REVIEW Fenomenologi Wanita Ber-high Heels

WP_20160401_032[1]

“Hidup sepenuhnya bukan ditentukan oleh sebagus apa topeng yang kita kenakan melainkan sebaik apa kita menempatkan topeng tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi.” (hlm. 55)

Pada dasarnya hampir semua yang dimiliki manusia merupakan bagian dari kepribadian seseorang tersebut. Bagaimana dengan latar belakang yang ada, objektif, interaksi, preferensi, dan diakhiri dengan sebuah proses pembelian atau transaksi, dan kepemilikan.

Ketika seorang individu mempresentasikan di hadapan masyarakat/ umum, pasti ia tidak akan terlepas dari sifat objektif serta nilai-nilai. Wanita menggunakan high heels untuk mengomunikasikan dirinya kepada orang lain; tidak terbatas pada keluarga, teman, kolega, tetapi semua orang yang ada di sekitarnya. Apakah yang hendak dikomunikasikan oleh para wanita? Tentu tidak ada jawaban absout untuk itu.

Seperti yang sudah lama kita ketahui, manusia cenderung membutuhkan pengakuan. Tetapi sebenarnya, semua itu lebih condong ke bentuk keberadaan identitas. Wujud identitas yang merupakan kombinasi adopsi atau penyerapan stimulan secara sadar dan tidak.

Seperti banyak hal lainnya di dunia ini, sesuatu yang dirasa indah biasanya menyimpan sisi negatif. Seorang wanita tidak mau cukup terbuka untuk mengakui ketika menggunakan high heels sebenarnya mereka merasa kurang nyaman, atau bahkan lebih parah lagi menimbulkan rasa sakit. Beberapa studi secara empiris menyatakan bahwa penggunaan high heels dalam kurun waktu yang cukup lama dapat menyebabkan semakin melemahnya otot utama kaki atau yang biasa disebut dengan compromise muscle effieciency dan meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera otot kaki.

Rata-rata wanita akan mulai terasa sakit setelah memakai high heels selama 1 jam 6 menit. Ini jugalah yang menyebabkan 1 dari tiap 3 wanita pernah mengalami atau terbiasa melepas high heels dalam perjalanan pulang kantor karena sakit yang mereka rasakan.

Insight mengenai ketidaknyamanan tersebut bahkan sampai memberikan ide bisnis untuk beberapa perusahaan. Mereka membuat dispensable flat yang dijual melalui vending machine layaknya minuman soda. Produk tersebut terdiri atas sepatu flat sekali pakai dan sebuah tas untuk membawa atau membungkus high heels pembeli. Tidak jelas sejauh mana profit ataupun kelangsungan perusahaan tersebut.

Uniknya, secara nyata begitu banyak wanita di dunia mengatakan mereka rela merasa sakit demi penampilan dan yang paling utama adalah mendapatkan perasaan berbeda; menjadi semakin baik. Bukan mengubah secara magical dari bukan apa-apa menjadi luar biasa, melainkan menguatkan identitas yang ada. Rasa sakit atau tidak nyaman bukanlah sesuatu yang besar jika dibandingkan perasaan dan state of mind yang didapatkan ketika memakai high heels. Sebuah kondisi yang juga juga diendorse oleh Christian Louboutin. Menurut dia kenyamanan bukanlah sesuatu yang perlu mendapatkan simpati. Wanita yang berharap kenyamanan ketika mengenakan high heels, sama seperti ketika dalam sebuah hubungan dengan seseorang mengatakan bahwa mereka tidak jatuh cinta, tapi hanya memiliki hubungan yang nyaman. Dengan gigih ia menyatakan bahwa kata comfort adalah sebuah kata yang buruk. Mungkin ini juga bisa dikaitkan dengan motivasi umum bagi manusia untuk tidak terjebak dalam comfort zone?

Lebih jauh, banyak wanita mengakui bahwa kondisi tersebut dapat terbantu oleh perasaan/ pandangan positif yang merujuk pada kecantikan fisik serta kepercayaan diri; lebih tinggi, lebih langsing, bergaya dan lebih wanita. High heels memang juga dapat memberikan kesan seksi. Seperti yang dikatakan oleh Dr Helen Fisher dari Rutgers University, high heels menunjang posisi tubuh bagian belakang wanita sehingga terlihat lebih mengangkat, dan menampilkan posisi yang secara natural terlihat seksi. Rasa sakit pun hilang dengan timbulnya perasaan lebih cantik. Sebuah kontradiksi menarik, yang seiring dengan berjalannya waktu akhirnya dapat berujung pada sebuah kebiasaan.

Memang lebih mudah memiliki karakter yang berbeda tanpa merendahkan harkat kita sebagai manusia dan diri sendiri yang utuh. Kita menjadi manusia yang memiliki berbagai karakter dan campuran orang lain dalam hidup ini. (hlm. 56)

Bagi wanita, ada beragam motif tersendiri yang ingin ia sampaikan kepada orang lain ketika menggunakan sebuah atribut sama halnya dengan motifnya dalam memilih high heels.

Penulis menuangkan motif-motif itu menjadi tujuh kategori yaitu;

  1. Magnet: yang berbicara tentang inspirasi keluarga dan pengaruh lingkungan sekitar wanita pengguna high heels.
  2. Topeng: merupakan situasi sehingga wanita harus bisa mengubah penampilan sesuai dengan tuntutan tempat ia berada.
  3. Semampai: ada kecenderungan dalam menginginkan fisik yang lebih tinggi yang diidamkan beberapa wanita yang merasa dirinya lebih pendek.
  4. Garis batas: aturan yang membatasi terkadang menjadi panduan bagi wanita untuk mengatur tampilannya.
  5. Manik-manik: alasan estetika bahwa wanita senang menyesuaikan diri dengan menggunakan atribut untuk menambah gaya penampilan mereka dalam situasi maupun tempat.
  6. Arisan: dengan latar belakag kesukaan dan gaya hidup para wanita dalam bersosialisasi dan berkumpul dengan teman-temannya dalam komunitas masing-masing.
  7. Acungan jempol: bentuk apresiasi yang mereka harapkan baik dari keluarga, orang terdekat mereka maupun lingkungan asing yang hanya bisa melihat mereka lebih dalam dengan kepribadian mereka masing-masing.

Pikiran positif pada diri wanita adalah faktor utama untuk dapat mengendalikan tubuh sesuai dengan keinginan isi kepala. (hlm. 85)

Bersyukur bekerja di balik buku yang artinya masuk kategori pekerjaan di ‘balik panggung’ yang tidak mengharuskan dandan atau berbusana sempurna. Tapi saya masih ingat pesan dosen saat kuliah dulu pas mata kuliah PR in Library. Meski bekerja di perpustakaan, bukan berarti penampilan asal-asalan. Ya, pustakawan kerap kali diidentikkan dengan kesan cupu, judes, jutek, dingin, dan hal efek negatif lainnya. Sebagai pustakawan generasi muda, kita harus berpenampilan nggak jauh beda dengan pegawai lain pada umumnya. Bukan berarti kudu dandan menor ala ondel-ondel, tapi minimal dandan fresh dan kekiknian. Di sekolah, Senin sampai Rabu memang mengenakan seragam. Tapi Kamis sampai Sabtu boleh mengenakan batik, blazer ataupun kemeja. Dan biasanya saya lebih sering mengenakan kemeja unyu tapi sopan, batik hanya dipilih saat ada acara-acara tertentu saja. Toh, bekerja selama lima tahun di sekolah tidak pernah kena teguran karena hal pakaian. Ada kok tipe pegawai yang kerapkali kena teguran atasan. Memang harus dibedakan antara kondangan dengan bekerja. Dalam bekerja pun juga musti dibedakan antara pegawai yang ketemu relasi/ klien dengan yang bekerja di dunia pendidikan, dan bakal beda lagi jika bekerja di dunia kesehatan. Bekerja di dunia pendidikan musti hati-hati dalam urusan berpakaian karena ada pepatah bilang; guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Nah, pegawai yang bekerja di kantoran atau perusahaan memang harus dituntut kinclong dari atas sampai bawah, karena saat rapat atau melobi sesuatu, penampilan dan attitude si pegawai akan merepresentasikan kantor atau perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan soal urusan makan juga ada mannernya. Urusan penampilan bagi wanita kantoran, high heels sudah seperti makanan sehari-hari yang juga merupakan bagian dari life syle.

Setelah membaca buku ini, kesimpulan yang bisa di dapat adalah wanita yang mengenakan high heels bukan hanya karena gengsi dan tuntutan gaya hidup semata, tapi sudah menjadi bagian jati diri atau identitas suatu kelompok wanita. Meski saya bukan tipikal wanita yang hobi ber-high heels, bukan berarti saya tidak menyukai high heels. Saya hanya senang melihatnya, dan hanya mengenakannya sesekali saat kondangan, tapi jika mengenakan untuk bekerja dalam sehari-hari sepertinya lambaikan tangan alias menyerah… x))

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Fenomenologi Wanita Ber-high Heels

Penulis                                                 : Ika Noorharini

Editor                                                    : Sori Siregar

Creative Director                              : Yuri Heikal Siregar

Ilustrator                                             : Tigana Dimas Prabowo, Firas Sabila

Production                                          : Abdul Rozak

Publisher                                             : PT Artha Kencana Mandiri

Public Relations                                                : Trishi B. Setiayu

Tebal                                                     : 112 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-73069-0-5

One thought on “REVIEW Fenomenologi Wanita Ber-high Heels

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s