REVIEW Saujana Cinta

PicsArt_21_04_2016_9_35_24[1]Cinta pada manusia itu mungkin hanya seumur jagung. Tapi cinta pada Tuhan harus seumur hidup. (hlm. viii)

ALEC KINCAID. Dia tidak pernah tahu bahwa perasaan pada seseorang bisa begitu menyiksa. Dia tidak tahu mengapa sulit sekali untuk melupakan Runa dan menghapus sosok gadis itu dari benaknya. Setahun berlalu dan tidak ada yang membuat hatinya membaik. Rasa sakit itu masih sama rasanya. Sakit karena Runa tidak memiliki perasaan yang sama untuknya. Nyeri karena gadis itu bahkan tak memberinya kesempatan untuk menunjukkan perasaannya.

Mereka memang hanya berinteraksi intensif dalam hitungan hari. Tapi, Runa seakan punya kekuatan untuk mencengkram hati Alex dan membawanya pergi. Laki-laki itu merasa tidak utuh lagi. Ada yang kurang dalam hidupnya sejak saat itu. Padahal sebelumnya Alec selalu merasa dirinya baik-baik saja, tergenapi.

Mungkin selama ini Alec tidak terlalu serius dalam hal berpacaran. Itu karena dia memang tidak memilih untuk fokus pada aktivitasnya di SWC. Urusan asamara untuk sementara menempati urusan sekian. Bukan karena dia tidak pernah patah hati, trauma atau alasan sejenis.

Lalu Runa muncul mendadak dan memberi impak yang tidak pernah terbayangkan. Padahal gadis itu bahkan tidak perlu berusaha sama sekali untuk menarik perhatiannya. Dalam setahun terakhir, Alec memimpikan Runa dalam banyak kesempatan. Memikirkan gadis itu dalam lebih banyak kesempatan.

“Ada satu yang mustahil untuk dijembatani. Maafkan kata-kataku, aku tidak bermaksud bersikap kurang ajar. Kita, punya keimanan yang berbeda. Dan itu jurang yang tidak bisa dilewati. It can;t be happening. Aku tidak bisa berhubungan dengan orang yang tidak seiman denganku. Itu harga mati.” (hlm. 24)

Akan tetapi, ada sisi keras kepala milik Alec yang enggan menyerah begitu saja. Dia merasa belum cukup berjuang untuk mendapatkan hati Runa karena keterbatasan waktu. Jadi, kegagalannya lebih karena kesalahannya sendiri. Alec bukan ahli strategi yang bagus.

Alec berencana mencari Runa. Dia memang tidak mengenal Indonesia dengan baik. Tapi, demi Runa, dia tidak peduli. Masalahnya, kadang keinginan itu tidak lebih sebagai harapan yang tidak akan pernah terwujud. Dalam kasus Alec, minimal tidak saat ini. Whale Protection memang sudah berakhir. Tapi, Alex harus ikut mematangkan rencana kampanye musim panas ke Kepulauan Faroe, Viking Wars.

Tapi, Alec masih bimbang untuk memilih cara yang akan ditempuhnya. Dia tidak ingin tampil seperti cowok yang terobsesi. Atau malah mengesankan bahwa dia seorang penguntit.

Dia tidak sama dengan Callum, kembarannya yang sangat luwes berhadapan dengan lawan jenis. Fisik mereka memang identik, tapi Alec tidak mewarisi sisi menawan seperti yang dimilki Callum.

“Kamu sebenarnya berkerabat dengan paus, bukan manusia.” (hlm. 45)

“Maklumi aja. Dia tidak terbiasa dengan emosi yang manusiawi. Aku tidak akan heran kalau Alec akan melajang seumur hidup. Dia pasti sangat kesulitan merayu gadis-gadis.” (hlm. 73)

Meski porsi RUNA hanya sedikit ditampilkan dalam buku ini, bisa terasa jika dia memang memesona. Bukan gadis yang menye-menye, apalagi cenderung agresif. Bukan, Runa bukan gadis seperti itu. Runa adalah satu dari sekian manusia langka seperti Alec yang berjiwa sosial tinggi dan sangat peduli lingkungan. Meski lembaga mereka berbeda, tapi mereka sama-sama peduli dengan ekosistem alam. Hal inilah yang bikin Alec jatuh cinta terhadap Runa sejak awal berjumpa. Suka ama cewek tipikal Runa yang mengikuti passionnya. Runa lebih memilih untuk makin aktif di Wildlife of Sumatra ketimbang mencari pekerjaan yang memberinya gaji tetap. Selalu salut dengan orang-orang seperti ini.

“Ci, masih belum berniat untuk kerja kantoran?”

“Aku masih betah menjadi aktivis. Kalau aku terikat jam kerja, sudah tidak ada waktu lagi untuk mengurusi Wildlife of Sumatra.”

“Aku tahu, itu pertanyaan nyinyir yang sudah berkali-kali ditanyakan orang. Tapi aku belum pernah benar-benar mendengar jawaban Cici. Aku cuma ingin tahu.”

“Aku sudah terbiasa di interogasi. Kamu bukan orang pertama dan yang pasti pula bukan yang terakhir.” (hlm. 27)

Seringkali manusia terlibat ‘cinta lokasi’ alias jatuh hati pada seseorang karena merasa ‘satu perjuangan, ‘satu ide’, atau ‘satu visi misi dalam hidup’. Kita merasa jika menjumpai ‘orang yang sama’ adalah jodoh kita. Padahal belum tentu. Saya pernah merasakan seperti Alec, suka sama seseorang karena merasa ‘klik dengan orang itu’; memiliki kesamaan hobi dan tujuan hidup padahal hanya karena bertemu beberapa hari dalam suatu event lewat komunitas yang berbeda. Sama halnya dengan Alec, meski hanya dengan hitungan hari, orang tersebut mampu memporak-porandakan hati kita #eaaa x))

“Dia benar-benar menyukaimu ya? Apa semua gadis akan bereaksi seperti itu padamu?”

“Bereaksi seperti apa? Kamu kira aku ini semacam iklan multivitamin berjalan untuk menambah semangat?” (hlm. 145)

Ini adalah sekuel dari Tuhan Untuk Jemima. Jika di buku tersebut, Alec hanya diberi porsi sedikit, di buku ini ia menjadi tokoh utama. Dari awal cerita, Alec udah mampu bikin memikat para tokoh utama cewek-cewek di buku ini dari yang malu-malu kucing macam Pia sampai yang agresif macam Kimiko, juga bikin meleleh kita sebagai pembaca. Gemes-gemes gimana gitu. Semakin dia sok jual mahal, semakin banyak cewek-cewek yang penasaran. Alec ibarat magnet cewek-cewek di mana pun berada…. #eaaa x))

Selain masih mengangkat isu perburuan paus, ada beberapa pesan moral lainnya yang diangkat dalam buku ini. Tentang sosialisasi peduli lingkungan harusnya lebih terbuka untuk ke siapa saja. Misalnya diadakan sosialisasi ke kampus-kampus atau sekolah agar makin banyak remaja yang peduli dengan isu lingkungan sekitar. Dulu, zaman kuliah, saya antusias banget ikut acara beginian; peduli gajah sumatera, menanam pohon di lingkungan kampus, membiasakan diri menggunakan tote bag sebagai pengganti tas kresek, dan sebagainya. Sejujurnya, saya lebih menyukai acara-acara sosial seperti itu ketimbang acara ala-ala pesta remaja gaul x)) #RemajaAntiMainstream

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kita bisa mencoba, setidaknya kamu bersedia memberiku kesempatan. (hlm. 24)
  2. Tidak akan mudah melakukan sama sekali yang tidak kita inginkan. (hlm. 35)
  3. Cuma memang kadang-kadang masalah hidup itu tidak memandang usia. (hlm. 36)
  4. Cinta mengharuskan melakukan sesuatu. Bukankah cinta memang selalu membutuhkan bukti dan pengorbanan? (hlm. 98)
  5. Orang-orang pilihan menjalani hidup yang sama sekali tidak mudah. (hlm. 206)

Banyak kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan tertarik memeluk suatu agama hanya karena seseorang. (hlm. Vii)
  2. Jangan berlagak bodoh di saat-saat seperti ini. (hlm. Vii)
  3. Berhentilah cemberut seperti anak kecil. (hlm. 3)
  4. Kadang kala aktivis itu punya risiko tinggi dalam hal keselamatan. (hlm. 6)
  5. Beginikah rasanya patah hati? Ini bukan perasaan yang bisa ditanggung dengan mudah. (hlm. 24)
  6. Mustahil tidak pernah mengenal lawan jenis yang mampu membuat dada berdentum dengan perut seakan dipelintir badai. (hlm. 38)
  7. Memangnya sudah pasti ada yang salah jika berumur hampir seperempat abad memilih untuk tidak memuaskan diri dalam hal cinta? (hlm. 39)
  8. Memangnya apa yang salah dengan perempuan bukan model? (hlm. 40)
  9. Uang memang menjadi sumber dari banyak kejahatan dan kepahitan. (hlm. 59)
  10. Cinta memang mirip pisau bermata banyak sekaligus multifungsi. (hlm. 98)
  11. Kebodohan itu bernama harapan palsu. (hlm. 132)
  12. Mana bisa sih kamu memilih kepada siapa akan punya perasaan suka. (hlm. 171)
  13. Orang memang punya cara menggelikan untuk memberi aneka julukan. Apa mereka tidak berusaha meyadari bahwa cinta itu tidak bisa direkayasa? Dia cuma mengikuti naluri. (hlm. 173)
  14. Apakah rasa cemburu sungguh-sungguh menggelapkan matanya? (hlm. 224)
  15. Membalas dendam pada seseorang dan mengorbankan kebebasanku? (hlm. 227)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Saujana Cinta

Penulis                                                 : Indah Hanaco

Editor                                                    : Donna Widjadjanto

Penata letak                                       : Fitri Yuniar

Desain sampul                                   : Orkha Creative

Penerbit                                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2015

Tebal                                                     : 249 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-2622-1

PicsArt_21_04_2016_12_52_48[1] PicsArt_21_04_2016_12_54_23[1]

One thought on “REVIEW Saujana Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s