REVIEW Hidup dan Kerja yang Membahagiakan

hidup dan kerja

“Setiap orang yang hidup pada setiap masa punya tujuan untuk memberikan kontribusi pada dunia agar menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, kita bertanggung jawab ikut mengambil bagian dalam setiap perubahan.” (hlm. 89)

Perubahan merupakan hakikat dari alam semesta sebagai makro kosmos dan kehidupan sebagai mikro kosmos. Perubahan adalah transformasi dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diharapkan lebih baik di masa mendatang. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat kita mengerti lewat ungkapan, “Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.”

Perubahan dapat terjadi pada diri setiap orang maupun keadaan di sekitar kita. Perubahan tersebut kadang-kadang terjadi tanpa disadari. Dalam suatu sistem organisasi apa pun, perubahan berarti harus mengubah cara mengerjakan, cara berpikir, atau cara memandang sesuatu, yang bisa jadi terasa sulit, menggoyahkan, atau bahkan bisa memakan banyak biaya.

Ada dua poin menarik yang dibahas dalam buku ini. Bab paling menarik adalah bahasan KOMUNIKASI & TEKNOLOGI KOMUNIKASI. Pertama, KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DI LINGKUNGAN KERJA. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, orang harus memahami bagaimana cara memengaruhi orang lain, lalu mampu berkolaborasi menciptakan sinergi. Hasil penelitian menunjukkan, komunikasi verbal hanya 7% dari keseluruhan komunikasi yang dilakukan; 55% komunikasi nonverbal dengan bahasa tubuh/isyarat; dan 38% bagaimana kita mengatakannya dengan suara.

Komunikasi yang efektif di tempat atau lingkungan kerja sangatlah penting. Hal ini karena kita sebagai mahluk sosial memang selalu berkomunikasi hampir setiap saat, terutama ketika sedang bekerja. Kita sering kali harus berkomunikasi dengan rekan di sebelah kita, dengan atasan, dengan tamu atau pihak lain, yang berkaitan dengan urusan pekerjaan.

Komunikasi bisa dilakukan secara langsung atau dengan bersuara. Komunikasi juga bisa dilakukan melalui sambungan telepon. Bahkan ada pula komunikasi tanpa suara dengan menggunakan bahasa isyarat atau komunikasi nonverbal, seperti dengan tatapan mata, anggukan kepala, angkat tangan, goyang-goyang kepala, atau gerakan anggota tubuh lainnya. Itu semua cara kita berkomunikasi.

Satu hal penting yang mungkin kadang-kadang kita lupa, yaitu bahwa kita harus berkomunikasi dengan tulus, penuh cinta kasih, empati, sopan dan dengan tata cara yang sesuai dan tepat pada waktu dan tempatnya.

Mengapa ini penting? Hampir lebih dari separuh waktu hidup kita adalah di tempat kerja atau di lingkungan kerja bersama rekan sekerja. Waktu lainnya kita berkomunikasi dengan orang-orang terkasih di tengah keluarga, seperti pasangan, anak-anak, orangtua, mertua, dan sanak saudara. Selain itu tentu saja kita juga berkomunikasi dengan masyarakat, orang-orang di luar keluarga, atau rekan sekerja.

Komunikasi dua arah memang menjadi hal penting saat kita bekerja. Salah satu contoh penerapan komunikasi yang saya lakukan di tempat kerja adalah menghargai setiap pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan, meski nggak semua memiliki tujuan membaca; ada yang cuma mau numpang wifi, tidur-tiduran, main scrablle, atau bahkan hanya pengen curhat meski pustakawannya ini sibuk nge-barcode buku sampe jarinya keriting x))

Setiap pemustaka yang 90% adalah murid-murid unyu di sekolah, pastinya punya sifat dan karakter beragam. Remaja zaman sekarang tidak bisa dimarahi, karena semakin dimarahi biasanya mereka justru akan semakin tertantang. Nah, komunikasi adalah kuncinya. Misalnya, ketika mereka susah sekali melepas sepatu ketika di depan pintu perpustakaan, saya tidak perlu ngomel-ngomel nggak jelas yang tentunya akan menguras tenaga. Cukup dengan kalimat; “Yang sepatunya tidak di lepas ketika masuk perpustakaan, nanti nggak lulus.” à ini jelas menjadi sebuah ancaman, karena bagi mereka doa para guru di sekolah, adalah sama manjurnya dengan doa orangtua mereka di rumah x))

Saya juga nggak menerapkan sistem denda untuk siswa yang terlambat mengembalikan buku ke perpustakaan. Pernah menerapkannya di tahun pertama saat bekerja, ternyata nggak efektif; yang terlambat mengembalikan buku semakin alergi datang ke perpustakaan, yang didapat hanya uang recehan yang nggak seberapa. Di tahun kedua sampai sekarang, sudah menghapus sistem denda. Caranya? Uang denda diganti dengan menyumbang buku apa saja yang mereka miliki, jadi nggak harus buku baru, yang penting buku yang masih layak dibaca. Ternyata pendekatan komunikasi persuasif seperti ini sangat efektif dibandingkan dengan penerapan hasil denda yang kesannya hanya mengumpulkan recehan demi recehan yang nggak seberapa itu. Di sinilah komunikasi menjadi kunci sebagai pendekatan kepada pemustaka yang berkategorikan ‘nggak biasa’ alias lebih susah mengembalikan buku dibandingkan murid biasa yang begitu mudah patuh mengembalikan buku.

Kedua, FACEBOOK DAN DAMPAK TEKNOLOGI PERPUSTAKAAN. Jejaring sosial (social networking) telah menjadi kegiatan rutin kita sehari-hari. Orang memanfaatkan hasil perkembangan teknologi informasi ini untuk memenuhi kebutuhannya, bukan hanya untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, tetapi juga menjadi gaya hidup. Hal ini pula yang membuat banyak orang berlomba menjadi anggota situs-situs jejaring sosial melalui internet. Salah satunya adala Facebook.

Mengapa Facebook digemari? Facebook memungkinkan kita menemukan teman lama atau teman baru, membina hubungan pertemanan, bergabung dalam komunitas atau grup tertentu, seperti organisasi, pekerjaan, kota, sekolah, dan daerah serta melakukan kontak atau berinteraksi dengan orang lain, mengirim pesan, komentar, gambar, melakukan pemasaran, bahkan bermain games.

Facebook telah menjadi kebutuhan bagi para anggotanya. Melalui Facebook, orang bisa mengirim pesan lewat tulisan, juga foto-foto, dengan mudah dan cepat ke semua pengguna yang diinginkannya. Sekarang, baik kalangan profesional, pebisnis, pejabat pemerintah, politisi, selebriti, ibu rumah tangga, kalangan remaja, bahkan para pekerja rumah tangga. Facebook juga telah digunakan untuk promosi, baik untuk berjualan barang dan jasa, maupun untuk kampanye politik.

Saya cenderung lebih memilih Facebook dibandingkan sosmed lainnya. Mengapa? Facebook ibarat paket komplit; foto diklasifikasi dalam bentuk album, yang hobi nulis bisa buat postingan di notes facebook, bisa share link berupa info berita, bahkan juga berbentuk video, dan juga bisa bermain games. Bebas tinggal mau apa yang kita inginkan. Nah, facebook bisa menjadi sarana promosi gratis dalam bekerja. Apa pun yang kita posting, upload atau share, tanpa disadari akan membentuk personal branding bagi pemilik akun. Yang hobinya share berita-berita hoax, bisa dikategorikan sebagai orang yang nggak mikir panjang dalam memutuskan sesuatu. Yang hobinya nyinyir di dunia maya, kebayang kan pasti aslinya di dunia nyata lebih nyinyir. Yang hobinya upload kegiatan positif yang dilakukan, bisa dipastikan punya seabreg kegiatan di dunia nyata. Jangan salah, dalam perekrutan tenaga kerja/ karyawan/ pegawai, sosmed yang dimilikinya juga menjadi kunci dalam hal kemungkinan diterima atau nggaknya seseorang bekerja dalam sebuah kantor/perusahaan/usaha apa pun. Ketika bekerja di sekolah, tanpa disadari saya sering meng-upload berbagai kegiatan yang nggak hanya kegiatan di perpustakaan saja, tapi juga kegiatan seputaran sekolah, misalnya saat adiwiyata sekolah. Facebook menjadi salah satu sosmed yang saya bahas ketika mengikuti lomba pustakawan berprestasi dengan judul ‘Sosmed sebagai salah satu sarana promosi perpustakaan”. Jadi, facebook nggak melulu diidentikkan dengan hal-hal yang negatif, tergantung dari si pengguna apakah mau menjadikan akunnya sebagai lahan positif atau sebaliknya.

“Tidak ada pilihan lain selain berusaha untuk survive. Dan karena setiap individu adalah penting maka setiap individu juga bertanggung jawab untuk berpartisipasi serta berkontribusi dalam dan bagi setiap perubahan.” (hlm. 93)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Hidup & Kerja yang Membahagiakan

Penulis                                 : Ans Gregory da Iry

Editor                                    : Anjelita Noverina

Penata isi                             : Salman Farist

Desain kover                      : garis bawah studio

Penerbit                              : Grasindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 147 hlm.

ISBN                                      : 978-602-251.850-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s