REVIEW Tuhan Untuk Jemima

WP_20160321_003

Hidup memang memiliki kemiripan dengan cuaca, tidak bisa diprediksi. (hlm. 17)

Hidup memang seperti itu. Enggak bisa diprediksi dan penuh kejutan. Mirip buku yang kadang plotnya berliku. (hlm. 200)

JEMIMA. Gadis itu merasa terpenjara dalam kemelut rumit. Kehilangan satu-satunya saudara yang dia miliki sudah lebih dari menyakitkan. Kini digenapi pula dengan cara kedua orangtuanya menyikapi musibah itu. Rumah mereka menjadi sepi dan dingin. Kesedihan digemakan oleh setiap dindingnya.

Bagi Jemima, Ashlyn tidak hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai sahabat sekaligus panutan untuk Jemima. Apa pun yang dilakukan sang kakak, nyaris selalu ditiru gadis itu. Ashlyn adalah kompas berjalan untuk Jemima. Meski kadang arah yang ditunjuk tak selalu benar atau sesuai dengan keinginan sang adik. Maka, kehilangan kakak seperti kehilangan separuh hidupnya.

Belakangan Jemima mulai merasa terganggu. Dia sangat ingin berdoa, memohon kepada Tuhan agar berkenan mengembalikan kondisi keluarganya. Minimal mendekati seperti semula. Walaupun tanpa Ashlyn lagi.

Masalahnya, Jemima bingung dia harus berdoa kepada Tuhan yang mana? Dan bagaimana cara memilih Tuhan yang sesuai dengannya? Jemima juga tidak tahu di mana dia bisa mencari-Nya. Hal-hal berbau spiritual bukan keahliannya. Namun, di satu sisi gadis itu mulai merasa kalau dia membutuhkan kehadiran Tuhan untuk memenuhi bagian dirinya yang belakangan sering terasa kosong tanpa sebab.

Kian lama Jemima malah tak tahu harus bagaimana harus membuat keputusan. Terlahir dalam keluarga dengan latar agama berbeda menjadi kesulitan tersendiri. Andai sejak awal orangtuanya sudah memilihkan agama yang kelak akan dianut anak-anak mereka, situasi mungkin tak sesulit ini.

Sayang, kedua orangtuanya adalah pendukung hak asasi terdepan dalam dunia Jemima. Keduanya tetap memeluk agama masing-masing, tidak ada yang mengikuti agama yang lain. Saling menghormati sudah mendarah daging dalam keseharian mereka.

Dia belum memutuskan agama yang akan dianutnya. Selama ini Jemima juga tidak menjalani ritual apa pun. Dulu, semua itu tidak mengganggunya. Jemima hanya punya keyakinan kalau kelak dia akan menemukan pilihan yang pas dengan hatinya, seperti yang terjadi pada Ashlyn. Akan tetapi, sebelum harapan Jemima terwujud, cobaan terlanjur menghantam hidupnya. Dia mulai percaya, kehadiran Tuhan akan membuat dirinya lebih kuat.

Sayang, lagi-lagi dia harus berhadapan dengan kenyataan yang sama sekali tidak sesuai dengan keinginan. Jemima masih belum bisa membuat keputusan apa pun seputar pilihan keimanannya. Jemima tidak mau membuat keputusan yang gegabah. Dia harus memikirkan segalanya dengan matang, dan yang paling penting, tidak mengganggu hati nuraninya. Dia ingin menemukan Tuhan yang sesuai dengan suara jiwanya. Bukan Tuhan yang dipilih karena kebutuhan agar disebut sebagai orang beragama.

“Kalau kita bisa menghalangi pemindahan paus ke kapal pabrik, paling enggak kita berhasil mencegah para nelayan Jepang mendapat keuntungan hingga satu juta dolar. Memang kita enggak bisa menghidupkan kembali paus yang sudah dibunuh, tapi kita masih bisa mencegah orang-orang yang memanfaatkan kematian mereka.” (hlm. 9)

KENNETH. Baginya, hewan pintar seperti paus wajib mendapat perlindungan maksimal. Mereka adalah salah satu penyeimbang ekosistem di dunia ini. Tapi, di lain pihak penurunan jumlah paus sangat signifikan. Jika tidak ada yang mencegah perburuan hewan ini, tidak lama lagi paus hanya akan menjadi kenangan.

Jika ada orang yang merasa tidak terganggu dan bisa menikmati daging paus, itu urusan mereka. Tapi Kenneth sudah berjanji pada dirinya untuk berusaha semaksimal mungkin mencegah perburuan mamalia tersebut.

Adegan paling menusuk nurani Kenneth adalah tiap kali melihat sebuah seruit ditembakkan ke arah seekor paus. Hingga hewan itu mati bermenit-menit kemudian, tercekik oleh darahnya sendiri.

Menyaksikan kebrutalan manusia demi uang, kenneth tidak bisa berhenti merasa terkesima. Tapi dia bahagia karena besar di keluarga yang punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Kenneth tidak bisa menyaksikan kehancuran ekosistem di depan matanya tanpa melakukan apa-apa. Karena sepertinya Tuhan sama sekali tidak tertarik untuk berbuat sesuatu. Tuhan tampaknya punya urusan lain yang dianggap-Nya lebih penting.

Karena itu, Kenneth bahagia tidak benar-benar mengimani keberadaan Tuhan. Menjadi ateis adalah salah satu hal cerdas yang pernah dilakukannya. Begitulah anggapan Kenneth selama ini.

“Kenapa kamu menyukaiku?”

“Aku enggak tahu. Aku melihatmu, dan boom! Mirip..mm..tersambar petir. Ya, begitu kira-kira. Apa menurutmu itu terlalu berlebihan?” (hlm. 149)

Jemima adalah representasi remaja yang memiliki orangtua berbeda keyakinan. Sebagai anak, merasa bimbang harus memilih mana agama yang diyakininya. Di daerah saya tinggal, didominasi dua agama, nggak heran jika sering terjadi pernikahan beda agama meski saat menikah dilakukan dengan satu agama. Seiring berjalannya waktu sang orangtua memeluk agama masing-masing, dan sang anak cenderung tidak mengikuti agama apa pun. Misalnya memeluk agama Islam pun, hanya Islam KTP, sholat hanya di saat hari raya. Atau ke gereja hanya di saat natal tiba.

Nggak jauh beda dengan kisah Kenneth, dia cenderung jauh dari Tuhan dan memilih nggak beragama. Di negara modern, kita akan menemukan Kenneth lainnya. Bagi mereka, hidup hanya untuk di dunia.

Selain tentang pergolakan batin memilih agama, pesan moral dari buku ini banyak sekali. Nggak boleh percaya dengan sembarang orang karena bisa jadi akan mencelakaan kita di kemudian hari. Kita boleh saja bersedih saat kehilangan orang yang kita sayangi, tapi hidup harus berjalan. Juga tentang cita-cita atau impian hidup yang terkadang kita sangkal hanya karena omongan orang lain. Dan yang paling seru adalah novel ini menyelipkan isu tentang perburuan paus.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ilmu itu enggak hanya bisa didapat di bangku sekolah, kan? (hlm. 11)
  2. Pilih yang sesuai dengan keyakinanmu. (hlm. 107)
  3. Masa depan nggak bisa diprediksi. (hlm. 135)
  4. Ketika kamu menyadari kalau bukan itu yang kamu inginkan dan berani mundur padahal jalan ke sana sudah terbuka, itu keren. Kamu tahu pasti apa yang kamu inginkan. (hlm. 200)
  5. Karena memang yang paling penting adalah melakukan hal-hal yang kita sukai, bukan yang diharapkan oleh orang lain terhadap kita. (hlm. 235)
  6. Kehilangan orang yang kita cintai itu sangat menyakitkan. (hlm. 243)
  7. Tuhan menciptakan berbagai bahasa bukan karena Dia pilih kasih. Dia justru menciptakan keragaman agar manusia saling mengenal. (hlm. 302)
  8. Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat pengertian. (hlm. 303)
  9. Tuhan menyukai orang-orang yang tangguh, para penyintas. (hlm. 304)
  10. Tuhan punya hobi aneh. Dia sangat suka membuat seleksi. (hlm. 304)
  11. Tuhan akan di sisi kita, menyaksikan setiap badai dan musim bunga yang harus kita lalui. (hlm. 305)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan ditutup-tutupi kalau memang sesuatu sedang terjadi. (hlm. 35
  2. Bagaimana bisa orang memiliki begitu banyak barang indah, sementara di luar sana ada yang tak sanggup membeli makanan? (hlm. 118)
  3. Penampilan sungguh sering menipu, kan? (hlm. 137)
  4. Tragedi kadang membuat manusia cepat tua. (hlm. 204)
  5. Kadang kamu memang suka berlebihan. (hlm. 225)
  6. Indonesia sangat jauh tertinggal untuk urusan basis data yang bisa dijadikan acuan saat mencurigai seseorang. (hlm. 273)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Tuhan Untuk Jemima

Penulis                                                 : Indah Hanaco

Editor                                                    : Gita Savitri

Perwajahan isi                                   : Ayu Lestari

Perwajahan sampul                        : Shutterstock & Mulyono

Penerbit                                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 305 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-1660-4

PicsArt_21_04_2016_12_47_14[1]

2 thoughts on “REVIEW Tuhan Untuk Jemima

    • Menurutku seri dari bukunya Mbak Indah Hanaco ini yang paling menarik adalah tentang perburuan paus, aku belum pernah baca novel yang angkat tema ini sebelumnya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s