMK saya kerja jauh dari orang tua. Apalagi tahun pertama merantau, harus nangis pas lebaran gak bisa makan opor. Haha.
    Kerja di tanah orang banyak sedih dan sedikit senangnya. Tapi ada kalanya saya ada di titik bersyukur, karena saya lelah bekerja, bukan lelah mencari kerja.
    Satu hal yang saya pelajari dari tempat kerja saya, jangan membanding-bandingkan tempat kerja kita dengan tempat kerja orang lain. Karena saat menemukan ternyata tempat lain lebih baik hanya akan membuat kita tidak berpuas diri dan kecewa. Itu hal yg selalu saya ‘coba’ tanamkan pada diri saya, walau terkadang iri karena tempat lain dapat tempat kerja yang mumpuni.
    Saya yakin, buku ini akan banyak bercerita tentang keluh kesah, rasa bersyukur, dsb. Saya akan dapat banyak pelajaran jika baca buku ini untuk ‘kehidupan’ saya selanjutnya. Dan mungkin saja bisa bertemu ‘Raka’ yang lain? Haha.

  17. Nama : Agustin Kurnia Dewi
    Twitter : akdewi_
    Domisili : Cibinong, Bogor.

    Ah, penasaran dengan judulnya. 17:17. Dari review-nya menceritakan betapa peliknya ibukota dengan segala kesumpekannya. Lalu apa arti dari 17:17? Menunjukkan jam, perbandingan, atau apa? Itu bikin saya penasaran. Yang pasti judulnya akan menghubungkan dua tokoh si Raka dan Sara.
    Saya juga kerja merantau. Hampir 2 tahun ini setelah lulus SMK saya kerja jauh dari orang tua. Apalagi tahun pertama merantau, harus nangis pas lebaran gak bisa makan opor. Haha.
    Kerja di tanah orang banyak sedih dan sedikit senangnya. Tapi ada kalanya saya ada di titik bersyukur, karena saya lelah bekerja, bukan lelah mencari kerja.
    Satu hal yang saya pelajari dari tempat kerja saya, jangan membanding-bandingkan tempat kerja kita dengan tempat kerja orang lain. Karena saat menemukan ternyata tempat lain lebih baik hanya akan membuat kita tidak berpuas diri dan kecewa. Itu hal yg selalu saya ‘coba’ tanamkan pada diri saya, walau terkadang iri karena tempat lain dapat tempat kerja yang mumpuni.
    Saya yakin, buku ini akan banyak bercerita tentang keluh kesah, rasa bersyukur, dsb. Saya akan dapat banyak pelajaran jika baca buku ini untuk ‘kehidupan’ saya selanjutnya. Dan mungkin saja bisa bertemu ‘Raka’ yang lain? Haha

  18. Nama: NM. Rayanti
    Akun twitter: @biblionervosa
    Kota domisili: Kendari, Sulawesi Tenggara
    Link share: https://twitter.com/biblionervosa/status/723423273246056452

    Saya melihat review buku ini berseliweran di beranda Goodreads saya. Sekadar info saja, saya tidak mudah terprovokasi review menggiurkan. Tapi saya pernah mendengar tentang Kak Sheva, dan banyak pujian tentang buku perdananya Blue Romance. Akhirnya yaa… saya penasaran juga. Saya pun mengintip blog Kak Sheva dan positif menginginkan buku ini. Tolong biarkan keberuntungan berada di pihak saya kali ini ya, Kak Luckty ^_^

  19. Erin | @RiienJ | Bekasi

    Pengen banget baca novel satu ini. Tema yang diangkat ka Sheva dalam novel 17:17 sangat menarik. Jakarta sebagai setting tempatnya sangat pas dengan hidup yang kadang tak tentu. Seperti kota Jakarta yang semrawut, kehidupan pun tak kalah sulit dan semrawutnya. Peluh, kesah, kecewa, harapan, terus melambung saling beradu dan bertukar tempat. Baca review di atas aku yakin novel ini mengandung nilai kehidupan yang sanagat berarti.

  20. Nama: Shinta Amelia
    Twitter: @S130596
    Kota: Bekasi ^^

    Judul dan cover bukunya eye cathcing banget! Sebelum membaca review kak Luckty aku belum dapat bayangan novel ini akan menceritakan tentang apa. Nah sehabis baca, malah makin penasaran! =))

    Novel ini mungkin akan jadi novel yang personal sekali buatku. Pertama, aku juga seorang pekerja yang bertempat tinggal di Bekasi dan harus PP Bekasi-Jakarta setiap hari, jadi aku paham betul gimana capek dan stressnya menghabiskan jam-jam pulang kerja di jalanan Jakarta yang selalu sibuk dan padat itu, sementara seharian otak dan tenaga diperas untuk bekerja, belum lagi paginya selalu diburu-buru waktu agar tidak telat masuk kerja, tau sendiri kan jarak Bekasi-Jakarta itu lumayan dan harus antisipasi terus agar lolos dari macet :”)

    Kedua, jangan ditanya deh, bekerja di kota Jakarta memang benar, perut kita harus dipaksa akrab sama yang namanya makanan cepat saji atau junk food. Bukan karena ingin, tapi lebih kepada tidak ada pilihan lain, terkadang tempat makan siang terdekat dengan tempat kerja ya memang cuma itu, restoran junk food. Selain praktis kan juga cepat. Kaum metropolitan memang penganut waktu-adalah-uang banget :”)

    Ketiga, ini mungkin yang paling ngena! Seperti Sara, sebelum dapat kerja aku juga pernah dilanda perasaan putus asa dan frustasi. Karena, ya… beban menjadi seorang pengangguran memang berat sekali. Bukan cuma bokek-nya aja yang bikin resah, tapi faktor tekanan dari orang tua dan lingkungan juga ikut memengaruhi. Ketika berkali-kali aku ikut tes dan interview kerja tetapi pada akhirnya selalu gagal, aku jadi pesimis dan bertanya-tanya: Mungkin gak sih suatu hari nanti aku akhirnya dapat pekerjaan? Kok kayaknya sekarang impossible sekali…..

    Jawabannya ternyata MUNGKIN :’) Tidak seperti kak Luckty yang mundur ketika syarat di kontrak mengharuskan Ijazah asli-nya ditahan, aku justru menyetujui itu karena memang sudah hopeless banget gak punya pekerjaan dan 2 tahun jadi pengangguran. Hohoho.

    Ya, aku ingin sekali membaca 17:17, aku penasaran dengan kisah Sheva dan Raka, penasaran bagaimana kedua kedua manusia itu bisa survive sebagai pengangguran, ingin tau bagaimana mereka menjalani kehidupan di kota Jakarta yang bikin bokek itu, ingin tau segalanya dari sudut pandang mereka. Juga, ah… dari pertemuan pertama sebagai pelamar yang menghadiri panggilan wawancara dan kemudian melarikan diri bersama, pastinya novel ini akan dipenuhi dengan bumbu-bumbu romens yang sweet dan bikin lumer bwanget dong??? Hihi. Ide yang diangkat sudah unik dan menarik, aku yakin novel ini pasti worth it dibaca.

    Terimakasih, semoga aku beruntung yaa! ^^

    Btw, aku sudah mengikuti blog kak Luckty lewat email dan akun wordpress ku juga🙂

  21. Nama : Heni Susanti
    Akun : @hensus91
    Kota Tinggal : Pati – Jawa Tengah

    Alasan ingin membaca buku ini :
    1. Aku tertarik setelah membaca review Mbak Luckty yang juga menyelipkan cerita pribadi. Ceritanya mirip pengalamanku juga. Setelah lulus bingung mau kerja di kota atau kembali balik kampung. Tapi akhirnya setelah ujian akhir malah dipanggil bantu-bantu di sekolah desaku. Akhirnya pengabdianku memang di sini sampai sekarang.
    2. Mau tahu alasan penggunaan judul 17.17. Makna apa yang dimiliki angka itu untuk Sara dan/atau Raka. Kalau feeling sih mungkin 17.17 itu jam macet pulang kantor ya?? #sotoy😀
    3. Aku lagi bimbang dengan pilihan pekerjaanku sekarang, kerja di desa dan bimbel yang jaraknya 40 KM dari rumah, naik turun gunung setiap hari itu capek rasanya, jadi berharap dengan membaca buku ini aku bisa menemukan kembali semangatku yang dulu berkobar lewat perjuangan Sara.

    Demikian dan terima kasih🙂

  22. Nama : Devi Ambar
    Twitter:@ivedvedi
    Kota tinggal : Kediri

    alasan :
    Pengin punya, kepengen banget baca buku nya. apalagi dapet gratisan.dari GA yang diadakan oleh mbak Lucty.
    17.17, selain itu dari judul nya terkesan angkawi. Sebenarnya apa sih maksud dari novel.itu?

  23. Nama : Agatha Vonilia M.
    Akun twitter : @Agatha_AVM
    Domisili : Jember

    Aku adalah Sara hingga akhirnya aku pindah kuliah karena ketakutanku yang begitu besar pada public speaking (presentasi di depan kelas). Aku merelakan pekerjaanku untuk melanjutkan kuliah tapi tetap saja aku masih ketakutan menghadapi teman-temanku sendiri. Sewaktu semester awal aku bisa mengatasinya bahkan sambil bekerja juga demi membiayai kuliah. Akhirnya aku terpaksa berhenti dan kalah pada ketakutanku sendiri hanya karena presentasi. Sebuah presentasi (ketakutanku sendiri) telah menghancurkan mimpiku dan perjuanganku selama ini.

    Jangan cepat putus asa. Kalau cepat menyerah, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut panci panas. (hlm. 7)

    Quotes di atas benar-benar menohokku. Seandainya, aku menemukan kata-kata ini mungkin aku bisa bertahan dan berkata pada diriku sendiri, “Aku pasti bisa!”

    Pesan moral dari buku ini adalah sesekali boleh meratapi nasib. Merasa hidup paling susah, tapi ternyata di luaran sana banyak yang lebih susah dari kita. Tapi mengapa mereka lebih sukses? Karena mereka berusaha dan mau berjuang. Sebab hidup bukan sekedar kemampuan, tapi juga kemauan.

    Kemauanku saat ini udah tertutup oleh depresi. Aku ingin membaca kisah Sara untuk memperoleh semangatku kembali, menata harapanku, mendapatkan kepercayaan diriku kembali. Aku butuh sebuah dorongan dalam kisah hidup seseorang agar hati kecilku percaya, kebahagiaan dan kesuksesanku sedang menantiku.

    Itulah alasanku ingin membaca kisah Sara, buku kak Sheva.

    Makasih ya kak luckty🙂

  24. Putri Prama A.
    @putripramaa
    Probolinggo

    Aku ingin membaca novel ini karena aku penasaran dengan maksud judulnya. Singkatnya, aku suka dengan judulnya. 17:17. Apakah itu menggambarkan waktu pulang dari orang-orang yang bekerja? Secara filosofis artinya gimana? Pokoknya, aku penasaran dengan dengan maksud judulnya itu.
    Lalu, aku ingin membaca novel ini karena aku mencoba membaca tulisan Kak Sheva. Aku nggak pernah baca tulisannya Sheva, oleh karena itu aku penasaran sekali.
    Jangan cepat putus asa. Kalau cepat menyerah, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut panci panas. (hlm. 7)
    Quotes itu nampar aku. Aku ini orangnya agak pesimisan macam Sara, jadi aku ingin belajar dari Sara tentang sifatku ini. Apa sih yang kudu kulakuin, Sara?
    Aku ingin tahu kehidupan di kota besar. Jujur aja, aku nggak pernah merasakan hidup di kota besar. Aku hampir nggak benar dengar kebisingan di hidupku. Di saat aku ngetik jawaban inipun, hanya terdengar suara TV saja, nggak ada suara motor maupun mobil yang mengganggu. Hanya lalu lalang sebentar aja.
    Aku ingin membaca 17:17 ini, tapi aku udah pesimis lihat jawaban yang lain. Tapi, yuk, ah, semangat-semangat!!!🙂
    Semoga aku beruntung.

  25. Arie Pradianita | @APradianita | Sukabumi

    KARENA:

    1. Saya sangat antusias ketika Sheva akan menerbitkan buku baru, sejak membaca Blue Romance, saya tertarik dengan tulisannya, ingin tahu cerita apa lagi yang dia buat. Masih melibatkan film dan musik kah di 17.17 seperti di Blue Romance?

    2. Berdasarkan review Kak Luckty, novel ini memakai sudut pandang orang pertama, tiap tokoh (Raka dan Sara) bergantian menjadi narator. Pilihan sudut pandang yang cukup sulit, jika tidak bisa membedakan gaya bahasa antara keduanya rasanya akan kurang bahkan hambar. Namun, Sheva bisa menulis ini dengan baik, jempol! Tak kalah menariknya, aroma hujan, kenangan dan musik dalam novel ini cukup kental. Bercampur dengan cita-cita, impian dan harapan di masa depan juga pertanyaan akan kehidupan paralel.

    3. Cover cantik berlatar jalan yang basah karena hujan dan bias-bias cahaya.

  26. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Karangasem, Bali

    Aku belum pernah membaca ketiga buku time series Grasindo ini. Sama seperti yang lain, 17.17 ini menghadirkan cover yang cantik dan cerita yang relate banget sama kehidupan. Hidup di kota besar dengan segala hal yang serba ribet, merasa nggak nyaman menjalani sesuatu yang bukan passion kita, merasa pesimis dan menyerah dengan kerasnya kehidupan? Aku yakin semua orang pernah berada dalam situasi ini. Itulah mengapa, aku merasa akan sangat menikmati buku ini karena kita nggak perlu banyak effort dan menyesuaikan diri untuk ikut larut bersama tokoh-tokohnya.
    Oya, judulnya 17.17 apakah terkait dengan jam pulang ngantor dan sekaligus puncak kemacetan ya? Apakah jam ini menjadi waktu paling dinantikan oleh Raka dan Sara setelah seharian berkutat dengan aktivitas melelahkan? Apakah Raka dan Sara bisa saling menguatkan ditengah kejamnya ibukota? Penasaran deh! Aku yakin, dengan kejadian yang sering dihadapi dan interaksi yang alami akan membuat novel ini makin diminati *lalu muter lagu Jakarta Ramai-Maudy Ayunda*

  27. Nama: Ari
    Twittee: @tiarizee
    Domisili: Lampung

    Seorang reviewer bisa dikatakan berhasil saat reviewnya menarik minat para pembaca untuk membaca buku tersebut. Buku bagus dieksekusi pula dengan review kakak yang bagus seperti ini tentu saja menarik minat pembaca untuk membaca buku ini, termasuk aku.

    Representasi kehidupan masyarakat di kota besar memang salah satunya adalah macet. Simpel juga salah satu hal yamg dibahas dibuku ini namun memang hal yang lumrah terjadi di kota-kota besar setiap hari. Aku salah satu orang yang ingin merantau nantinya, sejauh mungkin–salah satunya Jakarta–untuk mengadu nasib. Ntahlah, jakarta selalu punya daya tarik tersendiri memang untuk menarik pendatang tinggal di kota ini. Tapi setelah membaca penuturan kak luckty, masih tidak menghilangkan tekatku untuk pergi kesana(hahaha). Mungkin setelah membaca buku yang berlatar belakang tempat di kota metropolitan ini aku bisa mempertimbangkan keputusanku kembali, ya?

    Aku juga penasaran dengan sosok Sara yang sungguh, benar-benar mencerminkan anak muda zaman sekarang. Malas, mikir terlalu lama, takut ambil langkah, memang kerap dirasakan para anak muda, termasuk aku. Aku merasa ada kesamaan pada diriku dengan Sara yang membuatku suka dan tertarik untuk berkenalan dengan tokohnya.
    Begitu pula dengan Raka. Aku sangat mengapresiasi keberaniannya untuk keluar dari pekerjaannya hanya karena satu alasan; ia kurang sreg dengan tempat kerjanya. Suatu keputusan besar yang begitu berani mengingat mendapatkan pekerjaan sekarang sangatlah susah. Dan melihat bagaimana beraninya ia mengambil langkah tersebut,aku iri sekali. Aku masih plin-plan dan belum begitu berani dalam mengambil keputusan krusial dalam hidupku. Semoga dengan mengenal tokoh Raka, aku bisa mendapatkan banyak pelajaran darinya yang tidak ada ragu sedikitpun dalam menjalani hidup. Karena walaupun hidup memang sepantasnya dijalani tanpa mengeluh, namun kita juga harus mencintai apapun yang kita lakukan, apalagi sebuah pekerjaan, bukan?

    Oh iya, aku juga sangat suka dengan pesan yang diselipkan penulis lewat bukunya. Karena memang sesungguhnya orang yang sukses bukanlah orang yang pintar, apalagi punya banyak koneksi. Orang yang sukses adalah orang yang mau berusaha setelah berkali-kali gagal.

    Lalu, apakah kepesemisan hidup Sara akan menghilang sejak mengenal sosok Raka yang begitu berani? Aku juga penasaran apa alasan mereka meninggalkan test wawancara dimana selangkah lagi serangkaian tes formalitas ribet tersebut akan segera berakhir?

    Dan terakhir, apa hubungan 17:17 dengan seluruh rangkaian cerita mereka? Titik balik kehidupan seseorang yang dimulai pada pukul 5 lebih 17 menit? Sungguh? Yang benar saja? Aku jadi dibuat semakin penasaran. Semoga seluruh rasa penasaran dan ketertarikanku akan buku ini bisa tuntas dengan membaca buku ini secara langsung. Terimakasih🙂

  28. tomi widianto | @ tommy_widianto | pringsewu lampung

    mengapa saya menginginkan buku ini, pertama tentu ingin menambah koleksi bacaan saya. Kedua, karena saya pernah merasakan bagaimana frustasinya kehilangan banyak waktu di perjalanan menuju tempat kerja, bagaimana saya harus menghabiskan 2 jam untuk berangkat kerja dari cileungsi ke jakarta, tentu saja dua jam lagi untuk perjalanan pulang, dan ketika mendapat pekerjaan di propinsi sendiri pun juga harus melewati satu jam perjalanan untuk berangkat dari pringsewu ke tanjung karang.

    ada banyak kisah dalam perjalanan menuju tempat kerja, melihat mayat yang sudah ditutupi koran di jalanan, ikut mengangkat orang yang habis kecelakaan, kehujanan ataupun kepanasan, juga bagaimana lelahnya ketika sampai rumah, semua benar-benar menguras energi dan waktu.

    Tapi saya tetap meyakini bahwa selalu ada nilai positif yang bisa saya ambil dari peristiwa-perisiwa itu. Sekarang saya menjadi pribadi yang lebih mudah bersyukur.

  29. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW Memorabilia + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s